Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
121. Cantik-cantik kena mencret


__ADS_3

"Ish! Ke mana Mas Gugun?!" Gisel berdecak kesal menatap ponselnya. Sebab panggilannya kepada Gugun belum juga dijawab. "Kok dia tega, sih, ninggalin aku begitu saja? Kan katanya mau datang buat anterin pulang," geramnya emosi.


"Kan saya sudah katakan tadi, kalau Pak Gugun sudah pulang, Nona. Dia juga pulangnya sama perempuan berhijab tadi," sahut Evan. Sengaja dia berucap demikian supaya Gisel tak lagi mengharapkan Gugun untuk menjemput.


"Masa, sih?!" Gisel langsung menoleh ke arahnya dengan raut wajah tak percaya. Namun, ada rona kesedihan yang tergambar jelas disana. "Tapi ini nggak mungkin. Mas Gugun 'kan niatnya datang ingin mengantarkanku pulang. Masa dia pulang sama perempuan lain?"


Gisel menggeleng tak percaya, lalu duduk di kursi kosong di samping beberapa orang yang mengantre.


"Memang itu kenyataan kok," balas Evan yang ikut duduk di sampingnya.


"Terus, kenapa juga kamu ada di sini? Sana pulanglah!" usirnya dengan tatapan sengit kepada Evan.


"Lho, saya datang justru ingin mengantar Nona pulang. Nona ini bagaimana, sih?" kekeh Evan.


"Tapi aku nggak mau pulang denganmu. Kamu pergi saja dari sini." Gisel menunjuk ke arah depan. "Aku mau nunggu Mas Gugun."


"Ya sudah, saya juga akan menemani Nona yang menunggu Pak Gugun," sahut Evan.


Gisel mendengkus kesal, lantas mencoba menghubungi Gugun lagi. 'Mas ... ayok dong diangkat. Kamu ke mana sih, sebenarnya? Kok tega sama aku?' batin Gisel dengan jengkel.


*


Ceklek~


Setelah beberapa menit berlalu, pintu toilet itu akhirnya dibuka dan keluarlah Tuti.


Wajah gadis itu terlihat pucat, meskipun memakai make up. Ditambah juga berkeringat. Langkah kakinya pun terlihat tertatih-tatih, dengan tangan yang menyentuh perut sebab masih terasa sakit.


Entah sudah berapa kali dia buang air besar dari pagi, rasanya memang tak terhitung. Sebab alasan Tuti berobat adalah karena diare.


"Nona baik-baik saja, kan? Ada apa dengan perut Nona?"


Gugun yang masih berada di sana tentunya sejak tadi memerhatikannya. Sekarang dia melangkah mendekat ke arah Tuti.


"Eh, Bapak kok ada di sini?!" Tuti sontak terperangah. Kemudian langsung menatap pria di sampingnya.


"Ya 'kan kita barusan ketemu tadi di sana. Apa Nona lupa?" Gugun menyeimbangi Tuti yang melangkah pelan dari sana.


"Aku inget kok. Maksudku kenapa Bapak ke toilet juga? Apa habis pipis?"


"Saya menyusul Nona tadi. Soalnya khawatir Nona kenapa-kenapa," jawab Gugun sambil tersenyum.

__ADS_1


Tuti menatap buket bunga di tangan Gugun sejak tadi dipegang. 'Bunga untuk siapa itu? Apa mungkin untuk pacarnya?' batinnya bertanya.


"Ngomong-ngomong Nona sakit apa? Kok pertanyaan saya belum dijawab juga?" tanya Gugun penasaran.


Tak terasa, langkah mereka berhenti di depan apotek. Tuti langsung memberikan resep obat pemberian dokter tadi kepada penjaga apoteker di depannya.


"Aku terkena diare, Pak," jawab Tuti. "Bapak sendiri ke sini mau—"


"Ini obatnya, Nona," sela penjaga apoteker yang berbicara. Dia lantas memberikan dua lembar obat berbentuk kaplet ke tangan Tuti. "Mohon dibaca aturan pemakaiannya dulu, ya, Nona, sebelum meminumnya," tegurnya.


"Iya, Pak." Tuti mengangguk, lalu mengambil dompet di dalam tas. Tapi Gugun juga ikut mengambil dompet di kantong celananya.


"Totalnya jadi 100 ribu," ucap pria apoteker.


"Ini uang—" Tuti sudah menjulurkan tangannya.


"Biar saya saja yang bayar, Nona." Gugun langsung menyerobot dengan memberikan selembar uang seratus ribuan ke tangan apoteker itu.


"Nggak usah, Pak, aku ada uang kok," tolak Tuti yang memang sudah memegang uang seratus ribuan ditangannya. Lantas dia mengambil lagi uang Gugun dari tangan apoteker.


"Nggak apa-apa. Biar saya saja yang bayar." Gugun memberikan lagi uangnya ke tangan pria itu.


"Bagaimana kalau saya antar Nona pulang?" tawar Gugun yang berlari mengejar, lalu melangkah di samping Tuti.


Sepertinya memang dia benar-benar lupa dengan tujuan utama. Malah sekarang Tuti yang ingin dia antar pulang.


"Nggak usah, Pak. Aku bawa mobil, kok," tolak Tuti. Mereka sudah sampai parkiran dan dia melangkah menuju mobil hitamnya.


Pintu depan itu sudah dibuka, tapi saat dirinya hendak masuk, Gugun langsung menghalanginya.


"Maaf kalau buat Nona nggak nyaman. Tapi niat saya baik kok, karena ingin membantu," ucap Gugun yang masih berusaha membujuk, supaya gadis itu mau.


Yang dia lakukan memang jujur, ingin menolong. Tapi tentunya dengan bonus bisa tahu tempat tinggalnya.


"Nona juga terlihat lemas untuk menyetir sendiri. Kan bahaya, Nona, bisa-bisa kecelakaan. Boleh, ya, saya anterin?" tawar Gugun sekali lagi.


Tuti menoleh, lalu memerhatikan wajah pria di depannya yang sudah senyum-senyum itu. Ingin menolak sebenarnya, tapi tidak enak. "Bapak memangnya nggak sibuk, sampai mengantar aku pulang segala?" tanyanya dengan ragu.


"Nggak, kalau sibuk saya nggak akan ada di sini. Pasti ada di kantor." Gugun mengenggam tangan Tuti, lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil pada kursi di sampingnya. Dia juga membukakan pintu untuk Tuti.


Setelah itu barulah Gugun masuk dan duduk pada kursi kemudi, kemudian menjalankan mobil hitam itu dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Nona kenapa bisa kena diare? Apa kebanyakan makan sambel?" tanya Gugun yang memulai obrolan. Supaya tak ada rasa kecanggungan di antara keduanya.


"Aku nggak makan sambel, Pak, cuma tadi pagi itu makan seblak."


"Lho, seblak 'kan pedes. Dan kenapa juga sarapan seblak? Lebih baik roti atau bubur saja," saran Gugun.


"Niatnya aku nggak mau sarapan seblak. Cuma pagi-pagi tetangga apartemenku ngasih seblak, katanya dia buat kebanyakan. Jadi daripada mubazir aku makan, kebetulan belum sarapan juga," jelas Tuti memberitahu.


"Tapi jadi diare begini. Kan kasihan, Nona, masa cantik-cantik kena mencret," kekeh Gugun.


Wajah Tuti kembali merona. Sering dipuji begitu membuat hidungnya seperti ingin terbang.


"Ah Bapak bisa saja. Tapi mana ada, sih, aku cantik. Orang biasa aja kok," kilahnya dengan malu-malu.


"Biasa apanya? Orang cantik beneran kok."


"Tapi Bapak terlalu berlebihan ngomongnya."


"Nggak ah, saya hanya jujur," balas Gugun sambil tersenyum. "Eh, tapi, jangan panggil saya Bapak dong, Nona, kita 'kan sudah kenal."


"Terus panggilnya apa?" tanya Tuti bingung.


"Mas boleh, Kakak boleh. Atau kalau mau ... panggil Bebeb juga nggak apa-apa," goda Gugun sambil terkekeh.


Tuti ikut terkekeh. "Bebeb mah kayak sama pacar. Kalau begitu Mas saja deh, bagaimana?"


"Boleh, itu lebih bagus. Saya belum terlalu tua, kan, kalau dipanggil dengan sebutan Mas?" Gugun menunjuk wajahnya sendiri.


"Memangnya berapa umur Mas Gugun?"


"Coba tebak."


"Eemmm ...." Tuti terdiam sambil memerhatikan wajah Gugun. "Kayaknya sih sudah kepala 3, ya? Bener nggak?"


"Iya." Gugun mengangguk. "Nona sendiri umurnya berapa?"


"Coba Mas Gugun gantian tebak," pinta Tuti seraya menggeserkan tubuhnya, supaya Gugun bisa lebih jelas memerhatikan wajahnya.


Gugun langsung menoleh ke arahnya, tapi fokusnya itu bukan diwajah. Melainkan di bibir Tuti yang terlihat merah merekah, hingga tanpa sadar membuatnya menelan saliva dengan susah payah.


...Kuatkan imanmu Om Gugun😆 jangan disosor awas, ya! 🤣...

__ADS_1


__ADS_2