
"Lho ... katanya tadi kamu kepengen ke apartemen Kak Gugun, Dek. Ya kalau aku nggak jadi pergi ... terus kamu ke sananya sama siapa?" tanya Rama heran.
"Aku juga ikut nggak jadi pergi, A. Nanti aku telepon Kakak saja. Sambil menanyakan hal yang kemarin itu."
"Udah mending kamu sekarang ganti baju dengan pakaian santai," saran Yenny menatap Rama. "Itu kamu juga diajakin main catur sama Daddy. Katanya dia kangen... kepengen main catur bareng sama kamu, Ram."
"Ya udah aku ke kamar dulu mau ganti baju, Mom, sekalian mau telepon Tuti." Akhirnya Rama pun menurut untuk tidak jadi pergi ke kantor, dan memutuskan untuk menyerahkan seluruh pekerjaannya kepada Tuti.
"Kamu mau ke mana? Udah di sini saja!" Saat Sisil melangkah hendak menyusul Rama, Yenny justru tiba-tiba mencegahnya.
"Aku mau ganti baju juga, Mom. Sekalian telepon Kakak."
"Enggak perlu ganti baju, Nak. Kamu cantik pakai baju ini." Yenny perlahan mengelus rambut Sisil yang sudah mulai memanjang, lalu mengajaknya untuk duduk disofa. "Nanti siangan, kamu antar Mommy ke mall, ya, buat beli sendal. Nanti kamu juga akan mommy belikan."
"Oke, Mom. Tapi aku mau telepon Kak Gugun dulu sebentar boleh, nggak? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya, Mom."
"Silahkan, Nak. Mommy mau ke dapur dulu, ya, mau buat kopi untuk Daddynya Rama." Yenny berdiri lalu mematikan televisi, setelah itu berlalu menuju dapur.
Sisil pun meletakkan tas jinjing yang dia pakai ke atas meja, lalu membukanya untuk mengambil ponsel.
__ADS_1
"Halo, assalamualaikum, Kak. Apa Kakak udah libur kerja?" Sisil berucap saat panggilan yang dia lakukan berhasil diangkat oleh seberang sana.
"Walaikum salam. Maaf, Sil. Tapi aku bukan Kakakmu."
"Lho, terus siapa?" Sisil mendengar suara asing dari seberang sana. Untuk sebentar benda pipihnya itu dijauhkan, karena ingin mengecek apakah dia salah menelepon atau tidak. Tapi di sana nama Gugun yang tertera.
"Aku Hersa, Sil. Kebetulan hape Gugun lagi ada sama aku."
"Oh Kak Hersa, ya? Tapi kenapa hape Kakakku ada sama Kakak?"
"Kakakmu lagi aku bawa ke rumah sakit, Sil. Dia demam dan lehernya juga musti diobati."
Sisil seketika membulatkan mata. Terkejut mendengarnya. "Memang kenapa dengan leher Kakak, sampai diobati segala? Dan Kok bisa Kakak demam, Kak?"
"Di mana, Kak? Aku mau ke sana."
"Rumah Sakit Harapan."
"Tunggu ya, Kak, aku akan segera ke sana," ucap Sisil lalu mematikan sambungan telepon. Segera dia pun berdiri sambil meraih tasnya, kemudian berlari keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana, Sil?"
Mbah Yahya tengah duduk berdua dengan satpam di teras rumah sambil main catur. Dan melihat menantunya berlalu begitu saja dihadapannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun—tentulah membuatnya bingung dan akhirnya bertanya. Tidak sopan juga menurutnya, bersikap seperti itu di depan mertua.
"Eh, Dad. Maaf ... aku nggak lihat ada Daddy." Sisil langsung menghentikan langkahnya dan menatap Mbah Yahya.
"Daddy tanya kamu mau ke mana?" Mbah Yahya segera berdiri, saat dimana melihat wajah khawatir menantunya. "Dan kamu kenapa? Kok kelihatan cemas gitu?"
"Kakak demam dan masuk rumah sakit, Dad. Lehernya juga sepertinya luka. Aku mau ke rumah sakit untuk mengeceknya. Aku khawatir dengan kondisinya, Dad." Bola mata Sisil kini sudah berkaca-kaca.
Melihat itu Mbah Yahya jadi tak tega. Langsung saja dia menarik tangannya dan membawa sampai di depan mobilnya. "Ayok Daddy antar. Masuk ke dalam mobil, Sil!" titahnya kemudian berlari memutar untuk masuk ke dalam mobil.
"Iya." Sisil mengangguk, gegas dia pun ikut masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil itu melaju pergi dari sana.
Selang 3 menit kepergian mereka, tak lama Yenny keluar dari pintu rumah sambil membawa secangkir kopi di atas nampan. Kemudian disusul oleh Rama yang sudah berganti pakaian dengan pakaian santai.
"Lho ... mana Daddynya, Mom? Katanya mau ngajakin aku main catur bareng?" tanya Rama bingung, lalu menatap kursi teras yang kosong.
"Iya, tadi sih Mommy lihat Daddy di sini sama satpam rumah, Ram. Ini satpam rumahnya juga ikut ngilang." Yenny melangkah maju, kemudian menoleh ke kanan dan kiri, lalu terhenti di pos satpam. Namun sayangnya, dia tak melihat siapa pun ada di sana.
__ADS_1
"Terus ngomong-ngomong Sisil juga ke mana ya, Mom? Kok tadi nggak ikut aku ke kamar buat ganti baju?" tanya Rama yang baru menyadari ketidak adanya kehadiran Sisil saat ini.
...Yaahhh Om sama Mommy ditinggal....🙈🙈...