Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
151. Aku akan melepaskanmu


__ADS_3

"Kok udahan makannya?" tanya Rama saat Sisil menaruh sendok di atas piring, kemudian meraih segelas air di atas nakas dan meminumnya.


"Aku kenyang, A," jawab Sisil seraya mengusap sisa air dibibir bawahnya. Padahal nyatanya bukan kenyang, tapi yang dia inginkan adalah disuapi.


"Ya sudah, makan kolak saja terus habiskan. Kamu juga nggak perlu puasa, Dek."


"Kenapa aku nggak perlu puasa?" tanya Sisil bingung, kemudian melahap satu sendok kolak dengan potongan pisang kecil.


"Takutnya kamu nggak kuat. Dan mengalami mual-mual, jadi nggak perlu dipaksakan." Rama berdiri setelah menyelesaikan makan sahurnya itu, kemudian menaruh piring di atas nakas lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Sisil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya dia bingung untuk bersikap seperti apa, dan bingung juga musti memulainya dari mana supaya pria itu kembali bersikap seperti dulu. 'Bagaimana, ya, cara supaya Aa nggak cuek lagi? Ayok dong otak berpikirlah,' batinnya berpikir keras.


Ceklek~


Tak lama pintu kamar mandi itu dibuka oleh Rama, pria itu baru saja selesai mencuci tangan dan gosok gigi. Kakinya melangkah menghampiri Sisil, lalu duduk kembali ditempat semula. Di sisi kasur.

__ADS_1


"Dek, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan bersama?" tawar Rama. Wajahnya tampak serius, menatap istrinya.


"Kesepakatan apa, A?" tanya Sisil penasaran.


"Setelah kamu melahirkan, aku akan melepaskanmu. Tapi biarkan aku yang mengurus anak kita."


Sisil sontak terbelalak dengan dada yang ikut berdenyut. Saat dimana mendengar apa yang suaminya itu katakan. "A-Aa ini bicara apa?" tanyanya dengan tubuh bergetar, tenggorokannya pun mendadak terasa kering.


"Apa ucapanku tadi kurang jelas?" Rama mengerutkan keningnya. "Oke, aku akan mengulangnya. Kalau setelah kamu melahirkan—"


"Apa Aa udah nggak cinta sama aku?" sela Sisil cepat dengan bola mata yang berkaca-kaca. Perlahan dia pun meraih tangan kanan Rama, lalu mengenggamnya dengan erat. "Aa kok tega sama aku? Kenapa, A? Aku 'kan udah minta maaf. Tapi kenapa Aa begini?" tambahnya dan kemudian menangis.


"Cinta? Mana ada orang cinta ingin melepaskan? Dan apa masalah kita nggak bisa diselesaikan, sampai Aa ingin menceraikan aku?! Hiks ... aku kira Aa begitu dalam mencintaiku, tapi nyatanya enggak," rintih Sisil tersedu-sedu.


"Kamu jangan salah paham dulu, Dek." Rama membalas pelukan, lalu mengusap lembut punggung istrinya. "Justru kalau kita berpisah, kamu bisa meraih kebahagiaanmu sendiri."

__ADS_1


"Meraih kebahagiaan bagaimana, sih, A? Pokoknya aku nggak mau!" tegas Sisil seraya menggelengkan kepalanya, lalu mempererat pelukan dan menciumi dada Rama yang begitu wangi maskulin itu. 'Apa aku bermimpi? Ya Allah, kenapa jadi begini? Aku nggak mau berpisah sama Aa. Dia hanya milikku seorang.'


"Kamu nggak mau pasti karena takut nantinya kak Gugun marah, kan?" tebak Rama. Sejak semalam dia memikirkan perkara ini, dan rasanya inilah satu-satunya jalan keluar.


Bukan Rama tak ingin mempertahankan rumah tangga, hanya saja dia tak mau jika selama Sisil bersamanya—gadis itu tak menemukan arti kebahagiaan.


Sisil masih muda, masa depannya masih panjang. Dia tak mau, jika gadis itu menghabiskan waktunya dengan sia-sia.


Rama tak lagi memikirkan tentang nasibnya bagaimana, tapi yang terpenting adalah Sisil. Dia mau gadis itu bahagia meski tak bersamanya.


Ada pepatah bilang, katanya cinta tak harus memiliki. Itu bohong! Sebab sangat menyakitkan rasanya.


Tapi kalau sudah begini, sepertinya akan lebih menyakitkan lagi jika kita hidup bersama orang yang sama sekali tak mencintai kita. Sebab Rama juga manusia biasa, yang ingin dicintai dan tanpa sebuah paksaan.


"Tapi tenang saja ... nanti kita akan buat seolah-olah hanya aku yang salah disini. Jadi nanti baik Kak Gugun atau orang tuaku, semuanya nggak akan ada yang menyalahkanmu, Dek," tambah Rama memberikan saran.

__ADS_1


"Enggak! Aku nggak mau!!" teriak Sisil kencang. Kesal dan geram berkecamuk menjadi satu.


...Kenapa ga mau, Sil? 😪...


__ADS_2