
.
.
.
Hari yang dinantikan Jessika Tiba, pagi itu Jessika telah bersiap berangkat dan nampak lek Soleh sudah bersiap akan mengantar Jessika ke terminal, sekalian ia akan berangkat menjual sayur ke pasar besar.
Arin dan Eka sudah datang semalam ke rumah Jessika untuk melepas kepergian sahabatnya dan bertemu Jessika sebelum ia berangkat ke kota S, karena pagi ini mereka harus masuk kerja.
Jessika hanya membawa pakaian seadanya yang terbaik yang dia miliki, beberapa dokumen penunjang untuk pekerjaanya nanti dan juga tak lupa seperangkat alat shalat.
"Sing ati ati Yo nduk, Mak wek cuma bisa mendoakan mudah mudahan kamu di berikan lancar, selamat sampai sana nanti. Dan ini sedikit simpanan Mak wek kamu bawa buat pegangan, kamu jangan lupa shalat Yo nduk" ucap mbok yah sambil memeluk cucunya erat dan menangis haru.
"Iya Wek, Jessika bakal hati hati disana nanti, kenapa Mak wek kasih Jessika uang. uangnya untuk Mak wek saja, Jessika juga belum tahu kapan bisa akan kirim uang nanti" ucap Jessika.
"Tidak apa apa Mak wek masih ada simpanan lain, ini kamu bawa saja" ucap mbok yah memaksa.
Lek Soleh yang melihat interaksi cucu dan nenek di depannya ikut menitikan air mata, sungguh begitu merasakan haru yang tidak bisa di tahan oleh lek Soleh.
"Ayo nduk kita berangkat, nanti ketinggalan bis" ucap lek Soleh pada Jessika.
Akhirnya Jessika pun berangkat dengan menaiki pickup yang di bawa lek Soleh, sebelum mengantar dagangannya itu pria bujang yang sudah berumur itu akan mengantar keponakannya ke terminal terlebih dahulu.
Setibanya mereka di terminal, lek Soleh menurunkan tas dan sebuah kardus yang akan di bawa Jessika menuju kota S.
"Nduk kamu jaga diri baik baik ya, kalau ada apa apa telepon pak lek dan ini buat sangu di perjalanan nanti" ucap lek Soleh pada Jessika
Jessika cukup kaget, pasalnya uang yang di berikan lke Soleh cukup banyak,"Lek ini kenapa banyak sekali".
"Wes ra opo opo, nanti buat simpenan kamu kalau disana gak langsung kerja nduk" ucapnya memberitahu.
"Jessika titip Mak wek ya lek, doakan Jessika dapat kerja yang lebih baik" ucapnya pada lek Soleh.
Tak berselang lama bis antar kota dengan tujuan kota S sudah tiba, Jessika langsung berpamitan pada paklek nya itu lalu memasuki bus dengan bawaan yang sudah di taruh di bagasi oleh kernet bus itu.
Ia lalu duduk di kursi penumpang di dekat jendela yang sebelahnya masih kosong, terlihat beberapa orang sedang berbincang-bincang , ada yang tidur, dan ada juga yang mabok.
Jessika sebenarnya juga mudah mabok, namun semalam sebelum ia berangkat ia meminum obat anti mabok, agar perjalanannya lancar, mengingat dia berangkat seorang diri.
Ia menatap keluar jendela bus itu, pikirannya menerawang entah kemana, hatinya sesak karena jika kejadian itu tidak menimpa dirinya mungkin saat ini ia bisa bahagia bersama neneknya tanpa harus merantau.
"Ya Allah, semoga ini jalanku untuk mendapatkan hidup yang lebih baik" ia berdoa dalam hati.
Jessika mencoba menghubungi Vera lewat Aplikasi pesan singkat, namun pesan yang dikirim oleh Jessika terlihat centang satu, itu berarti sang empunya nomer sedang tidak aktif atau online.
__ADS_1
Perjalanan yang Jessika tempuh kurang lebih 6 jam dengan menggunakan Bus, saat sudah setengah perjalanan terlihat pengamen yang masuk ke dalam bus dan menyanyikan sebuah lagu,
"Di sini ada
Satu kisah
Cerita tentang
Anak manusia
Menantang hidup
Bersama
Mencoba menggali
Makna cinta
Tetes air mata
Mengalir di sela
Derai tawa
Selamanya kita
Mengejar matahari, dst..
(Ari Lasso, mengejar matahari)"
Entah mengapa lagu itu terasa pas dengan apa yang tengah dialami Jessika, ia menutup matanya sambil menikmati alunan musik itu yang dibawakan beberapa pengamen muda.
"Misi mbak" ucap salah seorang pengamen yang menyodorkan topi, sebagai tanda meminta keikhlasan penumpang bus untuk memberi rupiah.
"Ini mas" ucap Jessika saat setelah membuka matanya, lalu mengambil selembar uang rupiah berwarna hijau.
"Terimakasih banyak mbak" ucap pengamen itu dengan tersenyum.
Jessika hanya mengangguk sambil membalas senyuman pengamen itu. Hidup ini keras, menggilas semua tanpa peduli apapun yang terjadi, Jessika seperti mendapat sebuah semangat baru, ia percaya Tuhan pasti akan memberi kesempatan baginya untuk merasakan kebahagiaan.
****
Pagi itu di sebuah rumah mewah tepatnya di kediaman David dan Leo, terlihat dua pria tampan tengah menikmati sarapannya.
"Kenapa bang David tidak memberitahu jika akan pulang" tanya Leo sambil memasukkan potongan roti kedalam mulutnya.
__ADS_1
"Tidak memberitahu mu pun aku tetap sampai dengan selamat kan" ucap David datar.
"Kenapa tiba tiba kau ingin kembali kesini bang, sampai kau mencarikan orang untuk menemani papa disana" ucap Leo dengan selidik.
David menghentikan makannya, lalu menatap adiknya itu lekat.
"Apa semua hal harus ku ceritakan kepadamu? ucap David yang entah kenapa Susana hatinya menjadi tidak karuan saat Leo membahas hal itu.
"Hey aku hanya bertanya, mengapa nada bicaramu lain" ucap Leo masih dengan santai
"Aku sudah selesai, aku pergi dulu" ucap David sambil hendak berlalu dari hadapan Leo.
"Apa karena Jessika" ucap Leo yang sukses membuat David menghentikan langkahnya.
"Apa maksudmu Leo, tidak ada hubungannya dengan wanita itu" ucap David mengelak.
David kemudian pergi meninggalkan Leo yang masih menyelesaikan sarapannya di meja makan, sebenarnya apa yang dikatakan Leo itu semua benar.
Di dalam mobil David kembali teringat dengan wajah Jessika, ia bahkan tidak bisa menolong saat Jessika terkena masalah itu, bahkan ia semakin membuat Jessika membencinya karena insiden kemaren.
Ia berangkat bersama sopirnya, mobil yang ia naiki berjalan dengan kecepatan sedang sampai ia tiba di sebuah gedung tinggi milik Darmawan group.
Ia melangkahkan kakinya pasti, wajah tampan dengan kharisma yang terpancar membuat siapa saja selalu kagum akan sosok David,
Bahkan para karyawati disana selalu merasa baper tidak jelas saat berpapasan dengan David.
David kemudian memasuki ruangnya, ruangan yang berada di lantai paling atas gedung Darmawan group itu.
Tok Tok Tok
"Masuk" ucap David saat setelah mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu.
"Astaga bos, aku kira Leo yang ada disini. Sejak kapan kau pulang bos" ucap Adrian dengan nada khasnya yang jenaka itu.
"Ada apa Adrian" ucapnya cuek dan datar.
"Kau ini kenapa bos, baru bertemu sudah seperti itu" ucapnya lagi.
"Apa agendaku hari ini Adrian" tanya David sambil membuka laptopnya.
"Hari ini kau akan ada jadwal pertemuan dengan tuan Benyamin bos, tadinya Leo yang akan pergi tapi berhubung kau sudah disini, itu akan lebih baik" ucap Adrian memberi tahu.
.
.
__ADS_1
.