
"Rama masih muda! Kamu yang tua, Gun!" berang Mbah Yahya sambil muncrat-muncrat. Wajah tampan Gugun sudah basah karena air liurnya.
Gugun sudah mengangkat salah satu tangannya diudara, hendak membalas perbuatan pria yang menurutnya kurang ajar itu. Akan tetapi, gerakan tangannya itu sangat susah. 'Kok aku mau nampar susah, kenapa, ya?'
Gugun tak bisa menampar Mbah Yahya, bahkan yang ada dia merasakan gusinya berdenyut sakit dan gigi atasnya terasa goyang.
"Aaaww!" ringisnya sambil menyentuh pipi. Harun yang melihatnya langsung berdiri, kemudian memberikan sapu tangan kepada Gugun.
"Sebentar ya, Pak. Saya akan belikan es batu untuk kompres," pamit Harun seraya melangkah keluar. Tak tega dia melihat kliennya seperti itu.
Mbah Yahya terkekeh melihat Gugun kesakitan. Puas rasanya dia menampar walaupun satu kali. "Lemah kamu, Gun. Baru ditampar sekali saja sudah merintih," cibir Mbah Yahya sambil tersenyum miring.
"Sudah, Pak! Bapak dan Pak Gugun sebaiknya duduk!" perintah Pak Polisi tegas. Mereka pun menurut. Gugun duduk di bekas bokongnya Harun sedangkan Mbah Yahya duduk di kursinya.
"Bisa kita mulai? Apa tunggu Pak Harun datang?" tanya Pak Polisi.
"Tunggu Pak Harun dulu. Pipiku sakit sekali ini," jawab Gugun pelan sambil masih meringis.
Selang 15 menit, Harun pun datang dengan membawa baskom kecil yang berisi beberapa potong es batu dan ada airnya sedikit. Dia segera mencelupkan sapu tangan yang dipegang Gugun ke dalam sana. Kemudian pelan-pelan menyeka darah disudut bibir Gugun.
"Aawww! Perih, Pak!" pekik Gugun menahan ngilu.
"Maaf, Pak. Saya pelan-pelan kok," jawab Harun. Kemudian dia mengompres pipi lebam itu.
"Pak Yahya harusnya jangan melakukan tindakan kekerasan. Bisa-bisa bukan Pak Rama saja yang masuk ke dalam penjara ... tapi Bapak juga," tegur Pak Polisi dengan tatapan tajamnya ke arah Mbah Yahya. Pria berjenggot putih itu justru masih terkekeh.
"Itu 'kan bukan salahku. Salah si Gugun dulu yang menghina Rama," sahut Mbah Yahya, lalu dia menoleh kepada Gugun dengan tatapan sinis. "Masa pria seganteng Rama dia bilang tua. Rama masih muda kali. Kamu dan dia saja masih tua kamu!"
"Enak saja, aku lebih muda dari Pak Rama. Dia sudah kepala empat," tukas Gugun kesal.
"Umur Rama masih 25 tahun."
"Bohong banget." Gugun tertawa mengejek. Akan tetapi tak berselang lama dia merintih kesakitan karena gusinya. "Aaww!"
__ADS_1
"Sekarang sudah bisa dimulai ya, Pak," ucap Pak Polisi kemudian menatap lelaki yang diborgol. "Kamu duduk di kursi," titahnya.
Rekan seprofesinya memberikan kursi kosong untuk lelaki itu. Dia pun mengangguk dan langsung duduk. Posisinya berada di tengah-tengah, antara Mbah Yahya dan Gugun. Sedangkan Harun dan Idris berada di samping kliennya.
"Tolong jelaskan tentang apa yang kamu lakukan, tapi sebelum itu perkenalkan dulu namamu. Supaya Pak Gugun tahu," ujar Pak Polisi menatap lelaki yang diborgol.
Lelaki itu mengangguk, lalu menatap Gugun dengan takut-takut. "Namaku Ferdy, Pak. Aku melakukan hal itu atas perintah dari Lusi. Dia membayarku untuk mengantar dua minuman alkohol tapi dengan salah satu yang ditetesi obat."
"Obat apa yang kamu tetesi? Apa obat tidur?" tebak Gugun.
"Aku nggak tahu." Ferdy menggelengkan kepalanya. "Lusi hanya menyuruhku untuk memberikan beberapa tetes obat yang dia berikan, tapi aku nggak membaca obat apa itu," jelasnya yang entah itu jujur atau tidak. Tetapi yang jelas, saat ini Ferdy terlihat ketakutan melihat sorotan tajam dari mata Gugun.
"Apa Bapak nggak menemukan bekas obatnya di restoran?" tanya Gugun menatap Pak Polisi.
"Kemarin sudah dicari, tapi nggak ketemu, Pak," jawabnya.
"Bekas obat itu sudah saya buang di kali, Pak." Ferdy menyahut. "Bapak tanya langsung saja kepada Lusi, karena dia pasti tahu obat apa itu."
"Dibayar berapa kamu sama Lusi?" tanya Gugun kepada Ferdy.
"Lima juta, Pak," jawab Ferdy.
"Siapa Lusi? Dan apa maksudnya semua ini?" tanya Mbah Yahya yang merasa kebingungan, dengan apa yang mereka bahas.
"Nona Lusi adalah penyebab Nona Sisil mabuk, Pak," jelas Pak Polisi memberitahu. "Dan saudara Ferdy ini yang membantunya." Menunjuk ke arah Ferdy. "Tapi kami belum tahu, obat apa yang saudara Ferdy campurkan terhadap minuman yang diberikan oleh Sisil."
"Paling obat per*ngsang. Kan sudah jelas dia menggoda Rama," tebak Mbah Yahya yakin.
Gugun hendak menyerbu ucapan Mbah Yahya, tetapi tidak jadi lantaran Lusi baru saja datang bersama Pak Polisi.
"Om Gugun!" seru Lusi. Dia tampak terkejut melihat Gugun dan Ferdy yang ada di sana. Segera, dia pun berjongkok untuk memeluk lutut pria itu. Kemudian menangis. Itu semua dilakukan supaya Gugun iba dan membebaskannya. "Maafkan aku Om Gugun. Aku benar-benar khilaf. Tapi aku nggak bermaksud mencelakai Sisil."
"Sudahlah, Lus, hapus air mata buayamu itu!" ketus Gugun seraya mendorong tubuh Lusi untuk menjauh dari kakinya.
__ADS_1
Pak Polisi langsung menarik Lusi untuk berdiri di sampingnya.
"Aku bersumpah, Om. Aku melakukan hal ini karena Kak Arya," ucap Lusi.
"Karena kamu nggak rela Sisil bersama Arya, kan?!" bentak Gugun dengan mata melotot. Emosi di dadanya langsung naik. Rahang di wajahnya tampak mengeras.
Lusi bungkam seribu bahasa. Bingung dia untuk menjawab sebab apa yang dikatakan Gugun benar adanya.
"Nona Lusi. Demi meringankan hukuman Nona ... ada baiknya Nona bicara jujur," tegur Pak Polisi yang sedang duduk. "Kalau Nona sampai detik ini tidak jujur juga ... itu akan membuat Nona makin lama di dalam sel."
Lusi masih terdiam. Dia semakin bingung. Rasanya sekarang sudah tak ada lagi harapan untuk dirinya mampu dibebaskan oleh Gugun.
Dekan di kampus dan bahkan orang tuanya saja sudah tak lagi datang membelanya, sebab mereka sepertinya sudah jengah dengan tingkah Lusi.
Apalagi sudah ada bukti yang kuat terkait ucapan Lusi dengan Gugun dan rekaman CCTV. Jadi akan percuma membela.
Sekarang mereka memilih untuk pasrah, mau diapakan gadis itu terserah pihak polisi. Asalkan jangan dibunuh saja.
"Cepat katakan Lusi! Tunggu apa lagi kau!" teriak Gugun yang tampak tak sabar. Dia benar-benar penasaran sejak kemarin-kemarin, karena gadis itu tak kunjung berkata jujur.
"Iya, aku mengakui itu semua rencanaku, Om," jawab Lusi pelan sambil menundukkan kepalanya. "Itu semua karena aku sangat membenci Sisil. Dia sudah merebut temanku Citra, lalu sekarang merebut gebetanku Kak Arya."
"Harusnya, Kak Arya itu bersamaku. Bukan bersama Sisil yang anak pindahan. Aku menyukainya sejak dulu tapi kenapa justru Sisil yang dia cintai!" geram Lusi dengan emosi yang meledak-ledak.
'Oh. Jadi anak ABG ini rebutan si Arya awalnya,' batin Mbah Yahya sambil tersenyum miring. Diam-diam dia menyimak apa yang terjadi. 'Memang, seganteng apa sih, si Arya itu? Kok si Lusi dan Sisil sampai tergila-gila? Si Siliit juga, yang memperkosa Rama tapi malah kepengennya nikah sama Arya. Apa nggak geser itu otaknya? Musti disembur kayaknya si Siliit ini. Biar sadar.'
"Lalu, apa yang Anda rencanakan Nona?" tanya Pak Polisi.
"Aku membayar Ferdy untuk mengantarkan dua minuman alkohol, tapi satunya aku minta untuk ditetesi obat perangsang, Pak," jawab Lusi.
Sontakābola mata Gugun langsung membulat sempurna. Dia tampak terkejut mendengar apa yang Lusi katakan.
...Masih mau berkelit, kalau Sisil nggak menggoda Om Rama?š¤£...
__ADS_1