Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
159. Bangga dan makin cinta


__ADS_3

Gisel membuka pintu mobil taksi, niatnya ingin menghampiri Gugun dan perempuan berhijab yang tengah bersamanya.


Namun, apa yang dia lakukan tiba-tiba terjeda ketika tersadar dengan niat awalnya datang ke rumah sakit.


"Ah nggak! Aku nggak bisa menghampiri Mas Gugun dan perempuan itu." Cepat-cepat Gisel menutup kembali pintu mobil taksi, sebab khawatir kalau pacarnya itu tahu, jika dia telah mengikutinya. "Nanti yang ada aku ketahuan dong, ngikutin Mas Gugun. Sedangkan Mas Gugun sendiri meminta aku untuk jangan ikut."


"Tapi ... perempuan itu siapa sebenarnya?" Dengan tatapan nanar dan berusaha mengontrol diri, Gisel melihat Gugun yang sudah masuk ke dalam mobil. Tentu bersama dengan perempuan berhijab tadi. "Dan mau ke mana mereka sekarang? Jangan bilang Mas Gugun selingkuh dariku?!" Gisel mencengkram dress-nya. Dadanya tampak sudah naik turun sekarang, karena begitu bergemuruh.


"Awas saja Mas Gugun, kalau sampai beneran selingkuh. Aku akan memberikan perhitungan padanya ... apalagi kepada perempuan yang bersamanya."


Setelah melihat mobil Gugun menjauh, Gisel pun akhirnya turun dari mobil lalu membayar ongkos taksi. Tapi dia masih terus menggerutu karena kesal melihat pacarnya yang pergi dengan perempuan lain.


"Kalau saja aku sudah tau kondisi Mas Ramaku seperti apa, pasti aku akan langsung samperin mereka!" erangnya, lantas berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit.


*


*


Sementara itu di perjalanan menuju kantor polisi, Gugun yang tengah mengemudi tak lepas untuk terus menoleh ke arah samping. Tepat di mana pacarnya berada.


Meskipun sebelumnya perempuan itu mengatakan kalau dia baik-baik saja, entah mengapa Gugun justru masih khawatir. Mengingat kondisi Rama saja sampai dibawa ke ruang operasi, yang berarti sangat parah.


Selain itu, wajah cantik Tuti terlihat tak ceria. Sepertinya dia masih syok dengan kejadian tadi.


Namun, bicara tentang kecelakaan yang menimpa Rama—Gugun pun seketika menjadi heran, dengan adanya Tuti di sini. Sebab dirinya tentu masih menganggap Tuti pacarnya dan Tuti tomboi asisten Rama adalah dua orang yang berbeda.


"Sayang ... boleh aku tanya sesuatu padamu?" Panggilannya kepada Tuti seketika berubah. Suka-suka Gugun sajalah, karena dia setiap kali bertemu perempuan itu bawaannya terus berbunga-bunga.


"Boleh, Mas." Tuti mengangguk. "Bicara saja."


"Kamu kok bisa tau Rama kecelakaan? Apa kamu ada di tempat kejadian? Jadi saksi mata atau gimana?"


"Iya, Mas. Aku jadi saksi mata di tempat kejadian."


"Memang ... kejadiannya seperti apa awalnya, Sayang? Coba ceritakan padaku."


"Sepulang kerja, Pak Rama mengajakku ke toko emas, Mas. Untuk melakukan pengecekan. Dan pas dijalan ... tiba-tiba mobil Pak Rama bannya kempes, terus pas aku cek ternyata—"

__ADS_1


"Tunggu dulu, Nona," potong Gugun.


"Kenapa, Mas?"


"Kok Nona bisa ikut sama Rama untuk melakukan pengecekan di toko emas? Oh ... atau selama ini Nona kerja di kantornya Rama, ya?" tebak Gugun.


"Lho... memang iya, Mas. Aku kerja di kantornya Pak Rama." Pertanyaan dari Gugun seketika membuat Tuti bingung. Sebab menurutnya, itu tidak perlu ditanyakan karena pasti sudah tau jawabannya. "Mas ini lupa apa gimana? Kan aku asistennya Pak Rama."


"Asisten?" Gugun termangu sebentar sambil mengerutkan keningnya. 'Oh ... apa mungkin si Tuti perempuan jadi-jadian itu udah resign kali, ya, terus digantikan dengan Nona Tuti yang cantiknya nggak kebangetan ini? Tapi pantas saja, sih ... udah lama aku juga nggak melihat batang hidungnya. Ah tapi nggak penting juga, ketemu dia. Nggak banget,' batin Gugun.


"Iya, Mas," sahut Tuti. "Terus ... ini Mas masih mau dengerin kronologisnya, nggak?"


"Masih dong, Sayang. Ayok ceritakan lagi." Gugun langsung tersenyum dengan kedua pipi yang tampak merah merekah.


"Pas dijalan aku ngecek mobilnya Pak Rama, Mas. Dan nggak taunya ternyata kempes. Eh tiba-tiba ... ada sebuah mobil yang datang dan di dalamnya ada dua orang pria. Satunya mengemudi, satunya di belakang dan terus orang itu menarik tangan Pak Rama. Seperti ingin membawanya masuk ke dalam mobil. Karena panik ... aku langsung menonjok wajahnya, demi bisa menyelamatkan Pak Rama. Akhirnya berhasil ... sayangnya Pak Rama sudah jatuh pingsan duluan dan sepertinya dia memang sempat dibius, Mas," jelas Tuti panjang lebar.


"Kenapa Nona nggak minta tolong pada sekitar? Harusnya Nona 'kan minta tolong dulu, baru bertindak. Untungnya Nona nggak kenapa-kenapa. Kalau sampai Nona yang diseret masuk ke dalam mobil terus diculik bagaimana?" Tubuh Gugun seketika merinding. Padahal hanya sekedar berandai-andai jika Tuti diculik, tapi dia justru sudah ketakutan duluan.


"Aku udah minta tolong kok, Mas ... aku sampai teriak-teriak. Sayangnya nggak ada yang denger, jadi aku nekat nonjok."


"Tapi secara nggak langsung Nona di sini jadi pahlawan, ya? Aku bangga dan makin cinta rasanya ... sama Nona." Mendengar cerita dari Tuti, entah mengapa Gugun justru menjadi makin meleleh dibuatnya. Perlahan dia pun menarik tangannya, lalu menciumi telapak tangan Tuti. "Tapi lain kali hati-hati, atau kalau nggak ... Nona langsung telepon saja aku. Biar aku datang untuk menyelamatkan."


"Kamu pikir aku nggak bisa berantem, ya? Aku bisa, Nona, malah cukup jago." Gugun menepuk dadanya dengan penuh percaya diri. Tapi sebenarnya dia tidak jago-jago, bahkan dulu ketika bergulat dengan temannya dia sering kali mendapatkan kekalahan.


Hanya saja Gugun sengaja menyanjung dirinya sendiri, supaya Tuti bangga memiliki pacar yang hebat seperti dirinya.


***


Di rumah sakit.


Tepat di depan ruang operasi, ada Sisil dan Yenny yang sejak tadi duduk pada kursi tunggu.


Sudah hampir dua jam lebih, Rama dimasukkan ke dalam sana dan melakukan operasi. Namun, sayangnya seperti belum ada tanda-tanda seseorang yang keluar dari sana.


"Sil ... bagaimana keadaan suamimu? Yang sabar, ya?"


Tiba-tiba, seseorang datang dan berbicara demikian. Sisil dan Yenny pun langsung mengangkat wajahnya, menatap pada orang yang berbicara tersebut. Dan ternyata dia adalah Citra.

__ADS_1


Perempuan sebaya Sisil itu datang tidak sendiri, melainkan bersama suaminya—Steven.


"Citra!" Sisil segera berdiri, dan temannya itu langsung memeluk tubuhnya, lalu mengusap punggung untuk mencoba menenangkan.


"Yang sabar ya, Sil. Aku yakin ... Om Rama pasti kuat. Dia akan baik-baik saja."


"Amin ... terima kasih sudah datang ya, Cit," jawab Sisil dengan lirih dan tetesan air mata.


"Sama-sama."


"Jadi benar, ya, apa yang dikatakan Rama ... kalau kamu nggak beneran meninggal, Stev? Cuma mati suri?" ujar Yenny yang menatap Steven dengan mata yang tampak berbinar. Dia pun berdiri, lalu mendekat dan perlahan menangkup kedua pipi pria berlesung pipit itu.


"Iya." Steven mengangguk, lalu tersenyum canggung dan mundur beberapa langkah supaya tangan Yenny terlepas dari pipinya. Sebab dia merasa risih, apalagi Yenny sedikit meremmas-remas pipi. "Tapi maaf, sebelumnya Tante ini siapa, ya?"


"Lho ... masa kamu lupa? Tante ini Mommynya Rama, Stev."


"Mommynya?!" Steven mengerutkan keningnya, lalu menatap lamat-lamat wajah dari Yenny. Dan mencoba mengingat-ingat sebentar. "Ooohh ... iya, Tante. Maaf, sempat lupa tadi." Sepertinya Steven sekarang ingat. "Tapi sepertinya ... sekarang Tante banyak berubah, ya?"


"Berubah gimana? Orang Tante masih cantik dan baik hati kok, Stev." Yenny pun menangkup kedua pipinya, dia berbicara dengan penuh percaya diri.


"Memang masih cantik, cuma agak kisut. Apalagi pipinya ... udah longsor, Tante," ungkap Steven dengan jujur.


"Aa! Jangan ngomong kayak gitu!" tegur Citra yang langsung menasehati. Dia juga merasa tidak enak pada Yenny, takut dia sakit hati dengan perkataan suaminya. "Tante ... maafin Aa Steven, ya, dia sedang mengalami amnesia. Jadi tolong dimaklumi kalau ada ucapannya yang terdengar nyelekit."


"Nggak apa-apa, Sayang." Yenny mengusap puncak rambut Citra, lalu tersenyum manis. "Tante memakluminya kok. Yang penting Steven sekarang terlihat sudah sehat dan segar."


"Terima kasih atas pengertiannya, Tante." Citra pun merelai pelukannya kepada Sisil, lalu mengambil parsel buah ditangan Steven dan juga beberapa paper bag kecil. "Aku bawakan buah dan cemilan, tolong diterima. Ada jus juga, Tan." Citra menyerahnya pada Yenny. Dan wanita paruh baya itu langsung menerimanya dengan senang hati.


"Duh ... repot-repot bener. Tapi terima ka ...." Ucapan Yenny seketika terhenti, kala tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang terbuka berasal dari ruangan operasi.


Ceklek~


Seorang dokter pria dengan pakaian operasi lengkap perlahan menghampiri mereka. "Apa kalian keluarga dari Pak Rama Ardiansyah?"


"Benar, Dok!" Sisil menjawab dengan cepat, lalu menyentuh dada. "Aku istrinya, Dok. Dan bagaimana dengan operasi Aa Rama? Apa lancar?"


"Puji Tuhan, Nona. Operasinya berjalan lancar. Hanya saja untuk saat ini, pihak keluarga harus bersabar."

__ADS_1


"Bersabar?!" Yenny dan Sisil berucap bersama dengan kening yang sama-sama mengernyit. "Maksudnya gimana ya, Dok?" tambah Sisil bertanya.


^^^Bersambung.....^^^


__ADS_2