Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 93. Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu


__ADS_3

.


.


.


Vera masih saja tak kenal menyerah untuk terus menanyakan ada apakah gerangan? apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apaan sih, ada sesuatu yang gak gue tahu ni roman romannya" ia berbicara sambil membuka kaca helmnya keatas.


"Aduh gak usah bahas itu lagi deh Ver" jawab Jessika agar berteriak karena melawan angin yang tentu saja membuat pendengaran lawan bicaranya berkurang.


"Ah elah, gitu Lo ya sama gue" jawab Vera masih penasaran.


"Ntar aja di kost lah, gak kedengaran kalau ngomong disini" jawab Jessika kesal.


Vera kemudian memanyunkan bibirnya, ia merasa jiwa keponya sudah sangat meronta ronta.


Tepat pukul 16.27 mereka sampai di kost, tanpa menunda lagi Jessika segera mandi setibanya di kost itu.


Kemudian melaksanakan kewajibannya, begitu juga dengan Vera. Kini ia sudah tidak lagi menjadi anak muda yang suka mangkir dari kewajibannya itu. Definisi teman membawa kebaikan.


"Buruan Lo cerita ke gue ni, jiwa kepo gue udah meronta ronta ini. Tanggung jawab Lo" Vera duduk di samping Jessika dengan tiba tiba.


Mereka berdua kini berada di depan TV, dengan duduk diatas gelaran kasur Palembang.


Jessika menghembuskan nafasnya kasar, ia kemudian menceritakan secara detail hal memalukan yang dia alami. Mungkin agak memalukan.


"Apa? wah gila tau gitu tadi gue hajar itu tuan Leo. Berani beraninya dia kurang ajar ke elo. Untung Lo gak di apa apain, maksudnya gak Sampek ke hal begituan" Vera bergidik ngeri.


"Ih Amit amit deh" Jessika ikutan bergidik ngeri.


"Susah bener jadi orang cantik, siap siap jadi ngeributin kayak begini. Kata si Adrian tuan David sekarang jadi beda Jes, dia jadi orang workaholic banget"


"Adrian? kalian saling chating?" Tanya Jessika penuh selidik.


"CK, bukan gitu kemaren pas elo perform kan dia ada disana, terus gue tanya kenapa kok sendirian"


Jessika hanya mengangguk- anggukkan kepalanya, " Gue jadi mikir kenapa kakak beradik itu sama bersikap seenaknya ke aku Ver" ucapnya sendu.


"Jes gue yakin, tuan David itu asli suka ke elo. Terus kalau masalah yang kata elo ada cewek apa Lo ke kantor dia, terus kemaren si Putri sama dia itu gue gak tahu. Lo istikharah deh kali aja nemu jalan" ucap Vera sok bijak.


*****


"Tolong lebih smile lagi, yak begitu ok satu,,dua,,," ucap Boyke mengarahkan Putri untuk pemotretan.


Adrian dan Tomy yabg di tugaskan untuk menunggui kegiatan itupun hanya memutar bola malas, sungguh hal membosankan.


Terpaksa memilih Putri karena deadline, dan juga keberuntungan Putri yang wajahnya mirip artis yang lagi naik daun itu.


"Yak okeh, terimakasih Putri. Good job buat hari ini" ucap Boyke yang puas karena projectnya telah selesai.


"Udah beres" ucap Boyke pada Adrian dan Tomy.


"Ya udah kita pergi dulu" ucap Adrian yang malas.


"Eh kalian mau kemana, tungguin aku lah" ucap Putri.

__ADS_1


Namun Leo dan Adrian masih tidak menghiraukan Putri, mereka berdua bergegas menuju pintu keluar.


"CK orang itu" gerutu Putri yang merasa dirinya di abaikan.


"Setelah ini Lo kasih tau Bram buat kontak stasiun TV buat iklan" ucap Adrian pada Tomy.


"Ok" jawabnya datar.


"Terus kita atur buat launching produk" ucap Adrian masih berjalan.


"Ok" jawab Tomy masih datar.


"Segera bereskan pembayaran untuk bocah kuliahan itu" jawab Adrian.


"Ok" jawab Tomy.


"Kau ini apa tidak ada kata lain selain OK?" gerutu Adrian karena ia merasa bicara dengan robot.


****


Ia ingat dengan perkataan Leo tadi sore,


"Aku emosi, aku gak bisa lihat kamu sama bang David dekat, aku gak terima Jes"


"Ya Allah, kenapa rumit begini jadinya" batinnya yang sedari tadi melamun di ruang karyawan, menunggu para tamu yang datang ke cafe tempatnya bekerja.


Namun lamunannya buyar ketika Vera datang," Ver hp Lo bunyi terus dari tadi" ucapnya menyodorkan ponsel yang ia titipkan pada Vera, harusnya semua ponsel berada di loker. Namun karena terlalu ribet ia akhirnya menitipkan benda pipih itu di laci kasir Vera.


14 Panggilan tak terjawab


"Lek Soleh ini Ver, ada apa ya" ucapnya sambil membuka pesan dalam ponselnya.


"Nduk nek iso ijin baliko Yo, mbok yah mlebu rumah sakit" ( Nak kalau bisa ijin pulanglah, Mbok yah masuk rumah sakit)


Duaaaarrrr


Bagai tersambar petir di siang bolong, tangan Jessika gemetar seketika itu juga setelah membaca pesan dari paklek nya.


"Kenapa Jes" Vera panik saat melihat Jessika yang tiba tiba menangis.


"Mak wek mlebu rumah sakit Ver, aku pie Iki"( Makwek masuk rumah sakit Ver, aku harus gimana sekarang)" Jessika sampai tidak tahu harus berbuat apa.


"Ayo kita ke bos" ide brilian Vera saat itu juga.


Setelah mendapat ijin dari bos terkait urusan force mejeur, ia diantar Vera ke terminal.


"Sory ya Jes gue gak bisa iku nemenin sampai sana, kamu baik baik ya di jalan. Dan ini buat kamu, buat pegangan disana nanti" ucap Vera menyerahkan amplop coklat berisikan uang.


"Apa ini Ver? ini nggak perlu, aku ada simpanan sedikit" ucapnya tidak enak hati.


Vera tahu jika temannya itu kehabisan uang, apalagi uang gaji kemaren ia gunakan untuk membeli dua handphone sekaligus, sudah pasti ia tidak memiliki lagi sisa uang.


"Udah kamu bawa aja, sedikit tapi mudah mudahan berguna buat Makwekmu nanti" Vera memaksa Jessika untuk menerima uang darinya.


"Terimakasih Ver" ucapnya memeluk teman baiknya itu.


"Jaga diri sama awas barangnya, kabari kalau udah sampai ya" ucap Vera melepas pelukan Jessika.

__ADS_1


Sebuah bus antar kota antar propinsi sudah ia naiki, ia duduk di samping supir karena ia berangkat dari terminal langsung.


Sembari menunggu semua kursi terisi penuh, ia mengirimkan pesan ke lek Soleh.


"Lek aku balik saiki, tulung susulen ning terminal jam 3 an sore engko" ( Lek aku pulang sekarang, tolong jemput di terminal jam 3 sore nanti)


"Yo nduk ati ati, wes gak usah kakean pikiran" ( Ya nduk hati hati, udah jangan kebanyakan pikiran).


Bus berkapasitas kurang lebih 60 orang itu terlihat sudah terisi 70%, Terlihat di belakang Jessika anak anak bersama kedua orangtuanya, ada lagi yang baru masuk adalah pria dengan seragam TNI, ada juga yang terlihat seperti mahasiswa.


Ia merasa sedikit tenang tatkala melihat seorang berseragam loreng yang turut ada dalam bus yang ia tumpangi, setidaknya ada penegakan hukum bila terjadi kejahatan disana, begitu pikirnya.


Ia memilih untuk mendengarkan lagu dari ponselnya, yang ia sambungkan dengan headset.


Setelah menscroll beberapa judul lagu, ia menenggelamkan dirinya dalam buaian lagu yang membuat dirinya terlarut dalam mimpi.


Sampai tepukan tangan seseorang ia rasakan, membuat dirinya bangun.


"Karcis mbak" ucap kondektur yang mengontrol kepemilikan tiket para penumpang.


Ia masih bisa mendengar suara kondektur, meski kupingnya tersumpal benda putih itu.


"Niki pak" ( ini pak) ia menyerahkan selembar tiket dengan tulisan PO. Ladju di karcisnya.


"Mudun endi mbak?"( turun mana mbak)


"Kabupaten B pak" jawabnya ramah.


"Ya wes turuo neh, sek uadoh" ( ya udah lanjut tidur lagi, masih jauh.


Saat bangun ia melihat jam di layar ponselnya menunjukkan 11.42, masih memakan waktu yang lama untuk dia sampai di tujuannya.


Ia lebih memilih mengirim pesan pada Vera,


"Baru nyampek Kabupaten P" pesannya pada Vera.


"Ok ati ati, awas barang barang lu" balas Vera.


Dan sesuai estimasi, ia tiba di terminal Kabupaten B pukul 15. 19 WIB, ia segera turun dan mencari sosok yang ia harapkan kedatangannya.


Karena ia belum melihat lek Soleh disana, ia memutuskan untuk menunggu di samping trotoar. Memudahkan bila Pakleknya datang, ia bis dengan mudah mengetahui.


Setelah setengah jam ia baru melihat lek Soleh yang datang dengan mengendarai motor matic sejuta umat," walah nduk sepurane, pedahe Iki mau leren di gowo ribut njumuk ramban" ( maaf nak, motonya tadi dipakai dulu sama ribut buat cari pakan ternak).


"Nggak papa Lek, Paklek apa kabar" ucapnya seraya mengambil tangan lek Soleh dan menciumnya takzim.


"Alhamdulilah, eh kamu kok makin ayu nduk makin rijik kulite"( alhamdulilah, eh kmau kok tambah cantik, kulitnya makin bersih)


"Alah iso ae sampean Iki pak lek, wes ayo langsung nang rumah sakit opo balik disek?" ( alah bisa aja pak lek ini, udah ayo langsung ke rumah sakit apa pulang dulu?) Jessika bertanya karena masih bingung.


"Mulih sek ae, Iki wes sore kamu adus terus salin sek engko tak terne nang rumah sakit"( pulang dulu aja, ini udah sore kamu mandi ganti baju dulu, nanti aku antar ke rumah sakit). Jawab lek Soleh.


Mereka berdua akhirnya menuju desa P, memerlukan waktu tempuh sekitar 40 menit menggunakan motor, Ia bahagia setelah kurang lebih 5 bulan berada di kota S akhirnya ia bisa kembali ke desa yang ia cintai.


Rasanya ia tak ingin kembali ke kota saat ia melewati deretan persawahan yang terbentang luas, persawahan milik pak Edy yang beberapa waktu lalu ia juga pernah menjadi karyawan disana.


"Lek sebenarnya Mak wek kenapa?" Jessika tak bisa menahan dirinya lagu untuk bertanya.

__ADS_1


__ADS_2