
.
.
.
Lek soleh
Lek Soleh sengaja mengajak Jessika pulang dulu bukan tanpa alasan, keponakannya itu pastilah sudah lelah bila dia mengajaknya langsung ke RS selain mengejutkan mbok Yah, dia pasti juga akan merasa bersalah.
Sewaktu kejadian tersebut lek Soleh berniat ingin mengambil ayam , sudah waktunya dijual. Namun saat memanggil nama mbok Yah tidak ada sahutan dari dalam, padahal pintu terbuka
Ia lantas memasuki rumah tersebut, dan seketika ia terkejut mendapati mbok yah sudah tak sadarkan diri di Pawon ( dapur) rumahnya.
Ia mengangkat tubuh itu, ia berteriak meminta tolong warga yang kebetulan lewat. Ia diantar oleh suami dari Bu Nanik pemilik toko kelontong di desanya itu, yang kebetulan memiliki mobil sejuta umat.
Ia langsung membawanya ke rumah sakit, begitu sampai di lobby ia meminta perawat yang standby disana untuk mengambilkan brankar.
Begitu masuk ke ruang tindakan lek Soleh dan suami dari Bu Nanik menunggu diluar.
"Yaopo Leh iku mau, kok Moro moro ngono" ( kenapa tadi Leh , kok tiba tiba begitu) suami dari Bu Nanik itu memang tak sempat bertanya saat di mobil tadi.
"Gak ngerti kang, aku pas mlebu tak celuki Ra semaur. Basan aku mlebu weruh weruh wes semaput" ( Gak tau mas, aku panggil gak ada jawaban, setelah aku masuk tau tau udah pingsan). Jawabnya merangkan dengan wajah panik.
Setelah perawat tadi keluar, ia segera menghampiri petugas berseragam putih dengan dua kantong di bajunya itu.
"Gimana mbak" tanya lek Soleh yang tak sabar.
"Pak beliau tensinya tinggi sekali, dan disarankan untuk dirawat. Kami akan lakukan pemeriksaan berlanjut" terangnya degan penuh keyakinan.
"Baiklah mbak, dirawat saja. Lakukan saja yang terbaik" ucap lek Soleh.
Ia kemudian menunggui mbok yah seorang diri disana, lantaran tidak ada lagi saudara selain dirinya.
"Leh gak usah omong Jessika lo lek aku ngamar" pinta mbok yah saat sadar dan tengah di suapi oleh lek Soleh.
"Nggeh Mak" ucap lek Soleh.
Namun janjinya itu terpaksa ia langgar, karena saat malam mbok Yah mengigau dan kerap memanggil nama cucunya itu.
Dengan terpaksa pagi harinya lek Soleh mengirim pesan untuk Jessika, ia berharap kedatangan Jessika bisa membuat mbok yah sembuh.
Di ruangan mbok Yah
"Jessika!!" suara Eka dan Arin membuat dua wanita yang saling bercengkrama itu menoleh kompak.
"Arin Eka" ucapnya berdiri dan menghambur ke pelukan merak berdua.
"Arek Iki jahat teko gak ngabari" ( anak ini jahat datang gak kasih kabar) Eka memukul lengan Jessika pelan tanda protes.
"Iya Lo, wes lupa sama kita semenjak jadi anak kota" Eka menimpali.
"Bukan gitu, aku baru nyampek tadi sore kalian baru mau aku telpon. Aku juga baru aja Sampek disini kok" bela Jessika pada mereka berdua.
__ADS_1
"Eh Mbok Yah assalamualaikum, sampek lupa " ucap Eka yang mendekat ke arah mbok yah dan mencium tangan wanita tua itu dengan takzim.
Arin juga melakukan hal yang sama, ia bahkan merasa sedih. Matanya tanpa seijin darinya mengeluarkan cairan bening.
"Maaf mbok baru dengar tadi kabar kalau njenengan ( anda) masuk Rumah Sakit".
"Oalah ngga apa apa, doakan biar cepet pulang ya. Gak tahan disini, denger suara orang nangis nangis, orang jerit jerit" ucap mbok yah bergidik ngeri.
.
.
Di kota S
Rumah David
Leo pulang dengan keadaan lesu, ia memijat keningnya yang terasa pusing." Bik buatkan aku teh hangat" ucapnya kepada bik Asih.
Saat David hendak keluar dan melihat adiknya duduk lesu, ia menghentikan langkahnya.
"Baru pulang? gimana produk baru kita" tanya david kemudian ikut duduk di sofa ruang tengahnya.
"Udah beres semua, si Putri udah dapat honor juga" ucapnya sambil mengacak rambut.
David memasang wajah heran, kenapa adiknya menjadi gusar seperti itu.
"Apa yang membuatmu kacau begitu Leo" ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
Leo sempat terdiam, apakah dia cerita atau bagaimana. Ia merasa dirinya sebrengsek ini.
"Apa maksudmu Leo" David heran, karena pertanyaan tidak jelas itu ia lontarkan
"Jawab saja"
"Aku tidak tahu, lagipula kenapa kau menanyakan hal ini" David mulai curiga pada adiknya itu.
"Sudah kuduga, kau tidak akan bisa mambantu" ucap Leo mengalihkan pandangannya.
David yang menangkap raut gelisah, takut, bingung dari wajah Leo menatapnya lekat.
"Apa yang terjadi Leo" aura membunuh David kini terpancar, aura yang sudah lama tidak ia tampilkan.
Pikirannya mengira yang tidak tidak, dan entah mengapa ia justru bernegatif thinking dan pikirannya tertuju kepada Jessika.
Karena hanya Jessika lah yang membuat Leo selama ini kehilangan akal sehatnya.
"Bela hamil" ucap Leo serius menatap dua manik mata David.
Namun membuat kelegaan di hati David, setidaknya bukan nama wanita yang menjadi dambaannya yang di ucapkan Leo .
David juga menatap tajam mata adiknya itu, pembicaraan sesama lelaki itu mulai menegang.
"Karena kebodohanku" ucap Leo yang mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Andai saja waktu itu, aku tidak terbakar cemburu kalian, aku tidak menyakiti Jessika, aku tidak ke club malam itu" ia membeberkan rentetan kesalahan yang ia lakukan.
David masih menyimak, memberikan kesempatan Leo untuk meluapkan isi hatinya. Tunggu dulu menyakiti Jessika?
" Jessika bahkan tidak memaafkan ku, kesalahanku sudah fatal" kini matanya mulai berair. Ia melihat adiknya begitu rapuh dan benar benar menghadapi masalah berat.
Setelah Leo meluapkan semua beban yang bersarang di hatinya, mereka sama sama hening.
"Sebagai laki laki kita harus bertanggung jawab, kau harus segera menikahi Bella. Bagaimanapun juga anak di dalam rahim Bella itu adalah anakmu, dia tidak bersalah. Aku harap kau mengerti apa yang seharusnya kau lakukan Leo" ucap David serius kepada adiknya.
Leo merasa lega setelah berbagi cerita, muluapkan semua beban dihatinya.
"Dan untuk Jessika, apa yang telah kau lakukan kepadanya?" David masih penasaran.
"Maafkan aku bang, aku memang laki laki brengsek, bagaimana bisa aku memperlakukan Jessika dengan buruknya"
David hanya mengernyit penuh tanya, alisnya bahkan bertautan.
"Sewaktu aku melihat kalian berdua dikamar, hatiku terasa terbakar. Aku cemburu bang" Leo mulai menceritakan.
David melipat kedua tangannya ke dada, dan menyandarkan tubuhnya ke sofa sembari mendengarkan cerita Leo dengan saksama.
"Aku melihat mobil mu disana, kupikir kau yang mengantar. Ternyata mang Ujang"
"Aku memutar arah kembali ke kost Jessika, kemudian aku kesana. Rasanya masih cemburu bang"
"Awalnya obrolan kami normal" bahkan ia ingat saat Jessika menyedihkan kopi buatan perusahaan miliknya.
"Kemudian aku yang tersulut cemburu, dia juga menolakku untuk kedua kalinya"
"Aku yang dikuasi ..." ia tak melanjutkan ucapannya karena takut dengan David.
"Katakanlah, aku akan berusaha menahan diri" ucap David yang tahu adiknya takut kepadanya.
"Aku mencium Jessika kasar, menyakitinya dan membuat dia trauma bang" ucap Leo dengan air mata yang berderai
Bahkan bik asih tidak jadi menghidangkan teh yang di pesan Leo tadi, demi melihat pembicaraan serius kakak beradik itu.
Ia memilih untuk membawa secangkir teh melati hangat itu, kembali ke dapur. Ia ikut menjadi takut
David memejamkan matanya , menarik nafas dalam dalam mencoba menetralisir buncahan emosi akibat penuturan sang adik, yang membuatnya kini meradang.
Ia menyadari ia juga turut bersalah dalam kerumitan masalah ini, bahakan ia sudah mengabaikan Jessika.
Ia juga ingat kenekatan Jessika saat membawakan makan siang untuknya, ditambah kesalahpahaman saat Calista berada di kantornya, dan sikap putri kepada dirinya yang tidak ia tolak saat berada di cafe Bryan, sudah pasti membuat luka di hati Jessika. Damned!!!!
"Aku sudah ikhlas jika Jessika bahagia bersamamu bang" Leo menatap David, kali ini matanya serius menyatakan ucapannya baru saja.
Ia tidak ingin menjadi pecundang, ia akan bertanggungjawab kepada bayinya dengan menikahi Bella. Meskipun cinta belum ada di hatinya.
David menghampiri adiknya, memeluknya memberikan kekuatan.
"Kita lalui sama sama, kita harus menemui papa untuk membicarakan ini" ucap David.
__ADS_1
"Aku takut papa kecewa kepadaku bang" Leo makin rapuh.
"Tidak akan, besok kita ke desa"