Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
105. Alhamdulillah


__ADS_3

"Tapi bagaimana? Katanya kalau nggak pakai asam Jawa nggak enak, Dek." Rama ingin menangis rasanya. Bola matanya saja saat ini sudah berkaca-kaca.


"Coba dibuat saja dulu, Om, barang kali enak," sahut Sisil santai.


"Tapi kalau udah jadi semisalnya nggak enak kamu jangan minta ketoprak lagi, ya? Soalnya susah nyarinya, Dek," pinta Rama dengan wajah memelas, perlahan dia menggenggam tangan Sisil.


"Mudah-mudahan enak, Om." Sisil langsung duduk lagi di kursinya.


"Buatkan saja resep yang ada di sini, Chef. Yang nggak ada nggak usah, nggak apa-apa," ucap Rama menatap Chef Hans dengan raut memohon.


Merasa tak tega, Chef Hans pun akhirnya mengangguk tanda setuju. "Tunggu lah beberapa menit, saya akan segera kembali." Kemudian dia melangkah menuju dapur bersama manager restoran.


"Kasihan ya, Chef, sama Bapak tadi ... honeymoon tapi bininya malah kepengen ketoprak," ucap Pak Manager. Dia merasa simpati sekaligus ingin mengajaknya bergosip.


"Iya, ngidamnya nggak kira-kira. Nggak lihat tempat kalau bukan di Indonesia," sahut Chef Hans.


"Tapi suaminya kelihatan sayang banget dan sabar ya, Chef." Manager restoran menimpali.


"Iya." Chef Hans mengangguk, lalu membayangkan wajah memelas Rama. "Saya jadi kepengen deh punya suami kayak Bapak tadi, Pak. Udah ganteng, baik, sabar dan pastinya banyak duit. Pokoknya idaman saya dan sempurna banget, Pak."


"Lho, tapi 'kan Chef ini laki-laki. Bagaimana bisa, Chef bilang pengen punya suami?!" Arah pembicaraan mereka mendadak berubah mencekam saat keduanya saling beradu pandang. Sang manager restoran pun seketika merasa bergidik ngeri. "Jangan bilang Chef ini punya kelain—"


"Saya mau masak dulu, Pak. Tolong tinggalkan saya," sergahnya cepat. Demi mengalihkan topik pembicaraannya.


Pria berjas itu pun langsung mengangguk, kemudian melangkah pergi meninggalkannya.


*


*


Di salah satu meja, Sisil kembali duduk bersama Rama. Sebelum ketopraknya jadi, keduanya meminum susu putih hangat terlebih dahulu yang sempat dipesan tadi. Supaya perut keduanya tidak terlalu kosong.


"Aku udah nggak sabar, Om, masih lama nggak, ya?" Sisil mengusap perutnya sambil menatap jam dingin. Dihitung-hitung seperti sudah lewat dari setengah jam, saat dimana Chef tadi pamit.


"Sebentar lagi kayaknya, Dek, tunggu saja," jawab Rama sambil menguap. Namun cepat-cepat dia menutup mulut.


Tak lama, seorang pelayan pria datang dengan mendorong meja troli. Benar apa yang dikatakan Rama, pesanan mereka sudah datang.

__ADS_1


"Please, here's the order," ucap pelayan tersebut seraya menyajikan dua piring ketoprak di atas meja, juga dengan dua gelas teh tawar hangat.


"Om, aku 'kan nggak pesan teh?" Sisil tampak bingung melihat teh di dalam gelas itu.


"This tea is free, Miss, indeed all visitors are given it even if they don't order it." ("Teh ini gratis, Nona, memang semua pengunjung dikasih meskipun mereka tak memesannya.") sahut pria berseragam tersebut. Dia rupanya mengerti bahasa Indonesia, tapi tidak bisa cara ngomongnya.


"Katanya gratis, Dek, udah nggak apa-apa. Yang penting 'kan ketopraknya sudah jadi," sahut Rama yang tak ambil pusing.


"Iya, tapi aku kepengen air putih, Om."


"Ya sudah nanti aku pesan." Rama menatap ke arah sang pelayan.


"Glass of water?" Sebelum Rama meminta, sepertinya pelayan itu sudah mengerti maksudnya. "Wait a minute sir, I'll be right back with a glass of water," ucap pria itu yang pamit pergi untuk mengambil air putih. Kemudian tak lama dia kembali dan meletakkannya di atas meja didekat Sisil.


"Enjoy, Sir, Miss ...," ucap sang pelayan seraya membungkuk sopan, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka untuk menikmati hidangan.


Sisil menatap piringnya. Ada potongan lontong, tauge, bihun, tahu goreng, bumbu kacang dan kecap. Berikut dengan kerupuk kuning di atasnya.


Penampakan sudah benar-benar mirip ketoprak, tapi tidak tau dengan rasanya.


"Ayok dicoba, Dek, kok dilihatin doang?" Rama merasa heran dengan tingkah Sisil. Terkadang memang dia suka aneh. 'Tadi bukannya bilang nggak sabar kepengen makan, ya? Kok giliran udah didepan mata malah dilihatin doang?' batinnya bingung.


Meskipun memang kadang kesal dengan tingkahnya, tapi melihat wajahnya yang merona seperti itu seketika membuat Rama meleleh. Dan tidak bisa marah.


"Duh manjanya istriku ini," kekeh Rama. Dia langsung meraih sendok yang berbalut tissue didekat piring istrinya, lalu mulai menyendokkan ketoprak itu.


Sisil dengan malu-malu membuka mulut, kemudian menerima suapan pertama dari Rama dan mengunyahnya pelan-pelan.


"Bagaimana? Enak, Dek?" Rama mengusap sudut bibir Sisil dengan ibu jarinya, sebab ada bumbu kacang yang tertinggal di sana.


"Enak banget," jawab Sisil sambil tersenyum manis.


"Jadi beneran mirip ketoprak rasanya?"


"Iya, coba saja, Om." Sisil mengangguk.


Rama pun menyuapi mulutnya sendiri dengan ketoprak miliknya sendiri.

__ADS_1


Namun anehnya, tak ada rasa ketoprak sama sekali yang terasa di lidahnya, apalagi bumbu kacangnya yang begitu encer. Cuma terasa pedas seperti sambel kacang saja.


Mungkinkah karena tidak memakai asam Jawa? Entahlah.


Selain itu, tidak ada asin dan manis juga. Benar-benar hambar.


"Ini ketoprak yang paling enak yang pernah aku makan, Om," tambah Sisil. Tangannya menyentuh tangan Rama, seolah meminta pria itu kembali menyuapinya.


"Masa sih, Dek? Menurutku ketopraknya nggak enak. Malah nggak ada rasanya." Rama pun menyuapi Sisil lagi dan gadis itu terlihat begitu lahap, wajahnya juga tampak berseri sekarang.


"Lidah Om lagi sariawan kali, mangkanya bilang nggak enak," tebak Sisil.


"Nggak kok." Rama menggeleng bingung. 'Aneh banget ya, Sisil ini, tapi ya sudahlah nggak apa-apa. Lebih bagus dia bilang enak, jadi nggak sia-sia aku berkorban,' batinnya.


Setelah beberapa menit, Sisil pun mengusap perutnya yang terasa begah akibat kekenyangan.


Wajar saja, sebab dirinya menghabiskan dua porsi. Ketoprak Rama yang tidak dimakan dia habiskan tadi.


"Kenyang banget aku, Om. Alhamdulillah," ucap Sisil, lalu menenggak segelas air putih sampai habis.


"Syukurlah kalau kamu kenyang, aku ikut seneng dengernya, Dek," sahut Rama. Dia pun mengecup pipi kanan istrinya.


"Tapi kok Om makannya tadi cuma sedikit? Apa nggak laper?"


"Laper, tapi aku udah kenyang sekarang." Rama berbohong. Padahal selera makannya sudah hilang lantaran sudah melewatkan jam makan. Tapi tidak masalah, apapun demi Sisil bahagia dia bersedia. "Mau pulang sekarang apa tunggu sampai siang di sini, Dek?"


"Pulang dong, Om, ngapain di sini terus. Aku mau istirahat, capek. Ngantuk juga." Sisil langsung menguap dan menutup bibirnya.


"Ada yang kamu pengen pesan buat di takeaway, nggak?" tawar Rama. Takutnya nanti pas sudah sampai villa Sisil bilang ingin ketoprak lagi.


"Nggak, Om." Sisil menggeleng. "Aku mau cepat pulang dan tiduran. Ngantuk banget mataku."


Rama mengangguk. Dia pun langsung membayar makanan mereka lima kali lipat satu porsinya, sesuai ucapannya tadi.


Setelah itu barulah mereka menunggangi mobil taksi onlinenya, yang mengarah menuju jalan pulang.


Di kursi belakang, Sisil sudah memejamkan mata sambil memeluk tubuh Rama dengan erat. Sebab dia sudah merasa tak kuat dengan matanya yang benar-benar ngantuk.

__ADS_1


Sedangkan Rama, pria itu juga ikut memeluk tubuh Sisil. Baru sekarang dia bisa bernapas lega, karena merasa sudah berhasil melewati rintangan dan membuat mood gadis itu kembali normal. 'Alhamdulillah ... akhirnya masalah ketoprak sudah beres. Berarti tinggal istirahat dan bercintanya yang belum. Aku akan membuatmu mendesaah sepanjang hari, Dek, kan sekarang giliran kita jalan-jalan ke kasur,' batinnya bertekad dalam hati.


...Jangan seneng dulu, Om, ini baru permulaan 🤣...


__ADS_2