
"Tolong buatkan susu coklat hangat untuk menantuku. Dia ada di kamar nomor 400 lantai 4, bersama suaminya," titah Yenny pada seorang pelayan wanita, setibanya dia lantai dasar di mana pesta itu berada.
"Baik, Bu." Pelayan itu mengangguk, kemudian melangkah pergi.
Mbah Yahya yang tak sengaja lewat dan mendengar apa Yenny sampaikan langsung berlari mengejar pelayan tersebut. Kemudian berteriak, "Mbak! Berhenti sebentar!"
Pelayan wanita itu pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. Mbah Yahya melangkah lebih dekat.
"Tadi istriku minta diantarkan minuman untuk menantuku, ya?" tebak Mbah Yahya.
"Bu Yenny tadi istri Bapak?"
"Iyalah. Kan aku yang buat pesta, jadi aku suaminya. Oh ya, aku mau minta tolong padamu bisa nggak? Nanti aku bayar." Mbah Yahya mengambil sebotol obat pada saku jasnya, lalu mengambil dompet dan meraih 5 lembar uang seratus ribuan.
"Tolong apa, Pak?" tanya pelayan itu.
"Tolong ambil botol obat ini dan ini uang untukmu, itung-itung tanda terima kasih," ucap Mbah Yahya seraya memberikan apa yang ada di tangannya. Pelayan itu tak menolaknya sama sekali. "Tapi nanti ... kamu ambil satu kapsul obat ini lalu campurkan ke susu hangat untuk menantuku, ya? Tapi ingat, hanya satu kapsul."
Sebelum wanita itu hendak bertanya lagi, Mbah Yahya sudah menepuk pundaknya berkali-kali sambil berkomat-kamit. Alhasil dia langsung mengangguk patuh.
"Baik, Pak. Saya akan melakukannya. Kalau begitu saya permisi." Dia membungkukkan badannya dengan sopan, kemudian melangkah pergi.
Mbah Yahya langsung mengulas senyum. 'Semoga saja obat itu bereaksi dan yang minum adalah Sisil. Aku takut jika gadis itu menolak Rama, sedangkan Rama sudah meminum obat kuat.'
Tadi saat Yenny bertemu Rama lalu memberikan obat, dia kebetulan memang tahu. Sebab dia sendiri sempat mengikuti Rama yang mencari-cari keberadaan Sisil.
Tadinya, Mbah Yahya ingin memberikan obat kuat juga untuk Rama. Akan tetapi kalau Yenny sudah memberikan, jadi giliran obat perangsang untuk Sisil saja. Supaya hasilnya jos gandos.
***
__ADS_1
Kembali lagi di kamar hotel tepat di dalam kamar mandi.
Ciuman yang dilakukan Rama akhirnya terlepas dan Sisil langsung menghirup oksigen banyak-banyak sebab begitu sesak di dada. Bibirnya itu terasa sangat tebal sekali karena disesap Rama cukup kuat.
"Om aku ... aahh!" Dengan napas terengah-engah, Sisil mengeluarkan satu dessahan yang langsung lolos dari bibirnya. Itu semua dikarenakan Rama tengah menjilati leher dan sesekali menggigitnya. Sensasi geli-geli enak itu dapat dia rasakan.
'Enak banget sih ini, bukan hanya bibirnya saja yang manis. Tapi leher bahkan semua yang ada ditubuh Sisil,' batin Rama. Mendengar satu dessahan itu sungguh membuatnya makin semangat.
Satu jejak kepemilikan akhirnya berhasil Rama buat dileher kiri Sisil, warnanya merah keunguan.
Rama perlahan beringsut ke bawah sambil terus menyesap setiap lekukan tubuh gadis itu. Kedua tangannya yang memegang tangan Sisil kini terlepas, lalu beralih untuk meremmas kedua dada yang menantang itu.
Begitu pas pada genggaman. Terasa kenyal dan begitu lembut. Rama tersenyum dan mulai mendekat.
Bibirnya sudah menganga hendak melahap, akan tetapi secara tiba-tiba Sisil mendorong tubuhnya. Hingga membuat Rama melepaskan remmasan pada kedua dada yang cukup montok itu dan menghentakkan bokongnya di lantai kamar mandi.
"Hentikan Om! Aku benci sama Om!" teriak Sisil marah. Sejak tadi dia berusaha untuk mengungkapkan hal itu, akan tetapi tadi posisinya begitu susah.
"Kenapa, Dek?!" Rama menarik tubuhnya hingga berdiri, kemudian berlari mengejar istrinya keluar kamar mandi.
Dilihat sekarang, gadis itu sudah duduk di atas kasur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya bagian kepala saja yang terlihat.
"Jangan mendekat!" tekan Sisil ketika Rama baru saja melangkah maju. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain, tak berani menatap Rama yang bertubuh polos tanpa malu. Akan tetapi, wajahnya begitu merah merona karena sempat melihat roti sobek milik sang suami. 'Aku kira, hanya di drakor saja ada pria yang memiliki perut kotak-kotak. Ternyata Om Tua juga punya. Hebat sekali dia, kok bisa badannya bagus? Padahal sudah tua.'
Hati Sisil tak dapat berbohong, dia mengakui jika memang tubuh Rama bisa dikatakan sixpack.
"Memangnya kenapa, Dek? Dan kamu ada apa? Kok seperti marah sama aku?" tanya Rama bingung. Keningnya tampak mengernyit.
"Aku mau Om pakai baju! Aku nggak mau melihat Om telanjang. Jangan nodai mataku, Om." Sisil menutup wajahnya. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Sejujurnya dia merasa takut jika Rama langsung memaksanya untuk bercinta, sekarang dia merasa belum siap dan merasa kesal dengan keadaan yang telah terjadi.
__ADS_1
"Lho, kan kamu sudah pernah lihat aku telanjang, Dek. Masa bilang kayak gitu?" kekeh Rama. Dia pun membuka lemari, lalu mengambil handuk kimono dan segera memakainya.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Terdengar suara bel berbunyi. Rama yang hendak menghampiri Sisil akhirnya berbalik arah, jadi dia melangkah menuju pintu dan membukakannya.
Ceklek~
"Selamat malam, ini minuman pesanan Nona Sisil, Pak," ucap seorang pelayan wanita yang membawa segelas susu coklat di atas nampan.
"Malam juga, terima kasih, ya?" Rama tersenyum manis lalu meraih nampan itu.
"Sama-sama, Pak."
Sisil diam-diam meliriknya dan melihat senyuman Rama yang dilayangkan kepada pelayan wanita itu. Seketika rasa kesalnya kembali memuncak. 'Bener 'kan dia playboy. Genit banget, masa pelayan hotel saja sampai digodain?'
"Ini minuman kamu, Dek?" Setelah pelayan itu pamit, Rama pun menutup pintu dan menguncinya. Kemudian dia melangkah menghampiri Sisil untuk memberikan segelas susu coklat.
Gadis itu langsung meraihnya, kemudian menenggaknya sampai habis tak tersisa sebab dia sangat haus.
Perlahan Rama duduk di atas kasur di samping istrinya, lalu meraih puncak rambut untuk dia elus. Akan tetapi gadis itu justru menghindar dan menepisnya dengan kasar.
"Kamu kenapa, sih, Dek? Galak amat? Jangan begitu dong, Sayang ... nanti dosa. Sama suami itu harus lembut sikapnya, nggak boleh kasar," tegur Rama dengan lembut. Dia kembali bertanya-tanya dengan perubahan sikap Sisil yang tiba-tiba. Sama seperti sebelum mereka melakukan foto dengan adegan ciuman. Sisil marah tidak jelas tanpa dia sendiri tahu apa salahnya.
"Buat apa aku bersikap lembut sama suami mata keranjang seperti Om? Males amat!" geram Sisil seraya mencebik bibirnya.
"Kok mata keranjang? Siapa yang mata keranjang?" Alis mata Rama tampak bertaut.
__ADS_1
"Ya Om lah!" hardik Sisil dengan penuh emosi. "Aku mau kita pisah saja deh, Om. Nggak mau aku kalau punya suami nggak setia. Yang ada makan hati tau, nggak!"
...Cieee... udah bawa-bawa hati nih 🤣...