Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
191. Kamu harus menjadi milikku


__ADS_3

Selang beberapa menit saja, Yenny pun kembali ke ruang makan. Tapi dia seorang diri.


"Mana mereka? Pasti belum selesai olahraganya, kan?" tanya Mbah Yahya dengan tatapan julid.


"Tadi sih Rama bilang lagi pakai baju, Dad." Yenny pun duduk kembali pada kursi bekas bokongnya.


"Tuh 'kan bener ... berarti mereka memang habis olahraga, Mom!"


"Rama bilang sih habis mandi. Tapi kalau memang mereka berdua habis olahraga mendesaah ... ya biarkan saja lah, Dad. Kan mereka suami istri ini." Yenny terlihat tak ambil pusing. Segera dia pun meraih segelas susu, lalu meminumnya setengah.


"Biarin gimana, orang mah Mommy tuh sebagai mertua perempuan ya harus nasehatin Sisil dong, Mom."


"Nasehatin gimana?"


"Untuk sementara Sisil jangan terus menerus ngajakin Rama bercinta. Kan dia baru sembuh. Daddy khawatir nanti Rama jatuh sakit karena kecapekan kalau terus menerus goyang ngebor. Bisa encok juga dia nanti pinggangnya."


"Nggak perlulah, Dad, Mommy ngomong kayak gitu. Enggak enak, nanti Sisilnya sakit hati dan mengira Mommy ikut campur dalam rumah tangganya" Yenny terlihat tak setuju. Selain itu dia juga tak mau membuat Sisil tak nyaman tinggal bersamanya. Bisa-bisa dia meminta Rama untuk pergi dari sana, karena Yenny sendiri sejujurnya tak mau jauh dengan Rama. "Lagian Mommy yakin ... Sisil juga minta pasti ada aturan, Dad. Apalagi dia lagi hamil dan ini 'kan bulan puasa. Jadi nggak mungkin terus menerus minta, ada kalanya dia capek dan harus menundanya.


"Ah Mommy belain mulu Sisil. Mentang-mentang sesama perempuan." Mbah Yahya mencebik, lalu memutar bola matanya dengan malas.


"Udah sih, Dad. Ngapain juga Daddy repot-repot mikirin begituan. Mommy yakin ... semuanya akan baik-baik saja. Dan dari pada membahas hal itu, mending membahas masalah cincin Daddy saja yang sudah ketemu." Yenny lantas menunjuk pada jari manis suaminya. Pria itu pun langsung menyentuhnya.


"Memang kenapa dengan cincin ini?"


"Kan itu cincin saktinya Daddy. Dan Daddy bilang sendiri ... setelah ketemu Daddy akan menerawang pelaku yang membuat Rama kecelakaan. Jadi apa hasilnya?" Kedua alis Yenny terangkat sembari menggerakkan dagu.


"Belum kelihatan, Mom."


"Apanya yang belum kelihatan?"


"Pelakunya. Penerawangan Daddy masih kosong. Itu cincin udah lama hilang, jadi ilmunya ikut meluntur."


"Emang bisa, ya, cincin sakti ilmunya luntur?" Yenny tampak heran. "Ya berarti udah nggak sakti lagi dong, Dad."


"Tetap sakti. Tapi musti pakai tumbal."


"Apa tumbalnya?" tanya Yenny yang terlihat begitu penasaran.

__ADS_1


Pembahasan mereka mengenai tumbal bertepatan sekali dengan datangnya Sisil dan Rama. Serta tak sengaja Sisil mendengarnya.


"Apa tumbalnya orang, Dad?" tanya Sisil penasaran, ditambah takut juga dan tiba-tiba dia mengingat ucapan Arya yang mengatakan jika dia yang akan jadi tumbal untuk ilmu kesaktian mertuanya.


"Dek!" Rama langsung mengusap punggung Sisil saat melihat wajah tegang istrinya. "Enggak mungkin sih," tambahnya dengan yakin.


Mbah Yahya menoleh, lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan."


"Terus apa?" tanya Yenny lagi dengan masih dengan rasa penasarannya.


Mengenai tumbal dan hal-hal yang begitu sensitif, Mbah Yahya selalu menyembunyikannya kepada semua orang. Mungkin terkecuali Evan. Tapi semua itu dilakukan tentu ada alasannya.


"Ati, Mom. Ati ayam," jawab Mbah Yahya memperjelas supaya pikiran semua orang di sana tak lari ke mana-mana.


"Lho ... kalau cuma ati ayam 'kan gampang, Dad. Kenapa enggak langsung saja."


"Masalahnya ... ati ayamnya itu ayam banci, Mom." Mbah Yahya mengasal, supaya syarat tumbal itu terdengar susah didapatkan. Dia juga tak mau diremehkan siapa pun dengan gelar dukunnya.


"Memang ada, ya, ayam banci?" tanya Rama heran, lalu duduk setelah melihat Sisil duduk.


"Apa sih yang nggak ada di dunia ini, Ram. Janganlah banci, yang impoten juga ada," jawab Mbah Yahya, lalu berdiri dan langsung berlalu dari ruang makan.


"Pantesan ... jadi agak sulit nyarinya," gumam Yenny, tapi mampu didengar Sisil dan Rama.


"Memang tumbalnya buat apa, sih, Mom?" tanya Rama penasaran. "Selama ini perasaan Daddy nggak pernah pakai tumbal-tumbal segala deh. Serem banget, sih."


Bicara mengenai tumbal, dia jadi ikut teringat saat kesalnya pada Sisil yang lebih memilih mempercayai Arya ketimbang dirinya yang sebagai suami.


"Buat ilmu cincin katanya, Ram. Biar balik lagi, soalnya sempat luntur gara-gara pas hilang itu," jelas Yenny, lalu tersenyum menatap Rama. "Tapi selagi tumbalnya bukan manusia, nggak apa-apa sih menurut Mommy. Udah mending kita langsung sahur deh, nanti keburu imsak."


"Iya, Mom." Rama mengangguk, lalu mengelus rambut Sisil yang basah. "Udah, Dek, nggak usah dipikirin. Kamu percaya sama aku, kan?"


Sisil perlahan mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Lantas menatap Rama lalu tersenyum manis. "Iya, A."


"Sekarang kita makan, biar kuat puasanya." Rama berucap sambil mengecup kening Sisil, dan seketika membuat hati perempuan itu meleleh.


***

__ADS_1


Drrrtt ... Drrttt ... Drrrttt.


Sekitar jam 7 pagi, ponsel Gisel berdering kuat di atas kasur. Segera dia pun menyambarnya lalu mengangkat, sebab itu adalah sebuah panggilan masuk dari Cemet—anak buahnya.


"Ada apa?" tanya Gisel.


"Nona, selamat pagi. Saya ada berita bagus untuk Anda."


"Berita bagus apa? Cepat katakan!" titah Gisel penasaran.


"Baru kemarin siang ... saya melihat Pak Rama berhasil pulang dari rumah sakit. Secepatnya, saya dan teman saya akan kembali bertugas, Nona."


Mata Gisel seketika berbinar. Tidak ada berita bagus lain selain berita tentang Rama. Dan sungguh dia sangat senang sekarang. "Alhamdulillah ya, Allah ... akhirnya Mas Ramaku sehat dan bisa pulang."


'Maafin Dek Gisel juga, ya, Mas ... karena nggak bisa jengukin Mas. Tapi akhirnya Mas sembuh juga sekarang,' batinnya senang.


"Ya sudah ya, Nona, saya tu—"


"Tunggu dulu!" sela Gisel cepat. "Kapan kira-kira kalian bertugas lagi? Tapi jangan sampai mencelakainya lagi!"


"Kami nggak akan mencelakainya lagi, kami janji, Nona. Dan kalau tentang kapan bertugas ... kami sekarang langsung bertugas mengawasi Pak Rama untuk bisa kembali menculiknya, Nona."


"Kalau begitu aku ikut!"


"Lho, kenapa Nona mau ikut?"


"Kenapa memangnya? Nggak boleh?" tanya Gisel judes.


"Bukan nggak boleh. Boleh kok. Cuma saya heran saja."


"Aku harus ikut kali ini, karena aku sekarang nggak bisa mudah percaya sama kalian. Bisa saja kalian gagal lagi." Gisel memutar bola matanya dengan malas.


"Ya sudah kalau begitu. Ini mau saya dan Cimit jemput sekarang apa gimana?


"Setengah jam lagi, aku mau siap-siap dulu."


"Baik, Nona."

__ADS_1


Gisel pun mematikan panggilan, lalu tersenyum menyeringai. 'Kali ini ... nggak akan kubiarkan rencanaku gagal. Kamu harus menjadi milikku Mas Rama, milikku seutuhnya,' batin Gisel penuh harap.


...Ayok aminkan, Guys, biar lancar rencana Gisel kali ini 🤲...


__ADS_2