
Sampai menjelang malam. Bukannya makin sepi, pesta itu justru makin ramai. Apalagi ditambah ada orkes dangdut.
Banyak beberapa orang yang nyawer. Dari mulai tamu undangan, hingga orang-orang terdekat Mbah Yahya.
Namun, Mbah Yahya, Rama dan Panji tidak diizinkan untuk ikut nyawer, Yenny lah yang melarangnya.
"Masa, nyawer doang nggak boleh, Mom? Kan Daddy yang punya hajat," gerutu Mbah Yahya sambil memanyunkan bibirnya.
Dia sejak tadi duduk bersama Yenny, hanya melihat beberapa orang yang tengah berjoget di depan dua biduan yang menyanyi lagu belah duren. Ingin rasanya dia ikutan, apalagi orkes dangdut itu adalah memang dia yang menyewa.
"Enak saja Daddy nyawer, sayang duitnya lah," sahut Yenny. Dari awal dia tak setuju dengan hiburan seperti itu, tapi sang suami malah nekat. "Lagian ... Mommy juga cemburu kali kalau lihat Daddy joget sama wanita lain. Udah tua juga, inget umur!" Yenny mengusap kasar wajah Mbah Yahya. Sebab sejak tadi mata sang suami seperti tak berkedip menatap paha mulus sang biduan.
Mereka ada dua dan umurnya mungkin seusia Sisil. Hanya saja tubuhnya agak berisi, mungkin bisa di katakan montok. Dada besar dan bokong besar, juga pakaian pun begitu ketat dan terbuka.
"Jogetnya juga nggak sambil buka baju, Mom, ngapain cemburu?" sahut Mbah Yahya dengan santai.
"Ah terserah deh. Tapi kalau Daddy tetap nekat ... kita mending pisah ranjang!" ancam Yenny sambil melotot.
Dia suka dengan lagu dangdut, berikut dengan beberapa penyanyinya. Akan tetapi, tidak dengan biduan yang memakai baju seksi yang menyerupai orang telanjang seperti itu.
"Pak Yahya yang punya hajat, ditunggu sawerannya," ucap salah satu biduan yang memakai baju macan tutul. Salah satu matanya itu berkedip dengan genit ke arah Mbah Yahya.
Namun, pria itu justru memalingkan wajahnya. Kemudian berdiri dan melangkah untuk menyambut para tamu.
"Yahya," ucap Angga yang baru saja datang lalu mengulurkan tangan. Pria itu datang bersama anak pertamanya yang bernama Sofyan dan cucunya Juna. Sofyan berusia 46 tahun sedangkan Juna 7 tahun. "Selamat ya, Ya, akhirnya Rama bisa nikah lagi," tambahnya.
"Terima kasih, Ga." Mbah Yahya tersenyum dan menjabat tangan Angga, dia juga mengelus puncak rambut Juna.
"Katanya burung Om Rama nggak bisa berdiri, Kek, kok dia bisa menikah lagi?" tanya Juna tanpa dosa seraya menatap Mbah Yahya.
Dia adalah anaknya Nissa, wanita yang dulunya didekati oleh Rama. Juna juga salah satu murid didik Gisel di sekolah TK dan apa yang dia katakan tentang Rama tidak normal bersumber dari Gisel. Saat itu dia tak sengaja dengar ketika Gisel tengah bergosip dengan ibu-ibu TK.
"Jun! Jangan bilang begitu!" tegur Angga sambil menutup bibir sang cucu. Juna yang suka ceplas-ceplos terkadang memang membuatnya malu sendiri dan pusing. "Om Rama pria normal," tambahnya kemudian.
"Maafin Juna ya, Om, kadang dia memang suka gitu," ucap Sofyan yang ikut merasa tak enak. Dia berbicara sambil menatap Mbah Yahya.
"Nggak apa-apa, Yan. Namanya anak kecil." Mbah Yahya tersenyum, lalu berjongkok dan mengusap pipi kanan Juna. "Om Rama normal, Jun. Buktinya dia nikah. Tahu nggak kamu ... Itu istrinya Om Rama adalah temannya Tantemu."
"Oh, Tante Sisil, ya, Kek? Juna pernah ketemu dia sekali. Tapi wajahnya mirip Tante Citra." Juna menatap ke arah sepasang pengantin yang berada di pelaminan. Tengah menyalami beberapa tamu dan berfoto.
__ADS_1
"Iya, kembar beda Bapak sama Ibu," kekeh Mbah Yahya lalu berdiri. "Kalian datang cuma bertiga? Di mana yang lain? Nissa nggak datang?"
"Nissa di rumah sakit, lagi dirawat dan Tian yang nungguin. Kalau Sindi lagi istirahat di rumah," jawab Angga.
"Sakit apa si Nissa?" tanya Mbah Yahya.
"Nggak sakit. Dia hamil dan perlu dirawat saja di rumah sakit," jawab Angga.
"Wah, cepet juga, ya, udah bunting aja. Kamu bentar lagi bakal punya cucu lagi. Aku kapan nih, Ga?" Wajah Mbah Yahya seketika sendu. Jika dibilang iri, memang benar.
"Ya 'kan ini Rama baru saja menikah, pasti bentar lagi kamu punya cucu darinya." Angga meraih bahu sang teman, lalu mengusapnya dengan lembut.
Angga juga tentu tahu mengapa Mbah Yahya sangat berharap cucu dari Rama, sebab Rima anak pertamanya sudah tak bisa lagi hamil. Rahimnya diangkat.
"Belikan Rama obat kuat jangan lupa, Om. Sama obat perangsang buat ceweknya," saran Sofyan.
"Iya juga, ya, aku belum kepikiran." Mbah Yahya mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Nanti deh aku belikan."
"Baju kurang bahannya juga, Om. Itu wajib banget dipakai."
"Baju kurang bahan itu apa, Yan?" Mbah Yahya menatap Sofyan dengan kening yang mengernyit.
"Oh, kalau itu mah sudah ada di lemari hotel. Sudah disiapkan sama istri Om. Oh ya, kalian makan dulu, yuk, pasti pada laper, kan?" Mbah Yahya merangkul bahu Angga dan Sofyan, kemudian mengajaknya menuju prasmanan.
Sementara itu, Sisil yang sejak tadi berdiri menyalami serta berfoto dengan para tamu undangan kenalan Rama lama-lama merasa pegal pada kaki dan betisnya. Tumitnya juga terasa sakit dan perih.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Rama yang melihat sang istri berdiri dengan gelisah.
"Kaki dan betisku pegel, Om. Aku pegel berdiri mulu," keluh Sisil berbisik.
"Ya sudah, duduk saja, Dek."
"Tamunya gimana?" Sisil menatap orang-orang yang lewat sambil bersalaman.
"Nggak apa-apa, kan ada aku. Kamu duduk gih."
"Selamat ya, Sil, Om Rama," ucap Citra yang baru saja datang bersama Steven. Dia memegang sebuah kado berukuran besar di tangannya.
Sisil yang hendak duduk akhirnya tak jadi, dia pun langsung memeluk tubuh temannya. "Terima kasih sudah datang, Cit."
__ADS_1
"Sama-sama." Citra mengusap punggung Sisil dengan lembut. "Semoga kamu bahagia dan bisa membuka lembaran baru dihidupmu bersama Om Rama."
"Amin."
"Cit, ajak Sisil untuk duduk dan mengobrol. Kasihan kaki dia pegel katanya," pinta Rama.
Kedua perempuan muda itu saling melepas pelukan. "Kamu pegel? Ayok duduk," ajak Citra.
"Duduknya di sana saja, Cit." Sisil menunjuk dua kursi kosong yang jaraknya tak jauh dari pelaminan. Posisinya di sebelah kiri. "Kalau di sini malu nanti ngobrolnya."
"Oh ya sudah ayok. Ini terima dulu." Citra mengulurkan kado yang dia pegang.
Sisil pun mengambil lalu menaruhnya di atas meja yang memang berisi banyak beberapa kado di sana. Setelah itu, mereka pun turun dari pelaminan dan melangkah menuju kursi.
"Sel, ngapain kamu pakai masker segala?" tanya Olla bingung menatap temannya.
Mereka baru saja masuk ke dalam gedung hotel itu dan mata Gisel sudah berkelana mencari Rama dan calon istrinya, yang sama sekali belum pernah dia lihat.
"Aku pakai masker karena takut ketahuan Bapaknya Mas Rama, bisa-bisa aku disembur lagi." Gisel mengantisipasi saja. Dia juga bersyukur sebab belum berhasil bertatap muka dengan pria itu.
"Jadi bener, yang kataku kamu disembur?" tanya Olla. Pernah dia tanyakan masalah itu, tapi Gisel mengelak.
"Iya. Sekarang kamu bantuin aku cari pengantin wanitanya dong, La!" pinta Gisel seraya menggoyangkan lengan Olla. Akan tetapi, pandangan matanya sekarang terjatuh ke arah Rama yang tengah mengobrol dengan Steven. Aura ketampanan pria itu seketika membuat darahnya berdesir lebih cepat dan hatinya pun ikut meleleh. 'Duh, calon imamku. Kenapa kamu ganteng sekali, Mas? Jangan ganteng-ganteng kenapa, sih? Kan Dedek Gisel jadi nggak kuat.'
"Kamu mau apa memangnya? Nyari pengantin wanita segala?" Berbeda dengan Gisel. Mata Olla justru sibuk memperhatikan beberapa makanan di sana.
"Mau apa kek, terserah aku dan ...." Ucapan Gisel berhenti diujung bibir kala dirinya tak sengaja menoleh dan melihat Sisil. Gadis itu tengah makan buah pepaya di atas piring bersama Citra. Dan dari kejauhan, mereka tampak begitu asik mengobrol. 'Kayaknya dia pengantin wanitanya.' Dari pakaiannya saja, Gisel mampu menebaknya.
Gisel perlahan melepaskan tangan Olla, lalu melangkah cepat menghampiri Sisil dan Citra. Temannya itu hanya memperhatikan Gisel sebentar, lalu dia berlalu pergi menuju prasmanan. Ingin makan duluan sebab perutnya begitu keroncongan.
"Maaf, apa Nona adalah pengantin wanitanya Mas Rama?" tanya Gisel dengan ramah saat sudah berdiri di depan Sisil.
Gadis itu langsung menelan kunyahannya, lalu menatap ke arah Gisel. "Iya, Mbak siapa memangnya?"
Gisel langsung berbinar. Gegas dia menarik kursi kosong untuk dirinya duduk di samping Sisil. Perlahan tubuhnya mendekat, lalu berkata, "Aku mantan pacarnya Mas Rama. Aku putus sama dia karena kecewa, Nona." Gisel berbicara lirih. Sengaja dia melakukannya supaya ucapannya tak didengar oleh orang lain. Akan tetapi Citra mampu mendengarnya.
"Kecewa kenapa?" tanya Sisil penasaran. Dia memperhatikan wajah Gisel yang hanya terlihat mata dan dahinya saja.
"Kalau aku jujur ... Nona harus berjanji untuk tidak kaget, ya? Aku memberitahu karena kasihan saja sama Nona. Harusnya Nona itu berpikir ulang untuk mau menikah dengan Mas Rama, supaya nggak menyesal dikemudian hari," jelas Gisel panjang lebar.
__ADS_1
...Banyak ngomong kamu, Sel, udah intinya aja kenapa sih 🤣...