
"Eh, Pak. Bapak sudah selesai semedi?"
Evan tersentak dari lamunannya, ketika melihat sang bos masuk ke dalam mobil pada kursi belakang dan memakai kembali pakaiannya.
"Udah, Van. Ayok sekarang kita pulang, aku mau ke masjid," ajaknya.
Mbah Yahya lantas meraih sebotol air mineral di kursi sebelahnya, lalu membuka segel dan menenggaknya hingga tandas.
"Ke masjid mau ngapain, Pak?" tanya Evan heran. "Apa Bapak ingin bertobat?"
"Bukan." Mbah Yahya menggelengkan kepalanya. "Tapi aku mau ngambil cincinku. Sepertinya cincinku itu jatuh awalnya, terus ada yang menemukannya," tebaknya.
"Jatuhnya di masjid?" Kening Evan tampak mengerenyit, dia pun menggeleng kepalanya. "Tapi saya rasa sih nggak mungkin, Pak. Kan Bapak kafir, jadi nggak mungkin Bapak datang ke masjid dan menjatuhkan cincin itu."
"Enak aja ngatain aku kafir! Sendirinya ikut kafir!" omel Mbah Yahya marah, tapi Evan justru terkekeh.
"Maaf, Pak."
"Jatuhnya mah bisa ditempat lain. Udah mending sekarang langsung aja jalan, pulang ke Jakarta. Jangan banyak tanya kamu, Van." Mbah Yahya menggerutu.
"Oke, Pak." Evan menganggukkan kepalanya, kemudian mengemudikan mobilnya. "Oh ya, Pak, saya ingin sampaikan kalau Pak Rama kecelakaan. Dan saya mendapatkan telepon dari Bu Yenny, kalau Bapak diminta untuk menemui dokternya."
"Apa kamu bilang?!" Mbah Yahya sontak membulatkan mata, karena sangking terkejutnya mendengar apa yang sang asisten katakan. "Rama kecelakaan?"
"Iya, Pak." Evan mengangguk. "Tapi alhamdulilah operasinya berjalan lancar katanya, Pak."
"Ya sudah, kita langsung ke rumah sakit saja dulu. Ke masjidnya nanti." Menurut Mbah Yahya, jika dibandingkan dengan cincin—tentu Rama lah yang jauh lebih penting. Itulah sebabnya dia memilih untuk mengutamakannya terlebih dahulu, ketimbang mengambil cincin tersebut.
"Baik, Pak."
"Tapi, Van, penyebab Rama kecelakaan itu apa? Tabrakan, tertabrak atau apa?" tanyanya penasaran.
"Itu karena ...." Evan pun mulai menceritakan kembali tentang kronologisnya.
__ADS_1
***
Di rumah sakit.
Waktu sebentar lagi akan memasuki imsak, tapi Sisil tak kunjung makan sahur. Dia bahkan sejak semalam tidak tidur, karena terus menjaga Rama yang belum terbangun.
Meskipun Dokter sudah mengatakan jika dirinya diminta menunggu masa pemulihan, tapi Sisil tetap saja belum bisa bernapas lega kalau suaminya itu masih belum sadarkan diri.
Bayang-bayang takut kehilangan terus saja menghantuinya.
"Nak ... ayok makan. Setidaknya minum susu, katanya kamu 'kan kepengen puasa tadi." Yenny mengusap puncak rambut menantunya, yang tengah duduk pada kursi kecil di samping Rama.
"Aku kepengen sahurnya bareng sama Aa, Mom. Tapi kok Aa belum bangun-bangun juga, ya?" Bola mata Sisil terlihat berkaca-kaca, memandangi wajah tampan suaminya. Hatinya terasa begitu terenyuh melihat kondisinya, apalagi Rama sekarang tak berambut. Alias botak.
"Nanti juga bangun, Nak. Kan kata dokter kita tinggal tunggu pemulihannya saja." Sebenarnya Yenny juga begitu khawatir dengan kondisi anaknya. Tapi dia di sini terlihat lebih waras dari Sisil yang terlalu kalut dalam kesedihannya.
Dia pun lantas meraih segelas susu ibu hamil buatannya di atas nakas, lalu memberikan kepada Sisil. "Ini, minum dulu, Nak," titahnya kemudian.
Sisil mengangguk, lalu meraih benda itu. Dengan dibantu oleh Yenny dia pun mulai menenggaknya. Tapi belum sempat habis, dia justru langsung menghentikannya lantaran mendadak perutnya terasa mual. "Uueekk!"
"Uueek! Uueekk! Uueekk!"
Melihat itu, buru-buru Yenny menyusul sang menantu. Karena khawatir dia kenapa-kenapa.
"Apa kamu baik-baik saja, Nak?" Yenny memijat perlahan tengkuk Sisil, dia berdiri di depan wastafel di sampingnya. "Kita periksa habis ini, ya. Mommy antar," ajaknya penuh perhatian.
"Enggak perlu, Mom." Sisil menggeleng, lalu membasuh bibir dan berkumur-kumur pada air kran yang baru saja mengalir.
"Kok nggak perlu? Ini kamu mual-mual, Nak. Dan sepertinya kamu mending nggak perlu puasa."
"Aku mual mungkin bawaan bayi, Mom. Kan wanita hamil muntah-muntah itu bukannya hal yang wajar, ya?"
"Iya, sih. Tapi tetap saja musti diobati, Nak."
__ADS_1
"Obatku cuma melihat Aa bangun, Mom. Udah itu aja."
"Rama juga nanti bangun sendiri, Nak. Kamu nggak perlu khawatir."
"Iya, Mom. Tapi kapan? Dari semalam dia masih tidur terus. Aku takut kayaknya, takut kehilangan Aa." Sisil pun perlahan menyentuh dadanya, terasa berdebar di dalam sana.
"Kamu nggak akan kehilangan Rama. Mommy yakin itu," ucap Yenny mencoba meyakinkan, lalu mengusap perut sang menantu. "Tapi buat sekarang, kamu periksa saja dulu, ya? Wajahmu juga terlihat sedikit pucat, Nak."
"Aku akan periksa kalau Aa sudah bangun, Mom. Aku ingin Aa ikut melihatku saat ... Uueekk! Uueek!"
Sisil terlihat kekeh tak ingin periksa, meskipun masih terus muntah-muntah. Mommy Yenny jadi merasa bingung musti bagaimana, mau memaksa pun rasanya tidak mungkin. Tidak tega.
"Gun ... habis darimana kamu?" tanya Yenny diambang pintu, yang menyapa Gugun saat baru saja duduk di kursi panjang diluar kamar Rama.
Pria berkumis lele itu sejak semalam ikut menginap di sana, setelah mengantarkan Tuti pulang seusai mereka pergi bersama ke kantor polisi.
"Aku habis dari musholla, Bu," jawab Gugun sambil tersenyum.
"Memangnya udah Subuh, Gun?"
"Udah, Bu." Gugun mengangguk.
Yenny perlahan menutup pintu kamar Rama. "Ya sudah, aku mau sholat Subuh dulu. Aku titip Sisil padamu dan tolong bujuk dia untuk makan dan periksa, Gun."
"Periksa?" Mata Gugun terlihat membola. "Memangnya Sisil sakit, Bu?" Dia langsung berdiri dan menatap kaca dari pintu. Adiknya itu kini tengah berbaring di samping Rama sambil memeluk tubuhnya.
"Tadi Sisil sempat muntah-muntah. Mungkin memang karena efek hamil muda. Tapi 'kan perlu diobati juga, biar nggak muntah-muntah terus. Ditambah Sisil juga belum makan, dari semalam dia cuma minum jus tomat doang, Gun."
"Iya, Bu. Aku akan membujuk Sisil." Gugun mengangguk cepat.
Yenny mengusap bahu kanan Gugun, kemudian melangkah pergi meninggalkannya. Setelah itu, barulah Gugun masuk ke dalam kamar Rama.
Namun, baru saja dirinya menutup pintu, tiba-tiba pergerakan kakinya itu sontak terhenti saat melihat apa yang adiknya lakukan di atas tempat tidur kepada Rama.
__ADS_1
"Sil ... apa yang kamu lakukan?!" Gugun langsung berlari menghampiri, dan menghentikan aksi adiknya yang sedikit lagi membuat Rama telanjang.
...Istighfar, Sil đŸ™ˆ...