
"Apa aku terlihat seperti Bapak-bapak, dengan memakai kacamata seperti ini, Dek?" tanya Rama sembari menyentuh kacamata putih yang tersemat pada pangkal hidung mancungnya.
"Enggak." Sisil menggeleng sambil tersenyum. Kepalanya mendongak sejak tadi, memandangi wajah Rama bahkan tanpa berkedip. 'Malah Aa tambah ganteng.'
"Masa? Serius, Dek?"
"Iya."
"Kamu udah nggak kuat banget kayaknya, ya, Sil?" tanya Mbah Yahya.
Sisil langsung menoleh, menatap punggung Daddy mertuanya. "Nggak kuat apanya, Dad?" tanyanya tak mengerti.
"Sepertinya, tanpa Daddy jelaskan kamu tentu sudah paham. Tapi sebaiknya ... kamu sabar dulu, Rama 'kan baru sembuh. Pasti dia masih butuh banyak istirahat. Selain itu kamu bukannya sedang puasa, ya?"
Wajah Sisil seketika merona. Dia seolah paham dengan apa yang Mbah Yahya ucapkan. Buru-buru dia melepaskan pelukannya terhadap Rama, lalu menggeser posisi duduknya sedikit untuk menjauh. Bukan tidak mau berdekatan, hanya saja dia terlanjur malu.
"Daddy salah paham. Aku bahkan sejak tadi cuma meluk Aa, memang nggak boleh, ya?"
"Boleh kok, boleh," jawab Mbah Yahya terkekeh.
Rama langsung menatapnya dengan kening yang mengerenyit.
'Ih maluuu!!' Sisil memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil membuang napas dengan kasar. Berkali-kali dia mengusap wajahnya. 'Apa kelihatan jelas, ya, kalau aku lagi kepengen? Habis udah lama ... gimana, dong? Nggak kuat aku.'
Tibanya di rumah, Rama terlihat heran sebab banyak sekali karangan bunga yang berjajar rapih di halaman. Bertuliskan selamat datang dan semoga sehat selalu.
"Selamat datang Pak Rama!" seru Bibi pembantu dan satpam rumah, menyambut kedatangan Rama yang baru saja turun dari mobil.
"Terima kasih." Rama tersenyum manis, lalu memerhatikan karangan bunga tersebut. "Ini semua siapa yang kirim, Dad? Banyak amat."
"Beberapa karyawan dan karyawatimu di kantor, Ram," jawab Mbah Yahya.
Rama mengangguk, dia pun merangkul bahu Sisil dan bersama-sama masuk ke dalam rumah.
Saat sudah masuk, Rama terlihat terkejut saat banyak sekali balon berwarna hitam putih yang menghiasi dinding ruangan. Ada beberapa mawar putih juga yang tersemat di sana. Serta tulisan 'Selamat Datang Di Rumah Aa Suami'
"Ini siapa yang nyiapin?" tanya Rama berpura-pura. Padahal dia sudah yakin itu pasti dari Sisil, istrinya itu juga terlihat malu-malu sekarang.
"Menurutmu?" Mbah Yahya berbalik tanya.
"Terima kasih, Dek." Rama mengelus puncak rambut istrinya, lalu mencium kening.
__ADS_1
"Apa Aa seneng?"
"Tentu saja." Rama mengangguk dengan sunggingan senyum.
"Dikamar kita juga sudah aku hias, A. Aa harus melihatnya, pasti Aa suka." Sisil langsung menarik Rama, mengajaknya pergi ke kamar mereka untuk menunjukkan sesuatu.
Dia memang kemarin dengan dibantu Yenny dan Bibi Pembantu sibuk menghias rumah serta kamar, untuk menyambut kedatangan Rama.
Tapi itu semua ide darinya. Anggap saja itu bentuk rasa bahagianya, karena suaminya yang hampir setengah bulan di rumah sakit kini bisa kembali pulang dan beraktivitas seperti biasanya.
"Hati-hati jalannya! Awas jatuh!" tegur Yenny menasehati. Dia tampak tersenyum, ikut senang melihat anak dan menantunya senang. Beban yang dia pikul saat anaknya dirawat di rumah sakit pun kini terasa hilang, bertepatan dengan Rama yang sudah pulang.
Ceklek~
Pintu kamar dibuka oleh Sisil, lalu melebarkannya. Keduanya pun langsung masuk bersama dan dilihat Rama sudah menatap sekeliling kamarnya, yang mirip sekali dengan kamar pengantin.
Dekorasi di dindingnya sama persis seperti di ruangan rumah, hanya saja ada tambahan beberapa lampu kecil-kecil yang mungkin akan berelap-kelip jika dinyalakan.
Di atas kasur size bag berseprai putih ditaburi banyak kelopak bunga mawar, serta beberapa lilin aromaterapi dibeberapa sudut.
"Bagus 'kan, A?" tanya Sisil yang sangat tidak sabar mendengar komentar Rama.
"Bagus banget, Dek." Rama mendudukkan bokongnya di atas kasur, wajahnya terlihat merona karena senang melihat itu semua. "Malah mirip banget kayak kamar pengantin."
"Apa kamu puasa hari ini, Dek?" Rama melingkari pinggang Sisil, lalu mengelus pipi kanannya yang sudah merona.
"Puasa, A." Sisil mengangguk penuh arti.
"Kita tunggu sampai Magrib saja ya, Dek. Apalagi kamu 'kan lagi puasa sekarang. Kita juga musti menghargai bulan suci ini." Rama sepertinya paham.
"Tunggu Magrib apa maksudnya, A?" tanya Sisil berpura-pura. Aslinya dia sudah sangat senang jika suaminya itu ternyata peka.
"Kenapa harus tanya? Padahal kamu sendiri pasti tau jawabannya, kan?" Rama menarik Sisil untuk duduk di atas pangkuannya, lalu mereka pun saling memeluk satu sama lain.
"Tapi ... apa Aa nggak akan lemes nanti? Kan Aa baru keluar dari rumah sakit." Sisil berbicara dengan ragu-ragu. Takutnya Rama berubah pikiran.
"Kalau satu ronde doang mah kuat, Dek."
"Dih ... kok satu ronde?"
"Memang maunya berapa?"
__ADS_1
"Enggak sih, satu ronde juga nggak apa-apa." Sisil menggeleng malu. Rama terkekeh.
"Kamunya juga 'kan lagi hamil, Dek, nanti capek kalau kelamaan bercinta."
"Malahan, ini yang pengen anak kita, A. Bukan aku. Aku 'kan enggak mesum kayak Aa." Sisil sudah menghirup dalam aroma tubuh Rama yang selalu membuatnya candu. Dia juga dapat merasakan milik Rama sudah mengeras, tertindih pada bokongnya. 'Duuhh ... berat banget godaannya hari ini. Bahkan burungnya Aa saja seperti memintaku untuk segera dimanja,' batinnya.
"Masa sih?" Rama perlahan mengelus perut Sisil. "Kok bisa, anak kita kepengen begituan orang tuannya?"
"Kan anget dia nanti, A, kalau milik Aa masuk ke dalam milikku. Anggap saja seperti ditengokin." Otak Sisil jadi mulai traveling sekarang. Membayangkan dia dan Rama bercinta. Tapi buru-buru dia pun menggelengkan kepalanya, lalu turun dari pangkuan Rama.
"Lho, kenapa?" tanya Rama bingung.
"Gerah aku, A," kilah Sisil sambil berpaling, padahal yang sebenarnya dia takut benar-benar khilaf. Malah sepertinya puasanya sudah makruh sekarang. "Aku mau mandi dulu deh, Aa mending istirahat saja sekarang. Pasti Aa capek, biar nanti malamnya Aa seger dan kuat."
"Tapi aku ...." Belum sempat Rama meneruskan ucapannya, tapi Sisil sudah keburu lari masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya dia pun hanya bisa menghela napas, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Padahal aku belum puas memelukmu tadi, Dek. Tapi nanti malam pasti kita bisa melakukan lebih dari berpelukan," tambahnya lalu melepaskan kacamata dan mulai memejamkan mata.
*
"Daddy mau pergi buat nemuin Evan dulu, ya, Mom." Mbah Yahya berdiri dari duduknya sambil membenarkan kemejanya yang terlipat. Yenny pun ikut berdiri juga. "Nanti Mommy, Rama dan Sisil siap-siap jam 5 sore, Daddy akan ajak kalian makan bareng di restoran. Sama Rima, Panji, Raina, Raisa, Gugun, Tuti dan Evan juga ikut."
"Tumben ... makan serombongan gitu, Dad?" Yenny terlihat heran.
"Iya. Daddy mau merayakan hari di mana Rama pulang ke rumah, Mom."
"Tapi kalau makan di restoran kayaknya udah biasa deh, Dad."
"Kenapa memangnya, Mom?"
"Lebih bagus mending makannya di rumah saja, Dad. Di halaman. Kita sewa tempat makan dan menyewa jasa koki, pasti itu terlihat jauh lebih spesial dibandingkan makan di restoran," usul Yenny memberikan ide.
"Apa nggak ribet ya, Mom?" Mbah Yahya tampak ragu.
"Ribet sih, tapi 'kan nggak tiap hari, Dad. Ini 'kan menyambut Rama yang baru pulang habis sakit."
"Iya, sih." Mbah Yahya mengangguk setuju. Ada benarnya memang apa yang dikatakan istrinya. "Ya sudah, Mommy saja yang mengurusnya, ya, pasti Mommy yang lebih ngerti. Daddy mau pergi dulu, sekalian mau mampir ke kantor polisi juga buat ngecek perkembangan kasus si Rama."
"Iya, hati-hati ya, Dad." Yenny mengangguk, lalu mencium punggung tangan sang suami.
"Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^