
"Kami dari pihak salon kecantikan dan pijat, Pak. Kami disuruh Bu Yenny Ardiansyah untuk mempercantik dan membuat Nona Prisilla fresh pas dihari pernikahannya," jelas wanita itu memberitahu.
"Oh gitu. Silahkan masuk Mbak." Gugun melebarkan pintu dan membiarkan mereka masuk. Dia lantas melangkah menuju kamar Sisil, lalu mengetuk pintunya.
Tok! Tok! Tok!
"Sil, Arya sudah pulang. Ayok keluar dulu, ada yang mencarimu!" pekik Gugun.
Tak lama pintu itu dibuka, wajah Sisil terlihat merah begitu pun dengan matanya yang sembab. Sepertinya tadi dia habis menangis.
"Mereka siapa, Kak?" tanya Sisil heran sembari menatap dua wanita di depannya.
"Mereka pihak salon dan pijat, Bu Yenny menyuruh mereka untuk membuatmu cantik dan fresh dihari pernikahan besok," jelas Gugun. Dia perlahan mengelus puncak rambut adiknya. "Mulai sekarang kamu berhenti menangis, apalagi menangisi Arya. Kamu harus bahagia karena besok akan jadi ratu. Jangan kecewakan Rama dan orang tuanya, mereka sudah baik dan mau menerima kita jadi bagian dari keluarganya, Sil."
"Iya, Kak." Sisil mengangguk patuh, kemudian melebarkan pintu. "Tante-tante ini mau masuk ke kamarku atau gimana?"
"Ke kamar saja, Nona. Soalnya Nona akan kami pijat," jawab salah satu dari mereka.
"Oh, ya sudah, ayok masuk," ajak Sisil sambil tersenyum. Mereka berdua langsung masuk ke dalam, akan tetapi pintunya sengaja tidak Sisil tutup.
Walau bagaimana pun mereka adalah orang asing, jadi Sisil mengantisipasinya.
"Nona lepas seluruh pakaiannya, nanti pakai handuk." Wanita itu mengambil sebuah handuk putih yang dia ambil di dalam koper, lalu memberikan kepada Sisil.
Gadis itu pun menerimanya dengan senang hati, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk melepaskan pakaian.
Dua wanita itu langsung menyiapkan peralatan memijatnya, koper yang sudah terbuka itu mereka taruh di atas meja di dekat sofa panjang pada kamar Sisil.
Banyak yang mereka bawa di dalam sana selain minyak untuk memijat. Beberapa masker dan produk kecantikan yang lain. Selain itu ada beberapa warna cat kuku, juga dengan henna.
Tak berselang lama, Sisil keluar dengan memakai lilitan handuk. Tapi bra dan cellana dalamnya masih dia pakai. Kakinya perlahan melangkah menghampiri mereka.
"Aku masih pakai pakaian dalam, nggak apa-apa 'kan, Tan?" tanya Sisil.
"Nggak apa-apa, Nona," jawab wanita itu lalu menunjuk kasur. "Ayok berbaringlah."
Sisil mengangguk lalu perlahan dia berbaring di atas kasur. Mereka berdua pun langsung mengerjakan tugasnya.
***
Di rumah sakit.
__ADS_1
Arya yang masih tak terima pasca diputuskan secara sepihak berniat untuk bertanya kepada keluarganya. Dia akan menyakinkan Gugun kalau keluarganya pasti merestui hubungan di antara dia dan Sisil.
Arya lantas masuk ke dalam kamar perawatan Arga. Pria itu tengah makan bubur disuapi oleh Ayya. Ada Ganjar juga di sana, sedang duduk di sofa sambil main game FF.
"Aku mau menikah dengan Sisil secepatnya," ucap Arya tiba-tiba yang mana membuat tiga orang itu menatap ke arahnya.
"Kamu ini datang-datang bukannya ngucapin salam, malah ngomong ngelantur," balas Ganjar yang masih sibuk dengan layar ponselnya. Dia melirik sebentar kepada Arya.
"Aku bukan bicara ngelantur. Aku serius." Arya melangkah mendekat ke arah orang tuanya. "Opa bilang dia setuju sama Sisil. Lalu bagaimana dengan Papa dan Mama? Aku mau menikah dengan Sisil besok."
"Papa nggak setuju." Arga menggeleng cepat.
"Kenapa?" tanya Arya.
"Sisil dan kamu itu nggak cocok."
"Nggak cocoknya kenapa?"
"Pokoknya nggak cocok. Selain itu juga dia cewek matre, Opamu sendiri yang melihatnya langsung kalau dia menggaet Om-om," jawab Arga.
"Sisil nggak seperti itu!" tegas Arya, kemudian kemudian beralih menatap sang Mama. Meminta pendapat padanya. "Bagaimana dengan Mama? Jangan pikirkan masalah Sisil bertemu dengan Om-om, karena menurutku itu nggak penting."
"Mama juga nggak setuju, kamu masih kecil dan belum pantas untuk menikah," jawab Ayya. Dua suara sudah Arya dapatkan yakni tidak dapat restu.
"Kenapa? Apa karena Opa ketemu Sisil dengan Om Rama?" tebak Arya.
"Benar. Opa juga minta mulai sekarang kamu nggak perlu ngurusin Sisil lagi. Fokus saja kuliah dan menjadi orang sukses. Cewek modelan seperti Sisil itu banyak, bukan cuma dia!" tandasnya dengan suara tegas.
Dada Arya sontak bergemuruh dan naik turun. Sekarang dia percaya dengan ucapan Gugun tentang keluarganya yang tak merestui hubungannya dengan Sisil. Akan tetapi, Arya tak ingin menyerah begitu saja. Tak ikhlas rasanya membiarkan sang pujaan hati menikah dengan orang lain.
"Kalau pun kalian nggak merestui aku dan Sisil menikah, aku akan tetap menikah dengan Sisil!" tegas Arya, kemudian berlari pergi dari sana membawa sejuta kekesalan dan rasa kecewa di dadanya. 'Aku akan mengajak Sisil kawin lari, dia nggak boleh sampai menikah dengan Om Rama,' batinnya bertekad dalam hati.
Arya mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu menghubungi seseorang.
***
Sore hari di sebuah cafe, Ganjar duduk seorang diri disalah satu meja yang berada dipojok. Dia tengah menunggu kedatangan Mbah Yahya usai mengajaknya janji bertemu.
Niatnya nanti akan menghasut Mbah Yahya supaya tidak jadi menikahkan Rama dengan Sisil.
Walau bagaimana pun, Ganjar yang begitu dekat dengannya sudah menganggap Mbah Yahya sebagai keluarga. Apalagi mereka adalah sama-sama orang kaya, jadi Ganjar sangat menghargai itu.
__ADS_1
"Maaf, Jar, lama," ucap Mbah Yahya yang baru saja datang. Dia memakai jaket kulit berwarna coklat dan kaos putih. Kemudian duduk di depan Ganjar pada kursi kosong. "Aku hari ini sibuk banget soalnya."
"Nggak apa-apa, Mbah." Ganjar tersenyum manis, lalu menyodorkan buku menu kepadanya. "Mau pesan?"
"Kopi hitam, tapi jangan pakai gula," jawab Mbah Yahya.
Ganjar lantas memanggil seorang pelayan yang baru saja lewat, lalu memesan dua kopi tanpa gula.
"Kamu 'kan sudah aku peringatkan beberapa kali, kalau ketemu aku selain di rumah praktek ... jangan panggil aku Mbah, Jar," tegur Mbah Yahya.
"Maaf, maksudku Pak Yahya," ralat Ganjar.
"Ada apa kamu mengajakku ketemuan di sini? Tumben?" tanya Mbah Yahya penasaran. "Kenapa nggak di rumahku saja biar privasi."
"Nggak apa-apa, Pak. Aku hanya ingin mengobrol saja tentang Rama."
"Kenapa dengan Rama?" Kening Mbah Yahya mengernyit. "Oh ya, Rama menikah besok di hotel. Aku akan mengundangmu dan keluarga. Kamu pasti akan terkejut pas lihat siapa istrinya Rama." Dia tersenyum miring menatap Ganjar penuh arti.
"Sisil, kan?" tebak Ganjar. "Oh, jadi Bapak sudah tahu kalau Sisil itu mantannya Arya?"
"Iya." Mbah Yahya mengangguk.
"Bapak tahu pasti dari Rama, kan, pas aku ketemu dia di restoran?" tebak Ganjar.
"Memangnya kamu ketemu Rama di restoran?" Mbah Yahya justru berbalik tanya. Jelas dia tidak tahu karena Rama tak cerita.
"Iya, kemarin. Memangnya Rama nggak cerita sama Bapak?"
"Nggak." Mbah Yahya menggeleng.
"Terus, Bapak tau darimana kalau Sisil itu mantannya Arya? Apa Sisil yang cerita?"
"Aku tau karena sempat menerawangnya. Tentang alasan mereka berdua nggak jadi nikah. Aku tau semuanya," jelas Mbah Yahya dengan bangga. Hidungnya sampai kembang kempis.
"Oh, syukur deh kalau Bapak sudah tau." Ganjar bernapas lega. "Tapi kalau Bapak sudah menerawang Sisil, terus kenapa Bapak tetap melanjutkan pernikahan Rama dengannya? Bisa-bisa nanti Rama bangkrut kalau sampai menikahi cewek matre dan miskin kayak Sisil, Pak."
Mbah Yahya sontak terbelalak. Giginya langsung menggertak dan kedua tangannya mengepal kuat. Bola matanya dan wajahnya yang memerah menandakan kalau dia marah atas apa yang pria itu lontarkan.
"Jaga bicaramu, Jar!" teriak Mbah Yahya murka. Dia langsung merampas kerah kemeja Ganjar seraya mencengkramnya dengan kuat.
Seorang pelayan yang tak sengaja lewat dengan membawa segelas air putih pada nampan langsung dia hentikan. Mbah Yahya menggambil segelas air putih itu lalu tenggak dan mulai berkumur. Setelah itu dia berkomat-kamit dan menyembur wajah Ganjar.
__ADS_1
Byur!!
...Nah mampuslah 😆😆 gimana Opa? Enak 🤣...