
.
.
.
"Kamu dan segala kenangan, menyatu dalam waktu yang berjalan",
" Tak ada yang lebih pedih, dari pada kehilangan dirimu"
( Diambil dari lirik lagu "Kamu & Kenangan ~Maudy Ayunda)
.
.
Jessika
Ia berdiri mematung, menatap tubuh yang sudah terbalut kain kafan yang perlahan diturunkan ke dasar liang lahat.
Selama itu pula, air matanya seolah tak henti mengucur. Deras, menganak sungai.
Wajahnya nampak sendu, tatapannya kosong, tubuhnya seolah tak bernyawa.
Tak memiliki daya ,bahkan untuk berdiri ia dibantu oleh Pamannya. Lek Soleh.
Namun saat ini, kedua sahabatnya sudah berada di sana.
Arin dan Eka. Dengan kesungguhan hati, mereka berusaha datang untuk memberikan kekuatan buat sahabatnya.
Berita tentang meninggalnya Mbok Yah, tentu saja kini sudah sampai ke telinga warga.
Arin berdiri di dekat Jessika yang masih setia di rangkul oleh Lek Soleh, begitu juga Eka.
Ia berusaha menguatkan dirinya, untuk melakukan penghormatan terakhir kepada neneknya.
Dengan di temani puluhan pelayat lain, Jessika turut menengadahkan tangan sewaktu doa di panjatkan, tatkala gundukan tanah itu telah terlihat.
Menandakan bila jasad neneknya, sudah terkubur dengan baik dan benar.
.
.
Pak Edy
Ia bersama putra bungsunya, Leo. Saat ini mereka tengah berada diantara kerumunan para pelayat lain.
Ya, sejak sampai di airport mereka langsung meluncur menggunakan taksi, lantaran tak ada satupun nomer dari Tomy maupun David yang bisa di hubungi.
Namun pemandangan tak biasa, yang menggangu pandangannya, membuat hatinya bertanya-tanya.
__ADS_1
"Mengapa justru Lek Soleh yang memeluk Jessika?" batinnya.
Sejurus kemudian, ia mengedarkan pandangannya ke arah lain.
Dan ia mendapati David, berdiri di jarak yang tak jauh.
"Ada apa ini?" jelas batin orang tua sangatlah tajam.
.
.
Leo
Ia cukup terkejut, mengapa kakak dan kakak iparnya tak berada di tempat yang sama.
Seharusnya kakak iparnya itu, berada dalam pelukan David bukan.
Ia adalah pria yang tentu saja bisa dengan mudah membaca situasi, dan menurutnya jelas telah terjadi sesuatu antara kakaknya dan kakak iparnya.
Sialnya, sampai sekarang nomer Tomy tak bisa dihubungi.
Ia juga tak mendapati Tomy, dalam kumpulan para pelayat itu.
Ada masalah apa sebenarnya.
****
Sebagian para pelayat telah undur diri dari pemakaman tersebut.
Jessika masih tak menyadari kehadiran ayah mertua beserta adik iparnya disana, ia benar benar seperti kehilangan harap.
Ia beringsut ke tanah, meratap di depan pusara yang belum mengering. Menangis sejadi-jadinya.
Namun Lek Soleh beserta kedua sahabatnya, telah mengetahui kehadiran Leo dan Pak Edy.
Tak ada lagi tempatnya untuk mengadu, tak ada lagi tubuh yang bisa ia peluk saat ia rindu, tak ada lagi pundak yang bisa ia gunakan bersandar tatkala ia mendapat persoalan. Seperti saat ini.
Bertahun tahun hidup dalam belenggu kemiskinan, bertahan bersama neneknya dengan segala keterbatasan.
Melalui hari hari sulit, yang datang silih berganti bersama neneknya.
Namun mengapa, saat ia baru saja berhasil memutuskan rantai kemiskinan. Neneknya justru meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Pandangan itupun tak luput dari semua yang disana, David bahkan berkali kali menyusut air matanya.
Eka dan Arin yang juga turut duduk bersimpuh di dekat gundukan tanah itu, ikut larut dalam pecahnya tangis.
Eka bahkan tak mempedulikan rasa sakit di kakinya, akibat keseleo tempo hari.
David yang melihat adik dan papanya berada di sana, kini berjalan memutar membelakangi Jessika.
__ADS_1
Leo terlihat menarik nafasnya dalam, tak kuasa melihat Jessika yang tengah di runding duka.
Namun, saat mereka masih sibuk meratap. Pak Edy terlihat menarik lengan kekar putra sulungnya, saat David baru saja hendak menyapa papanya.
.
.
"David!" kini Pak Edy menyeret tubuh putranya, menuju selasar yang berada di samping tempat menaruh keranda.
"Pa..." Ucapan David menguap di udara.
"Ada apa ini, jelaskan!"
"Apa kalian bertengkar?"
David menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan papanya.
"Aku di jebak!"
****
David terlihat berjalan di barisan paling belakang, memandang istrinya yang kini tengah di rengkuh oleh kedua sahabatnya.
Pandangannya sesekali melihat ke arah Eka, yang berjalan sedikit pincang.
"Kenapa lagi anak itu?" ia bahkan sempat berbicara dalam hatinya.
Ia tahu, bila istrinya tak menganggap kehadirannya sedari tadi.
Well, itu pantas ia dapatkan.
Meskipun David sendiri berharap, istrinya itu mau mengerti bila dirinya telah dijebak.
Tapi ini benar benar saat yang tidak tepat, untuk membicarakan persoalan sialan tadi.
"Aku sudah menghubungi Adrian"
"Jack dan Victor juga sudah menuju kemari" ucap Leo yang datang tiba-tiba, sepertinya ia baru saja melakukan panggilan telepon.
Terlihat adiknya itu, masih menggenggam ponsel pintarnya.
"Kalian pergilah, aku akan bersama Jessika!" titah Pak Edy yang muncul dari dalam.
Leo dan David saling pandang, sejurus kemudian mereka kompak mengangguk ke arah papanya.
Ok, ready to action!!
Here we go!!!
.
__ADS_1
.
.