
"Enggak, Bu." Tuti menggelengkan kepalanya. "Yang saya ingat cuma mobilnya warna hitam dan pria itu memakai masker. Hanya matanya saja yang kelihatan, tapi saya nggak bisa tau dia siapa."
"Duh ... terus bagaimana dong, Tut?" keluh Yenny yang tampak bingung. "Gimana kita bisa tau pelakunya?"
"Aku coba telepon Kakak dulu, ya, Mom, minta bantuan padanya. Siapa tau ... Kakakku bisa membantu," ucap Sisil. Segera dia pun mengetik-ngetik ponselnya yang sejak tadi berada pada genggaman.
"Iya, Nak, coba telepon saja dan minta datang kemari." Yenny mengangguk setuju.
***
Di tempat berbeda.
Gisel terlihat begitu sumringah dan hatinya pun ikut berbunga, karena diajak Gugun buka puasa bersama di restoran sekaligus merayakan hari jadian mereka.
Sebelumnya tak ada niat sama sekali, hanya saja Gugun melakukannya demi menghilangkan rasa emosi Gisel, serta niatnya yang nekat bunuh diri.
"Mas ...." Tangan Gisel terulur di atas meja, lalu meraih tangan Gugun yang berada di sana. Mereka duduk saling berhadapan dan dilihat pacarnya itu sedang menyesap pipet es jeruk.
"Ya?" sahut Gugun menatap Gisel.
"Terima kasih karena udah mengajakku buka bersama dan merayakan hari jadian kita, Mas. Semoga saja ... hubungan kita tetap langgeng, ya?"
"Sama-sama, Nona."
"Pokoknya mulai sekarang, aku nggak mau lagi dengar Mas bilang putus. Aku nggak mau, ya? Aku cinta banget soalnya sama Mas Gugun."
"Iya." Gugun mengangguk dengan wajah terpaksa. Percayalah, dia terlihat begitu tertekan sekarang. "Eemm ... kalau misalkan hubungan kita sudah berjalan lama, tapi aku tetap nggak mencintai Nona, bagaimana?"
"Dih ... Mas kok ngomongnya kayak gitu, sih? Ya nggak mungkinlah ... kalau Mas nggak mencintaiku. Aku 'kan cantik, baik, memang kurang apa lagi?" Suara Gisel terdengar sedikit lebih nyaring, wajahnya pun tampak merah. Sepertinya dia merasa kesal dengan pertanyaan dari Gugun.
"Maaf, kan aku bilang juga misalkan, Nona."
"Ya nggak bolehlah, Mas ... ada kata misalkan. Itu 'kan sama saja Mas nggak serius berhubungan denganku!" omel Gisel marah.
Gugun hanya bisa menghela napasnya, lalu menganggukkan kepalanya. 'Lagian, siapa juga yang mau serius dengan Nona?' batinnya.
Drrtt ... Drrttt ... Drrtt.
__ADS_1
Tiba-tiba, ponsel Gugun bergetar di dalam kantong celananya. Segera, dia pun merogoh ke dalam sana.
Dan ternyata, dia mendapatkan sebuah panggilan masuk. Tapi kedua matanya itu sontak terbelalak, lantaran yang meneleponnya adalah 'My Love' yang berarti adalah Tuti.
"Mas mau ke mana?" tanya Gisel yang tiba-tiba melihat Gugun berdiri. Tapi wajahnya tampak begitu gelisah.
"Aku mau ke toilet dulu, Nona, tunggu sebentar, ya?"
Sebelum Gisel menjawab, pria itu sudah lari terbirit-birit pergi meninggalkannya. Apa yang Gugun lakukan adalah sengaja, karena ingin buru-buru mengangkat telepon. Dan tak mungkin juga, dia mengangkatnya di depan Gisel.
"Kenapa dengan Mas Gugun? Apa kebelet dia?" gumam Gisel dengan raut bingung.
*
"Halo, assalamualaikum Nona Cantik," ucap Gugun dengan deru napas yang tersengal-sengal. Dia sudah masuk di dalam toilet pria dan duduk di atas klosetnya.
"Walaikum salam. Lho, Kak, kenapa Kakak memanggil Mbak Tuti dengan sebutan Nona Cantik?" Ini bukan suara Tuti, melainkan Sisil.
"Si-Sisil ... apa ini kamu?" tanya Gugun yang mendadak menjadi gugup.
"Iya, ini aku, Kak. Aku pakai hape Mbak Tuti karena kata dia hape Kakak sempat hilang. Jadi nomornya aku nggak punya," jelas Sisil.
"Nggak apa-apa, Kak. Terus Kakak sekarang ada di mana? Bisa tolong ke rumah sakit nggak?"
"Kakak lagi di restoran. Kenapa memangnya, Kakak harus ke rumah sakit? Apa kamu sakit, Sil?"
"Bukan aku, tapi Aa Rama. Dia kecelakaan, Kaaak ...." Suara Sisil terdengar lirih, dan didetik selanjutnya isakan tangis itu terdengar dari seberang sana.
"Astaghfirullahallazim!" Gugun beristigfar dengan kedua mata yang membulat sempurna. "Kok bisa kecelakaan? Tabrakan atau tertabrak?"
"Sekarang Kakak datang ke rumah sakit saja dulu. Nanti temani Mbak Tuti ke kantor polisi, untuk melaporkan kejadian ini. Cepat ya, Kak!"
"Iya, cepat kirim alamatnya. Kakak akan segera ke sana."
"Iya, Kak," jawab Sisil kemudian mematikan panggilan. Dan tak lama, ada notifikasi chat masuk yang berisikan alamat rumah sakit.
Gegas, Gugun pun keluar dari toilet itu, kemudian melangkah cepat menghampiri mejanya yang mana Gisel tengah menyantap es buah di sana.
__ADS_1
"Nona, aku izin pulang duluan, ya? Nggak apa-apa, kan? Nanti semua makanan dan minuman ini biar aku yang bayar." Gugun langsung melambaikan tangannya ke arah pelayan wanita yang duduk di depan kasir. Lantas memanggil, "Mbak!"
"Lho, kenapa buru-buru, Mas?" tanya Gisel heran, kemudian berdiri dan meraih tangan Gugun. "Aku masih ingin berduaan sama Mas di sini."
"Iya, Pak?" Seorang pelayan wanita sudah datang menghampiri meja Gugun.
"Minta biilnya dong, mau bayar aku, Mbak," pinta Gugun.
"Baik. Tunggu sebentar, Pak." Pelayan itu menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah pergi sebentar dan tak berselang lama dia kembali dengan membawa selembar biil, lalu menyerahkannya ke tangan Gugun.
"Mas ... jawab dulu kenapa Mas buru-buru?" tanya Gisel penasaran.
Gugun langsung melakukan pembayaran dengan kartu black cardnya, kemudian mengantongi benda itu ke dalam kantong celana yang sudah dimasukkan ke dalam dompet kulitnya.
"Adik iparku masuk rumah sakit, Nona, dan aku harus ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian itu," jawab Gugun seraya menepis tangan Gisel, kemudian melangkah pergi dari restoran.
"Adik ipar?!" Gisel membeku sejenak, mendengar kata itu. Dan didetik selanjutnya dia pun membulatkan matanya. "Kalau adik ipar, berarti itu Mas Rama? Iya, kan?"
"Ya Allah ... Mas Rama kecelakaan? Bagaimana keadaannya?" Merasa panik, Gisel pun langsung berlari keluar dari restoran untuk mengejar Gugun. Pria itu sudah masuk ke dalam mobil bahkan sudah hendak berkendara.
Tapi sebelum mobil itu melaju, dia gegas masuk ke dalam mobil tersebut. Duduk di samping Gugun.
"Lho, Nona ngapain ikut masuk? Aku buru-buru ini. Nona keluar dan pulangnya naik taksi saja," pinta Gugun dengan nada mengusir.
"Aku mau ikut, Mas. Katanya tadi adik ipar Mas kecelakaan."
"Nona nggak perlu ikut," tolak Gugun cepat.
"Lho, kenapa? Memangnya masalah?"
Jelas itu masalah, sebab Gugun juga akan bertemu dengan Tuti. Bisa berabe urusannya.
"Bukan masalah, tapi ini genting, Nona. Nona nggak perlu ikut. Ayok sekarang keluar," pintanya berbicara dengan lembut, guna merayunya. Gugun juga segera membukakan pintu mobilnya dimana posisi perempuan itu berada.
"Nggak mau ah, Mas, aku mau ikut!" Gisel terlihat kekeh, wajahnya pun tampak begitu cemas. "Aku juga mau lihat kondisi adik ipar, Mas, kalau misalkan dia kenapa-kenapa bagaimana?"
"Memangnya Nona kenal, dengan adik iparku?"
__ADS_1
...Ya kenallah, orang pujaan hatinya 🤣...