
Wajah itu begitu familiar. Pernah sekali Mbah Yahya dulu bertemu dengannya. Hanya saja saat itu dia salah orang. Dia mengira Gisel, padahal aslinya Sisil.
Sebelah sepatu itu memang punya Sisil. Saat turun dari mobil benda itu tanpa sadar terlepas.
(Flashback On)
Kaki Mbah Yahya sudah berhenti di depan kamar nomor 100. Lantai nomor 2. Sesuai dengan alamat yang dia lihat pada ponselnya. Segera dia pun memencet bel yang menempel di pintu.
Niatnya datang ke sebuah apartemen itu adalah untuk menemui Gisel. Mbah Yahya ingin memberikannya pelajaran berupa lisan karena telah menyebarkan gosip tentang Rama yang impoten.
Secara tidak langsung, akibat gosip miring yang keluar dari mulutnya, itu membuat Rama jauh akan jodohnya dan sering dibully orang-orang sekitar.
Walau memang itu sebuah kenyataan, tetapi tidak etis rasanya Gisel menceritakan hal tersebut. Apalagi dia adalah seorang Guru TK. Panutan anak-anak didiknya.
Ting ... tong.
Ceklek~
Tak menunggu waktu yang lama pintu itu dibuka oleh seorang gadis. Tapi gadis itu bukan Gisel, melainkan Sisil.
"Opa siapa?" tanya Sisil heran. Dia menatap asing Mbah Yahya dari ujung kaki hingga kepala. Pria tua itu memakai celana jeans berwarna putih dan kemeja hitam, wajahnya tampak sangar sekali.
"Opa Opa, aku bukan Opamu! Namaku Yahya! Aku Daddynya Rama." Mbah Yahya memperhatikan wajah gadis di depannya. 'Masih muda, cantik, dan imut-imut. Tapi bibirnya lemes ngalahin ibu-ibu kompleks,' batinnya kesal.
"Rama?" Kening Sisil mengerenyit. "Rama siapa?"
"Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu!" berang Mbah Yahya sambil mengangkat dagu. "Anggap ini sebuah peringatan pertama dan terakhir dariku! Jangan pernah kamu coba-coba menyebarkan gosip miring tentang Rama anakku, kalau kamu masih berbuat nekat ... kamu akan terima akibatnya!" ancamnya sambil melotot.
"Gosip apa maksud Opa? Aku juga nggak kenal yang namanya Rama." Sisil tampak bingung.
"Masih saja kamu mengelak, ya?" Mbah Yahya berkacak pinggang. "Kalau Rama kamu nggak kenal, tapi Juna kamu kenal, kan?" tekannya.
"Nggak." Sisil menggeleng.
"Dasar guru gila kamu, Sel!" sentaknya murka. "Sama anak murid sendiri bilang nggak kenal! Dan berpura-pura nggak tahu. Aku masih baik, ya, bicara denganmu. Tapi kalau ke depannya kamu berulah dan mengatakan burung anakku nggak berdiri kepada orang-orang ...." Jari telunjuk Mbah Yahya menodong ke wajah Sisil. "Aku akan membuatmu jauh dari jodoh! Kamu nggak akan menikah seumur hidup sampai jadi perawan tua!" tegasnya. Mbah Yahya pun langsung melangkah pergi sembari mencebik bibirnya.
(Flashback Off)
__ADS_1
'Gisel?! Dia Gisel, kan?' batin Mbah Yahya. Cukup lama dia memperhatikan wajah gadis itu sampai akhirnya penerawangannya hilang ketika dia masuk ke dalam kamar mandi.
Perlahan Mbah Yahya membuka matanya. Kemudian mata itu melotot dan kedua tangannya mengepal kuat.
"Nggak! Aku nggak mau Gisel menjadi menantuku!" Mbah Yahya menggelengkan kepalanya. "Dia nggak pantas bersama anakku. Mulutnya terlalu jahat, aku membencinya dan Rama nggak boleh menikahinya!" tegasnya.
***
Keesokan harinya di rumah Mbah Yahya.
Pagi-pagi sekali Rama mengundang seorang pelukis sketsa wajah ternama di sosial media. Untuk menggambarkan seorang gadis yang berada di dalam otaknya sejak kemarin-kemarin.
Semalaman Rama sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkannya. Dan tak sabar untuk segera dipertemukan.
Niatnya, setelah gambar itu jadi dan hasilnya sesuai ekspektasi, Rama akan membayar orang untuk mencari keberadaannya. Mungkin dengan begitu, gadis itu akan dapat dia temui.
"Sudah selesai, Pak. Apa benar seperti ini wajahnya?" tanya pria yang memakai topi pelukis. Dia telah menyelesaikan gambarnya selama kurang lebih 40 menit.
Rama mengambil selembar kertas tersebut yang dia berikan, kemudian menatap gambar itu sambil tersenyum. "Benar, Pak. Ini mirip sekali. Dan senyumnya begitu manis mengalahkan ...." Ucapannya terhenti kala dirinya mendengar suara derap langkah seseorang yang menghampirinya di ruang tamu. Orang tersebut ternyata Mbah Yahya, yang baru pulang sejak semalam. "Daddy sudah pulang? Bagaimana hasilnya? Apa Daddy dapat menerawang di mana dia tinggal?"
"Kamu nggak boleh menikah dengannya. Mulai sekarang berhenti untuk mencarinya." Mbah Yahya mengambil kertas gambar itu, kemudian melangkah pergi.
"Apa maksud Daddy? Daddy nggak mau melihatku menikah dan jadi pria normal?" tanya Rama yang tak habis pikir dengan perubahan sikap sang Daddy.
Mbah Yahya menoleh. "Daddy nggak sudi punya menantu tukang gosip. Daddy nggak suka sama Gisel, Ram!" tegasnya.
"Kok ke Gisel-Gisel?" Kening Rama mengerenyit. Tak paham dengan apa yang pria tua itu katakan. "Hubungannya apa dengan Gisel?"
"Perempuan yang kamu perkosa itu ternyata Gisel. Daddy sudah berhasil menerawangnya semalam."
"Lho, kok Gisel? Bukan Dad!" Rama menggeleng cepat. Dia bertemu Gisel tidak hanya sekali, bahkan berulang kali. Wajah Sisil jelas berbeda dengannya, meskipun keduanya sama-sama cantik.
"Bukan apanya? Daddy tahu itu, Ram. Daddy juga pernah bertemu Gisel. Dan ...." Mbah Yahya menunjuk sketsa wajah yang berada di tangannya. "Dia orangnya. Seperti ini. Mirip sekali."
"Tapi dia bukan Gisel!" sahut Rama. "Aku pernah bertemu Gisel nggak hanya sekali dan waktu itu yang aku perkosa bukan dia, Dad!"
"Kalau dia bukan Gisel, terus siapa? Daddy pernah bertemu dengannya di apartemennya, Ram!"
__ADS_1
"Daddy tahu, di mana apartemennya?"
"Tahu. Daddy pernah ke sana karena mau memberikan dia pelajaran karena telah mengosipimu."
Mata Rama langsung berbinar. Jantungnya pun ikut berdebar kencang. "Lebih baik kita sekarang ke sana. Kita buktikan kalau dia bukan Gisel." Menarik lengan Mbah Yahya, lalu mengajaknya mau tidak mau untuk turun dari tangga dan mengikuti langkahnya keluar rumah.
"Jam segini dia pasti masih mengajar lah, Ram. Jangan ngaco deh kamu!" omel Mbah Yahya yang tampak tak setuju. Malas sekali rasanya menemui gadis itu.
"Nggak apa-apa. Bila perlu kita ke sekolah TK, untuk memastikan yang Daddy maksud itu bukan Gisel. Kemudian setelah itu kita datangi jodohku, Dad! Pemilik sepatu yang tertinggal sebelah."
Sampai halaman depan, Rama segera membuka pintu mobil dan mendorong Mbah Yahya untuk masuk ke dalam. Sebab tampak jelas jika pria tua itu seakan enggan pergi dengannya. Setelah itu baru lah Rama ikut masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi kemudi seraya menyalakan mesin.
***
Tiga puluh menit berlalu, mobil Rama berhenti di depan gedung sekolah TK. Lantas dia pun turun bersama dengan Mbah Yahya, kemudian menghampiri dua satpam penjaga di depan pintu gerbang.
"Selamat pagi, Pak," sapa Rama dengan ramah sambil tersenyum.
"Pagi juga, Pak." Dua satpam itu menyahut secara bersamaan.
"Apa Bu Gisel mengajar hari ini?" tanya Rama sambil menelisik ke arah gerbang. Suasananya begitu sepi. Sepertinya anak-anak TK sudah masuk waktu belajar.
"Mengajar. Ada apa ya, Pak?" Salah satu satpam itu menjawab Rama dan memberikan pertanyaan balik.
"Saya ingin bertemu dengannya. Bisa tolong panggilkan?"
"Bisa." Mengangguk. "Sebentar ... saya panggilkan dulu." Salah satu satpam itu membuka gerbang, kemudian masuk dan setengah berlari pergi menuju gedung sekolah.
Mbah Yahya bersedekap, lalu memperhatikan gedung sekolah yang cukup besar itu. "Kalau kamu punya anak, jangan sekolah di sini ya, Ram," ujarnya yang mana membuat Rama menoleh.
"Kenapa memangnya?"
"Kan ada Gisel yang mengajar. Daddy nggak mau guru tukang gosip itu mengajari cucu Daddy nggak bener."
"Kalau sama anak didik dia nggak bakal mengajak bergosip kali, Dad."
"Memangnya kamu yakin? Ah, mulut jahat seperti itu nggak meyakinkan. Kayaknya nggak pantas juga jadi guru," celotehnya sambil merengut.
__ADS_1
...Nggak boleh menghina, Mbah, nanti kualat lho 🤣 jangan sampai Mbah jatuh cinta pas ketemu Gisel ðŸ¤...