Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
130. Harusnya aku yang ada di sana


__ADS_3

"Dek, kamu kenapa? Kok pegangin perut mulu?" tanya Rama seraya menoleh sebentar ke arah Sisil.


Saat ini, dia dan Sisil berada dalam satu mobil. Mereka akan pergi ke kampus, sebab mulai hari ini Sisil akan masuk kuliah lagi.


Namun sebelum itu, mereka berencana ingin mampir dulu ke rumah orang tua Rama. Yenny terus menelepon kepada Rama, mengatakan jika dirinya rindu ingin bertemu.


"Nggak kenapa-kenapa, Om," jawab Sisil sambil menggelengkan kepalanya. Dia sejujurnya merasakan perutnya tidak enak entah kenapa, dan agak mual juga.


"Nggak kenapa-kenapa kok daritadi dipegangin mulu? Oh, apa kamu laper ya, Dek?" tebaknya. Kemudian terkekeh dan menoel hidung mancung Sisil dengan gemas. "Ini masih jam 6 lho, Dek, masa sudah laper aja? Kamu juga 'kan sahurnya makan banyak tadi."


"Dih, siapa yang laper? Nggak kok," bantah Sisil sambil mengerucutkan bibir. "Oh ya, Om jadi 'kan hari ini mau buat pakaian dallam untukku berbahan emas?"


"Pakaian dallam?" Kening Rama tampak mengerenyit. Sepertinya, dia melupakan sesuatu.


"Jangan bilang Om lupa. Pas di Korea 'kan Om bilang mau buatkan aku pakaian dallam berbahan emas dengan hasil karya Om sendiri."


"Oh iya, iya, aku bari ingat, Dek." Rama terkekeh sambil tepok jidat.


"Dasar tua! Jadi pelupa!" cibir Sisil mendengkus.


"Aku belum tua, Dek. Dan pelupa 'kan sifat manusiawi."


"Buktinya aku nggak pelupa tuh." Bibir Sisil menggeriting. "Terus ... kapan Om mau membuatnya? Jadi hari ini, kan?"


"Iya. Hari ini setelah mengantarkanmu ke kampus."


"Selesainya kira-kira kapan, Om? Besok?"


"Nggak bisa langsung, Dek. Mungkin sekitar 2 sampai 3 mingguan."


"Dih lama banget. Hampir sebulan. Kan aku mau memakainya sekarang, Om."


"Ya sabar. Bikin begituan agak rumit. Tapi insya Allah ... hasilnya akan memuaskan."


"Aku tunggu deh. Awas saja kalau hasilnya jelek. Nggak kupakai nanti!" ancamnya. Sisil bersedekap lalu memalingkan wajahnya.


"Nggak bakal, Dek. Tenang saja." Tangan Rama terulur, lalu mengusap pipi kanan istrinya dengan lembut. Seketika wajah gadis itu jadi merona.

__ADS_1


"Ish! Jangan pegang!" Sisil mengomel sambil menepis kasar tangan Rama, supaya menyingkir dari pipinya.


Dia melakukan hal itu bukan tanpa sebab, yakni menurutnya itu akan berbahaya bagi puasanya. Bisa-bisa Sisil batal karena secara tidak langsung dia sempat memikirkan enaknya pipi itu dikecup.


"Pelit banget, Dek. Pegang doang nggak boleh," kekeh Rama. "Kamu harus kontrol emosimu. Orang puasa juga nggak boleh marah lho," godanya sambil mengedipkan salah satu mata.


"Dih, siapa juga yang marah? Orang nggak," bantah Sisil sambil menggelengkan kepala.


Tanpa mereka sadari, sebuah mobil taksi di belakang tengah mengikutinya. Dan di dalam mobil tersebut adalah Gisel.


Seperti rencananya diawal, niat Gisel adalah ingin merebut Rama dari tangan Sisil. Tapi yang dia lakukan adalah dengan halus, sebab dia tak mau ambil resiko jika akan berhadapan dengan Mbah Yahya. Terlalu menakutkan.


"Mau pergi ke mana kira-kira mereka? Apa mereka akan terus bersama sampai malam?" gumam Gisel.


Tak berselang lama, mobil yang Rama tunggani itu berhenti di depan rumah mewah. Dan di dalam gerbangnya, ada seorang wanita tua. Tengah berdiri dengan wajah ceria.


"Siapa dia? Dan ini rumah siapa?" Gisel mendongakkan wajahnya.


Mobil taksi yang dia tunggani kini berhenti di seberang rumah mewah itu dengan jarak yang cukup jauh. Itu semua sengaja dilakukan supaya tak membuat curiga.


"Assalamualaikum, Mom," ucap Rama seraya turun dari mobil, kemudian melangkah cepat dan langsung memeluk tubuh Yenny.


"Walaikum salam. Akhirnya kalian datang, Mommy udah kangen banget." Yenny segera menyambut Sisil yang baru saja turun dari mobil. Kedua lengannya itu terlentang untuk memeluk tubuh anak dan menantunya.


"Aku juga kangen sama Mommy," sahut Rama.


"Kalian sudah sarapan? Ayok masuk dan sarapan dulu," ajaknya, dengan perlahan Yenny pun mencium kening Sisil.


"Masa sarapan? Ini 'kan hari pertama kita puasa, Mom. Mommy ini gimana, sih?" kekeh Rama.


"Astaghfirullah!" Yenny menepuk jidatnya, sebab baru ingat jika tadi pagi dia telah minum segelas air putih saat bangun tidur. Kebiasaan itu selalu dia lakukan. "Mommy baru ingat sekarang puasa. Tadi pagi Mommy minum segelas air, Ram."


"Lupa apa gimana itu?"


"Lupa, Ram. Soalnya Mommy juga sempat sahur kok semalam."


"Kalau lupa dan berniat puasa mah nggak apa-apa, Mom. Nggak batal kok," ucap Sisil sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya, ya, Nak! Namanya juga lupa. Yang penting 'kan nggak disengaja."


"Iya, nggak apa-apa." Sisil mengangguk, lalu memberikan paper bag yang sejak tadi dia pegang ke tangan Yenny. "Oh ya, Mom. Maaf banget, pas liburan aku dan Om Rama nggak beli oleh-oleh. Cuma ada buah strawberry saja yang sempat kami beli."


"Nggak apa-apa, Nak!" Yenny mengusap puncak rambut Sisil dan menerimanya dengan senang hati. "Kalian pulang dengan hati bahagia bagi Mommy itu sudah cukup kok."


Melihat interaksi antara Yenny dan Sisil, entah mengapa seketika membuat hati Gisel iri. Dan semakin lama dilihat, wajah wanita tua berpakaian modis itu malah makin mirip Rama.


'Pasti ... wanita tua itu adalah Mamanya Mas Rama. Dan harusnya ....' Gisel perlahan meremmas kuat ujung rok span yang dia kenakan. Seketika dadanya itu terasa bergemuruh dan mulai emosi. 'Harusnya aku yang ada di sana, bukan Sisil. Dan harusnya ... aku yang menjadi menantunya.'


Melihat Rama, Sisil dan Yenny masuk ke dalam rumah, Gisel pun membuka tas jinjing berwarna merahnya. Kemudian mengambil ponsel dan mencoba menelepon Olla, temannya.


"Halo, Sel, ada di mana kamu?" Suara Olla terdengar dari seberang sana.


"Aku ada di apartemen," jawab Gisel berbohong. "Oh ya, La ... kamu punya kenalan pria nggak, yang bisa dimintai tolong?"


"Dimintai tolong? Maksudnya, gimana?" Olla sepertinya bingung. "Memangnya kamu butuh apa?"


"Eemm ... ini ...." Gisel mengusap tengkuknya, kemudian mulai berpikir sebentar. "Aku ada rencana mau pindah apartemen. Jadi aku butuh dua pria untuk membantu memindahkan barang-barangku ke apartemen yang baru, La."


"Oh gitu. Biar aku sama sopirku saja yang bantu kalau begitu, Sel. Nanti siang pulang mengajar ... aku langsung—"


"Nggak usah, La," sela Gisel cepat. Menolak permintaan temannya.


"Lho, kenapa? Kalau minta bantuan orang biasanya harus dibayar, kalau sama aku 'kan nggak."


"Nggak masalah dibayar juga, aku ada uang kok."


"Memang kenapa, sih, nggak aku aja? Oh, apa kamu nggak enak, ya?" tebak Olla. "Santai saja kali, Sel, kita 'kan teman."


"Bukan masalah itu, La. Tapi apartemenku banyak banget tikus dan kecoa, kamu pasti takut. Jadi aku mau bayar orang saja." Gisel kembali beralasan.


"Sejak kapan apartemenmu banyak tikus dan kecoa?" tanya Olla yang terdengar bingung. "Perasaan ... aku sering deh main dan menginap, tapi nggak ada tuh ... tikus atau kecoa."


"Sejak kemarin," jawab Gisel. "Mangkanya aku mau cepet pindah. Udah sih, La, tolongin aku aja buat cari dua pria yang nganggur. Tapi usahakan badannya yang cukup berisi, ya! Biar kuat ngangkat orang."


"Ngangkat orang?"

__ADS_1


"Eh, maksudnya ngangkat barang. Iya, ngangkat barang," jawab Gisel cepat dengan gugup. "Tolong, ya, La, aku butuh sekarang."


...Bantuin, La, kasihan temennya 🤣...


__ADS_2