Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
145. Kamunya yang kemanisan


__ADS_3

Di sebuah kios bakso yang berada di Kalijodo, Gugun dan Tuti tengah menyantap satu porsi bakso beranak ditemani es teh manis.


Sebenarnya, Gugun sendiri sempat mengajak Tuti pulang dari taman sebelum waktu berbuka. Sebab dia ingin mengajaknya buka bersama di restoran saja.


Akan tetapi, Tutinya yang menolak. Dia mengatakan ingin mencoba makan bakso di sana dan ternyata memang enak.


"Harusnya, kita makan sup buah dulu ya, Nona, sebelum makan bakso," ucap Gugun yang kini duduk di depan Tuti. Sejak tadi dia makan, tapi matanya tak lepas untuk terus memandangi perempuan manis di depannya.


"Kenapa memangnya, Mas? Mas mau sup buah?" tanya Tuti sambil mengunyah bakso kecil-kecil.


"Bukan kenapa, tapi memang biasanya 'kan makan yang manis-manis dulu bagusnya kalau buka puasa itu," jawab Gugun lalu tersenyum. "Ah tapi ... kayaknya makan bakso juga udah kerasa manis lidahku, Nona."


"Kok gitu?" Tuti menatap Gugun dengan raut bingung, lalu menatap mangkuk di depannya. "Memangnya bakso Mas rasanya manis, ya? Perasaan punyaku nggak deh."


"Bukan baksonya yang manis. Tapi kamunya yang kemanisan, jadi bakso yang aku makan jadi ikutan manis," jawab Gugun menggombal.


Tapi memang dia yakini, Tuti sangatlah manis malam ini. Apalagi dia memakai dress panjang model midi dengan motif bunga-bunga berwarna merah, dan membuat hati Gugun ikut berbunga-bunga juga.


"Ah Mas ini menggombal mulu. Malu ah dilihatin orang." Tuti terlihat malu-malu, kedua pipinya pun menjadi merona.


"Semua orang di sini fokus makan kok." Gugun menatap sekeliling kios itu. Selain mereka, memang banyak pengunjung lain yang mengisi beberapa meja. Tapi memang benar, semuanya fokus makan. "Oh ya, aku minta maaf ya, Nona, kalau mengajak ngabuburit Nona hanya di Kalijodo. Nggak seperti pria lain, yang mengajak ceweknya ke mall atau nonton."


"Nggak apa-apa kok, Mas. Aku malah seneng diajak main ke taman. Soalnya aku juga nggak pernah main ke taman."


"Apa ini pertama kali?"


"Bisa dikatakan begitu." Tuti mengangguk.


"Berarti aku pria yang beruntung, ya, karena jadi orang pertama yang mengajak Nona main ke taman. Kok aku jadi seneng, ya, Nona." Gugun tersenyum dengan kedua pipi yang merona. Dan mendadak, jantungnya menjadi berdegup kencang.


"Ah Mas lebay deh. Masa begitu saja senang?" Tuti terkekeh, perasaannya menjadi campur aduk sekarang. Antara malu terus digombalin, plus ada senang-senangnya juga.


Siapa juga perempuan yang tidak suka dipuji? Pasti tidak ada, bukan?


"Oh ya, Mas ... dulunya taman ini apa, ya?" tanya Tuti sambil menatap sekitar.


"Taman ini apa apanya? Aku nggak ngerti, Nona." Gugun tampak bingung.

__ADS_1


"Maksudku, dulunya sebelum menjadi taman ... di sini itu apa? Apa gedung atau memang lahan kosong? Aku sendiri baru tau ada taman Kalijodo. Padahal aku cukup lama tinggal di Jakarta."


"Kalau nggak salah sih dulunya di sini tempat dosa, terus dirubah sama Pak Ahok menjadi taman, Nona."


"Tempat dosa?" Kening Tuti mengernyit. "Maksudnya tempat dosa itu apa?"


"Prostitusi. Di sini dulunya banyak wanita yang menjual diri, Nona," jawab Gugun. Dan memang benar, itulah memang sejarah dimana Kalijodo itu ada. "Terus ... mungkin karena Pak Ahok ingin memberantas tempat dosa, jadi tempat ini dijadikan taman saja. Biar lebih positif." Kalau ini hanya tebakan Gugun saja.


"Oh. Mulia sekali pemikiran Pak Ahok ya, Mas. Aku juga setuju sih, lebih bagus memang dibuat taman. Daripada jadi tempat maksiat."


Jika ada yang tidak tahu, Pak Ahok ini adalah mantan gubernur Jakarta.


"Iya." Gugun menganggukkan kepalanya.


"Pas dulu masih jadi tempat prostitusi, apa Mas pernah ke sini?"


"Enggak." Gugun menggeleng. "Aku ke sini juga baru tiga kali dan sudah menjadi taman begini."


"Syukurlah kalau nggak." Tuti menghela napas lega. Entah mengapa dia menjadi takut kalau Gugun adalah pria yang suka jajan wanita. Sebab dia sendiri tidak suka dengan pria yang seperti itu. "Tapi apa Mas juga pernah jajan?"


"Jajan apa?"


"Jajanin perempuan?"


"Bukan, maksudnya jajan perempuan. Kayak menyewa jasanya untuk kencan dan pergi ke hotel gitu, Mas."


"Oh. Enggak." Gugun menggeleng cepat. "Aku bukan pria seperti itu, Nona, dan aku masih perjaka ting-ting."


"Masa, sih?"


"Iya." Gugun mengangguk. "Nona nggak percaya memangnya?"


"Bukan nggak percaya, tapi zaman sekarang jangankan laki-laki. Perempuan saja banyak yang nggak pera*wan, Mas."


"Tapi seratus persen aku masih perjaka, Nona, malah masih ada segelnya."


"Memangnya Mas pikir minuman?" kekeh Tuti, jadi ngelantur rasanya ucapan Gugun ini. Dia pun lantas menatap mangkuknya yang ternyata sudah kosong. Tak terasa rasanya, karena keasikan mengobrol. Gugun juga orangnya cukup menyenangkan sekali dan suka bercanda. "Oh ya, udah yuk Mas kita pulang. Kita 'kan belum sholat Magrib, takut waktunya keburu habis."

__ADS_1


"Ya sudah ayok, tapi sebelum itu. Aku ingin bicara sesuatu hal yang penting dulu, Nona."


"Sesuatu yang penting apa, Mas? Tapi bagaimana kalau dimobil saja? Di sini banyak pengamen, nanti berisik." Tuti menatap beberapa pengamen yang berdatangan, kemudian menyanyikan sebuah lagu dangdut sambil bermain gitar.


Mungkin sudah puluhan pengamen yang menghampiri mereka, saat tibanya di taman. Dan lama-lama risih juga, sebab waktu mengobrol pun menjadi terhambat karena suaranya tidak terdengar.


"Oh iya, di mobil saja. Tapi biar aku yang membayarnya, ya? Kan aku yang mengajak Nona buka bersama." Gugun perlahan berdiri dan Tuti pun ikut berdiri.


"Apa nggak merepotkan, Mas? Aku juga ada uang kok," ucapnya dengan perasaan tidak enak.


"Nggaklah. Perempuan secantik Nona nggak mungkin merepotkan aku. Malah aku senang, dan kalau bisa ... setiap hari juga nggak masalah kalau harus membayarkan Nona makan." Gugun terkekeh, lalu meraih dompet kulitnya untuk mengambil beberapa lembar seratus ribuan dan memberikannya pada pedagang bakso.


"Akunya yang nggak enaklah, Mas. Kan kita nggak ada hubungan, masa dibayarin."


"Kata siapa nggak ada hubungan? Orang sebentar lagi kita akan punya hubungan kok."


"Punya hubungan? Maksudnya gimana?" tanya Tuti bingung.


"Ayok ke mobil dulu, biar semuanya jelas," ajak Gugun. Dia segera meraih tangan Tuti untuk digenggam, kemudian mengajaknya melangkah bersama masuk ke dalam mobil.


Setelah sudah sama-sama duduk di kursi depan. Gugun pun dengan perlahan menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya.


Ini adalah pertama kali dirinya ingin menyatakan cinta dan berniat menembaknya, jadi wajar sekali kalau mendadak Gugun menjadi gugup.


"Katanya tadi ada hal yang mau diomongin, apa itu, Mas?" tanya Tuti yang sudah penasaran. Dilihat pria di sampingnya itu tengah memejamkan mata dan menyentuh dadanya sendiri.


"Tapi Nona harus jawab mau, ya, pas nanti aku tanya," pinta Gugun sambil membuka matanya secara perlahan, lalu memandangi wajah cantik di depannya.


"Mau apa dulu itunya, Mas?" tanya Tuti heran.


"Pokoknya jawab mau. Soalnya kalau nggak ... nanti akunya sedih."


"Ya sudah Mas bilang saja dulu apa. Jangan buat aku bingung begini."


Gugun menelan salivanya, lalu perlahan meraih tangan kanan Tuti dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku ingin Nona menjadi pacarku. Nona mau, kan?" tanya Gugun penuh harap, kemudian dia mengutarakan sebuah gombalan yang sudah disiapkan sejak kemarin malam untuk Tuti. "Siang dan malam aku terus memikirkan Nona. Dari mulai makan, tidur, mandi sampai sedang berak pun aku terus memikirkan Nona. Wajah Nona yang cantik seperti sebuah sinar matahari yang menyilaukan hari-hariku, dan suara Nona yang lembut bagaikan sebuah selimut yang menghangatkan disetiap tidurku. Jadi ... Nona harus menjadi pacarku. Dan kita jadian dihari ini. Mau, kan, Nona? Jadi pacar Mas Gugun yang manis dan berkumis tipis ini?"

__ADS_1


...Bohong, Tut, jangan mau 🤣 udah punya pacar itu Om Lele 🙈...


__ADS_2