Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 180. Ucapan yang selalu saja melukai


__ADS_3

.


.


.


Tak ada sesuatu yang mudah di dunia ini. Terutama untuk manusia sekelas darah rakyat macam Gendis. Ada gerak, ada nasi untuk di tanak. Mengejar matahari degan tiada lelahnya.


Jika ada yang bertanya mengapa gendis memilih pekerjaan yang kasar, padahal dia adalah seroang lulusan SMA. Setidaknya toko dan kantor kecil mungkin bisa menampung SDM seperti dirinya.


Namun jangan salah, dia menyadari kekurangannya dalam mengelola emosi. Ia juga tak bisa berbasa-basi bila ada orang yang mencari gara-gara dengannya. Sikap keras yang terwujud karena tempaan kehidupan sulit dan keras. Menjadikannya pribadi yang kaku.


Ia kadang protes kepada Tuhan. Mengapa malah justru mengambil yang masih lebih berguna dari hidupnya. Mengapa bapaknya yang pengangguran dan hobi minum itu malah panjang umur.


Ya, seperti biasanya, Gendis memilih waktu siang bolong di kisaran jam 11-12 siang untuk pergi merumput. Hal, itu lantaran di jam itu ia baru selesai menyelesaikan segala macam pekerjaan rumahnya. Ia juga kerap bangun siang, dan tak bisa di tampik Sono lah yang menjadi sebabnya.


Pria dengan rambut bak ketumpahan minyak jelantah itu, kerap mengajak Gendis memutar film di laptop bekas tapi baru miliknya. Ya, pekerjaan Sono yang sebagai tukang servis alat- alat elektronik itu mendapat laptop bekas secara cuma-cuma dari juragan sayuran yang menggunakan jasanya saat membetulkan mesin cuci. Dan karena ia baru pertama kali memiliki, untuk itulah ia menyebutnya dengan laptop bekas tapi baru.


Alhasil, Gendis yang kerap terjaga hingga larut malam karena lupa waktu sakit asyiknya menonton itu, kerap bangun saat matahari sudah mulai meninggi.


Melanjutkan kegiatannya dengan memasak, juga mengerjakan pekerjaan rumah lain sewajarnya manusia kaum hawa lainnya. Sepertinya mencuci, membersihkan rumah usangnya juga melakukan perintilan kesibukan lainnya.


Bedanya, ia juga masih harus harus menjadi tulang punggung bagi Yudi.


Dengan peluh yang bolak balik menetes, gendis tekun memotong rumput yang setinggi pahanya itu. berharap satu karung itu bisa segera terisi penuh dan ia cepat mendapat tiga puluh ribu yang akan menjadi haknya itu.


Namun saat tengah gencar bekerja, interupsi datang tiba-tiba.


" Ini kawasan Darmawan Group, kenapa seenaknya mencari rumput disini!" Jack berkacak pinggang tepat di hadapan Gendis yang wajahnya merah hitam akibat tersengat jilatan ultraviolet.


.


.


Saat Victor memberinya info bila wanita bernama Gendis itu tengah merumput di areal petak lima milik Darmawan Group, seringai licik muncul dari bibir Jack.

__ADS_1


" Elu kesana dulu Vic, habis ini aku mau nyusul. Aku mau nelpon seseorang!" Jack berbohong.


" Ya udah, nanti langsung ke posnya fajar ya. Habis itu kita pulang, jangan sampai kita di telpon Bu Jessika!"


Usai memastikan Victor enyah dari hadapannya, Jack berniat ingin menemui Gendis.


" Ini kawasan Darmawan Group, kenapa seenaknya mencari rumput disini!" Jack sengaja memilih kata-kata itu untuk membuat Gendis menatapnya.


Jack siang itu masih seperti biasanya, mengenakan safari dua kantong yang dimasukkan rapih kedalam celana senada. Hanya saja kini ia memakai seragam warna khaki lengkap dengan sepatu boots yang terbuat dari kulit asli. Terlihat elegan dan mahal.


Gendis mendongak sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya. Berusaha mengabaikan gangguan Jack.


" Hey kau tak punya telinga ya! aku bisa menuntut mu, ini sama saja dengan mencuri!" ucap Jack lagi sengaja ingin bergurau. Sengaja memancing agar Gendis menatapnya.


" Hey..kau tidak...!"


" Jancok arek Iki ( brengsek anak ini!)" dengan kesabaran yang terkikis,dan dengan gerakan cepat pula, gendis melepas capil dan juga kemeja panjang yang menutupi lengannya dari sengatan matahari. Mencampakkannya begitu saja, dengan dada bergemuruh.


Wanita itu terlihat berang, dan menuju ke tempat dimana Jack berdiri dengan bersidekap.


Jack yang berdiri di pematang sawah itu, langsung di tubruk oleh Gendis. Wanita itu nampak ingin menghajar pria yang selalu bermulut pedas itu


Sejenak Jack bisa merasakan bila dua benda kenyal milik gendis terpelenet diatas dadanya. Aroma sengatan matahari di tubuh gendis bisa ia hirup. Bisa simpulkan bila wanita itu lelah dan bekerja begitu keras.


Dan dari posisi yang tak berjarak, Jack bisa melihat wajah bersimbah keringat Gendis itu, rupanya begitu manis. Jack bahkan bisa melihat bulu mata lentik milik Gendis serta bibir lembab yang terpoleskan lipstik atau sejenisnya itu, namun masih terlihat berwarna pink alami.


Plak!!!


Gendis menampar wajah Jack dengan keras saat posisinya masih berada diatas tubuh pria itu. " Ini cuma rumput, apa kau juga akan meminta semuanya hah!!" Gendis tak bisa menahan laju kekesalannya.


Usai melontarkan perlawanan, gendis bangkit dan mengusap kedua lengannya yang tertempeli lumpur kering. Ya mereka uleng- ulengan di atas sawah kering.


" Hey...kau ini jadi perempuan kasar sekali!!" Jack mendengus menatap ke arah Gendis yang memberinya tatapan permusuhan.


" Kalau kamu mau ngambil..nih, makan ni rumput!!" Gendis mengambil karung yang sudah berisikan separuh penuh rumput. Menumpahkannya keatas tubuh Jack.

__ADS_1


" Hey!!! apa-apaan kau ini!!" Jack mengibaskan guyuran rumput yang mulai menghujani tubuhnya.


" Kau sudah gila ya.. hentikan!!" Jack yang kehujanan rumput itu terus memarahi Gendis. Wanita itu tak peduli, ia terus mengguyurkan rumput itu keatas kepala Jack.


" Manusia sombong, apa kau tidak punya pekerjaan selain menindas orang miskin sepertiku hah? Gendis bahkan sampai tersengal-sengal dalam mengatur nafas saat berbicara kepada Jack.


Ia telah sampai pada batas kesabarannya siang itu. Tubuhnya yang letih karena paparan sinar matahari, hatinya yang nelangsa karena terlalu penak dengan takdir, juga harga dirinya yang dirasa terlalu di injak-injak oleh Jack.


Gendis beringsut dan menangis. Ia tak pernah selemah itu.


Jack seketika menelan salivanya. Ia hanya bercanda, namun mengapa reaksi Gendis di luar dugaannya.


Jack merendahkan tinggi badannya dengan cara berjongkok, guna menyamai tinggi gendis yang bersila diatas tanah sembari menutup wajahnya karena menangis.


" Maaf!" Jack dengan suara lirih dan ragu menepuk pundak Gendis yang masih bergetar itu. Wanita itu benar-benar menangis pikirnya.


Gendis nampak tak menyahuti. Ia masih ingin meluapkan kesedihannya. Sekuat-kuatnya ia , ia tetaplah perempuan yang memiliki sisi melankolis.


Jack memindai tampilan Gendis dari atas hingga bawah. Celana jeans dengan noda di sana sini, kaos hitam pudar, sepatu boots karet yang biasa dijual di pasar dengan harga murah, capil penutup kepala yang sudah berlubang di ujungnya, juga sebuah arit yang terlihat tajam tak lepas dari pandangannya.


Apa ia sudah keterlaluan. Wanita di depannya itu sudah ia sakiti pikirnya. Jack tertegun menyadari kesalahannya.


" Aku minta...!" ucap Jack menatap Gendis yang masih menunduk.


" Minggir!!" Gendis menyudahi aksi sedihnya. Ia tak mau terus berada di sana bersama pria bermulut combe itu.


Gendis menepis tangan Jack. Wanita itu dengan gerakan cepat terlihat memakai kemeja kotak-kotak kusam yang ia campakkan tadi, memakai kembali capilnya, kemudian menyambar karung dan arit yang berada di dekat kaki jenjang Jack.


Wanita itu pergi sembari menyusut air matanya. Ia sudah konyol siang itu. Ia berniat ingin pulang saja. Untuk pertama kalinya, ia sangat sedih dengan diri dan hidupnya saat itu.


Jack sejenak merasa bersalah terhadap wanita itu. Tapi sungguh, dia ingin berbasa-basi dulu sebenarnya. Dan dia sungguh ingin meminta maaf.


Mata Jack nanar menatap punggung Gendis yang mulai menjauh dari pandangannya. Ia harus minta maaf secara baik-baik pikirnya. Harus.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2