
"Tapi rencana kita dari awal nggak begini Arya." Gisel menggeleng, tak setuju dengan pendapat adiknya. "Yang Mbak mau, kita menjebak Mas Rama supaya seolah-olah dia memperko*sa Mbak. Kalau sudah begitu, mau tidak mau Mas Rama harus tanggung jawab. Dan pastinya setelah itu ... Sisil akan meninggalnya, karena sakit hati."
Yap! Itulah yang dia inginkan, itulah rencana Gisel dari awal. Karena itu juga, cara satu-satunya untuk bisa memiliki Rama seutuhnya.
Mengejar dengan cara baik-baik sudah dia lakukan, tapi kalau masih ditolak, cara dengan menjebak tidak buruk juga.
"Nanti setelah Sisil patah hati, kamu mengambil andil, Ar, untuk bisa mengambil hatinya Sisil. Ini menguntungkan buatmu, kan? Perempuan yang sedang patah hati itu butuh sekali seseorang untuk menghiburnya. Apalagi jika seseorang itu adalah orang yang pernah dia cintai, pasti akan mudah untuk merayunya," tambah Gisel memberitahu.
Sebetulnya Arya sudah tahu tentang ini, tapi Gisel menjelaskannya lagi supaya adiknya itu ingat pada rencananya diawal.
"Kalau kita rubah rencana saja bagaimana, Mbak? Karena kalau tunggu Om Rama pulih dan keluar dari rumah sakit itu pasti akan sangat lama, Mbak." Arya tampak tidak sabaran. "Apalagi jika Om Rama masih membutuhkan banyak perawatan."
"Kamu kepengen rencananya dirubah bagaimana? Rencana dari Mbak itu sudah sangat bagus, Arya," gerutu Gisel.
"Kita nggak perlu culik Om Rama. Kita culiknya Sisil saja."
"Lalu mau kau apakan dia?"
"Aku pe*rkosa."
Gisel sontak terbelalak, tapi dia langsung menggeleng "Jangan!"
"Kenapa jangan?"
"Kalau kamu memperko*sanya, kamu akan masuk penjara dan Sisil nggak bisa kamu miliki, Ar." Gisel lagi-lagi tak setuju. Bukan apa-apa, ini termasuk tindakan kriminal. Dan bisa jadi, nanti namanya akan ikut terseret. "Lebih baik sekarang, selagi nunggu Mas Rama pulih ... kamu dekati saja Sisil, Ar. Buat sampai Mas Rama cemburu dan mengira Sisil selingkuh denganmu. Dalam kondisi seperti ini, pasti Mas Rama mengira istrinya nggak mau menerima keadaannya. Sehingga dia selingkuh. Dan bisa jadi secepatnya kata talak itu akan diucapkan," tambahnya yang terlihat yakin.
Arya langsung terdiam. Tapi dia mencerna semua apa yang kakaknya katakan.
"Sekarang, mending kamu ke rumah sakit saja gih!" titah Gisel.
"Mau ngapain ke rumah sakit?"
"Jengukin Mas Rama, Ar."
"Dih ngapain aku jengukin Om Rama? Malas amat! Nggak penting!" Arya memutar bola matanya jengah.
"Hanya untuk alasan saja, Ar. Tapi sebenarnya kamu itu mau deketin Sisil."
"Iya juga, ya, Mbak." Bola mata Arya seketika berbinar. Dia pun mengangguk dan terlihat setuju dengan pendapat Gisel. "Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang dulu, ya, Mbak. Sering-seringlah berkabar, Mbak. Karena aku masih menunggu rencana kita." Arya sudah berdiri.
"Iya, Ar." Gisel mengangguk.
Sepeninggalan Arya, tiba-tiba ponsel Gisel berdering di dalam tasnya. Saat dicek, ternyata itu adalah sebuah panggilan masuk dari Gugun.
Agak heran rasanya, sebab tidak biasanya pria itu menghubunginya duluan.
"Halo, Mas."
"Halo, assalamualaikum, Nona. Apa aku menganggu?"
__ADS_1
"Walaikum salam. Enggak kok, Mas. Malahan aku seneng ... ditelepon Mas Gugun." Gisel berpura-pura ceria dan menyingkirkan rasa sedih di hatinya.
"Apa aku boleh tanya sesuatu? Tapi aku harap ... Nona berkata jujur padaku."
"Tanya apa sih, Mas? Ngomong aja langsung. Kayaknya serius banget."
"Apa kamu kenal Evan?"
"Evan?" Kening Gisel mengerenyit. "Evan siapa, Mas?"
"Kalau Nona nggak kenal Evan, tapi Nona kenal sama Rama, kan?"
"Rama?!" Gisel sontak membulatkan mata. Terkejut mendengar apa yang Gugun katakan. 'Apa jangan-jangan Mas Gugun sudah tau, kalau aku dari dulu ngejar-ngejar Mas Rama?' batinnya menebak, lalu mengepalkan tangan kiri seraya menonjok sofa. 'Aahhh ... harusnya jangan sekarang dong taunya, belum waktunya!'
Kesal rasanya, sebab apa yang terjadi lagi-lagi tak sesuai dengan rencananya.
"Nona pasti kenal, kan?" tebak Gugun. "Dan apakah benar ... Nona terobsesi dengan Rama?"
'Apa-apaan dia? Kenapa bertanya seperti itu?' batin Gisel.
"Nona, kenapa diam saja? Apa Nona bingung untuk menjawab apa? Padahal aku begitu berharap kalau Nona berkata jujur padaku."
"Aku nggak bingung kok, Mas, dengan pertanyaan Mas." Gisel berucap sesantai mungkin.
"Kalau nggak bingung kok lama jawabnya?" selidik Gugun.
"Dari Evan."
'Siapa sih Evan itu? Sok tau amat dia dengan hidupku, segala ngasih tau Mas Gugun lagi!' batinnya sambil berdecih.
Bukan tidak kenal Evan sebenarnya, lebih tepatnya dia tidak begitu hafal nama Evan. Sebab selama ini yang dia tau, pria itu adalah asisten Daddynya Rama. Dan yang selalu dia sebut adalah 'Si Dukun, atau Asisten Dukun'
"Tapi aku nggak kenal Evan, Mas. Tapi kalau Mas Rama baru aku kenal, dan tentang kata Mas Gugun aku terobsesi dengan Mas Rama ... itu salah. Dia hanya pria yang ada dimasa laluku."
"Nona mantannya Rama?" Gugun terdengar makin penasaran saja. "Dan apakah Nona kenal dengan almarhum Tari?"
"Iya, Mas Rama mantanku. Kalau Tari aku mengenalnya. Dia teman seprofesiku."
"Jadi Nona seorang guru?"
"Iya. Guru TK."
"Apa aku boleh tau, alasan Nona dan Rama putus?"
"Aku sama Mas Rama nggak pacaran, Mas."
"Lho, tadi bukannya Nona bilang kalau Rama itu mantan, ya?"
"Iya, mantan. Tapi bukan mantan pacar, yang benar itu mantan gebetan," jawab Gisel yang sedikit berkata jujur, tapi hanya sedikit saja. "Mas sepertinya lupa, ya, dengan awal pertemuan kita. Kan saat itu aku lagi nangis ... terus bilang kalau aku lagi patah hati karena mantan gebetanku nikah. Dan mantan gebetan yang aku maksud itu adalah Mas Rama. Dia orangnya."
__ADS_1
"Apa Nona tau, siapa istrinya Rama?" Gugun terdengar seperti memancing.
"Namanya Sisil. Tapi aku nggak terlalu mengenalnya. Memang kenapa?" Gisel berbalik tanya dan berpura-pura tidak tahu. Tapi dia paham maksud Gugun bertanya demikian. 'Pasti dia akan mengatakan kalau Sisil adiknya. Aku udah tau, Mas,' batin Gisel.
"Enggak kenapa-kenapa kok, Nona." Ternyata tidak, Gugun tidak mengatakan Sisil adiknya.
"Tapi Mas tenang saja. Seperti apa yang tadi aku katakan ... kalau Mas Rama itu hanya masa laluku. Itulah gunanya kita pacaran. Karena dengan begitu aku bisa melepaskan Mas Rama, dan lihat sekarang ... aku justru sudah sangat mencintai Mas Gugun. Mas percaya sama aku, kan? Kalau aku sangat mencintai Mas?"
"Iya, aku percaya Nona."
Gisel langsung menyeringai, dan menghela napas lega. 'Bagus deh, belum sepenuhnya gagal.'
"Oh ya, Nona puasa nggak hari ini?"
"Aku bangun kesiangan, Mas. Jadi nggak puasa hari ini."
"Oh ... sayang sekali, padahal aku tadinya ingin mengajak Nona buka puasa bareng."
"Ayok, Mas! Di mana?!" seru Gisel yang tiba-tiba bersemangat. Kedua matanya ikut berbinar.
"Restoran Agatha. Jam 5 ya, Nona. Dan biar aku saja yang langsung pesan meja dari sekarang, supaya enak."
"Iya, Mas. Aduuuhhh ... aku jadi nggak sabar, kepengen cepat ketemu sama Mas Gugun, nih ...." Suara Gisel terdengar mendayu-dayu. Sengaja, supaya membuat Gugun makin tertarik padanya.
"Iya, aku juga. Ya sudah, ya, aku tutup teleponnya. Sampai ketemu di restoran, Nona. Assalamualaikum."
"Walaikum salam. I love you, Mas."
"Iya, Nona," jawab Gugun lalu menutup teleponnya.
"Cih!!" Gisel berdecih sebal, saat mendengar Gugun tak menjawab kalimat cintanya. "Padahal apa susahnya sih, cuma bilang i love you too doang. Dasar! Mas Gugun memang sok jual mahal!" tambahnya berang.
*
*
Sementara itu di tempat berbeda, Gugun terlihat menyunggingkan senyum. Mendengar kalau Gisel setuju diajak ketemu sore ini. Karena itu adalah sebagian dari rencananya dalam menjebak.
"Entah aku harus percaya sama Evan atau Nona Gisel, mengenai Rama. Tapi yang jelas ... keinginanku hanya untuk mengakhiri hubungan."
"Maafin aku ya, Nona Gisel. Bukan maksud ingin menyakitimu ... tapi dibanding Nona, Nona Tuti jauh lebih unggul. Dan yang aku cintai hanya Nona Tuti."
Gugun pun mengetik-ngetik kembali layar ponselnya. Kali ini dia akan menghubungi Evan, memberitahukan rencananya.
"Halo, Van. Assalamualaikum. Rencana menjebak Nona Gisel hari ini, ya, jam 5 sore, di Restoran Agatha," ucap Gugun saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.
"Walaikum salam. Siap laksanakan, Pak!" sahut Evan yang terdengar begitu bersemangat.
...Semoga sukses ya, Om ðŸ¤...
__ADS_1