
Namun, seketika langkah kaki Arya terhenti di ruang tamu. Keningnya tampak mengernyit sebab heran tak ada Sisil di sana. Hanya ada kedua orang tuanya yang asik mengobrol entah membahas apa.
"Pa, Ma, Sisil ke mana?" tanya Arya. Dia juga memperhatikan ruangan rumahnya, mencari-cari keberadaan gadis itu.
Kedua orang tua Arya langsung menoleh, menatap ke arahnya. "Oh, tadi Sisil tiba-tiba pamit pulang, Arya." Yang menjawab Arga.
"Pamit pulang?" Arya makin heran. "Masa, sih? Mau apa? Tapi kok dia nggak ngomong sama aku?" Arya langsung mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Kemudian menelepon pacarnya. Akan tetapi sayangnya nomor itu tidak aktif.
"Katanya buru-buru, disuruh pulang sama Kakaknya. Nggak tahu ada urusan apa," jawab Arga asal.
"Papa bohong nggak?" Arya menatap tak percaya, ada rasa curiga di dalam dada. "Apa jangan-jangan, Papa mengusir Sisil?"
"Mana mungkin." Arga menggelengkan kepalanya. "Kamu ini aneh, masa Papa ngusir. Nggaklah."
Arya langsung berlari keluar dari rumah itu, kemudian menaiki motornya. Sedangkan Ganjar memilih duduk di sofa single di dekat anaknya.
"Kamu sudah menolak Sisil, Ga?" tanyanya menatap Arga.
"Sudah, Pa," jawab Arga sambil tersenyum. "Semuanya sudah beres, Arya nggak akan kebelet nikahin Sisil lagi."
***
Sisil dan Citra berdiri di depan pintu apartemen, mereka telah sampai.
Sisil pun memencet bel tersebut, berharap jika Gugun ada di dalam sana. Sayangnya, meskipun dipanggil-panggil, tak ada sahutan dari dalam.
Sisil menurunkan handle pintu, ternyata dikunci. Jadilah dia membukanya dengan sidik jari. Sebab sidik jari apartemen itu adalah sidik jarinya dan kalau kunci, Sisil sendiri tak membawa. Juga kerap kali dia lupa.
Ceklek~
Pintu itu dibuka dan keduanya melangkah masuk ke dalam kemudian menutup pintu kembali.
"Kak!" seru Sisil. 'Apa mungkin Kakak belum pulang dari kantor polisi, ya?' batinnya. Padahal, dia ingin sekali cerita juga kepada kakaknya. Sekaligus memberitahu Citra akan apa yang sebenarnya terjadi.
Perlahan Sisil pun duduk di sofa panjang. Tubuhnya terasa lemas sekali. "Minumnya pesan diluar saja, ya, Cit. Kamu pesan lewat online biar nanti aku yang bayar," ucap Sisil.
__ADS_1
"Aku nggak haus, Sil," jawab Citra. "Di dapurmu ada teh sama gula nggak? Mau aku bikinkan teh manis hangat, biar perutmu baikan?"
"Teh sama gula mah ada. Tapi nggak usah deh, Cit," tolak Sisil. "Kamu 'kan tamu, masa bikin minum sendiri. Biar aku sa ...."
"Nggak apa-apa." Citra menahan tangan Sisil ketika gadis itu hendak bangkit. Melihat wajah pucat sang teman, Citra jadi tidak tega. "Biar aku buatkan sebentar, ya?"
"Terima kasih, Cit."
"Sama-sama." Citra tersenyum. Lalu melangkah menuju dapur. Sisil menatap punggung kecilnya itu sambil mengulum senyum.
"Beruntung aku punya teman seperti Citra. Dia sangat baik. Kalau tadi dia nggak datang menolongku ... mungkin aku sudah mati." Sisil menurunkan pandangannya, menatap kedua telapak tangannya yang terbuka. "Gila sih, lagi-lagi aku kepengen bunuh diri."
Tak berselang lama, Citra kembali dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh. Kemudian dia meletakkannya di atas meja.
"Langsung diminum saja, Sil. Aku campur airnya biar nggak terlalu panas soalnya." Citra duduk di samping Sisil. Kemudian memberikan satu cangkir itu ke tangannya.
"Kayaknya manis nih, kaya kamu," pujinya sambil terkekeh.
"Kamu juga manis, Sil," sahut Citra. "Gitu dong senyum. Aku kadang kangen sama senyuman kamu."
Sisil menenggak teh tersebut. Akan tetapi saat baru saja masuk ke dalam mulutnya, dia langsung menyemprotkannya. "Ppfff ... kok asin?" tanyanya sembari mengulas sisa teh pada bibirnya. Citra juga langsung memberikan beberapa lembar tissue yang diambil di atas meja.
"Coba saja kamu minum." Sisil memberikan cangkirnya. Dan segera Citra menenggaknya sedikit. Ternyata benar, asin. Kemudian Citra mencoba tes dari gelas yang satunya. Yang memang dibikin untuk dirinya sendiri. Akan tetapi sama saja, asin rasanya.
"Kok bisa, ya, asin rasanya, Sil? Apa tehnya kadaluarsa?" tanya Citra.
"Kayaknya kamu salah deh. Yang kamu masukin garam, bukan gula. Jadi asin."
"Ah masa iya. Aku bisa membedakannya, Sil. Mana gula mana garam."
"Tapi kok bisa asin begini?"
"Aku buatkan yang baru deh, ya?" Citra menaruh kembali dua cangkir itu ke atas nampan. Baru saja dirinya hendak berdiri, tetapi lengannya itu langsung Sisil cegah.
"Udah nggak usah deh, Cit. Pesan diluar saja. Katanya kamu mau dengar ceritaku."
__ADS_1
"Oh ya sudah kalau begitu." Citra mengangguk. Kemudian mengambil ponselnya di dalam tas jinjingnya. "Kamu kepengen apa?
"Susu jahe sama seblak, Cit."
"Kamu 'kan habis muntah-muntah, masa makan seblak? Yang ada mencret."
"Nggaklah. Aku lagi kepengen saja. Sudah pesan."
"Aku pesankan, ya? Tapi nggak pedes, biar lambung kamu sehat," ucap Citra. Kemudian mengetik-ngetik layar ponselnya. Setelah selesai memesan lewat food, barulah Sisil bercerita.
Sisil membuang nafasnya secara perlahan, lalu berkata, "Mungkin kamu akan kaget dan jijik mendengarnya. Tapi inilah yang sudah terjadi. Aku sebenarnya beberapa hari yang lalu telah diperkosa oleh seorang pria tua, Cit. Dia begitu tega padaku. Memanfaatkanku yang sedang hilang kesadaran karena mabuk."
Citra membulatkan matanya dengan lebar. Dia tampak terkejut mendengar cerita Sisil. "Astaghfirullahaladzim. Serius kamu, Sil?" Segera dia memeluk tubuh temannya, sebab Sisil sekarang mulai kembali menangis.
"Iya. Hiks ... hiks. Masa depanku sudah hancur Citra, begitu pun dengan hubunganku dengan Kak Arya," rintihnya terisak. Tangisnya makin pecah.
"Siapa yang memperkosamu? Dan kenapa kamu bisa mabuk?" tanya Citra heran.
"Ini semua karena Lusi. Dia yang merencanakannya. Dia pasti sekongkol dengan Om Rama, hiks."
"Om Rama?" Kening Citra tampak mengernyit. "Om Rama siapa?"
"Om Rama yang kata kamu anak temannya mertuamu, Cit. Dia orang yang memperkosaku."
"Masa, sih? Kamu berbohong nggak?" tanya Citra yang tampak tak percaya.
"Masa aku berbohong. Aku jujur, memang dia ...." Ucapan Sisil menggantung kala terdengar suara bel. Dia pun langsung melepaskan pelukan Citra, lalu berlari untuk membuka pintu.
Ada seorang pria yang berdiri di depan sana dengan membawa beberapa barang di tangannya.
Tanpa melihat, Sisil langsung memeluknya. Dia mengira pria itu adalah Gugun, padahal ternyata Rama.
Pria itu tentunya terkejut bukan main dengan apa yang Sisil lakukan padanya. Sungguh, dia sangat senang sekali. Jantungnya saja sekarang ingin lompat rasanya.
'Sisil memelukku? Apa ini mimpi?' batin Rama dengan wajah yang bersemu merah. 'Apa ini artinya dia mau aku nikahi?' Tanpa berpikir panjang, langsung saja dia membalas pelukan itu, lalu menciumi rambut Sisil.
__ADS_1
Tentunya momen seperti ini tak akan Rama sia-siakan. Rugi rasanya.
...Kesempatan emas ya, Om 🤣...