
"Pak Rama kok ada di apartemenku? Mau apa?!" tanya Gugun yang baru saja datang. Rahang di wajahnya tampak mengeras. Sisil pun segera memeluk tubuhnya.
"Aku mau mengantarkan jas baru untuk Kak Gugun, pengganti jas yang kemarin dipakai Daddyku," jawab Rama santai lalu menunjuk paper bag di tangan Sisil. "Sekalian aku ingin mengobrol dengan Sisil, kalau diizinkan." Rama memeluk buket bunganya, sebab sepertinya lagi-lagi Sisil tak mau menerima bunga itu.
"Kamu mau mengobrol sama Pak Rama nggak?" tanya Gugun sembari mengelus rambut adiknya. Sisil menggeleng.
"Nggak, lagian tadi kami sudah mengobrol kok. Aku ingin mengobrol sama Kakak saja sekarang. Ada sesuatu yang sangat penting. Ayok masuk, Kak," pinta Sisil. Dia seakan tak peduli akan perasaan Rama. Padahal sesungguhnya pria itu merasa sedih.
"Oh ya sudah, ayok kita masuk," jawab Gugun. Dia pun melangkah masuk ke dalam kamar apartemennya dengan Sisil tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rama. Kemudian langsung menutup pintu.
Rama mematung dengan wajah sendu, hatinya terasa sakit sekali. Padahal, dia sudah cukup lama ke salon untuk memermak rambutnya. Berangan-angan jika akan ada perubahan sikap gadis itu setelah melihat model rambutnya. Sedikit luluh untuk mau jadi istrinya.
Namun ternyata Rama salah, semuanya sama seperti awal dimana Sisil mengetahui dia orang yang memperkosanya.
"Sampai kapan sih, Sil, kamu bisa menerimaku? Mau menikah denganku?" keluhnya gusar. Perlahan Rama menjatuhkan buket bunga itu di depan pintu. Kemudian melangkah lesu pergi dari sana. "Setelah menikah aku akan berusaha membahagiakanmu."
*
*
"Eh, ada Nona Citra ternyata," ucap Gugun yang tampak terkejut melihat kehadiran Citra yang sejak tadi berdiri di dekat sofa. Gadis itu pun langsung mengulas senyum.
"Iya, Om. Tadi aku nggak sengaja ketemu Sisil di jalan."
"Kamu mau mengobrol di sini atau di kamar?" tanya Gugun kepada adiknya. Sisil masih memeluk dadanya, tetapi perlahan dia melepaskan.
__ADS_1
"Di sini saja, Kak. Biar Citra tahu," jawab Sisil seraya duduk dan mengajak temannya duduk di sampingnya. Dia juga menaruh paper bag yang dibawa di atas meja.
"Nggak apa-apa memangnya, kalau Nona Citra tahu?" Gugun tampak ragu. Dia pun ikut duduk, tapi di sofa single.
"Nggak apa-apa," jawab Sisil.
"Ya sudah cerita sekarang. Kakak juga ada hal yang ingin disampaikan."
"Kakak mau bicara tentang apa?"
"Kamu saja dulu," titah Gugun.
Sisil mengusap wajahnya, lalu meeremas jari jeraminya. "Ini tentang keluarga Kak Arya, Kak."
"Kenapa dengan mereka?" tanya Gugun penasaran. Di sini Citra hanya menjadi pendengar saja.
"Menolak bagaimana? Bicara yang jelas."
"Mereka nggak setuju aku sama Kak Arya menikah, mereka juga memintaku untuk sadar diri, Kak." Sisil langsung menangis. Seketika dia teringat ucapan menyakitkan yang dilontarkan Arga.
"Apa mereka tahu kamu habis diperkosa?"
Sisil menggeleng. "Kayaknya sih belum."
"Terus, kenapa mereka memintamu untuk sadar diri?"
__ADS_1
"Karena aku orang nggak punya. Keluarga Kak Arya kaya, Kak. Mereka ingin mencari menantu yang sepadan dan mereka juga nggak mau Kak Arya menikah untuk sekarang-sekarang." Sisil menyeka air matanya. "Papanya Kak Arya malah memintaku untuk menikah dengan orang lain, jika kekeh ingin cepat menikah. Selain itu dia juga kepengen aku dan Kak Arya putus."
Gugun mengusap kasar wajahnya mendengar penuturan Sisil. Dia langsung memeluk tubuh adiknya kala gadis itu kembali menangis tersedu-sedu.
"Sekarang ... aku musti gimana, Kak? Harapanku semuanya telah pupus. Aku nggak bisa menikah dengan Kak Arya dan malah sekarang hubunganmu diminta untuk segera diakhiri. Hiks ... hiks," lirihnya sambil sesenggukan.
Gugun memijat dahinya. Sakit sekali kepalanya, ditambah giginya ikut nyut-nyutan bekas tamparan Mbah Yahya saat ini.
Perlahan dia menarik napasnya, lalu membuangnya dengan kasar. "Nggak ada pilihan lagi, Sil. Lebih baik kamu menyerah saja sekarang," ucap Gugun pasrah.
"Maksudnya menyerah?" tanya Sisil bingung.
"Kamu putuskan hubunganmu dengan Arya, lalu menikah dengan Pak Rama. Biar dia yang akan bertanggung jawab."
Sisil membulatkan matanya dengan lebar. Dia pun langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak mau, Kak. Aku nggak suka sama Om Rama."
Gugun mengelus-elus rambut adiknya. Mencoba menenangkan Sisil. Sebab terasa sekali tubuhnya itu gemetar. Khawatir kalau sampai dia melakukan hal yang tidak-tidak. "Istighfar, Sil. Mulai sekarang jangan pikirkan masalah cinta dulu. Tapi pikirkan tentang masa depanmu. Kamu sayang sama Kakak, kan?"
"Sayang, Kak. Tapi memangnya nggak ada pilihan lain, selain menikah dengan Om Rama? Masa aku sama dia menikah? Dia sudah tua, Kak."
"Nggak masalah tua juga. Yang penting dia bertanggung jawab," sahut Gugun.
...Vote sama hadiahnya ditunggu ya, Guys. Kasih dukungan biar tambah semangat, biar novel ini masuk rekomendasi dan banyak yang baca 🙏...
__ADS_1