Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 187. Jessika dan anak buahnya.


__ADS_3

.


.


.


Anjana


Dia wanita berusia sama dengan Gendis. Di desanya, ia dan Gendis tergolong manusia berdarah rakyat yang diberikan keberuntungan memiliki wajah ayu rupawan.


Namun, memiliki nasib busuk soal keuangan yang selalu tidak baik-baik saja


Sikap dewasa nan santun Anjana di dapat karena ia hidup dalam lingkungan keluarga yang memang cukup kasih sayang. Berbeda dengan Gendis yang keseluruhan hidupnya memiliki garis keras .


Sayangnya, ia harus kehilangan bapaknya sewaktu ia tamat SMA.


Ia merasa cocok dengan Gendis karena sahabatnya itu amat berani, dan kerap menolongnya dari Bullyan teman-temannya.


Sedikit beruntung karena usai lulus SMA, ia di terima bekerja di Bravomart. Bisa menjadi tulang punggung untuk ibunya yang menjanda.


Singkat cerita ia di nikahi oleh pria yang saat itu mengaku sebagi manager tempatnya bekerja. Merasa tak bisa menolong lebih, ibu dari Anjana memintanya untuk menikah saja. Toh suaminya orang mapan. Begitu pikiran orang desa yang melihat kata ' Manager'.


Padahal, kebenarannya adalah Anjana merasa di tipu. Suaminya tak lebih dari seroang makelar kasus, yang kerap jadi buron. Kasar dan jarang memberikan nafkah sewaktu mereka di kota.


Ia telah bercerai karena kerap mendapat perlakuan kasar dari Herman suaminya. Ia membawa Bian putra semata wayangnya yang kini berusia hampir lima tahun.


Anjana pergi dengan susah payah. Karena usai bercerai dari Herman. Wanita itu tak memiliki apapun untuk digunakan bertahan hidup disana.


Kini ia bersyukur, meski kembali hidup dengan pas-pasan dirumah desa. Tapi ia masih bisa merawat ibu dan anaknya sebisa dan semampunya.


Hidup di desa lebih baik pikirnya, selain semua masih murah, ia juga bisa mencari kerjaan apapun, tanpa harus kuatir menitipkan Bian kepada siapa.


" Astaga Anjana, aku gak nyangka kalau Herman kayak gitu!" Gendis yang kini berwajah muram karena prihatin dengan cerita sahabatnya itu, merasa terenyuh.


" Ya mau gimana lagi Ndis. Udah nasibku begini, tapi aku udah lega. Enam tahun nikah sama dia terus tahu tabiat aslinya tanpa harus lebih lama lagi udah bikin aku bersyukur Ndis!" sahut Anjana.


Sejenak dua sahabat itu saling menghapus air mata yang keluar tanpa seijin mereka. Suasana mendadak mengharu biru.


" Ibu kamu mana?" tanya Gendis.


" Ibu bawa Bian ke rumah Bu RT. Katanya besok sekolah TK itu diresmikan. Anakku kebetulan tahun ini udah masuk sekolah. Aku bersyukur banget loh di desa ini ada keluarga yang bikin sekolah!"


" Oh ya... siapa?" Gendis merasa selalu kepo.


" Yang punya lahan cabai itu Lo. TK itu punya mereka. Semua biaya gratis termasuk seragam katanya!" imbuh Anjana.


Gendis makin terkagum-kagum akan sosok Jessika. Ia tahu, pasti wanita dengan wajah teduh itulah yang memprakarsai semua kebaikan ini.


" Bagus kalau gitu, pasti itu yang buat atas ide Bu Jessika!"


" Jessika? kayak pernah dengar!".


" Kamu sih, pakai acara kawin terus ke kota. Jadi gak tahu kemajuan desa sediri!"


"Bu Jessika itu.... kamu ingat gak sama orang yang jual cenil di pasar....yang dulu rumahnya dekat tokonya Bu Nanik?"

__ADS_1


Anjana terlihat mengingat- ingat.


" Oh, yang RT sebelah sana itu kan?"


Gendis mengangguk," Bu Jessika itu kalau kata orang-orang, dulu pernah jadi karyawan di kebun cabai . Waktu itu masih jaman belum rame kayak sekarang. Dua anak juragannya suka sama beliau. Dia sebenarnya sama kita cuma beda lima tahun aja!"


" Masa sih?" Anjana tertarik dengan obrolan renyah itu.


" Iya...dia orangnya cantik, baik, terus ya dia itu yang nolongin aku waktu geger di pasar. Makanya aku sekarang kerja jadi babu dirumahnya!" ucap Gendis bangga dengan kata ' babu'.


Anjana terkekeh geli mendengar ucapan sahabatnya yang nampak sama seperti enam tahun yang lalu itu.


" Jadi kamu kerja disana sekarang?"


" Emmm, kalau bukan Bu Jessika yang nawarin aku sih ogah. Mending ngarit bareng cak Iksan?"


Anjana tergelak mendengar cerita sahabatnya itu.


" Aku seneng banget kamu udah kembali ke sini Ja!"


Mesti menatap Anjana dengan tatapan sedih, karena cerita rumahtangga sahabatnya itu, tak sama dengan rumor yang beredar. Tapi Gendis merasa lega karena kini sahabatnya itu telah berada di tempat yang seharusnya.


" Kamu kapan nikah?" tanya Anjana.


" CK, itu terus yang di tanyain. Entahlah, hidupku aja masih begini-begini aja dari semenjak emak gak ada!"


Gendis mendadak teringat dengan Jack yang hampir menciumnya tempo hari. Membuat Gendis mendadak bergidik ngeri.


" Kamu Kenapa?" tanya Anjana.


...***...


Jessika menjadi orang paling sibuk di rumah itu. Hari ini adalah Senin pertama di awal bulan. Menyiapkan menu sarapan adalah tugas Bik Darmi dan Yu Sal. Bedanya, mulai hari ini mereka semua harus menambah porsi masakan, karena kedatangan Leo, Bella serta dua orang tenaga didik yang baru.


Gendis tiap paginya selalu langsung menuju tempat cucian baju, membereskan yang disana dulu sebelum mengambil baju-baju di kamar para majikan beserta anggotanya.


" Ndis, ini baju bapak jangan di campur ya. Soalnya warna putih!" Jessika menyerahkan sekeranjang baju kotor kepada ART nya itu.


" Siap Bu, punya mas Deo juga selalu saya kucek pakai tangan. Gak pernah saya masukan mesin!" ucap Gendis senang.


" Makasih ya, kamu pinter tanpa harus saya kasih tahu!" Jessika menepuk pundak Gendis.


" Siapa ini kakak ipar?" Bella yang baru keluar dari kamarnya itu nampak nimbrung.


" Oh, ini namanya Gendis. ART baru, spesialis nyusu gosok!" Jessika berkelakar dengan wajah ramah. Membuat Gendis meringis.


" Hah beneran, kamu cantik-cantik mau kerja jadi ART?" Bella hanya ingin memastikan.


" Jangankan jadi ART Bu Bos, di saja kuat banget loh saat nyari rumput di sebelah petak kita!" Ucap Victor menyahut dari arah belakang, yang berjalan bersama Jack dan dua orang lain. Dion dan Laras.


Dion dan Laras adalah guru sementara yang akan mengajar perdana di TK Tunas Rimba pagi ini.


" Kamu hebat banget, kalau di kota cewek-cewek kayak kamu gak kira mau mau Ndis....bener kan tadi nama kamu Gendis?" Bella memastikan kembali dengan tersenyum seraya menepuk bahu Gendis pelan.


" Kerja apa aja Bu, di desa kerja begini udah wow. Apalagi Bu Jessika ini di lingkungan kami terkenal!" tutur Gendis terus terang.

__ADS_1


Gendis merasa malu saat Jack terus saja menatapnya. Guna mengurangi kecanggungan, Gendis akhirnya kembali menjadi dirinya sendiri yang bersikap apa adanya.


" Yang itu siapa Bu?" Gendis menunjuk kepada dua orang di belakang Jack dan Victor.


" Oh itu, itu namanya Dion. Dia guru di TK kita yang mau buka hari ini!"


" Yang di sampingnya itu, Laras. Sama dia juga Guru!"


Gendis mengangguk paham," Gurunya ganteng, pasti wali muridnya betah disana Pak!" Gendis berkata kepada Dion. Pria itu langsung memunculkan wajah merah.


" Mbaknya bisa aja!"


.


.


Dion


Dion adalah pria dengan usia 23 tahun yang berwajah ganteng dengan kulit kuning langsat. Dia tergabung di Darmawan Group karena rekomendasi dari Adrian. Pria itu memiliki tingkat ketampanan yang lumayan, berbadan tegap dan berambut rapih.


Selain pintar, Dion juga berkompeten untuk menjadi anggota di Darmawan Group, yang mengharuskan anak buahnya untuk biasa bela diri. Baik pria maupun wanita.


Pria itu sebenarnya sedari tadi tak lekang menatap Gendis. Ia mengira Gendis adalah salah satu anggota keluarga istri David.


Namun, saat dari kejauhan sayup-sayup telinganya mendengar ucapan Jessika yang menerangkan bila Gendis adalah ART disana, membuat dia makin tak percaya.


Kenapa wanita se manis dan secantik Gendis, mau menjadi pesuruh dirumah itu.


Ia sempat terperanjat saat Gendis menunjuk ke arahnya. Wanita itu kepo dengan dirinya. Ia bahkan mendapat pujian dari wanita yang mendadak menyita perhatiannya itu.


" Mbaknya bisa aja!" Dion senang dengan karakter gendis yang blak-blakan dan sepertinya wanita itu adalah seorang pekerja keras pikirnya.


Kesan pertama, Dion suka dengan Gendis.


.


.


" Jadi semuanya, Gendis ini yang tukang nyuci sama nyetrika baju disini. Kalau masak atau perlu apa-apa kalian bisa minta tolong Bik Darmi sama Yu Sal!" terang Jessika bak memberikan arahan saat Pramuka.


" Kalian taruh aja baju kotor kalian, nanti tiap pagi Gendis yang ngambilin baju kalian!" Ucap Jessika menerangkan.


Jack merasa sebal saat Gendis melayangkan pujian kepada Dion. Entah mengapa hatinya tak suka akan hal itu.


" Jack, kau masih sakit?" tanya Jessika menatap Jack yang memasang wajah berengut.


" Enggak Bu Bos, saya sudah sem...."


" Yang sakit bukan raganya Bu Bos, tapi hatinya.....!" ucap Victor tergelak. Pria itu tahu, Jack pasti tak suka dengan interaksi Dion dan Gendis.


Membuat Jack ingin menabok mulut combe Victor saat itu juga.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2