Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
76. Sok seksi


__ADS_3

"Oh, umur berapa anakmu?" tanya Rama.


"Sudah gadis, Ram. 17 tahun," jawab Fuji.


"Wah, sebentar lagi kamu mau punya mantu, ya? Aku sendiri belum punya anak."


"Jangan dululah, aku mau anakku nikahnya nanti kalau sudah dewasa. Jangan nikah muda kayak Mommynya, nanti nggak lama." Wajah Fuji seketika berubah sendu, Rama bisa melihat itu dari kaca.


"Yang sabar ya, Fuj." Binggung dia ingin berbicara apa lagi. Takutnya salah bicara dan menyakiti hati Fuji. "Semoga secepatnya kamu punya pasangan baru."


"Nggak deh, aku mau seperti ini saja. Laki-laki kayaknya sama aja." Fuji merengut.


"Jangan bilang kayak gitu, aku juga laki-laki."


"Iya, mungkin kecuali kamu, Ram." Fuji memutar kepalanya, lalu menatap Rama dan tersenyum. Rama membalas senyumannya itu. "Kamu beda dari lelaki yang lain, yang aku kenal."


"Ah bisa aja kamu," kekeh Rama. Dia pun mengambil ponselnya yang sempat dia kantongi. Kemudian mengirimkan pesan kepada Gugun dan Yenny, memberitahukan kalau dia dan Sisil sudah sampai Korea.


*


*


Fuji membuka pintu utama sebuah villa, lalu melebarkannya. Perlahan dia dan Rama yang menggendong Sisil melangkah masuk.


Manik mata pria tampan itu berkelana, memperhatikan bangunan yang persis seperti rumah. Fasilitasnya juga lengkap dan memiliki dua lantai.


"Ada dua kamar tidur di atas, masing-masing memiliki kamar mandi di dalamnya," ujar Fuji memberitahu, sembari melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Rama juga ikut membuntutinya. "Kalau di bawah tadi ruang tamu, dapur dan ada kolam renangnya juga, Ram. Jadi nanti kamu dan Sisil bisa berenang."


"Musim salju begini mana kuat berenang, Fuj. Yang ada aku dan Sisil beku," kekeh Rama. Mereka pun masuk ke kamar utama villa itu, pelan-pelan dia membaringkan tubuh Sisil, kemudian membukakan sepatu dan kaos kakinya. Setelah itu barulah dia selimuti.


"Iya juga sih," kekeh Fuji dia meletakkan koper milik Rama di samping lemari. "Oh ya, jadi gimana? Cocok nggak?"

__ADS_1


"Cocok," jawab Rama. "Ini sih sudah kayak rumah Daddyku di Jakarta. Aku sewa seminggu deh, Fuj."


Fuji merogoh tas untuk mengambil dompet. Kemudian dia membuka dompet tersebut dan memberikan selembar kertas kepada Rama. Ada tiga nomor yang tertera di sana. "Ini ada nomorku, kamu chat saja biar nanti kukirim nomor rekeningku." Fuji menunjuk nomor yang ada diurutan atas.


"Tiga-tiganya nomormu semua?"


"Bukan." Fuji menggeleng. "Yang dibawah nomor tukang pengantar makanan. Kamu bisa pesan di sana, nanti dia ngirimin semua daftar menunya. Dia juga bisa bahasa Indonesia. Terus yang bawah tukang bersih-bersih, kamu bisa hubungi kalau butuh sesuatu," jelasnya.


"Oke deh. Terima kasih ya, Fuj. Untung aku ketemu kamu, jadi bisa langsung istirahat." Rama tersenyum, lalu mencatat semua nomor di sana pada ponselnya.


"Sama-sama. Oh ya, kalau dingin matikan saja Ac-nya. Terus nyalakan penghangat ruangan. Kalau begitu aku permisi, Ram. Semoga kamu dan istrimu betah, ya? Selamat malam."


"Malam juga, Fuj."


Mereka melangkah turun dari lantai atas, Rama mengantarkan Fuji sampai dia keluar dari villa. Kemudian setelah itu dia menguncinya dengan rapat.


"Pesan makan saja dulu kali, ya, siapa tau Sisil kebangun dan bilang laper. Pizza saja kali, aku kepengen pizza kayaknya." Rama bergumam sendiri sembari mengetik ponselnya, kemudian mengirim chat kepada pengantar makanan.


Setelah itu dia melangkah naik lagi ke lantai atas, dilihat Sisil masih tertidur pulas.


Satu persatu dia melepaskan pakaian, kemudian setelah polos dia membuka lemari untuk mengambil handuk. Barulah setelah itu melangkah menuju kamar mandi.


*


*


Nyatanya, sampai jam 2 dini hari Sisil tak kunjung terbangun atau sekedar mendusin karena lapar pun tidak.


Rama sudah kenyang makan pizza dan ngopi di sofa. Ada segelas susu hangat, beberapa cemilan dan buah strawberry di atas meja. Rama membelikan semua itu untuk Sisil, berharap jika dia akan terbangun. Sayangnya tidak.


"Kayaknya kamu tidurnya sampai pagi ya, Dek. Sayang banget. Tapi ya sudah deh nggak apa-apa. Kita bercintanya besok saja," ucap Rama seraya berdiri, dia pun menyentuh miliknya yang mengeras sempurna di dalam celana lalu melangkah menuju kasur.

__ADS_1


Bisa saja Rama ajak Sisil bercinta langsung, tapi tak tega kalau dalam keadaan tidur. Takutnya dia kaget dan marah.


Rama duduk menyandar disebelah Sisil, lalu mencoba melepaskan jaket bulu dan syal yang gadis itu kenakan. Khawatir kalau dia merasa tak nyaman.


"Selamat malam, Dek, aku sayang kamu." Rama membungkuk untuk mengecupi seluruh wajah Sisil. "Kamu cantik banget, Dek. Aku beruntung bisa menikahimu."


Rama beringsut hingga berbaring, lalu menarik selimut untuknya dan Sisil. Kemudian perlahan memejamkan mata.


"Om Rama nggak boleh genit!"


Rama sontak membuka matanya dengan lebar kala mendengar suara Sisil yang menyeru cukup lantang. Dia pun langsung menoleh. "Aku diem saja dari tadi, Dek," sahutnya.


Sisil memiringkan tubuhnya ke arah Rama, dengan mata yang masih terpejam dia perlahan memeluk tubuh pria itu.


"Kamu pengen, Dek?" tanya Rama. Dia mengelus pipi kanan istrinya. Tapi gadis itu diam saja malah tiba-tiba mendengkur. "Apa kamu mengigau, kali, ya? Ah tapi bagus juga ini, bawa-bawa namaku segala," kekeh Rama. "Pasti kamu lagi mimpiin aku juga, kan?" Perlahan dia mulai memejamkan matanya kembali.


***


Keesokan harinya.


Sisil mengerjapkan matanya secara perlahan, lalu menatap sekitar ruangan yang menurutnya asing itu.


'Ini di mana dan kok dingin banget?' Tubuh Sisil seketika menggigil, dia menarik selimutnya sebatas leher dan mengeratkannya. Kemudian menoleh ke arah samping dengan tubuh yang bergetar.


Ada Rama di sana tengah tertidur dengan telanjang dada, perutnya yang kotak-kotak itu membuatnya terlihat seksi dan membuat Sisil menelan saliva. Dia juga merasakan celananya tiba-tiba basah.


'Sok seksi banget Om Rama, tidur nggak pakai baju dan pamer perut segala,' batinnya dalam hati.


Sisil memperhatikan keseluruhan, sampai bawah. Rama hanya menggunakan boxer berwarna hitam dan ada area yang terlihat begitu menonjol. Sisil yang melihatnya jadi risih tapi ada resahnya juga. Hingga ada sebuah pemikiran konyol di otaknya.


'Kalau tanganku masuk ke dalam sana ... pasti rasanya hangat. Iya, kan?' Sisil menggeser tubuhnya untuk lebih dekat, kemudian perlahan salah satu tangannya mulai merogoh dan sontak dia membulatkan matanya.

__ADS_1


Benar apa yang dia pikirkan sebelumnya, hangat rasanya. 'Ih bener ternyata hangat, apa efek berbulu lebat kali, ya?' Tak tanggung-tanggung, kedua tangan Sisil dia masukkan ke dalam sana. Akan tetapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengacung.


...Pagi-pagi udah mancing aja kamu, Sil 🤣...


__ADS_2