Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
10. Tentang Gisel


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok.


Seorang satpam penjaga mengetuk pintu ruang kelas di mana Gisel mengajar. Dan tak berselang lama, pintu itu pun dibuka. Keluarlah seorang perempuan cantik berambut pendek sebahu. Dia guru termuda di sana yang memang terkenal cerewet dan tukang gosip.


"Pagi Bu Gisel," sapa Satpam itu dengan sopan. "Ada Pak Rama mencari Ibu diluar."


"Pak Rama?" Bola mata Gisel sontak berbinar. Jantungnya langsung berdebar kencang. "Pak Rama mantannya almarhumah Tari bukan, Pak?"


"Benar, Bu." Satpam itu mengangguk. "Beliau menunggu Ibu di depan gerbang."


'Ada angin apa nih, Mas Rama mencariku? Apa jangan-jangan dia sudah luluh dan membalas pernyataan cintaku?' batin Gisel dengan rona kemerahan di wajahnya.


Kilas balik tentang Gisel.


Meskipun Gisel suka mengosipi Rama kepada orang-orang, nyatanya dia memang benar-benar menyukai pria itu. Hanya saja bertepuk sebelah tangan.


Awal pertemuan mereka adalah awal dimana benih cinta itu tumbuh di hati Gisel.


Saat itu, mereka berada di dalam satu lift pada sebuah mall yang berada di pusat kota.


Rama ada di sana karena kebetulan ada toko toko perhiasannya pada mall tersebut. Kalau pekerjaannya di kantor tidak terlalu banyak, dia sebisa mungkin datang untuk mengontrol keadaan ketiga tokonya.


Sedangkan Gisel, dia ada di sana karena memang ingin berbelanja. Sepulang dari mengajar.


Keduanya masuk ke dalam lift lantai 5, berniat turun ke lantai dasar. Sayangnya saat di lantai 2, lift itu justru tiba-tiba mati dan alhasil mereka terjebak di dalam sana.


Rama menghubungi salah satu petugas di sana, supaya menyelamatkannya dari dalam lift. Tetapi dia mengatakan supaya Rama bersabar sebab lift tersebut mengalami kerusakan.


Hampir dua jam lamanya mereka menunggu di dalam sana. Gisel yang memang memiliki riwayat penyakit asma mendadak kumat. Dia mengalami sesak napas akibat lamanya terkurung di sana.


Rama yang bingung musti bagaimana, terpaksa melakukan pertolongan pertama yakni memberikan napas buatan.


Cup~


Rama mencium bibir Gisel yang menganga. Kemudian langsung memberikannya napas buatan lewat mulutnya. Dilihat mata gadis itu sudah mendelik. Dadanya benar-benar sesak dan sakit. Seperti ingin mati rasanya.


Mungkin kalau tidak ada Rama saat itu, Gisel pasti sudah kehilangan nyawa.


Dan disitulah benih-benih cinta di hatinya mulai tumbuh. Dia juga menganggap jika apa yang pria itu lakukan adalah hal yang disebut merebut ciuman pertama. Sebab memang, Gisel sendiri belum pernah berciuman.

__ADS_1


Setelah Rama membawanya ke rumah sakit, mereka lantas berkenalan. Hingga akhirnya bertukar nomor kontak karena Gisel yang duluan meminta.


Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu hingga bulan berganti bulan. Hubungan mereka nyatanya tak ada kemajuan. Selalu saja, Gisel yang memberikan kabar duluan. Kalau tidak, mereka Lost Contact.


Gisel juga menilai, jika Rama terlalu cuek dan bahkan dingin kepadanya. Tidak seperti dirinya yang terus bersikap hangat dan ramah.


Sampai akhirnya, Gisel tahu sendiri jika teman seprofesinya ternyata adalah pacarnya Rama.


Tari mengatakan dia mengenal Rama karena sempat bertemu dengan tak sengaja di sebuah cafe, dan pria itu meminta nomor kontaknya sampai mereka berkenalan lalu jadian.


Apa yang Tari alami terlihat indah, tidak seperti Gisel yang diacuhkan.


Tak ingin menyerah, demi mendapatkan pria itu Gisel pada akhirnya terang-terangan mengungkapkan isi hatinya. Tetapi sayangnya, Rama langsung menolaknya.


"Maaf, Sel. Tapi kamu 'kan tahu aku ini pacarnya Tari." Kening Rama mengerenyit. Menatap heran gadis yang berdiri di depannya.


"Iya. Tapi aku sudah menyukai Mas Rama sejak dulu," ucap Gisel dengan wajah memohon. Lengannya terulur menyentuh telapak tangan Rama lantas menggenggamnya. Tetapi pria itu justru melepaskannya.


"Maaf, Sel. Aku nggak bisa. Aku hanya mencintai Tari seorang."


"Mas putusin saja Tari, lalu bersamaku. Dan mencoba mencintaiku," pintanya sekali lagi. Masih berharap, jika Rama dapat membalas perasaannya.


"Aku nggak mau!" tegas Gisel sambil menggeleng. Kemudian tiba-tiba memeluk tubuh pria itu dengan erat.


Sontak Rama terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu. Dia membulatkan matanya dengan lebar dan langsung melepaskan pelukannya. Kemudian berlalu pergi masuk ke dalam toko perhiasannya. Meninggalkan Gisel yang telah patah hati.


*


*


3 hari setelah menyebar undangan pernikahan, Rama tak sengaja bertemu dengan Gisel di rumah sakit.


Dia yang baru saja keluar dari ruangan sehabis berkonsultasi pada dokter ahli andrologi tak sengaja menabrak Gisel. Mereka saling berhadapan.


Bruk!!


"Eh, Mas Rama. Maaf! Maaf!" seru Gisel yang tampak salah tingkah. Sebuah kertas yang semula Rama pegang kini terjatuh di lantai. Gadis itu bergegas mengambilnya.


Namun, kedua matanya sontak melotot kala dia tak sengaja melihat tulisan 'impoten' yang berada di kertas. Rama segera merebut kertas itu kemudian memasukkannya ke dalam saku jas.

__ADS_1


Dia merasa takut jika Gisel tak sengaja membaca kertas tersebut, kemudian membocorkannya kepada Tari. Tetapi nyatanya, Rama kalah cepat. Gisel memang sudah duluan tahu tadi.


"Aku duluan, Sel," pamit Rama.


"Tunggu dul ...." Ucapan Gisel menggantung kala Rama sudah melangkah jauh meninggalkannya. Dia pun mendengkus kesal, tatkala mendapatkan perlakuan Rama yang lagi-lagi cuek. 'Apa aku nggak salah lihat tadi? Impoten?' Terdiam sebentar sembari mengibaskan rambutnya. ''Apa jangan-jangan Mas Rama memang pria impoten, ya?'


"Ah tapi bukannya ini bagus," gumam Gisel yang seketika dia terkikik sendiri. "Aku akan memberitahukan Tari sebelum mereka menikah. Aku yakin ... Tari yang sebenarnya nggak tulus mencintai Mas Rama nggak bakal mau menerima dengan apa adanya." Tersenyum menyeringai dengan perasaan yakin.


Gisel juga berekspektasi, jika nanti Tari tak mau menikah dengan Rama—dia yang akan bersedia menggantikannya.


Namun sayangnya, realita tak seindah ekpektasi. Tari malah meninggal dunia karena serangan jantung dan posisinya Rama sudah berhasil menikah dengannya.


Dan saat itu, Rama langsung mengalami keterpurukan yang begitu parah. Sampai akhirnya Gisel susah untuk menemuinya.


Dia sendiri tidak peduli, mau Rama Impoten atau tidak—yang pasti dia mencintainya. Tetapi salahnya di sini Gisel masih terus menyebar gosip itu.


Dia memang sengaja, supaya Rama jauh dengan jodohnya. Biar nanti dia saja yang menjadi jodohnya.


(Flashback Off)


"Dia yang bernama Gisel, Dad," ucap Rama ketika Gisel sudah berdiri di depannya. Gadis itu kini tengah membereskan rambut dan bertepatan sekali dengan Mbah Yahya yang memperlihatkan wajahnya.


Cantik, rambutnya sama-sama pendek dengan gadis yang Mbah Yahya temui. Tetapi wajahnya jelas berbeda. Dia juga memperhatikan Gisel dari atas sampai bawah.


Gisel memakai stelan jas berwarna pink, sepatu high heels berwarna hitam.


"Benar, kamu yang namanya Gisel?" tanya Mbah Yahya penasaran. Masih ada keraguan di dalam hatinya.


"Iya, namaku Gisel. Opa ini siapa?" Gisel menatap ngeri pria berjenggot di depannya.


Bukannya menjawab, Mbah Yahya justru membuka pintu mobil Rama lalu mengambil sebotol air mineral.


Dia membuka segel itu dan langsung menenggak airnya. Tetapi tidak dia telan. Justru Mbah Yahya berkumur-kumur sambil berkomat-kamit dalam hati. Setelah itu dia menyemburkannya ke wajah Gisel.


Byur!!


Bukan hanya Gisel saja yang terkejut, tetapi Rama dan dua satpam juga.


...Lha, ngapain disembur coba 🤣 tega amat. itu cewek cantik lho, Mbah 😂...

__ADS_1


__ADS_2