
Rama menggeleng cepat. "Jangan!" larangnya. "Aku nggak mau pakai begituan, sama saja itu mengerjai Sisil. Kasihan dia. Lagian, aku juga mau dicintai dengan tulus, Dad. Bukan karena guna-guna."
Mbah Yahya membuang napasnya dengan berat. "Terus sekarang kamu maunya gimana?"
"Aku akan berjuang saja. Setelah Sisil keluar dari rumah sakit ... aku akan mendekati dan membujuknya."
"Kalau sudah dibujuk dan didekati tapi Sisil tetap nggak mau gimana?" tanya Mbah Yahya yang tampak tak yakin.
"Harusnya Daddy do'ain aku, jangan bilang kayak gitu. Kan ucapan itu adalah do'a, Dad," keluh Rama sedih.
"Semoga saja kamu berhasil ya, Ram." Mbah Yahya tersenyum lalu mengusap pipi anaknya. "Daddy akan support kamu terus."
"Amin. Terima kasih, Dad."
"Sama-sama." Mbah Yahya mengangguk. 'Semoga saja ada hasil. Kalau nggak ada ... terpaksa aku akan guna-guna Sisil tanpa sepengetahuan Rama. Enak saja dia, berani menolak anakku! Dia pikir, dia secantik apa?! Cuma menang putih, cantik, imut, manis dan muda doang juga belagu!' sungutnya dalam hati.
***
"Arya, kamu ada di mana sekarang?" tanya Gugun saat menghubungi Arya. Dia mengetahui nomor lelaki itu dari Sisil.
__ADS_1
Sekarang, pria berkumis lele itu berada di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari kampus Sisil. Niatnya datang ke sana bukan sekedar meminum kopi saja, tetapi untuk mengajak ketemuan Arya.
"Aku lagi cari Lusi di rumahnya, Kak," jawab Arya dari seberang sana.
"Nggak perlu cari Lusi. Dia sudah ditangkap polisi, Ar."
"Kakak sudah melaporkan Lusi?"
"Iya. Kamu ada waktu nggak sekarang? Bisa ketemu?"
"Bisa. Hari ini memang sengaja aku nggak masuk kuliah karena mau menemani Sisil. Aku akan ke rumah sakit lagi sekarang, Kak."
"Oke. Aku meluncur sekarang, Kak."
Gugun mematikan sambungan telepon, kemudian menaruh benda pipih itu ke dalam saku jas. Perlahan dia pun menyesap kopinya.
"Oh ya, Sel. Aku dengar kamu habis disembur kemarin, ya, sama Bapaknya Mas Rama." Gugun menoleh saat tak sengaja mendengar seorang perempuan tengah berbincang. Nama Rama yang salah seorang mereka sebutkan membuatnya penasaran.
'Apa Rama yang dimaksud dia Rama anaknya Pak Yahya?' batin Gugun.
__ADS_1
Di samping mejanya, ada dua orang perempuan muda. Mereka adalah Gisel dan teman seprofesinya. Yang juga guru TK pengganti Tari.
"Kata siapa? Orang nggak!" bantah Gisel sambil menggelengkan kepalanya. "Ngapain juga aku disembur, emang aku kesurupan?!" tukasnya dengan wajah cemberut.
"Kak Gugun!" sapa Arya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan meja. Gugun langsung menatapnya. Wajah lelaki itu tampak berkeringat dan napasnya terengah-engah.
"Cepet banget kamu datangnya, Ar. Ngebut?"
"Iya." Arya mengangguk. Kemudian menarik kursi di depan Gugun dan duduk.
"Orang mah nggak perlu ngebut, kan bahaya. Tapi kenapa kamu sampai keringatan begitu? Kayak habis lari maraton saja."
"Aku takut ada hal penting, jadi buru-buru. Pas sampai sini aku langsung lari nyariin Kakak," jelas Arya lalu membuangnya napasnya dengan kasar. "Ada apa, ya, Kak? Itu Sisil di rumah sakit sama siapa?"
"Ada Suster yang jaga. Kamu mau pesan minuman dulu nggak? Baru kita mengobrol." Gugun menyodorkan buku menu di atas meja ke arah Arya.
"Pesannya nanti saja, Kak. Sekarang kita langsung mengobrol."
"Oke." Gugun tersenyum lalu mengenggam jemarinya di atas meja. "Kakak dengar dari Sisil ... kamu sudah tahu tentang hal yang sudah terjadi pada dirinya. Yang Kakak ingin tanyakan adalah ... apa kamu masih mau menerima Sisil? Masih mau berhubungan dengannya?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
...jangan mau Arya, yang perawan masih banyak ðŸ¤...