
.
.
.
David dan Leo tiba di desa P sekita pukul 15.18, benar benar molor dari estimasi. Hasil dari kemacetan karena hari ini adalah weekend.
Pak Edy yang tengah menyiangi tanaman di depan rumahnya, mengguntingi daun daun yang sudah menguning, agak terkejut dengan kedatangan sebuah mobil yang ia sudah paham jika itu adalah kedua anaknya.
Bedanya, kali ini mereka tidak mengabarinya terlebih dahulu.
Deru mobil itupun berakhir kala sudah terparkir di halaman rumah pak Edy, sejurus kemudian mereka keluar dari dalam mobil.
Mata pak Edy menangkap wajah putra pertamanya, masih tampan gagah dan sedikit di tumbuhi bulu bulu di wajahnya. Terlihat jika David makin sibuk, pikirnya.
Kemudian pandangannya beralih ke Leo, ia juga masih tampan. Memiliki wajah paling mirip dengan ibunya, namun terlihat lebih kurus dan wajah yang lesu. Semacam kehilangan semangat.
"Assalamualaikum" ucap mereka kompak, kemudian menghampiri papanya.
David mencium tangan papanya takzim kemudian memeluk tubuh papanya yang sudah mengalami banyak penyusutan kebugaran disana sini.
Begitu juga dengan Leo, ia memeluk tubuh papanya. Bahkan matanya kini sudah berair membasahi baju pak Edy.
Ia segera menyusut air matanya menggunakan punggung tangannya, agar pak Edy tidak mengetahui.
Namun terlambat, pak Edy yang merasakan tubuh putra sulungnya itu bergetar, segara melepas pelukannya dan memegang kedua lengan anaknya itu kemudian menatapnya.
"Ada apa?" pak Edy menatapnya penuh selidik.
"Kami rindu pa" ucap David mencoba mencairkan suasana.
"Benar pa, kami rindu" ucapnya menutupi
"Kenapa tidak mengabari dulu, ayo kita masuk dulu" ajak pak Edy yang mengetahui sebenarnya ada yang tidak beres, namun ia segera mengajak kedua putra yang sudah pasti lelah itu untuk beristirahat.
"Bik, bik Darmi" panggil pak Edy kepada ART dirumahnya itu.
"Saya tuan, loh Den David sama Den Leo kapan datang? bagaimana kabarnya Den" ucap bik Darmi menyapa.
"Baik bik, bik Darmi gimana sehat sehat kan" David menjawab.
"Alhamdulilah Den, sini biar bibik bawakan " ucap bik Darmi meraih koper dari tangan majikannya.
"Saya permisi dulu, saya siapkan kamarnya dulu Den"
Mereka semua mengangguk.
"Kalian sebaiknya mandi terus istirahat setelah ini, atau mau makan dulu?" tawar pak Edy kepada mereka berdua.
"Kami masih kenyang pa, tadi mampir di tempat makan sambil istirahat" kali ini Leo yang menjawab.
Mereka mengobrol obrolan ringan sambil menunggu bik Darmi selesai menyiapkan kamar.
Samai suara bik Darmi menginterupsi obrolan mereka," Den Monggo kalau mau istirahat kamarnya sudah siap".
"Sebaiknya kalian istirahat dulu, nanti kita ngobrol lagi. Papa mau ngelanjutin yang di depan tadi, udah kepalang tanggung"
"Benar benar jadi petani papaku sekarang" kelakar David sambil berdiri, kemudian menuju kamarnya.
Sementara Leo menjadi seperti asing, iantakit kalau papanya akan kecewa dengan perbuatannya, bisa saja Leo membuat malu dan membuat reputasi papanya anjlok.
Rumah Sakit Al-Huda
Lek Soleh yang baru saja datang dan terlihat sudah mandi, membuatnya sedikit terlihat fresh.
"Assalamualaikum" ucapnya saat masuk kedalam ruangan, ruangan itu kini hanya di tempati mbok Yah saja. Lantaran pasien di sebelahnya sudah pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Walaikumsalam" ucap mereka berdua kompak.
"Baru datang lek" tanya Jessika yang terlihat baru saja menyeka badan mbok yah, dan sudah memakaikannya baju pula.
"Iyo Nduk, Iki tak gawakne Sego rendang. Mantap " ( iya nak, ini tak bawakan nasi rendang, mantap)
"Wah enak banget" ucap Jessika bahagia karena mendapat nasi yang enak.
"Lek aku mau ke mushola dulu, gantian ya" ucapnya pamit, karena ia belum shalat dan juga tidak ada yang menggantikannya disana.
"Beres" jawab lek Soleh cepat.
"Tahu tempatnya tidak" mbok yah kalo ini bertanya.
"Tahu dong, kemaren kan juga disana. Udah di kasih tau sama lek Soleh" jawab Jessika kemudian pamit dari hadapan mbok yah dan lek Soleh.
"Pie Mak, wes penakan awake?" ( gimana Mak, sudah lebih baik badannya?)
"Alhamdulilah Leh, wes ora mumet"( alhamdulilah Leh, sudah enggak pusing)
"Peneran Mak, asline sampean ki paling ora iso adoh ambi Jessika"( bagus kalau begitu mak, sebenarnya anda itu mungkin gak bisa berjauhan sama Jessika)
"Mboh Leh, mugo mugo arek kui gelem Ning omah ae. Bene megawe sak megawe megawene ritek" ( Gak tau Leh, semoga anak itu mau dirumah saja. Biar sudah kerja apa adanya)
"Wingi wes tak omongi Mak, mugo pikirane teko"( kemaren sudah aku kasih tahu Mak, semoga terbuka pikirannya)
Mbok yah lantas menceritakan alasannya untuk melarang Jessika kembali ke kota S, selain perasaannya yang selalu saja tidak tenang ia menceritakan perihal Jessika yang pernah di culik, sesuai dengan punuturan cucunya itu tadi pagi.
Lek Soleh bahkan ikut sedih, geram dan juga tak rela.
"Wes mak, gak usah budal rono maneh. Bene megawe melok aku ae"( sudah Mak, gak usah berangkat kesana lagi, biar kerja ikut aku saja).
"Lek ora mending di golekne jodho ae arek kui, wes winayah yoan"( kalau tidak kita Carikan jodoh saja, sudah waktunya juga) mbok yah berkata kepada lek Soleh.
Tanpa mereka sadari Jessika yang selesai menunaikan shalat, terpaku mendengar percakapan kedua orang tua itu, ia mematung dan merasa ingin menolak saat itu juga, namun tidak mungkin, mengingat mbok yah masih berada di rumah sakit.
Selepas menghidangkan makan malam, bik Darmi ijin kepada pak Edy yang saat itu tengah bersiap untuk makan malam bersama kedua putranya.
"Tuan, saya mau ijin sebentar" bik Darmi mencoba ijin kepada pak Edy.
" Kemana bik?"
"Saya mau jenguk Yu Yah" terangnya, Yu adalah panggilan mbak yang biasa digunakan di desa.
"Siapa bik yang sakit" David dan Leo yang baru saja datang turut bertanya.
"Itu Den, mbok yah yang dulu masak disini pas acara Bapak tasyakuran" bik Darmi mencoba menjelaskan.
"Neneknya Jessika?" pak Edy langsung menjawab.
"Iya tuan, sudah dua hari di rumah sakit. Saya mau bareng ibu ibu sudah janjian.
"Sakit apa bik?" David merasa tertarik dan lebih ke cemas dengan obrolan mereka.
"Katanya suami Bu Nanik kemaren si Soleh yang nemuin beliau pingsan di dapur, terus langsung di bawa ke RS, saya juga belum tahu lagi. Tadi pas ibu ibu belanja sayur kami janjian" bik Darmi menjawab.
"Ya sudah bik, bibik boleh pergi" pak Edy kemudian menjawab karena David terus saja mencecar pertanyaan, yang membuat bik Darmi jadi tidak bisa segera pergi.
"Makasih tuan, mari Den" ia mengangguk hormat kepada majikannya itu.
Sebagai orang desa ia masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, seperti saat ini. Meskipun bik Darmi bekerja dirumah pak Edy.
"Ayo kalian makan dulu, besok pagi kita jenguk sama sama" ucap pak Edy yang bisa membaca pikiran kedua anaknya.
Akhirnya mereka bertiga makan, menyisakan David yang masih memikirkan kondisi mbok Yah.
"Kasihan beliau, seorang diri" ucap pak Edy di sela sela acara santap malam mereka.
__ADS_1
"Jessika katanya berada di kota" imbuhnya lagi
"Dia sering bersama kita" jawab Leo.
"Apa?" pak Edy mencoba mencari klarifikasi dari ucapan anaknya.
" Dia bekerja di cafe milik Bryan" David menjelaskan.
"Bryan? yang bertato itu, sahabat kamu Leo" tanya pak Edy.
Leo mengangguk tanda tebakan papanya benar, sambil terus memasukkan suapan demi suapan kemulutnya.
"Dunia benar benar sempit, disini dia ingin menghindari kita. Disana malah bertemu kalian lagi" ucap pak Edy sambil meneguk air putih hingga tandas.
David kemudian menceritakan pertemuannya dengan Jessika disana, bahkan kasus yang menimpa Jessika, juga Jessika yang harus terlibat aksi penculikan karena Sherly.
"Astagfirullahhaladzim" pak Edy langsung beristighfar saat mendengar cerita David.
"Kasihan sekali anak itu, dia gadis baik tapi belum bertemu nasib baik" pak Edy berkata sembari mengingat kesopanan Jessika.
Kini mereka bertiga telah berpindah ke kursi ruang tengah, ruangan luas dengan nuansa klasik.
"Papa melihat sepertinya ada yang ingin kalian bicarakan kepada papa"
Leo hanya tertunduk, sambil melirik David.
"Benar pa, kami kesini ingin berunding dengan papa" suara David terdengar serius.
Leo makin gusar, mati aku pasti. Batinnya!
"Katakan, apa yang bisa papa bantu. Soal pekerjaan?" pak Edy mulai menjawab.
"Bukan" David menjawab.
"Lalu?"
"Kami mohon maaf, mungkin papa akan kecewa dengan kami" David mulai menjelaskan.
"Ada apa sebenarnya David ?" pak Edy mulai serius, melihat David yang tidak langsung to the point'.
"Bella hamil pa, dan itu karena aku" ucap Leo yang tidak tahan dengan David yang berbelit belit.
Pak Edy menatap wajah anak bungsunya itu, itulah yang membuat anaknya menjadi lebih kurus, yang membuat dia lesu sepanjang hari.
"Ya sudah kalian nikah" pak Edy menjawab sambil tersenyum.
"Apa?" ucap Leo dan David berbarengan, karena tidak menyangka reaksi papanya akan sesimpel itu.
"Dengar, Bella sudah lama kan menyukaimu Leo. Lagipula papa dan almarhum pak Hartadi memang berniat ingin menjodohkan kalian.
Pak Hartadi adalah nama papa Bella yang sudah meninggal.
"Tapi aku tidak mencintainya pa" Leo menjawab.
"Kalau tidak cinta, bagaimana bisa dia hamil anakmu Leo" pak Edy masih tertawa.
"Kecelakaan" jawab Leo membuang muka.
"Dengar, anak itu bagaimanapun juga adalah darah dagingmu"
"Dan cinta, bisa datang seiring kebersamaan kalian"
David hanya diam, ia tak menyangka akan menjadi semudah ini menyelesaikan persolan Leo.
"Sudah berapa bulan" pak Edy kembali bertanya
"Satu bulan kurang lebih" jawab Leo.
__ADS_1
Secepatnya kita lamar Bella, dan kalian harus segera menikah. David pastikan kau urus semua dengan baik, papa kan ikut ke kota.