
"Pak Gugun diam saja, malah kayak terkesima gitu, Pak," jawab Evan.
"Ih kasihan Tutinya dong, Van, dan masa iya, setelah Gisel nggak berhasil mendapatkan Rama ... dia sekarang jatuh hati sama Gugun? Apa nggak terlalu cepat, ya?" Mbah Yahya merengut kesal. Dia pun terdiam sebentar, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ah tapi ada bagusnya juga sih, biar dia bisa move on dari Rama."
"Katanya tadi kasihan sama Tuti, kok sekarang bilang bagus?" tanya Evan bingung. Mendadak dia merasa Mbah Yahya plin-plan. "Bapak bukannya sempat ingin menjodohkan Tuti sama Pak Gugun, ya? Apa nggak jadi?"
"Jadi kok," sahut Mbah Yahya cepat. "Aku malah sudah kirim pelet untuk keduanya. Tapi kayaknya pelet itu nggak ampuh. Apa mungkin ilmuku sudah nggak sakti lagi, ya?" Mbah Yahya membuka kedua telapak tangannya, lalu memerhatikannya.
"Nggak ampuhnya gimana, Pak?"
"Ya buktinya mereka belum jadian. Ya minimal deket gitu, Van. Ada ketertarikan," jelas Mbah Yahya lalu menatap kembali ke arah Evan. "Tapi awal-awal sih si Tuti kayak tertarik gitu sama Gugun, tapi nggak tau sekarang. Dari kemarin-kemarin aku nggak pernah ketemu dia."
"Kalau sikap Pak Gugun sendiri bagaimana setelah dipelet?"
"Dia tambah galak sama Tuti. Dih, lebih parah pokoknya." Mbah Yahya bergidik sambil geleng-geleng kepala saat mengingat Gugun marah-marah setelah berciuman dengan Tuti.
"Kayaknya cuma sebelah deh, Pak. Tuti doang kali yang kena."
"Tapi kok bisa, Gugun nggak kena? Padahal aku kirim paku banyak lho ke kamarnya. Mustahil kalau dia nggak tertusuk salah satu paku itu."
"Bisa saja karena Pak Gugun rajin ibadah. Mangkanya pelet itu nggak masuk ke tubuhnya," tebak Evan.
"Iya juga, ya?" Mbah Yahya manggut-manggut.
"Tapi Bapak ada curiga nggak, sih, tentang Nona Gisel yang mendekati Pak Gugun?"
"Curiga gimana maksudmu?" Alis mata Mbah Yahya bertaut. Tak mengerti maksud Evan.
"Bisa saja Nona Gisel itu mendekati Pak Gugun karena ada maunya."
"Maunya gimana? Maksudmu Gisel mau ngeret si Gugun?" tebak Mbah Yahya. Berbeda dengan Evan yang tampak curiga, dia justru bersikap biasa saja. Baginya—selagi Gisel tak mengusik hidup Rama dan rumah tangga sang anak, terserah perempuan itu mau bagaimana. Mau dekat dengan siapa pun dia tak peduli. "Tapi si Gugun 'kan nggak punya apa-apa, Van. Dan yang menarik dari dia juga hanya kumisnya."
"Bukan itu, Pak. Tapi bisa saja Nona Gisel mendekati Pak Gugun karena dia ingin dekat lagi sama Pak Rama. Secara Pak Gugun 'kan iparnya."
__ADS_1
"Kalau misalkan dia ingin mendekati Rama ... harusnya Gisel mendekatinya Sisil dong, Van."
Mbah Yahya dan Evan memiliki dua argumen yang berbeda.
"Sama saja, Pak, intinya ada hubungannya dengan Pak Rama," balas Evan. "Eemm ... sebaiknya Bapak beritahu Pak Gugun, tentang bagaimana Nona Gisel. Takutnya hubungan mereka makin jauh. Ya saya, sih, hanya takut saja ... soalnya 'kan belum lama sekali Nona Gisel itu menangisi Pak Rama, eh kok bisa secepat itu jatuh hati ke pria lain. Atau bisa saja ... Pak Gugun itu hanya menjadi pelarian, Pak."
Selain memang semua yang dilakukan karena uang, tapi Evan juga memiliki hati dan perasaan. Semuanya itu dapat dia nilai mana yang terlihat tulus dan tidak.
"Pelarian itu apa, Van?"
"Yang sekarang Nona Gisel lakukan kepada Pak Gugun. Kan awalnya Nona Gisel patah hati karena Pak Rama, terus dia memilih bersama pria lain demi membuatnya move on. Itu namanya pelarian, Pak Gugun jadi pelariannya," jelas Evan panjang lebar.
"Memangnya kalau kayak gitu nggak boleh? Bukannya malah bagus, ya, kan si Gisel bisa move on." Kening Mbah Yahya tampak mengernyit. Dia terlihat masih paham dengan apa yang Evan maksud.
Pria itu pun menghela napasnya dengan berat. "Iya, itu memang bagus. Tapi sangat mencurigakan. Intinya saya minta ... Bapak beritahu Pak Gugun tentang Nona Gisel. Jangan sampai nanti Bapak menyesal, bisa-bisa bonus saya ikut hangus."
Setelah itu, Evan pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar praktek. Ingin membeli bakso setan pesanan Mbah Yahya.
*
*
*
Tepat di dalam kamar, pria berkumis tipis itu perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia baru saja selesai sholat Isya dan memutuskan untuk tidur.
Namun, sebelum mulai memejamkan mata, entah mengapa tiba-tiba saja dia terbayang saat dimana Gisel mencium pipinya. Jadi Gugun pun ikut memikirkan dengan jawaban atas pernyataan yang gadis itu katakan.
"Aku terima jangan, ya, Nona Gisel?" gumam Gugun sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia terlihat begitu bimbang.
Sejujurnya tak ada perasaan sama sekali terhadap Gisel. Tapi disisi lain, dia merasa tak enak untuk menolaknya karena takut gadis itu sakit hati.
Jika dibalik kalau Gugun yang ada diposisi itu terus ditolak, pasti akan sama sakitnya.
__ADS_1
Dan kalau meneliti tentang wanita idaman, Gugun sendiri tak memiliki kriteria yang gimana-gimana. Yang penting dia tertarik dan berakhlak baik, itu saja. Cantik pun menurutnya semua perempuan itu memang cantik.
"Kalau misalkan ditolak ... bisa-bisa Nona Gisel nangis lagi. Kayaknya kasihan, aku nggak tega melihat perempuan menangis. Apalagi seorang diri."
Kembali, Gugun membayangkan saat dimana dia melihat Gisel menangis di salah satu meja dipojok cafe. Alasan utama memberikannya salu tangan yakni karena tak tega.
Kadang kala, Gugun berpikir bagaimana kalau itu dialami adiknya. Pastinya dia ikut terluka.
"Tapi aku nggak ada perasaan apa-apa. Dan masa, sih, hari gini masih ada cinta pada pandangan pertama?" Gugun menatap langit-langit kamarnya sambil terus memikirkan.
"Eh, pas awal-awal aku kerja sama almarhum Pak Danu juga aku langsung tertarik sama Nona Citra. Meskipun dia anaknya aneh." Gugun membuang napasnya dengan berat. "Apa aku coba terima saja kali, ya, mungkin benar apa yang dikatakan Nona Gisel kalau seiring berjalannya waktu ... aku bisa mencintainya. Semoga saja ini pilihan yang tepat."
Ting~
Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi chat masuk dari ponsel Gugun yang berada di atas nakas. Pria itu pun mengulurkan tangannya untuk mengambil benda tersebut.
Setelah dilihat ternyata chat itu dari Gisel, yang isinya adalah. [Selamat malam dan selamat tidur calon pacar. Miss you 😘]
Gugun tersenyum, lalu dia pun membalas pesan tersebut. [Malam dan selamat tidur juga, Nona 😊]
*
*
Sementara itu di tempat berbeda.
Tuti tengah berdiri di depan cermin meja rias sambil memutar-mutar tubuhnya yang saat ini sudah mengenakan gamis berwarna mocca.
Tadi siang saat di mall, dia berniat ingin membeli kerudung saja. Untuk tambahan ganti-ganti karena hanya punya dua. Tapi pas memilih kerudung, dia justru kepincut dengan salah satu gamis berwarna mocca yang memiliki ikat pinggang di perutnya.
Model gamis itu sebenarnya sangat simpel, bahkan tak ada motif. Hanya mocca polos saja. Tapi karena Tuti sendiri suka yang simpel-simpel, jadi dia memutuskan untuk membelinya dan sekarang tengah mencobanya.
"Gamisnya cocok sekali ternyata di tubuhku. Aku jadi terlihat lebih cantik dan feminim, kan?" gumam Tuti sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin.
__ADS_1
...Iya, dong, semoga Istiqomah ya, Tut 😚...