Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
41. Kadang ada gila-gilanya


__ADS_3

"Iya, nih, Mommy!" balas Mbah Yahya sengit. "Kita lagi serius ngobrol lho, hargai Rama."


"Tapi masa sih, apa yang kamu katakan adalah hal serius?" tanya Yenny, perlahan dia mengelus sebentar pipi kanan anaknya dengan lembut. "Maaf, ya, Sayang. Bukan maksud Mommy menyakitimu, tapi 'kan kamu juga tahu, burungmu sejak lahir sudah mati."


"Justru dia bangkit lagi, Mom." Yang menjawab Mbah Yahya. "Itu semua karena si Siliit."


"Namanya Sisil, Dad, bukan Siliit," tegur Rama. "Nama bagus-bagus malah diganti." Mendengkus.


"Iya, maksud Daddy itu. Meskipun Mommy nggak percaya dan terdengar mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Daddy sendiri awalnya juga nggak percaya kok," jelas Mbah Yahya. "Tapi Rama 'kan nggak mungkin berbohong."


"Oh, coba ceritakan semuanya, Ram," pinta Yenny sambil menatap Rama. Dia akan berusaha untuk percaya, meskipun belum sepenuhnya.


"Iya, jadi tuh kejadiannya pas aku ke pesta pernikahan Nissa dan syukuran anaknya Steven, terus ...." Rama menceritakan kembali jadian itu. Menjelaskannya secara rinci sampai di mana dia mendengar dari Mbah Yahya kalau Sisil setuju untuk menikah dengannya. "Tapi aku sendiri masih belum yakin dengan ucapan Daddy, Mom. Dia bilang Kak Gugun menyampaikan kalau Sisil mau menikah denganku, tapi masalahnya baru tadi ... aku datang ke apartemen mereka. Dan Sisil menolak untuk menikah denganku."


"Sebenarnya, Gugun itu siapanya Sisil, sih?" tanya Yenny bingung.

__ADS_1


"Kakaknya," jawab Rama.


"Daddy sendiri jujur nggak, kalau Gugun tadi bilang kayak gitu?" Yenny bertanya kepada Mbah Yahya demi memastikan. "Jangan ngasih harapan Rama, kasihan lho dia, kalau Daddy PHP-in."


"Sumpah kok, Daddy jujur. Ngapain juga sih bohong. Kalau kalian masih nggak percaya ... kita datangi saja apartemennya," tantang Mbah Yahya.


"Bener tuh, Ram," ujar Yenny. Sama halnya seperti Rama, dia juga belum percaya. Dan lebih tepatnya, dia masih belum percaya jika anak laki-laki semata wayangnya itu dapat memperkosa seorang gadis. "Kita pastikan, kita tanya sendiri dari mulut Sisil. Takutnya Daddymu bohong, dia 'kan tukang kibul."


"Enak saja!" cerocos Mbah Yahya sambil menarik sebelah sudut bibirnya. "Daddy 'kan seorang dukun profesional, mana mungkin Daddy berbohong."


"Nggak perlu pakai lamar-lamar segala lah," ujar Mbah Yahya dengan malas.


"Lho, kenapa, Dad?" tanya Rama.


"Kan kemarin saja kita datang melamar tapi ditolak, ngapain sekarang melamar lagi? Udah basi."

__ADS_1


"Ya nggak apa-apalah. Kalau diterima malah itu bisa jadi bukti kalau Sisil benar mau menikah denganku," balas Rama. "Sekalian tanya maharnya juga mau apa."


"Orang udah diDP sama kamu, masa pakai ngasih mahar segala? Kecuali si Sisilnya masih orisinil, tuh baru," cerocos Mbah Yahya sengit.


"Lha, Daddy ini gimana? Sisil nggak orisinil 'kan gara-gara aku juga." Rama mendesaah sambil geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan ucapan Daddynya.


"Iya, bener tuh." Yenny menimpali. "Daddy ini kadang ada gila-gilanya emang, Ram. Nggak punya otak!"


"Eh, Mommy, ya, ngomongnya!" omel Mbah Yahya sambil melotot. Bukannya takut, Yenny justru melototinya balik.


Memang sudah biasa, mereka kalau berbicara asal jeplak. Apalagi kalau berbeda argumen, keduanya terkadang saling menyalahkan dan beradu mulut.


"Eh tapi, yang namanya Sisil itu cantik nggak orangnya? Berapa umurnya?" tanya Yenny.


"Cantiklah Mom," sahut Mbah Yahya dengan penuh semangat. "Kalau nggak cantik, burung Rama nggak bakal bangkit. Sisil juga punya tanda lahir lho, Mom, di bokong. Warnanya hitam," kekehnya.

__ADS_1


...Kenapa ke bokong-bokong sih, Mbah 😕 Omesh deh 🙈...


__ADS_2