
"Aku nggak kepengen belanja, Om," sahut Sisil. "Tapi kalau jalan-jalan sih aku mau. Aku juga sudah lama nggak jalan-jalan. Kakak selalu sibuk bekerja dan nggak pernah mengajakku jalan-jalan."
"Ya sudah, kamu jalan-jalannya sama aku, Dek. Kamu tinggal ngomong saja mau ke mana?"
Sisil terdiam sambil mengunyah. "Sebenarnya sih ... dari dulu aku kepengen banget ke Korea, Om. Pengen lihat salju secara langsung dan makan buah strawberry di sana."
"Oh, ya sudah. Kita ke Korea."
"Tapi kayaknya ... kalau ke luar negeri pasti lama, sedangkan aku 'kan kuliah, Om." Sisil yang menginginkan tapi dia justru yang merasa bimbang.
"Nggak apa-apa. Sesekali liburan, ambil libur seminggu atau 3 hari juga bisa, kan?"
"Iya, sih." Sisil mengangguk. "Tapi memangnya nggak apa-apa, kalau liburan ke Korea? Kan jauh, Om. Kerjaan Om gimana?" tanyanya ragu.
"Kalau kerjaan sih aku memang sudah ambil cuti seminggu, buat honeymoon, Dek."
Sisil langsung mengulum senyum, bola matanya tampak berbinar. "Ya sudah, habis makan kita langsung berangkat ke Korea ya, Om?"
"Lho, sekarang? Nggak besok saja?"
"Dih ya sekarang lah, kan kita bahas ke Koreanya juga sekarang." Sisil merengut kesal.
"Ya sudah, nanti aku minta tolong sekertarisku untuk pesankan tiket pesawat. Tapi sampai Korea kayaknya sih malam, Dek, kalau berangkat sekarang." Rama menatap arlojinya, yang menunjukkan pukul 12 siang.
"Memangnya, dari sini ke Korea itu memakan waktu berapa jam, Om?"
"Sekitar 8 atau 9 jam," jawab Rama.
"Nggak apa-apa deh nyampe malam. Kan biar kita bisa langsung istirahat, Om. Nanti besoknya biar enak."
"Tapi memangnya sekarang sudah musim salju di sana? Jangan sampai kita sudah ke sana tapi nggak ada salju."
"Nanti kita cek ke g*ogle dulu, Om. Kalau memang musimnya ... kita berangkat. Ya kalau nggak, nggak usah," saran Sisil terlihat dia begitu antusias dan senang sekali. Padahal baru rencana. "Tapi nanti kalau jadi, aku maunya kita berangkat hanya berdua ya, Om, si Tuti-Tuti itu jangan diajak."
"Iya, Sayang." Rama mengangguk, lalu tersenyum dan melanjutkan makan.
***
1 jam Tuti menghabiskan waktunya di mall. Mencari-cari sepatu yang dirasa cocok untuk Kakaknya Sisil.
Saat sudah dia dapatkan, Tuti langsung pergi ke apartemennya. Dia tentu tahu di mana apartemen Gugun dimana dan kebetulan, Rama juga memberitahukan nomor kamar serta nama lengkap pria itu.
__ADS_1
"Nomor kamarnya 108, lantai 2. Namanya Gugun Adiguna." Tuti bergumam sendiri sambil menatap ponselnya. Kakinya melangkah ke arah satpam yang tengah berdiri di depan apartemen. Dia telah sampai.
"Selamat siang, Mas cari siapa?" tanya sang satpam yang menahan Tuti. Padahal gadis itu hendak menyapanya.
"Saya ingin menemui Pak Gugun Adiguna, Pak. Mau mengantarkan sesuatu dari Pak Rama," sahut Tuti memberitahu dan menarik turunkan tentengan paper bag yang dia bawa.
"Siapa Pak Rama? Dan siapa Anda?" Satpam itu menatap Tuti dari ujung kaki hingga kepala.
"Nama saya Tuti, saya asistennya Pak Rama," jawab Tuti.
"Tuti? Cowok kok Tuti?! Nggak keren amat namanya." Satpam itu menatap heran perempuan yang dia anggap laki-laki itu. "Mana pakai jas pink lagi," tambahnya dengan tatapan aneh.
"Saya cewek, Pak."
"Cewek jadi-jadian, ya, maksudnya?" tebak satpam itu asal, dia juga terkekeh. "Sebentar ... saya hubungi Pak Gugun dulu. Soalnya kalau orang asing ... tidak bisa asal masuk." Dia merogoh ponselnya pada kantong celana, lalu menelepon Gugun.
"Telepon saja, Pak," balas Tuti mengizinkan.
"Halo Pak Gugun, selamat siang, maaf saya menganggu," ucap satpam itu dengan sopan saat Gugun telah mengangkat panggilannya.
"Siang juga, ada apa, Pak?"
Tuti berdecak kesal mendengarnya. Lagi-lagi dia dianggap sebagai laki-laki. Sudah biasa memang, tapi tetap saja terkadang jengkel sendiri. "Saya cewek, Pak, kan saya sudah bilang," gerutunya. Tapi satpam itu seolah tak mendengar, atau mungkin memang sengaja.
"Aku ada di apartemen. Suruh ke sini saja, Rama itu suaminya Sisil, Pak," sahut Gugun.
"Oh suaminya Nona Sisil. Baik kalau begitu." Satpam itu menutup telepon. Sambil menatap Tuti dia mengantongi ponselnya kembali ke dalam kantong celana. "Silahkan masuk, tapi jangan buat keributan ya, Mas."
"Iya," jawab Tuti malas, lalu dia pun melangkahkan kakinya masuk dan masuk juga ke dalam lift yang baru saja terbuka.
Sementara itu di dalam apartemen, Gugun yang sehabis keluar dari kamar mandi bergegas mengangkat panggilan masuk dari Rama. Kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan, yang semulanya berada di atas nakas.
"Assalamualaikum, Kak," ucap Rama dari seberang sana.
"Walaikum salam," jawab Gugun.
"Aku mau izin bawa Sisil ke Korea ya, Kak. Mau honeymoon kita."
"Wah serius?!" Bola mata Gugun seketika tampak berbinar. Dia ikut senang mendengar kata 'honeymoon' dan dalam pikirannya, Sisil sudah benar-benar menerima Rama. 'Bagus deh kalau benar Sisil sudah membuka hati,' batinnya.
"Iya. Ini aku dan Sisil lagi otewe ke bandara. Mungkin kami di sana sekitar 3 hari atau semingguan, Kak," jelas Rama.
__ADS_1
"Oh ya sudah hati-hati. Eh, tapi, Ram. Hape Sisil nggak dibawa? Ada di apartemen lho."
"Nanti aku belikan Sisil hape baru dan nomornya, Kak. Kalau kita sudah sampai Sisil akan menghubungi Kakak."
"Oh begitu. Ya sudah nggak masalah. Tapi tolong jagain Sisil, ya, Ram. Maklumi juga kalau dia ngeselin. Sisil memang kadang seperti itu, tapi nurut kok anaknya mah."
"Kakak tenang saja kalau masalah itu. Aku pasti menjaga Sisil dengan baik," jawab Rama dengan yakin.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Terdengar suara bel apartemen yang begitu nyaring.
"Ya sudah, bersenang-senanglah kalian dan semoga selamat sampai tujuan. Kakak ada tamu, Kakak tutup teleponnya, ya?" ucap Gugun.
"Iya, Kak."
Seusai memutuskan panggilan, Gugun pun mengantongi ponselnya ke dalam kantong celana. Kemudian melangkah keluar dari kamar dan menuju pintu utama untuk membuka pintu.
Ceklek~
"Selamat siang Pak ...." Ucapan Tuti sontak terhenti diujung bibi kala bola matanya membulat sempurna, melihat pria berkumis lele di depannya.
Gugun juga melakukan hal yang sama. Dia terkejut tapi juga ada rasa emosi yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun. Mengingat awal pertemuan mereka di dalam mobil.
"Kamu?!" seru Gugun dengan mata melotot.
"Bapak!!" Tuti juga menyeru dan mereka sebenarnya menyeru secara bersamaan. "Dasar pria mesum!" tambah Tuti, kakinya mundur beberapa langkah dan dia langsung berlari.
"Mau ke mana kau br*ngsek!" teriak Gugun emosi. Tak menunggu waktu yang lama, dia yang sudah mengejar berhasil mencekal pergelangan tangan kanan Tuti. Menghentikan gadis itu yang ke arah menuju lift.
Seperti apa yang pernah Gugun lontarkan sebelumnya, ketika dia bertemu lagi dengan orang yang dia yakini adalah bencong, Gugun akan menghajarnya balik.
Sebagai laki-laki, tentu dia merasa tak terima diperlakukan seperti itu. Apalagi pada kaum Nabi Luth.
"Lepaskan!" teriak Tuti memberontak. "Apa Bapak yang bernama Gugun? Kakaknya Nona Sisil?!"
"Ya, jadi kau adalah asistennya Rama, ya?! Kurang ajar sekali, kau, ya! Sekarang terima balasanku!" geram Gugun. Tangan kanannya sudah mengepal kuat di udara, bersiap untuk menonjok wajah Tuti dan....
...Cie ... penasaran nih, ya 😆 emang enak digantung 🤣...
__ADS_1