
Tak lama kemudian, pria tadi kembali menghampiri Mbah Yahya. Kemudian menunjukkan sebuah cincin di tangannya.
"Ini bukan, Pak?" tanyanya. Dan sontak membuat pria di depannya itu tersenyum sumringah.
"Benar! Ini cincinku! Cincin yang selama ini buat aku pusing tujuh keliling karena dicari susah ketemu!" Sungguh Mbah Yahya senang bukan kepalang. Benda itu pun lantas dia ambil dan diciumi berulang kali.
"Alhamdulillah kalau begitu." Pria itu menghela napasnya dengan lega.
"Siapa namamu?" tanya Mbah Yahya seraya memakai cincin, kemudian merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet.
"Yunus, Pak."
"Ini Yunus ... eh, maksudku Ustad Yunus," ralat Mbah Yahya cepat seraya menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah. "Anggap saja tanda terima kasih, karena sudah menemukan cincinku yang hilang."
"Enggak perlu, Pak," tolak Ustad Yunus dengan gelengan kepala.
"Kenapa nggak perlu? Kan ini adalah rezeki. Harusnya kamu terima dong."
"Saya tau, Pak. Tapi Bapak nggak perlu memberikan uang segala. Saya juga menemukannya nggak sengaja kok, dipinggir jalan."
"Oh begitu. Ya sudah deh." Tidak masalah jika pria itu tak mau menerima uangnya. Mbah Yahya juga tak akan memaksanya. "Ya sudah ya, Ustad, kalau begitu aku permisi. Sekali lagi terima kasih." Mbah Yahya menatap Ustad Yunus dan Ustad yang entah siapa namanya, lalu tersenyum seraya berbalik badan.
"Tunggu dulu sebentar, Pak!" seru Ustad Yunus yang mana menghentikan langkah kaki Mbah Yahya yang hendak keluar gerbang.
Pria berjenggot putih itu langsung menoleh, lalu berkata, "Ya?"
"Kalau Bapak ingin kembali ke jalan Allah dan bingung harus memulainya dari mana ... Bapak bisa datang ke sini dan menemui saya."
"Maksudnya?" Kening Mbah Yahya tampak mengerenyit. 'Apa yang dia katakan? Apa jangan-jangan dia tau kalau aku seorang dukun? Dan aku mau diruqiah?' Wajah Mbah Yahya seketika memucat. Dan entah mengapa, mendadak dia merasa takut. Apalagi posisinya sekarang berada di rumah sang Pencipta-Nya.
__ADS_1
Sekelebat ucapan Evan pun tiba-tiba terngiang di telinga, yang membawa-bawa kata 'tobat'. Sedangkan Mbah Yahya belum mau bertobat, karena menurutnya ini bukan waktu yang tepat.
"Saya nggak ada maksud apa-apa kok, Pak. Saya hanya ...." Belum sempat Ustad Yunus menyelesaikan ucapannya, tapi Mbah Yahya sudah keburu hilang dari pandangan.
Pria tua itu sudah masuk ke dalam mobilnya Evan, dan bergegas meminta sang asisten untuk pergi meninggalkan masjid. Sebelum dirinya benar-benar menadapat hidayah.
"Ada apa, sih, Pak?" Evan terheran-heran melihat tingkah Mbah Yahya yang seperti cacing kepanasan. Pria itu duduk dengan gelisah.
"Sedikit lagi aku hampir diruqiah, Van. Untungnya aku keburu kabur."
Siapa juga yang meruqiah dirinya? Itu hanya asumsi Mbah Yahya saja yang ketakutan sendiri.
Evan membulatkan mata. Terkejut mendengarnya. "Serius, Pak? Terus bagaimana cincinnya?"
"Serius. Tapi untungnya cincinku sudah berhasil aku temukan, Van!" Mbah Yahya mengangkat tangannya, lalu menunjukkan sebuah cincin dijari manisnya dengan raut senang.
"Iya. Aku mau langsung melakukan penerawangan."
*
*
*
Evan kini berdiri di depan pintu ruangan praktek Mbah Yahya. Satu jam lebih, pria itu berdiri menunggu sang bos yang tengah melakukan penerawangan. Untuk mencari tau siapa pelaku yang mencelakai Rama.
"Aarrghhhh ... SIALANN!!!"
Evan sontak terperanjat, kala mendengar suara umpatan dan gebrakan meja di dalam sana. Yang dia tebak pasti ulah dari bosnya.
__ADS_1
"Kenapa dengan Pak Yahya?" gumam Evan penasaran.
BRAKK!!
Tiba-tiba, pintu ruangan itu dibuka dan dibanting secara kasar. Kemudian keluarlah Mbah Yahya dengan wajah merah dan penuh kemurkaan, kedua rahangnya pun ikut mengeras sempurna.
"Ada apa, Pak?"
"Entah apa yang dilakukan Ustad itu ... sehingga cincinku nggak berfungsi sama sekali! Bahkan cahayanya pun hilang saat aku mulai membaca mantra, Van!" geram Mbah Yahya sambil menunjuk cincinnya. Dadanya terlihat naik turun mengatur napas yang terasa tercekat.
"Jadi yang menemukan cincin Bapak seorang Ustad?"
"Iya. Si*alan banget itu orang!" umpatnya emosi.
"Siapa namanya, Pak?"
"Enggak tau aku, lupa." Mbah Yahya menggeleng, lalu duduk dikursi dengan wajah frustasi dan menjambak rambut kepalanya sendiri. "Pusing banget aku, Van! Sekalinya udah berhasil ketemu cincin ... tapi malah begini! Makin susah dong, aku tau siapa pelakunya! Padahal aku udah nggak sabar ingin menyantet orangnya!" geramnya murka.
"Kalau sudah begini, apa tandanya Bapak akan selamanya hilang kekuatan? Bapak akan berhenti jadi dukun?" tanya Evan penasaran.
"Enggak, Van." Mbah Yahya menggeleng. "Masih ada solusi lain. Tapi agak sulit untuk mendapatkan caranya."
"Apa itu, Pak?"
"Kita harus menyiapkan tumbal."
"APA?!" Mata Evan sontak membulat sempurna. Jantungnya pun ikut berdegup kencang. "Apa maksud Bapak, kita harus membunuh orang untuk dijadikan tumbal, begitu?"
...Waduuuhhh 🙈...
__ADS_1