
Sebelumnya, Gugun dan Rama sudah sampai di depan kantor polisi. Hendak bertemu dengan Lusi, Gugun ingin menekannya supaya gadis itu mengakui kesalahannya.
Hanya saja belum sempat kaki keduanya melangkah, ponsel Gugun berdering bunyi notifikasi chat masuk.
Dia berhenti sejenak untuk mengecek ponselnya. Ternyata itu adalah sebuah chat masuk dari Sisil.
[Kakak ada di mana? Cepat ke rumah sakit, aku ingin bicara sama Kakak.]
Isi chat itu jauh lebih penting rasanya, jadi Gugun memutuskan untuk memutar balik. Dia berlari menuju mobilnya.
"Kak Gugun kok balik lagi? Kenapa?" tanya Rama yang berlari mengejar. Dia sudah seperti buntutnya Gugun, terus mengikutinya.
"Ke rumah sakit," jawab Gugun tanpa menatap Rama.
Melihat mobil Gugun hendak melaju, Rama dengan cepat masuk ke dalam sana. Duduk di samping kursi kemudi dan memasang sabuk pengaman.
"Kita ke rumah sakit mau apa? Apa Kak Gugun sakit?" tanya Rama penasaran. Dia memperhatikan wajah Gugun yang serius.
Usia pria itu memang lebih muda 3 tahun dengannya. Tetapi mengetahui Gugun adalah Kakaknya Sisil, Rama langsung memberikan panggilan 'Kakak' kepadanya. Sebab memang itu yang paling pas dan Gugun akan menjadi kakak iparnya menurut Rama.
"Sisil dirawat."
"Sisil?!" Bola mata Rama sontak membulat sempurna. "Sakit apa dia, Kak?"
"Dia kemarin sempat mencoba bunuh diri."
"Bunuh diri?!" Rama tercengang sesaat mendengarnya. "Kenapa dia bunuh diri? Oh, apa diputusin pacarnya?"
"Pakai nanya lagi." Gugun melirik sinis ke arah Rama. "Dia itu bukan diputusin pacarnya, tapi frustasi dengan nasib yang dialami."
"Kasihan sekali Sisil," lirih Rama dengan wajah sendu. "Tapi sekarang keadaannya baik-baik saja 'kan, Kak?"
"Nggak usah banyak bertanya. Nanti juga Bapak lihat sendiri," jawab Gugun malas.
Rama pun menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar. Rasa Gugup dan tidak percaya diri mendadak menyerangnya. Apalagi Rama baru saja sadar jika dia belum mandi dari pagi.
"Kak, boleh nggak mampir dulu ke toilet umum?" tanya Rama sambil mengulas keringat yang bercucuran di dahinya.
"Mau apa memangnya?" tanya Gugun tanpa menoleh.
"Mau mandi, aku dari pagi belum mandi."
"Nanti saja mandinya kalau sudah sampai ke rumah sakit."
__ADS_1
"Ya sudah. Eh tapi berhenti dulu di toko bunga itu, Kak!" seru Rama seraya menepuk lengan Gugun saat dia melihat sebuah toko bunga yang mereka lewati.
"Mau apa?" Gugun masih melajukan mobilnya.
"Berhenti sebentar, aku mau beli bunga untuk Sisil."
"Adikku lagi sakit, ngapain dikasih bunga?"
"Supaya dia cepat sembuh."
"Yang bikin sembuh itu obat, bukan bunga," bantah Gugun.
"Serius, Kak. Tapi bunga juga bisa membuat seorang perempuan senang. Jadi berhenti sebentar di toko bunga, aku mau membelinya untuk Sisil," pinta Rama setengah merengek. Tangannya meraih lengan Gugun.
Tadi pagi mereka baru pertama kali mengobrol, tetapi sekarang pria itu seperti sudah mengenal Gugun sejak lama. Tidak ada kecanggungan sama sekali.
Gugun berdecak kesal. Akhirnya mobil yang dia lajukan itu berhenti saat melihat ada toko bunga yang berada di seberang jalan.
"Jangan lama-lama!" tegur Gugun. Rama yang baru saja hendak turun itu langsung mengangguk cepat. Kemudian berlari masuk ke dalam toko itu.
*
*
Dalam perjalanan itu hingga sampai, Rama terus membayangkan wajah calon istrinya. Dia sampai tidak ingat untuk mandi terlebih dahulu sebelum bertemu.
Kakinya malah terus mengikuti di mana Gugun pergi sembari terus mengendus aroma wangi bunga.
Sampai akhirnya, Gugun membuka pintu sebuah kamar VIP. Lalu mendorongnya dan masuk ke dalam sana. Rama segera mengekorinya dari belakang.
"Sil ...," panggil Gugun. "Assalamualaikum."
Bola mata Rama langsung berbinar kala melihat wajah imut nan cantik yang tengah memandanginya di atas tempat tidur. Wajah itu sangat dia rindukan sejak kemarin-kemarin.
Kakinya terus mendekat bersama bunyi detak jantung yang kian berdebar seperti ingin loncat.
"Ayok menikah denganku, Sil," ajak Rama tanpa basa-basi dan langsung mengulurkan buket bunga itu ke arah Sisil yang tampak terbengong.
"Menikah?!" Entah bertanya atau apa, tetapi yang jelas wajah gadis itu terlihat seperti kebingungan. Matanya yang sejak tadi menyorot kepada Rama kini berpindah ke arah Gugun. "Dia siapa, Kak?"
"Namanya Rama," ucap Gugun sembari melirik sebentar ke arah Rama. Pria itu menarik tangannya kembali sebab buket bunga yang dia pegang tak kunjung diambil oleh Sisil. "Kakak mau tanya dulu padamu, Sil."
Gugun mendorong koper itu ke arah sofa panjang, lalu menaikkannya ke atas. Setelah itu dia membuka untuk mengambil sebelah sepatu flatshoes hitam, kemudian mendekati Sisil lagi dan memberikan benda itu kepadanya.
__ADS_1
"Apa ini sepatumu?" tanya Gugun. Kalau memang benar, Gugun akan mencoba mempercayai Rama meskipun sejujurnya hatinya ragu.
Sisil memperhatikannya bolak balik. Miliknya sendiri masa dia tak mengenali. Rasanya tidak mungkin. "Iya, ini sepatuku. Tapi kok ada sama Kakak?"
"Bukan ada sama Kak Gugun." Rama membuka suara. Hidung pria itu terlihat kembang kempis dan bibirnya tak henti-henti untuk terus tersenyum bahagia. "Tapi tertinggal di mobilku."
"Mobil?!" Kening Sisil mengerenyit. "Ngapain sepatuku tertinggal di mobil Om? Aku saja nggak kenal sama Om."
"Kita memang nggak saling mengenal, tapi kita sudah bertemu tiga kali, Sil."
'Sil?! Dia tahu namaku?' batin Sisil.
"Di mana saja kita pernah bertemu Om?" tanya Sisil penasaran.
"Yang pertama pas aku menyelamatkan di pinggir jalan. Mungkin sekitar tujuh atau enam bulan yang lalu. Saat itu kamu diganggu kedua teman cewekmu," jelas Rama.
Sisil terdiam dan mengingat-ngingat sembari memerhatikan wajah Rama dengan seksama. Sepersekian detik kemudian, dia pun berucap, "Oh. Iya, iya, aku ingat."
Rama tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga. Baru diingat saya rasanya sudah terbang melayang. "Iya, terus yang kedua nggak sengaja ketemu di hotel, pas Citra mengadakan syukuran dan Kakak iparnya yang bernama Nissa menikah."
"Tapi aku nggak melihat Om."
"Kamu nggak lihat aku, tapi aku yang melihatmu," sahut Rama. "Dan yang ketiga pas aku pulang dari pesta. Mobilku tiba-tiba mati dan aku nggak sengaja dengar kamu berteriak meminta tolong."
"Ngapain aku meminta tolong?"
Gugun hanya ikut mendengarkan, tetapi sejak awal masuk dia sudah merekam suara Rama pada ponselnya. Untuk berjaga-jaga saja.
Selain itu, mungkin penjelasan Rama akan menyakinkan dirinya.
"Kamu digangguin sama pria tua nggak tahu siapa, dia berniat melecehkanmu dan aku mencoba menyelamatkanmu," jawab Rama.
"Tapi Om menyelamatkanku saat sudah terlambat, kan? Aku sudah berhasil dilecehkan sama pria tua itu?!"
"Nggak." Rama menggeleng cepat. "Aku berhasil menyelamatkan sebelum dia berhasil melecehkanmu."
"Tapi kenapa aku malah sudah diperkosa?"
"Aku yang memperk*samu."
"Apa?!" Sisil memekik dengan mata yang terbelalak. Tampak jelas di wajahnya kalau dia begitu terkejut. "Jadi alasan Om menyelamatkanku dari pria itu karena Om sendiri yang mau memperk*saku?" tanyanya tak percaya. "Om br*ngsek banget!"
...Minta do'anya semua, Author mau ajuin kontrak novel ini. Semoga aja bisa cepat lolos, ya 🤲...
__ADS_1