
.
.
.
Malam yang dingin kini berganti dengan pagi yang hangat. Fajar yang menyingsing membawa serta kehangatan dari sang pencipta. Pagi ini Gendis berniat akan mengembalikan jam tangan hitam, yang disinyalir adalah milik pria yang membuatnya kesal sekaligus nyaris saja mencelakainya kemaren.
Ia memang orang miskin, tapi mengambil yang bukan miliknya tentu bukanlah dirinya.
Gendis yang tak memiliki pekerjaan tetap selain mengarit rumput untuk Haji Jaroni itu, lebih mudah untuk kelayapan kesana kemari. Yang penting sore hari, ia harus setor rumput ke kandang.
Ia berniat meminjam motor Harsono, pemuda culun yang menjadi tetangganya itu.
" Son, pinjam motor dong, bentar!" ucap Gendis kepada pria dengan kaca mata tebal, yang terlihat menggosok body motor jadulnya itu.
Sono adalah pemuda yang berusia sama dengan Gendis. Menjadi teman sekolah semenjak mereka mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga tamat SMA.
Gendis yang ogah-ogahan dengan peraturan ribet perkantoran, merasa tak cocok jika bekerja seperti itu. Apalagi garis keras yang ia miliki, membuatnya sering bersitegang dengan orang lain yang dirasa nyolot kepadanya.
Membuatnya tak memiliki pekerjaan yang biasa diminati oleh kawula muda pada umumnya.
" Mau kamu bawa kemana?" tanya Sono.
" Ke RT sebelah. Mau ikot? ayok aja sekalian!!"
.
.
Sono berteriak histeris saat Gendis mengemudikan motor bebek dua tak keluaran era 90-2000an. Motor kuno dengan dua spion yang nangkring lengkap itu, jelas menandakan bila Sono selama ini merawat dengan baik.
Gendis mengajak Sono untuk ikut bersamanya. Lebih tepatnya, memaksa.
" Ndis..gendeng kamu, aku gak mau mati!!" Sono yang notabene seorang pria, malah berada di belakang Gendis.
Ia yang biasanya mengendarai motor dengan kecepatan 40km/ jam, kini harus uji nyali saat ia di bonceng oleh Gendis dengan kecepatan 110 km/jam.
" Cangkemu menengo Son, ket mau kenyih eram ( mulutmu diam aja Son, dari tadi cerewet banget!)" Gendis mengumpat kesal, ia takut jika semua orang penting di naungan Darmawan Group itu keburu berangkat dinas.
Sono pasti tengah berdoa saat ini. Pria dengan rambut klimis mengkilat setiap saat itu, memejamkan matanya saat mereka melewati jalan lurus di bulakan sawah.
" Duh Gusti berikan saya keselamatan, dan jauhkan kami dari marabahaya!!" Sono memeluk tubuh Gendis karena ketakutan, seraya berdoa.
" Woy!!! minggir woy!! ah elah...!!" Gendis meneriaki penggembala bebek yang tengah menggiring ratusan unggas itu, untuk tetap berjalan sesuai lajunya.
Namun karena gendis yang ugal-ugalan, membuat penggembala itu melompat ke dalam sawah guna menyelamatkan diri, seraya memaki Gendis dan Sono yang nyaris saja menabraknya. Dan unggas-unggas yang barusan di lewati Gendis, kini berhamburan tak jelas .
" Sory cak, buru-buru!" Gendis menatap penggembala tadi dari spion motor Sono, sambil tertawa kencang . Ia senang sekali jika sudah seperti itu.
Menurut Gendis, pecicilan dengan motor Sono adalah kesenangan tersendiri.
Lima belas menit kemudian ia dan Sono sampai di rumah besar pak Edy. Tak sulit bagi manusia darah rakyat macam Gendis untuk mencari keberadaan orang nomer satu di desa P itu.
__ADS_1
Semua orang sudah tahu, siapa keluarga Edy Darmawan. Membuatnya dengan mudah menemukan rumah besar itu.
Sono terlihat memuntahkan isi perutnya ke atas rumput samping selokan rumah pak Edy, lantaran ia pusing dan merasa perutnya bagai di aduk. Gendis menyetir motornya begitu ngawur.
" Buruan!! ah elah, gitu aja teler!" cibir Gendis kepada Sono.
" Gendeng kamu itu Ndis. Besok-besok gak mau lagi aku!" Sono mendengus kesal. Bagiamana tidak, rambut klimis Sono kini berubah bak kemoceng yang baru di anyam. Pria itu malah mirip seperti orang yang baru selamat dari hempasan badai.
Minyak rambut sachet murah yang selalu ia beli di warung samping rumahnya itu, nampaknya tak bisa menghalau laju angin yang menerpa kepalanya, saat di bonceng oleh Gendis.
" Alah bentar doang. Yuk ikut!" Gendis menggeret lengan Sono dengan paksa. Pria kurus yang mengenakan celana borju ( model celana dengan lebar bagian bawah) itu, terkesima dengan ukuran rumah pak Edy yang terbilang mewah dengan arsitektur klasiknya.
" Ini rumah siapa Ndis. Kok kamu kenal wong sugih ( orang kaya)" dengan kepala celingak-celinguk sembari merapikan rambutnya yang mobal, Sono berbicara tanpa menatap Gendis.
" Cangkemu!!! emang kalau aku miskin gak boleh kenalan wong sugih?" Gendis mendengus.
" Ini rumah yang punya lahan cabe berhektar-hektar itu. Yang punya pabrik sambal di ujung sana itu. Tahu nggak kamu?" Gendis berucap seraya mencari tahu bagaimana cara masuk ke dalam rumah, dengan luas lahan yang hampir sama luasnya dengan lapangan sepakbola .
Ia melihat aneka tanaman hias yang ia yakini bernilai fantastis. Ada juga deretan pohon Cemara yang berjajar rapih. Tanaman aglonema berbagai warna, juga deretan mobil yang berada di ujung rumah itu.
" Oh iya, baik. Bisa lanjut aja!"
Gendis dan Sono mendengar suara seseorang saat mereka tengah sibuk mencari cara untuk masuk.
" Permisi Om!" ucap Gendis yang merasa orang itu bisa ia tanyai.
Yang di panggil dengan sebutan 'Om' langsung menoleh ke sumber suara. David terperanjat begitu melihat dua kepala yang mendadak menyembul dari pintu pagar kayu rumahnya itu .
" Astaga..ngagetin aja kamu!!" David memegangi dadanya karena terperanjat.
" Cari siapa?" tanya David.
" Siapa mas?" Jessika terlihat keluar sembari menggendong Deo.
Gendis menatap ke arah wanita yang tengah berjalan menuju luar itu.
Cantik banget, apa itu Bu Jessika
Gumam Gendis dalam hati, seraya menatap Jessika tak lekang. Gendis mendecak kagum, saat wanita dengan wajah keibuan yang menggendong bayi itu, turut menghampirinya.
" Kok pagarnya gak di buka mas kalau ada tamu!" Jessika mengernyitkan dahinya .
" Hah?" David malah ikutan mengerutkan keningnya.
" Itu tamunya mas kenapa gak disuruh masuk!"
" Emmm sebenernya saya...." Gendis kini membuka suara dari luar pagar.
.
.
David dan Jessika akhirnya tahu tujuan Gendis datang kesana. Perempuan itu telah memperkenalkan dirinya beserta Sono, dan sebab musabab mereka bertandang ke tempat itu.
__ADS_1
" Maaf Bu, ibu pasti Bu Jessika ya!" tebak Gendis seraya tersenyum.
Ya, mereka berempat kini duduk di kursi yang berada di luar rumah besar pak Edy.
" Iya benar, saya Jessika. Ini suami saya, namanya Pak David!" terang Jessika ramah memegang paha David, dengan maksud memperkenalkan suaminya itu kepada Gendis dan Sono.
Sementara yang di terangkan hanya diam membisu. Benar-benar arogan bila bersama orang lain.
" Bener son, cantik banget orangnya. Tapi lakinya judes banget!" bisik Gendis pada Sono.
Plaak
Sono memukul paha Gendis karena berkata ngawur. Jessika yang mendengar hal itu langsung tergelak. Sementara David yang mendengar hal itu, mendengus kesal.
Mengapa ada Eka II disana. Satu Eka saja sudah membuat David pusing, kini di tambah ada perempuan lain yang sikapnya nyaris sama dengan Eka.
Ia tak bisa membayangkan bila wanita itu ada disana bersama dengan Eka hari ini. Seketika David bergidik ngeri.
" Apa kamu bil..."
" Mas!!!" ucap Jessika membuat ucapan David terjeda.
Mama Deo itu, memberikan tatapan tajam kepada suaminya . Tatapan untuk tidak menunjukkan sikap arogansinya di hadapan orang lain.
David menghela nafasnya pendek. Ia selalu saja kalah bila Jessika yang bertindak.
" Sana kamu panggil Jack sama Victor. Bilang ada yang mau ketemu!" ucap Jessika memerintah suaminya.
" Iya Nyonya!" sejurus kemudian, David mencium bibir Jessika di hadapan dua orang manusia absurd itu.
Membuat Sono seketika mendelik, karena melihat adegan yang membuatnya langsung merinding itu. Sementara Gendis merasa takjub. Ia yang biasa hanya melihat orang berciuman di film yang ia lihat bersama Zaki, satu-satunya teman SMP nya dulu yang memiliki laptop itu, kini bisa secara langsung melihat adegan hot di depannya.
Benar- benar mantap.
" Waw....!" Gendis terperangah.
" Mas!!!" Jessika menatap sebal kearah suaminya yang kini berjalan seraya tergelak itu. Membuat Deo yang tadinya tidur dalam gendongan Jessika, kini menggeliat karena suara keras mamanya yang kesal kepada papanya yang seenaknya nyosor tanpa tau tempat itu.
Wajah Jessika merah karena malu.
" Maaf ya, maaf sekali!" Jessika kini berdiri seraya mengayun tubuhnya, berharap Deo kembali terlelap.
Ia merasa tak enak hati kepada dua orang yang usianya lebih muda darinya itu.
Gendis tersenyum penuh arti. " Gak papa Bu. Suaminya so suit ( So sweet) banget!" Gendis terkekeh.
Baru kali ini ia merasa senang. Melihat adegan yahuud secara live.
Dan saat mereka masih berbicara asyik, derap langkah terdengar mendekat ke arah mereka.
" Ngapain kamu kesini!" ucap seorang pria dengan suara dingin, sesaat setelah dirinya melihat Gendis berada di sana.
.
__ADS_1
.
.