
"Pagi Pak Gugun, ini ada surat dari kantor polisi."
Seorang satpam apartemen menyapa Gugun yang baru saja keluar dari pintu kaca gedung tersebut. Tangannya perlahan terulur untuk memberikan sebuah amplop berwarna coklat.
"Surat apaan?" Gugun bergumam seraya mengambilnya, kemudian langsung membuka amplop yang berisikan selembar kertas.
Isinya adalah pihak kepolisian menolak permintaan Gugun untuk memenjarakan Astuti. Di sana juga tertera alasan dan penjelasan penolakannya yakni kedua belah pihak hanya salah paham. Ada baiknya keduanya untuk berdamai saja.
Setelah membaca isi kertas tersebut, sungguh membuat Gugun seketika jengkel. Emosinya langsung memuncak ke ubun-ubun, apalagi dia membaca juga jika di sana Astuti berjenis kelamin perempuan. Bukan pria yang sempat dia kira.
"Nggak adil banget sih ini. Bisa-bisanya permintaanku untuk memenjarakan si Bencong malah ditolak, dan apa katanya? Salah paham? Apa mereka benar-benar sudah gila, ya?" Gugun menggerutu sambil menunjuk-nunjuk kertas ditangannya. Merasa tak terima dengan keputusan pihak polisi yang menurutnya tidak masuk akal, meskipun disana sudah dijelaskan semuanya. "Pasti ini semua karena Pak Yahya juga, dia 'kan kemarin ikut-ikutan membela si Bencong. Padahal aku disini 'kan sudah jadi Kakak iparnya Rama, yang berarti sudah menjadi anggota keluarganya. Tapi bisa-bisanya dia malah membela orang lain!" geramnya.
Gugun mengusap dadanya yang terasa bergemuruh. Berkali-kali dia menarik napas dan membuangnya, untuk meredakan emosi.
Perlahan amplop beserta kertas tersebut dia remmas, lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang berada di dekat area parkiran. Setelah itu Gugun memutuskan untuk menaiki mobilnya.
Tidak ada waktu untuk memperpanjang masalah ini, karena sekarang-sekarang Gugun sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
'Kali ini aku mengalah, Cong. Tapi bukan berarti kamu menang. Lihat saja nanti ... kalau suatu saat kamu bermain-main lagi denganku, aku akan memberikan pelajaran lebih dari ini,' batin Gugun dengan wajah masam.
Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, melintasi jalan raya ibu kota.
Namun, baru setengah dari perjalanan, Gugun melihat ada seorang perempuan berhijab merah dan berjas hitam tengah berdiri di depan mobil yang terhenti di sisi jalan. Perempuan itu juga tengah sibuk dengan ponsel genggam di tangannya.
__ADS_1
"Nona, mobilnya kenapa?" tanya Gugun seraya menghentikan mobilnya tepat di sebelah posisi perempuan itu. Dia juga menurunkan kaca mobil.
Sebenarnya Gugun hari ini sangat sibuk, mungkin satu jam lagi akan ada meeting, belum ditambah sarapan. Tapi melihat ada orang yang seperti butuh bantuan, apalagi dia seorang perempuanātentu membuat hati Gugun bergerak untuk menolongnya. Meskipun dia hanya orang asing.
Perempuan berhijab itu lantas menoleh. Dan sontak bola matanya tampak membulat sempurna saat beradu pandangan dengan Gugun.
'Pak Gugun?! Tapi ... kok tumben dia memanggilku dengan sebutan Nona?' batinnya heran.
Ternyata perempuan berhijab itu adalah Tuti. Seumur hidup selain mukenah, baru hari ini Tuti memakai hijab dan itu pun atas saran dari Mbah Yahya. Tapi tidak tahu juga akan Istiqomah atau tidak, karena Tuti mau coba-coba dulu. Mengetes rasa nyamannya.
'Cantik sekali dia,' batin Gugun dengan bibir yang menganga. Bukan hanya berhijab saja, tapi Tuti juga memakai riasan wajah dan membuatnya cantik bak seperti bidadari.
Beberapa menit mereka saling tatap, sampai akhirnya Gugun sendiri yang mengakhiri sebab langsung mengusap wajahnya. Dia juga beristighfar dalam hati.
Gadis itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Gugun meraih ponselnya di dalam kantong celana, kemudian menelepon salah satu montir bengkel mobil langganannya.
'Pak Gugun kok kayak yang nggak kenal aku, ya? Ngomongnya juga lemah lembut banget. Tapi kenapa?' Tuti meraih kepalanya yang mendadak rambutnya terasa gatal. Saat menyentuh kain di atas kepala, dia baru sadar sekarang. 'Oh, pasti karena aku pakai hijab. Tapi masa, sih, dengan aku berhijab wajahku ikut berubah? Bukannya sama saja, ya?'
Merasa penasaran dengan dirinya sendiri, Tuti pun bercermin di kaca spion mobil Gugun. Kemudian membereskan hijab pashminanya yang terlihat miring karena hembusan angin.
'Ah sama saja, nggak ada bedanya,' batin Tuti.
__ADS_1
"Saya sudah telepon bengkel tadi, nanti orangnya ke sini, Nona," ucap Gugun yang baru saja mengakhiri panggilan, dia pun membukakan pintu depan mobilnya. "Nona mau ke mana? Biar saya antar, saya juga mau sekalian pergi ke kantor."
"Terus mobilku gimana? Masa ditinggalin, Pak?" tanya Tuti bingung seraya berbalik badan untuk menatap Gugun.
"Nanti orang bengkel ke sini. Saya sudah kirim lokasinya," jawab Gugun sambil tersenyum. "Cepat masuk, biar bisa saya antar. Saya kepepet banget mau meeting soalnya." Manatap arlojinya yang melingkar pada pergelangan tangan kanan, disana menunjukkan pukul 7 pagi.
"Oke deh." Tuti mengangguk, cepat-cepat dia masuk ke dalam mobil Gugun dan duduk dikursi.
Setelah menutup pintu, Gugun berlari memutar menuju kursi kemudinya, lalu duduk di sana dan mulai mengemudi.
"Nona mau pergi ke mana?" tanya Gugun.
"Aku mau ke mall depan, Pak," jawab Tuti sambil menunjuk ke arah depan.
"Oke." Gugun mengangguk, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet. Kemudian meraih secarik kertas persegi dan memberikan kepada Tuti. "Ini kartu nama saya, Nona. Nanti Nona hubungi saya biar saya bisa berikan nomor bengkel."
Sebenarnya bisa saja Gugun langsung memberikan nomor bengkel kepada perempuan itu, tapi dia malah sengaja memberikan kartu namanya supaya bisa mendapatkan nomor.
"Oh iya, terima kasih, Pak." Tuti mengambil benda tersebut, lalu tersenyum dan memerhatikannya.
"Sama-sama," jawabnya. "Eemm ... kalau boleh tau, siapa nama Nona? Dan tinggal di mana?" tanya Gugun sembari menoleh sebentar ke arah Tuti, dia juga ikut tersenyum saat melihat senyuman gadis di sampingnya yang ditunjukkan kepadanya.
...Wah, perlu kacamata nih kayaknya š¤£...
__ADS_1