Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
149. Nggak sayang lagi sama aku


__ADS_3

"Sampai udah mau sahur aja, lolos aku nggak tidur ini gara-gara Aa," gumamnya. Sisil pun mengetik-ngetik aplikasi food. Mencari menu kolak pisang di sana. "Semoga ada, dan bisa langsung diantar." Sisil berdo'a dalam hati dan ternyata do'a itu terkabul. Ada menu kolak pisang yang buka dijam sekarang. Segera, dia pun memesan lewat online dan mengirimkan alamatnya.


Setelah itu, Sisil turun dari kasur dan melangkah keluar. Berniat ingin pergi ke dapur untuk mengambil air minum, sebab tenggorokannya terasa haus.


Tapi sebelum itu, dia menghampiri Rama dulu untuk mengecup bibirnya secara singkat dan tersenyum memandangi wajahnya.


"Aa kalau cuek jadi jelek, jadi jangan cuek," gumamnya, kemudian mengecup sekali lagi tapi dengan lidah yang agak menjulur supaya bisa merasakan bibir Rama.


*


*


"Nona sudah bangun? Apa mau makan sahur sekarang?" tanya Bibi pembantu yang tiba-tiba datang dengan mengagetkan Sisil. Gadis itu sampai tersentak dan langsung mengelus dadanya yang berdegup kencang.


"Ih, Bibi ngegetin aja! Untung nggak jantungan!" omel Sisil marah, matanya menyorot tajam ke arah wanita berdaster di depannya.


"Maafkan Bibi, Nona. Bibi hanya menawarkan, barang kali Nona ingin langsung makan sahur. Kebetulan Bibi baru bangun dan baru mau masak sekarang."


"Oh nggak kok, Bi." Sisil menggelengkan kepalanya, lalu menghela napas dengan kasar. "Aku ke dapur hanya ingin minum, haus."


Menyentuh tenggorokannya, lalu melangkahkan kakinya menuju rak yang berada di dekat wastafel pencuci piring untuk mengambil gelas. Setelah itu Sisil menuju dispenser dan mengambil air dingin di sana.


"Oh iya, Bibi lupa bawa teko air buat kamar Pak Rama. Maafin Bibi ya, Nona."


"Enggak apa-apa, Bi. Santai saja," jawab Sisil. Dia menarik kursi yang berada di meja dapur. Duduk di sana kemudian menenggak air minum.


"Lho, Nak Sisil sudah bangun?" Yenny baru saja datang ke dapur dan dia tampak terkejut melihat menantunya pagi-pagi sudah ada di dapur. "Jangan ikut masak, Nak, nanti capek. Biar Bibi saja," larangnya.


Padahal siapa juga yang mau masak? Mungkin itu yang ada di dalam pikiran Sisil.


"Aku nggak ikutan masak kok, Mom. Cuma mau minum saja, haus." Sisil menunjuk gelas di tangannya yang sudah kosong, lalu menaruhnya di atas meja.


"Memangnya di kamarmu nggak ada air?" tanya Yenny, lalu menatap ke arah pembantunya yang tengah menyalakan kompor hendak menumis bawang. "Pasti Bibi lupa naruh teko air di kamar Rama, ya? Jadi Sisil sampai capek-capek turun cuma mau minum."


"Iya, Bu. Maafin Bibi," ucap Bibi Pembantu yang menatap Yenny dengan wajah bersalah.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, Mom." Sisil menyentuh tangan kanan sang mertua dengan lembut. "Lagian, aku juga kepengennya minum air dingin kok. Jadi ngambilnya ke dapur."


"Kan bisa minta tolong harusnya sama Rama, Nak." Terlihat jelas, jika Yenny begitu mengkhawatirkan kondisi menantunya. Dia takut, kalau Sisil kecapekan.


"Aa masih tidur. Udah nggak apa-apa, lagian aku juga 'kan mau ikut sahur. Jadi sekalian, Mom."


"Maaf, Bu Yenny ...," ucap seorang pria yang baru saja datang menghampiri. Dia adalah satpam rumah Mbah Yahya yang bernama Usup.


"Ada apa?" Yenny menoleh, menatap pria di depannya.


"Di depan ada kurir makanan, Bu. Dia bilang mau mengirimkan pesanan untuk Nona Prisilla. Tapi siapa yang bernama Prisilla?"


"Aku, Pak." Sisil langsung berdiri dan menunjuk dirinya sendiri. "Itu pasti kiriman kolak yang aku pesan. Biar aku yang mengambilnya."


"Oh. Nona Sisil rupanya."


"Kamu saja yang ambil, Sup. Biar Sisil di sini saja," cegah Yenny yang memegang pergelangan tangan menantunya. Ketika gadis itu hendak melangkah bersama satpam.


"Tapi belum dibayar, Bu, makannya."


"Memang berapa?" Yenny merogoh kantong celananya, untuk mengambil uang. Tapi Sisil lebih dulu mengulurkan uang sejumlah 20 ribu pada satpam itu.


"Baik, Nona." Satpam itu mengambil dan menganggukkan kepalanya. "Saya akan kembali untuk mengambilnya." Setelah itu dia melangkah pergi dari dapur.


"Kolak apa yang kamu pesan, Nak? Dan kenapa musti beli? Kan ada Bibi. Suruh saja dia."


"Kolak pisang, Mom. Aku lagi kepengen dari semalam." Sisil menyentuh perutnya.


"Lho, kepengennya dari semalam? Tapi kenapa nggak bilang? Harusnya kamu bilang sama Rama, Mommy atau Daddy. Kan semalam sudah dikasih tau ... kalau kepengen apa-apa tinggal bilang saja, Nak." Yenny terlihat tak tega, dilihat mata menantunya juga merah. Dan menurutnya seperti kurang tidur.


"Itu pas tengah malam aku kepengennya," jawab Sisil berbohong. "Semua orang udah tidur, jadi aku nggak enak membangunkannya, Mom."


"Nggak apa-apa, dibangunkan saja. Rama juga orangnya nggak susah kalau dibangunin kok." Yenny perlahan mengusap rambut menantunya yang terlihat berantakan itu. Lalu menatap matanya. "Semalam kamu tidur jam berapa?"


"Aku—"

__ADS_1


"Ini Nona, makanannya," sela satpam yang baru saja kembali, lalu memberikan apa yang dia bawa ke tangan Sisil.


"Terima kasih, Pak. Uangnya tadi pas, kan, ya?"


"Pas, Nona." Satpam ini mengangguk. Kemudian pergi lagi dari sana.


"Mau saya panaskan nggak, kolak pisangnya, Nona?" tawar Bibi pembantu dengan tangan yang terulur.


"Nggak perlu, Bi." Sisil menggeleng. "Ini masih hangat kok kolaknya. Mau langsung ditaruh dimangkuk saja terus dimakan," tambahnya. Perlahan kakinya melangkah menuju rak kayu, tapi langsung ditahan oleh Yenny. Wanita tua itu pun mengajaknya kembali untuk duduk dikursi.


"Biar Mommy saja. Kamu duduk di sini," ucapnya kemudian melangkah.


"Padahal aku juga bisa, Mom. Jadi nggak enak kalau kayak gini." Sisil memerhatikan Yenny yang membuka kantong merah di atas meja, lalu membuka plastik kolak pisang dan menuangkannya ke dalam mangkuk. Pisangnya terlihat besar-besar dan menggiurkan lidahnya, isi 4.


"Nggak apa-apa. Ayok makan dimeja makan. Jangan di sini, nantinya hidungmu bersin-bersin." Yenny menarik lengan Sisil hingga membuatnya berdiri, kemudian mengajaknya keluar dari dapur.


"Aku mau makannya di kamar ...." Ucapan Sisil seketika terhenti saat mendapati Rama turun dari anak tangga. Dilihat wajah pria itu sangat fresh, tampan dan tercium aroma wangi. Dia sepertinya habis mandi, pakaiannya pun berbeda dari semalam. "Aa mau ke mana? Kok kelihatan sudah mandi?" tanya Sisil.


"Nggak ke mana-mana, Dek. Mau sahur," jawab Rama tanpa menatap, kemudian menarik kursi untuk dirinya duduk di kursi meja makan, kemudian menuangkan air minum untuknya sendiri dan menenggakkan sampai habis.


"Sahur kok mandi segala, A?" Sisil juga duduk di samping Rama, tapi kursinya Yenny yang menarikkan. "Terima kasih, Mom."


"Tadi kepengen kencing aku pas bangun. Eh nggak keburu, jadi basah celananya terus sekalian mandi aja," jelas Rama. Tapi lagi-lagi apa yang dia katakan masih saja terdengar cuek ditelinga Sisil.


"Mommy tinggal dulu ke dapur, ya, mau bantuin Bibi," ucap Yenny pamit sambil mengusap puncak rambut menantunya. "Cepat makan kolaknya, nanti habis itu kita makan sahur bersama, Nak."


"Iya, Mom." Sisil mengangguk dan tersenyum. Yenny pun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


'Pasti Aa hanya alasan, bilang saja kalau nggak mau mandi bareng lagi. Nyebelin banget, sih,' batin Sisil dengan perasaan yang berkecamuk sambil memerhatikan Rama yang kini tengah bermain ponsel. Antara sedih dan kesal telah menjadi satu, rasanya ingin menangis.


'Bahkan Aa juga nggak nanyain kolak. Harusnya 'kan dia tanya, aku dapat kolak dari mana. Aku 'kan lagi hamil ... Apa dia nggak takut kalau aku salah makan terus sakit? Apa Aa memang udah nggak sayang lagi sama aku?' tambahnya yang kian bersedih. Hingga tak kuasa, akhirnya dia pun menangis.


"Hiks ... Hiks ...."


Suara rintihan tangis itu seketika mengusik pendengaran Rama. Pria itu pun langsung menoleh dan sontak dia terbelalak. Merasa terkejut melihat istrinya sudah berurai air mata, lalu menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Lho, kok kamu nangis? Kenapa, Dek?" tanya Rama bingung. Dia pun menggeserkan posisi duduknya untuk lebih dekat kepada Sisil dan gadis itu pun tiba-tiba memeluk tubuhnya, rasanya sangat erat dan tangisnya pun makin pecah. "Dek, kenapa? Kenapa nangis?" tanya Rama sekali lagi dengan khawatir, lalu membalas pelukan itu.


...Ah lemah si Sisil. Masa dicuekin aja nangis 🤣 giliran kemarin aja galak 😆...


__ADS_2