
"Lho, Ram, ada apa dengan Sisil?" tanya Yenny yang baru saja kembali dengan membawa lauk sahur, lalu menaruhnya di atas meja.
"Aku juga nggak tau, Mom," jawab Rama sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin ke kamar, hiks!" pinta Sisil dengan suara tertahan karena tangis. Sengaja dia meminta Rama untuk mengajaknya ke kamar, sebab takut jika nantinya Yenny mengetahui akan masalah yang mereka alami.
Sudah cukup Rama saja yang bersikap cuek, jangan lagi Yenny ataupun Mbah Yahya. Karena itu rasanya sangat menyakitkan.
"Aku antar Sisil dulu ke kamar, ya, Mom?" Rama menatap ke arah Yenny, dan wanita itu langsung mengangguk.
"Oh ya sudah, bawa Sisil ke kamar. Nanti kolak pisang sama makanan sahur kalian akan Bibi antar ke kamar, ya?"
"Iya, terima kasih ya, Mom." Rama langsung meraih tubuh istrinya sambil berdiri, lalu menggendong dan membawanya melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Setelah masuk dan menutup pintu, Rama pun dengan perlahan merebahkan tubuh istrinya di atas kasur.
Namun, gadis itu masih terus menangis dengan kedua tangan yang menutupi wajah.
"Dek ... udahan nangisnya," ucap Rama dengan lembut. Perlahan dia pun membuka kedua tangan Sisil dan mengusap kedua pipi yang terlihat basah itu. "Kamu ada apa? Cerita sama aku. Apa ada masalah?" tanyanya penuh perhatian.
Sepertinya Rama tidak sadar, jika alasan Sisil menangis karena dicueki. Atau mungkin, Rama memang tahu, tapi sengaja melakukannya.
Entahlah, yang tahu hanya Rama dan Allah saja.
__ADS_1
'Kenapa Aa nggak peka, jelas-jelas aku nangis karena Aa. Karena Aa yang menyebalkan!' batin Sisil kesal dan kembali menangis.
"Lho, ditanyain bener-bener kamu malah nangis lagi? Gimana sih, Dek?"
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, kemudian tak berselang lama ada seseorang berbicara.
"Pak Rama! Permisi! Bibi bawakan kolak dan makan sahur Bapak dan Nona Sisil!" serunya yang memang dia adalah Bibi pembantu.
"Oh iya, Bi!" sahut Rama. Gegas dia pun melangkah menuju pintu lalu membukanya.
Sisil sejak tadi hanya diam dan menatap punggung lebar suaminya. Tapi di dalam otak, dia tengah memikirkan cara supaya Rama tak cuek lagi. Malah sebagai bonus, pria itu akan mengajaknya bercinta.
"Kamu mau langsung makan sahur apa melanjutkan makan kolaknya lagi, Dek?" tanya Rama yang sudah kembali menghampiri. Dia pun duduk ditepi kasur, di samping Sisil. Lantas menaruh nampan yang dia pegang di atas nakas.
"Dek, kenapa masih diam? Ayok jawab," pinta Rama yang tampak bingung dengan sikap aneh istrinya. Mendadak dia juga menjadi alim sekali, tidak cerewet seperti biasanya.
"Aku pengen makan kolak, A," jawab Sisil pelan.
"Ya sudah, ayok duduk." Rama menarik tubuh istrinya supaya duduk, kemudian memberikan mangkuk berisi kolak pisang ke tangan Sisil. "Ayok makanlah. Aku juga mau makan sahur, Dek.
Sekarang Rama sudah mengambil piring yang berisikan nasi, sayur sop, ayam goreng dan perkedel kentang. Kemudian mulai melahapnya.
__ADS_1
Sisil yang melihatnya langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Makanan yang dimakan Rama terlihat begitu menggugah seleranya. Ingin rasanya dia ikut makan, tapi sambil disuapi.
"Lho, kok masih diam lagi kamu, Dek?" Rama menatap Sisil yang masih diam membeku. "Cepat habiskan kolaknya. Nanti habis itu makan nasi," tambahnya kemudian kembali makan.
"Aku kepengen makan bareng sama Aa," pinta Sisil dengan raut sedih. Bola matanya terlihat kembali berkaca-kaca. Padahal baru tadi dia selesai menangis.
"Ini 'kan kita lagi makan bareng, Dek." Rama benar-benar tak paham maksud istrinya
"Maksudku sepiring berdua, A."
"Oh gitu." Rama langsung mengambil sendok pada piring yang satunya, yang berisi menu yang sama. Tadinya itu memang untuk Sisil. "Nih pegang sendoknya, ayok makan bareng," ajaknya seraya memberikan sendok.
"Oh, iya." Sisil dengan wajah kecewa langsung mengambil sendok di tangan Rama. Akhirnya dia pun makan sendiri, meskipun rasanya menurutnya tak seenak makanan yang dimakan Rama.
Padahal sebetulnya makanan mereka sama, tapi anehnya dimulut Rama terlihat enak. Tidak seenak dimulutnya.
'Padahal aku kepengen disuapi. Tapi rasanya aku nggak berani mengatakannya, sedangkan Aa sendiri nggak peka,' batin Sisil. Dia mengunyah pelan-pelan makanan itu, dan menelannya secara terpaksa.
Namun seketika saja, dia pun teringat saat dimana dia dan Rama berbulan madu di Korea. Saat makan ketoprak, Rama bahkan menyuapinya. Dan rasanya dia sangat ingin mengulang momen itu.
"Aku mau ayam itu, A." Sisil menunjuk paha ayam yang baru saja selesai Rama gigit. Dan pria itu segera memberikannya, tapi dengan cepat Sisil mengambilnya dengan cara menggigitnya langsung. Tidak mengambilnya dengan tangan. "Ayamnya enak, A," ucapnya dengan mata berbinar.
Sebenernya yang membuatnya enak adalah bekas gigitan dan dari tangan Rama langsung. Itulah penyebabnya.
__ADS_1
"Iya." Rama menjawabnya secara singkat seraya menganggukkan kepalanya.
^^^Bersambung....^^^