Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 165. Kebahagiaan Eka


__ADS_3

.


.


.


Eka terbangun dengan tubuh yang remuk redam, apa yang diucapkan Tomy benar- benar terjadi. Ia dibuat melayang berkali- kali.


"Astaga!!" Eka yang melihat matahari sudah meninggi terperanjat dan seolah langkahnya terkunci, bingung mau berbuat apa.


Ia melihat Tomy yang sudah berganti pakaian , terlihat baru selesai mandi.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" gerutu Eka.


"Apa kau lelah, hm?" Tomy malah mencium kening Eka saat itu.


"CK, minggir!!!" Eka berlari dengan tubuh polos karena merasa tak percaya diri, belum juga membersihkan diri si Tomy udah main sosor aja.


Tomy mendelik melihat Eka yang berlari dengan tubuh unal-unul tanpa sehelai benang pun. Tomy terkekeh melihat aksi kocak Eka. Ia merasa dunianya penuh warna.


Ia menggeser layar hitam ponselnya, " Astaga mati aku, aku lupa kalau hari ini ada kunjungan dinas pertanian!" ada satu hal yang haru Tomy ingat, kalau masalah urusan pertempean semua akan lupa.


Kini otak Tomy lebih berfikir bagaimana caranya mencari alasan yang tepat untuk berkata kepada David, bos-nya itu adalah orang pintar. Mana mungkin bisa di bohongi.


Tapi sungguh, ia tak bisa menolak tawaran surga dunia yang memabukkan itu.


.


.


Pukul delapan tepat, kepala Dinas Pertanian Kabupaten B sudah datang disana. Mereka takjub dengan inovasi dan juga segala kelebihan dari areal persawahan yang di sulap menjadi kebun cabai.


David terlihat menerangkan semuanya dengan serius, rencananya tempat itu akan diliput oleh salah satu stasiun televisi. Karena selain menekan angka pengangguran, Darmawan Group yang membuka Gudang Cabai terbesar itu sukses membuat Kabupaten B menjadi pemasok cabai terbesar.


Namun sampai kegiatan itu akan selesai, Tomy nampak tak memunculkan batang hidungnya. Usai kegiatan, David pulang untuk menemui istrinya karena ia ingin makan siang dirumah.


Dan saat mobilnya sudah terparkir sempurna, ia yang baru saja menutup pintu mobil menghentikan langkahnya karena kedatangan Tomy.

__ADS_1


David melipat kedua tangannya ke dada, menunggu pria sialan itu turun dari kuda besinya. " Aku kira kau sudah hilang hanyut di kali!" wajah datar David mengintimidasi.


Menyadari dia seperti maling yang tertangkap basah,ia memasang wajah memelas. " Maaf Tuan, tadi ganti oli dulu!"


David masih menatap tajam Tomy yang berwajah selalu datar itu, " ganti oli apa malem-malem?, yang ada kamu tu yang ganti oli. Oli yang bisa bikin bunting anak orang!" usai mengatakan hal itu, David langsung melesat masuk.


Tomy terhenyak, bagaimana David bisa tahu. Ia lebih memilih masuk dengan memasang wajah santai.


"Loh ini Tomy, pulang bareng?" Jessika yang sudah menunggu di meja makan itu masih berdiri seraya di hujani ciuman oleh David, menatap Tomy dengan wajah penuh selidik.


"Oh tidak Nona, saya...."


"Dia baru enak-enak?" David duduk dan berbicara tanpa menoleh.


Jessika yang tengah mengambilkan makanan untuk suaminya itu, seketika menoleh ke wajah Tomy yang masih datar. " enak- enak?" Jessika bahkan mengucapkan kata yang harusnya ia pendam dalam hati.


Demi apapun di dunia ini, David seperti hendak menguliti Tomy saat itu juga.


"Saya mau masuk dulu!" pamit Tomy.


"Makan dulu, ini udah siang!"


"Terimakasih Nona, sa.."


"Kamu berani melawan istri saya?" David terlihat kesal. Jessika tersenyum, suaminya itu benar-benar.


Usai makan Jessika menuju kamarnya, ia sekarang merasa mudah lelah, ia berbaring di kamarnya dengan kaki berselonjor. Menekan tombol remot AC dengan suhu paling dingin.


Rupanya David menyusul istrinya," Apa kau lelah sayang?" David sudah berada di samping istrinya itu. Mencium bibir istrinya sekilas.


Jessika tersenyum, ia selalu bahagia dengan perlakuan David yang mampu membuat dia tenang saat berada di sisinya.


"Biasa ibu hamil. Papa kapan pulang?"


"Gak tau, dia kerasan sama Leo. Biarkan saja, papa sedang menikmati masa tuanya dengan cucu!" David memijat lembut kaki istrinya.


"Mas!" ucap Jessika.

__ADS_1


"HM" jawab David.


"Tomy dari mana sih?"


"Aku juga gak tahu, tapi kayaknya dia habis jalan sama sahabatmu itu!" David kesal, karena biasanya dia hanya bisa menyuruh ini itu, tadi dia sendiri yang harus bertemu dengan Dinas Pertanian.


"Kamu jangan begitu sama Tomy mas, dia juga akan segera punya kehidupan. Kalau bisa mulai dari sekarang, mas harus cari ganti. Dia nanti setelah menikah pasti ingin lebih punya banyak waktu untuk keluarganya" Jessika mengusap lembut rahang kokoh David.


"Huft!" David menghela nafasnya, apa yang di katakan istrinya itu benar. Tapi memang harus di akui, Tomy adalah assiten yang selama ini mampu membackup segala sesuatunya dengan cekatan.


"Sayang apa anak kita tidak ingin di kunjungi papanya, hm?" goda David kepada istrinya. Entahlah, tubuh istrinya itu seolah menjadi candu yang menggilakan buat David. Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung menyambar bibir istrinya. Dan siang yang panas itu, turut menjadi saksi perhelatan kedua manusia yang seolah tercandukan satu sama lain.


***


Eka mematut dirinya di depan cermin kamarnya, ia melihat lehernya di penuhi tanda merah dengan nama sebuah ikan. Cu pang!.


"Aduh, kenapa banyak sekali!" gerutu Eka. Tapi saat ingatannya kembali dengan rasa dari sodokan Tomy, wajahnya memerah. Bahkan disaat ia menggerutu pagi tadi, ia masih bisa menikmati.


Dia heran, kenapa stamina pria dingin itu seolah tak lekang. Ia melempar dirinya ke kasur kamarnya, menggerakkan tangan dan kakinya membentuk pola kupu- kupu.


"Ahhh aku pasti sudah gila!!" Eka tersenyum- seyum sendiri!" sejurus kemudian ponselnya berbunyi.


Rabu depan kita menikah, bisa gila kalau aku begini terus.


Tomy mengirimkan sebuah pesan yang membuat Eka berkali- kali melompat kegirangan, emmmm sebentar lagi dia akan menjadi sigarane nyowo ( separuh jiwa) dari pria datar itu.


Rasanya seperti mimpi, Eka yang pertama kali mengenal Tomy saat acara tasyakuran, itupun karena insiden ember melayang. Pria aneh yang nyata dalam wujud manusia datar namun tampan itu, kerap membuatnya kesal. Nau seiring berjalannya waktu perhatian yang terbalut dalam sikap dinginnya itu mampu membuat Eka yang pecicilan itu merasakan sesuatu yang beda.


Sempat hopeless karena Tomy yang kembali ke kota selama berbulan-bulan, tapi nyatanya jikalau jodoh itu gak kemana. Asam di gunung garam di laut, bertemunya di belanga.


Pria datar nan dingin namun membuat dia merasa aman, puncaknya adalah rasa takut kehilangan saat Tomy di cilik oleh anak buah Pak Sis. Jika dia menelisik waktu yang terlewat, sungguh takdir itu unik. Rupanya apa yang ini kan terjadi oleh Tuhan itu, selalu membawa kebaikan untuk dirinya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2