
Tepat di depan gerbang, ada dua orang pria berseragam polisi yang tengah berdiri.
"Selamat siang, Pak," sapa salah satu dari mereka. "Mana Pak Rama? Kami akan membawa beliau ke kantor polisi."
"Nggak ada Rama di sini! Kalian pergi!" usir Mbah Yahya sembari mengibaskan tangannya. Dia juga membuka gerbang itu dan berdiri sembari berkacak pinggang.
"Kalau nggak ada di sini, terus Pak Rama ke mana, Pak?" tanyanya lagi.
"Ini airnya, Pak." Satpam rumahnya berlari menghampiri dengan membawakan teko plastik tanpa penutup. Kemudian menyerahkannya kepada Mbah Yahya.
Pria itu langsung mengambil dan menenggaknya sambil berkomat-kamit dalam hati. Setelah berkumur-kumur, dia langsung menyemburkan kepada salah salah satu polisi.
Byur!!
Tak menunggu waktu yang lama, pria berseragam itu langsung jatuh pingsan.
Bruk!!
"Apa yang Bapak lakukan?!" Rekan pria itu tampak terkejut melihat temannya yang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri di sampingnya. Akan tetapi, tak lama dia juga disembur oleh Mbah Yahya hingga akhirnya dia ikut jatuh pingsan menyusul temannya.
Bruk!!
"Enak saja kalian mau tangkap Rama!" geram Mbah Yahya seraya mengulas sisa air di bibirnya dengan punggung tangan. "Langkahi dulu mayatku, sebelum kalian berani menyentuh anakku!" murkanya sambil melotot.
"Eh, Bapak sekarang mau ke mana?!" Satpam itu berlari mengejar Mbah Yahya yang baru saja menstopkan sebuah taksi yang lewat. Dia mencekal pergelangan tangan kanannya.
"Aku mau menemui Gugun!" jawabnya sambil menghentakkan tangan sang satpam hingga terlepas. Setelah itu dia membuka pintu mobil taksi dan masuk ke dalam.
"Bagaimana dengan kedua polisi ini, Pak? Aku nggak mau ikut-ikutan." Satpam itu menunjuk ke arah kedua polisi dengan wajah ketakutan.
Memang, sering kali dia melihat bosnya itu menyembur seseorang sampai pingsan. Namun, kalau seorang polisi ini adalah untuk pertama kalinya.
"Kamu tenang saja. Setelah dia sadar ... dia nggak akan ingat apa-apa. Cepat tutup gerbang, lalu kunci dan kau masuk ke dalam pos!" perintah Mbah Yahya. Setelah itu mobil taksi melaju pergi, meninggalkan satpam rumahnya.
Cepat-cepat satpam itu masuk ke dalam gerbang. Lalu menutup dan menguncinya. Setelahnya masuk ke dalam pos. Dia mengikuti saran dari sang bos dan berdo'a semoga apa yang dia lakukan akan aman.
'Nasib punya bos dukun kayak gini nih! Musti rajin istighfar,' batinnya.
__ADS_1
***
Di Mall yang ada di Jakarta.
"Selamat siang. Ini jas pesanannya, Pak," ucap Tuti seraya memberikan paper bag kepada Rama.
Namanya Astuti, biasa dipanggil Tuti. Dia adalah asisten pribadi Rama yang selalu membantu pekerjaannya selama kurang lebih 3 tahun.
Usianya 24 tahun dan dia termasuk gadis tomboy sebab memang penampilannya seperti laki-laki. Rambutnya pun dipotong pendek dan tidak pernah memakai make up.
Namun meski begitu, semua orang mengakui kalau dia memang cantik dari lahir. Dan tubuhnya juga termasuk kategori proposional.
"Siang. Sesuai dengan permintaanku, kan?" tanya Rama sembari mengambil benda tersebut.
Kemarin, dia memang meminta tolong asistennya supaya membantunya mencari jas untuk Gugun. Sebab takutnya akan memakan waktu yang lama, jika hanya dirinya yang mencari.
"Tentu. Bapak bisa periksa sendiri," jawabnya sambil tersenyum.
Rama membuka paper bag berukuran besar itu, untuk memastikan benar atau tidaknya. Dia juga menyamakan dengan foto jas Gugun yang ada di ponselnya.
"Ini sama, Tut. Terima kasih, ya. Taruh saja di dalam mobilku. Sama sekalian pesankan buket bunga violet, ya." Rama memberikan benda itu kembali ke tangannya dan juga kunci mobil.
Sedangkan pria itu memilih untuk masuk ke sebuah salon khusus pria. Itu salon langganannya dan pemiliknya pun teman kuliahnya sendiri.
Menurut Rama, mungkin kalau dia potong rambut, itu akan membuat wajahnya makin terlihat tampan. Alasan utamanya juga supaya mampu meluluhkan hati Sisil.
"Siang, Ram! Wett ... tambah ganteng aja!" seru Tirta yang langsung memberikan sebuah pelukan, saat mereka berdua bertemu.
"Masa sih? Bukannya aku tambah tua, ya?" Rama menyentuh kedua pipinya sembari menatap wajahnya pada pantulan kaca. Dia memang orangnya sering sekali tak percaya diri.
"Nggaklah. Tambah ganteng. Namanya juga duren." Tirta merelai pelukan, lalu merangkul bahu Rama. "Mau permak rambut atau mengajakku ngopi bareng, Ram?"
"Permak rambut dong."
Tirta menarik kursi salon, dan Rama langsung duduk di sana sembari menatap cermin. "Mau potongan model apa?"
"Model terbaru yang cocok denganku ada nggak, Tir?"
__ADS_1
"Ada. Model cepmek mau nggak kamu?"
"Cepmek itu model apaan?"
"Nih. Kayak gini." Tirta mengambil ponselnya di dalam kantong celana jeans panjangnya. Kemudian memperlihatkan sebuah foto pria dengan rambut hasil cukurannya. "Cepmek itu singkatan dari cepak mekar. Kayaknya cocok buatmu, Ram."
"Nggak ah." Rama menggelengkan kepalanya. Merasa tak setuju dan menurut itu tak akan cocok di wajahnya. "Aku kepengen potongan rambut yang disukai cewek-cewek muda gitu, Tir. Terus, buat wajahku terlihat muda juga."
"Oh. Yang disukai Dedek-dedek gemes, ya?" Tirta menarik laci meja dan memberikan sebuah buku katalog model rambut Korea, kemudian memberikannya pada Rama. "Model Oppa Korea saja, Ram. Mau coba nggak? Nih, tinggal pilih." Tirta menunjuk buku tersebut. Dilihat Rama tengah memperhatikan sembari membuka beberapa halaman.
"Ya sudah, coba deh. Yang ini saja, Tir." Rama menunjuk salah satu gambar yang menurutnya akan cocok.
"Oke, Ram." Tirta mengangguk. "Aku akan sulap kamu menjadi Oppa Korea." Dia lantas memasangkan jubah pencukur rambut ke leher Rama dan mulai berakhir dengan alat-alat pencukurnya.
***
Sementara itu di rumah sakit.
Gugun merangkul bahu Sisil saat keduanya keluar dari kamar inap. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang hari ini dan dia juga sudah memakai baju ganti.
Dress panjang selutut berwarna pink polkadot. Wajahnya sudah memakai make up sebab Gugun juga yang memintanya. Dia bermaksud supaya Sisil bisa kembali seperti dulu, suka dandan dan ceria.
Selain itu, Gugun juga sudah menceritakan apa yang dia dan Arya obrolkan kemarin. Itu sudah cukup membuat Sisil bernapas lega dan senang, hanya tinggal mendapat restu dari orang tua Arya saja.
"Mana Kak Arya, Kak? Kok belum datang juga?" tanya Sisil sambil merengut dan menatap sekitar parkiran rumah sakit.
Sebelumnya, Arya memang sudah memberitahu kalau dia akan datang mengantarnya ikut pulang.
"Mungkin sebentar lagi Arya sampai," jawab Gugun. "Ah itu Arya!" Dia langsung menunjuk ke arah lelaki yang tengah berlari sambil memegang buket bunga mawar di tangannya.
Wajahnya itu tampak berseri sekali saat beradu pandangan dengan Sisil. Begitu pun sebaliknya.
"Maaf, aku telat, Sil, Kak," ucap Arya seraya mencium punggung tangan Gugun, kemudian memberikan buket bunga itu ke tangan Sisil sambil mengelus puncak rambutnya.
"Nggak apa-apa," jawab Gugun. "Tapi di mana motormu, Ar? Kok nggak datang sama motor?" tanyanya seraya menatap sekeliling.
"Aku memang datang naik taksi, Kak. Sengaja," jawab Arya. "Oh ya, niatku juga sekalian mau mengajak Sisil main ke rumah orang tuaku dan rumah Opaku. Boleh nggak, Kak? Soalnya mereka ingin mengenal Sisil dulu sebelum kami menikah."
__ADS_1
...Boleh dong, Arya 🤣 ayok cepat kenalin terus nikahin. Biar Om Rama dan Bapaknya nangis darah 😆...