Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
8. Dia 'kan?


__ADS_3

"Ada kemungkinan, meskipun ini belum pasti," jelas Dokter itu. Kemudian menatap Rama. "Sekarang saya tanya, sehabis Anda berhubungan badan ... apa alat v*tal Anda berdiri lagi?"


"Pasti nggak bakal lah, Dok. Kan udah cr*t." Yang menjawab Mbah Yahya.


Dokter itu membulatkan matanya mendengar apa yang Mbah Yahya katakan. Ucapannya itu tanpa filter sekali. Rama pun langsung menyenggol lengan Mbah Yahya.


Memang sudah biasa dia bicara seperti itu, tetapi Rama terkadang ikut malu mendengarnya.


"Maaf, maksud saya dari pas berhubungan badan sampai sekarang, Pak." Dokter itu sepertinya salah memberikan pertanyaan. "Apa Bapak merasakan burung Bapak berdiri lagi?"


"Nggak, Dok." Rama menggeleng.


"Jadi semalam itu perdana ya, Pak?" tanya Dokter. Rama mengangguk. "Bapak ingat nggak, Bapak bertahan berapa lama?"


"Nggak, Dok." Rama menggeleng. "Aku nggak ingat."


"Pas memperkosa kamu melakukan berapa gaya, Ram?" tanya Mbah Yahya.


"Dua, Dad."


"Gaya apa saja?"


"Aku nggak tahu namanya. Tapi posisinya ...." Rama menggantung ucapannya diujung bibir sambil menatap Dokter. Ragu dia berucap, sebab malu. Wajahnya saja sekarang tampak merona.


"Nggak masalah, Pak. Ceritakan saja," ujar Dokter.


"Posisinya aku di atas yang pertama. Yang kedua dia menungg*ng," jawab Rama sambil menundukkan wajah. Seketika buku kuduknya berdiri dan dia pun kembali mengingat adegan itu.


Namun, tiba-tiba Rama merasakan miliknya mengeras di dalam celana. Dia sontak terbelalak dan langsung berdiri sembari menyentuhnya.


"Dok! Ini burungku bangun! Keras sekali!" serunya memberitahu.


"Mana? Coba Daddy lihat!" Mbah Yahya langsung menyentuh resleting celana anaknya. Lalu menurunkannya. Kancing celana juga sudah dia lepaskan secara paksa. Mungkin sedikit lagi senjata anaknya akan dapat dia lihat, akan tatapi Rama segera menepis tangan Mbah Yahya dan langsung membereskan celananya kembali.


"Jangan dibuka, Dad! Malu!" cegah Rama.


"Malu apa? Kita di sini semua laki-laki, Daddy mau melihatnya, Ram!" tekan Mbah Yahya yang kembali berusaha untuk membuka celana anaknya. Susah payah Rama mencoba mencegahnya lagi.

__ADS_1


"Kalau Pak Rama nggak mau jangan dipaksa, Pak, biarkan ...." Ucapan Dokter yang hendak membela Rama menggantung seketika kala burung sang pasien sudah tergamblang jelas di wajahnya.


Benar apa yang Rama katakan. Dia berdiri bahkan panjang dan besar. Hanya saja, celana Rama kini menjadi korban. Dia robek akibat kekuatan besar Mbah Yahya yang berusaha membuka celana.


Namun disamping itu, terlihat jelas bola mata Mbah Yahya yang berbinar. Ini adalah hal yang dia nantikan sejak dulu. Yakni melihat burung anaknya berdiri.


Sangking senangnya, Mbah Yahya sampai menitihkan air mata. Terharu bahagia.


"Ish! Daddy!" Rama berdecak sebal melihat apa yang terjadi. Cepat-cepat dia membuka jasnya lalu menutupi asetnya dan kembali duduk. "Celanaku robek ini, gimana dong pulangnya?" omelnya marah. "Malu tahu nggak, mana Dokter lihat tadi."


Bukannya menjawab, Mbah Yahya justru memeluk anaknya. Lalu mencium pucuk rambutnya.


"Ini lah yang Daddy nantikan sejak kamu dilahirkan ke dunia, Ram. Yaitu melihat burungmu berdiri. Daddy bahagia sekali kamu bisa sembuh. Daddy kepengen cucu darimu, Ram," ucapnya sambil menangis sesenggukan.


"Apa ada alasan dia berdiri, Pak? Apa tiba-tiba dia berdiri sendiri?" tanya sang Dokter penasaran.


"Tadi aku sempat memikirkan kejadian semalam, Dok. Saat aku memperkosa gadis itu. Kemudian tiba-tiba saja burungku berdiri," jelas Rama.


"Anda harus cepat-cepat menemukan gadis itu, Pak. Kemungkinan dia lah yang mampu mengatasi penyakit Bapak selama ini," saran Dokter.


"Iya. Niatku memang ingin mencari lalu menikahinya, Dok."


"Iya, Dok." Rama mengangguk cepat. Lantas melepaskan pelukan Mbah Yahya. "Ayok kita pulang, Dad. Tapi Daddy harus carikan aku celana. Nggak mungkin aku keluar tanpa celana begini."


"Sebentar ... Daddy belikan kamu celana dulu, ya?" Mbah Yahya berdiri, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


***


Sejujurnya, Sisil menolak untuk melaporkan apa yang dia alami ke kantor polisi sebab merasa malu. Tetapi Gugun terus memaksanya. Karena kalau tidak ditindaklanjuti, itu akan sangat merugikan.


Hasil visum tadi dijadikan Gugun sebagai bukti dan supaya mempermudah prosesnya.


"Baik, laporan Anda sudah saya terima," ucap seorang perwira polisi yang duduk di depan Gugun dan Sisil.


Ada Pengacara Harun juga di samping mereka. Sebelum datang ke kantor polisi, Gugun sudah menceritakan segalanya dan meminta bantuan padanya.


"Sekarang, orang-orang saya akan membantu Bapak menemukan pelakunya," tambah Pak Polisi.

__ADS_1


"Saya mau, hal yang pertama Bapak lakukan adalah pergi ke Restoran Agatha. Cek CCTV dan tanyakan seluruh pelayan di sana. Bila perlu diancam biar ngaku!" tegasnya. Gugun yakin, awal mula Sisil diperkosa pasti ada kaitannya dengan restoran.


"Baik, Pak. Saya akan mengerjakan sesuai dengan prosedur kami," jawab Pak Polisi sambil mengangguk. "Secepatnya saya akan kabari Bapak informasi selanjutnya."


"Iya." Gugun mengangguk. Kemudian berdiri sembari menarik lengan Sisil untuk ikut berdiri. Gadis itu sejak tadi diam saja, wajahnya sudah pucat dan matanya terus berair. "Bapak nanti ikut sama Pak Polisi, ya?" pintanya menatap Harun.


"Baik, Pak." Harun mengangguk kemudian tersenyum.


Kaki Sisil melangkah seperti terseok-seok. Tubuhnya terasa lemas dan hatinya begitu hancur. Bayangannya kini menelisik jauh, tentang hubungannya yang kandas.


"Kamu mau Kakak antar untuk menemui Arya?" tawar Gugun menoleh ke arah Sisil. Mereka sudah kembali ke dalam mobil.


"Buat apa? Aku nggak mau ketemu Kak Arya." Sisil menggeleng cepat, tetapi dia langsung menangis.


***


Malam hari tepat jam 12.


Mbah Yahya pergi ke rumah praktek perdukunannya yang berlokasi cukup jauh dari rumah. Jarak yang ditempuh sekitar satu jam.


Dia datang ke sana bukan ingin menemui pasien yang berobat. Dia sendiri sudah lama menutup praktek itu untuk sementara waktu sebab ingin fokus kepada Rama. Supaya cepat mendapatkan jodoh. Sekarang Mbah Yahya mengeluti usahanya sejak dulu, yakni berjualan batu akik.


Namun, niatnya datang ke sana karena ingin melakukan penerawangan sepatu yang Rama berikan. Tentunya, dia sangat ingin sang anak berumah tangga. Sebisa dan semampunya, dia akan berusaha membantu.


Mbah Yahya duduk bersila di atas tikar berbahan pandan di dalam ruang praktek. Di depannya sudah ada menyan dan sepatu. Kemudian setelah itu dia pun lantas membacakan mantra. Berkomat-kamit dengan mata yang terpejam.


Sekitar 15 menit, penerawangannya akhirnya sampai juga. Dia melihat seorang gadis tengah menangis sambil memeluk bantal guling di atas kasur di dalam sebuah kamar.


Wajahnya tidak terlalu jelas sebab tertutup rambut hitamnya.


Mbah Yahya terdiam dan masih memperhatikan. Menunggu wajah gadis itu terlihat jelas.


Tak lama, gadis itu pun menarik tubuhnya untuk bangun. Dia membereskan rambut seraya turun dari kasur.


Saat dia hendak melangkah entah mau ke mana, Mbah Yahya langsung melihat dengan jelas wajahnya.


'Lho, dia 'kan ...?' batin Mbah Yahya.

__ADS_1


...Siapa, Mbah? Apa Mbah masih inget? 🤣...


__ADS_2