
"Ini sebenarnya Bapak pura-pura nggak kenal aku apa memang nggak kenal beneran, sih? Kok kayaknya aneh gitu, ya?" tanya Tuti dengan kening yang mengernyit.
Dia betul-betul merasa bingung dengan sikap Gugun yang seolah tak mengenalinya, padahal mereka berdua sudah saling mengobrol. Masa iya, suaranya juga tidak dapat Gugun kenali? Itulah yang dia pikirkan.
"Maksudnya bagaimana?" Gugun ikut terheran-heran. Dia pun menoleh lagi ke arah Tuti dan mendekatkan wajahnya sebentar untuk memerhatikan dengan seksama. Tak berselang lama, Gugun pun langsung melebarkan kedua matanya kala mengingat wajah perempuan di sampingnya. "Oh iya, saya sudah tau sekarang!" serunya.
"Siapa?"
"Nona itu orang yang pernah saya temui saat di pesta. Pesta nikahan adik saya," sahut Gugun.
"Nah iya, itu betul. Akhirnya Bapak tau kalau aku Tuti." Tuti tersenyum lebar dengan perasaan lega. Tapi nyatanya yang dimaksud Gugun bukan itu.
"Kok ke Tuti-Tuti?"
"Iya. Aku Tuti." Tuti menunjuk wajahnya sendiri dengan semangat.
"Jadi nama Nona Tuti?"
"Iya. Astuti, Pak, masa sih Bapak lupa?"
Gugun langsung terdiam. Kemudian membatin dalam hati. 'Astuti? Kok namanya mirip sekali seperti asistennya Rama.'
Jelas disini Gugun beranggapan yang bernama Tuti adalah dua orang. Selain dari penampilan, wajah Tuti yang memakai make up benar-benar membuatnya pangling. Ditambah sekarang berhijab, jadi makin bersinar saja kecantikannya.
"Mallnya sudah dekat, Pak! Yang itu!" Tuti menunjuk ke arah depan, sebab sejak tadi Gugun mengemudi dengan terus memandanginya. Khawatir juga kalau sampai dia menabrak sesuatu.
"Oh, iya." Gugun tersentak. Segera dia menatap lurus, lalu menghentikan mobilnya di sisi jalan tepat di depan mall.
"Terima kasih atas tumpangnya ya, Pak, nanti aku chat Bapak untuk bertanya nomor bengkel," ucap Tuti. Sebelum turun dari mobil, dia pun membenarkan hijab di wajahnya dulu. Sebab lagi-lagi terasa miring.
"Sama-sama." Gugun tersenyum, lalu memerhatikan Tuti yang melangkah menjauh ke arah mall. 'Ternyata hanya namanya saja yang mirip, tapi sikap dan wajahnya sangat berbeda. Dan Tuti berhijab ini sangat manis, berbeda sekali dengan Tuti bencong yang bar-bar,' batinnya.
Gugun pun meneruskan laju kendaraannya menuju kantor.
*
*
Meski statusnya di kantor itu hanya sebagai asisten CEO, tapi Gugun sudah memegang pekerjaan sebagai CEO.
Selain karena mengantikan Almarhum Pak Danu, anaknya pun yang bernama Citra belum siap meneruskan kantor itu.
__ADS_1
Malah dia pernah mengatakan kalau kantor mendiang Ayahnya biar dikelola oleh Gugun dan Steven saja. Karena dia sendiri sekarang hanya ingin fokus kuliah, menjaga anak dan tentunya menjadi seorang istri yang baik.
Tok ... Tok ... Tok.
Rasa fokus Gugun terhadap laptopnya sejak tadi langsung teralihkan, lantaran mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Pak! Saya OB!" Seorang pria memekik dari luar sembari mengetuk pintunya kembali.
"Masuk!" sahut Gugun.
Ceklek~
Pintu itu pun dibuka, lalu masuklah seorang pria berseragam OB yang mambawa dua plastik putih yang isinya satu bungkus nasi Padang dan satunya es teh manis pada cup.
"Ini pesanan makan siang Bapak," ucapnya seraya melangkah mendekat.
"Taruh di atas meja saja." Gugun menunjuk ke arah meja di depan sofa. Yang jaraknya cukup dekat dengan meja kerjanya yang saat ini dia berada. "Tapi nanti kamu ambilkan aku piring dan sendok, ya!" titahnya kemudian.
"Baik, Pak." OB itu membungkuk sopan, kemudian melangkah keluar dari ruangan Gugun.
"Siang Pak Gugun." Seorang satpam datang kemudian mengetuk pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
"Di depan ada perempuan, katanya nyari Bapak."
"Perempuan?" Kening Gugun mengernyit. "Siapa?"
"Dia bilang namanya Gisel, teman dekat Bapak," sahut sang Satpam.
"Gisel?! Ngapain dia ke sini," gumam Gugun, dia lantas melangkah maju. "Terima kasih, Pak. Aku akan menemuinya," ujarnya lalu keluar dari ruangannya, kemudian menutup pintu.
*
*
Tepat di lobby depan resepsionis, ada Gisel yang duduk manis pada deretan kursi tunggu.
Melihat Gugun melangkah menghampiri, dia pun langsung berdiri dan tersenyum manis. "Siang Mas Gugun," sapanya dengan lembut.
"Nona Gisel kok ke sini? Mau apa? Dan kok bisa tau kantor saya?" Gugun mencecar beberapa pertanyaan. Tatapan matanya pun terlihat heran melihat gadis di depannya.
"Aku tau kantor Mas dari temanku, Olla," sahutnya. "Oh ya, boleh 'kan kalau aku memanggil dengan sebutan Mas?" Suara Gisel terdengar mendayu-dayu sekali. Sesekali dia juga membereskan rambutnya, padahal tidak berantakan.
__ADS_1
Yang semua dilakukannya hanya semata-mata tebar pesona, supaya Gugun tertarik padanya.
"Boleh. Tapi ada perlu apa? Kan saya sudah bilang, kalau saya sibuk, Nona."
"Ini 'kan sudah jam makan siang, Mas, masa sibuk?" Gisel menatap lekat mata Gugun dengan wajah sesendu mungkin, berupaya mendapatkan rasa simpati. "Aku ingin kita makan siang bareng, Mas. Ada hal yang perlu aku bicarakan juga sama Mas Gugun. Aku benar-benar bingung harus bercerita kepada siapa, karena aku sendiri nggak punya siapa-siapa di sini," lirihnya pelan. Kakinya melangkah lebih dekat, lalu meraih tangan Gugun dan menggenggamnya dengan erat.
Pria berkumis lele itu langsung menghela napasnya dengan gusar, lalu menepis tangan Gisel. "Ya sudah, ayok kita makan siang bareng. Tapi di cafe depan saja, ya?"
Gugun menunjuk ke arah yang dimaksud, pada akhirnya dia menuruti permintaan Gisel. Sebab merasa tak enak juga kalau mengusirnya, sedangkan Gisel sudah jauh-jauh datang ke kantor hanya untuk bertemu dengannya.
"Oh iya, iya, ayok." Gisel dengan girangnya langsung menggandeng tangan Gugun, kemudian menariknya untuk sama-sama melangkah keluar dari kantor.
Apa yang gadis itu lakukan menjadi pusat perhatian di kantor. Seluruh karyawan dan karyawati pun ikut menyaksikan, sekaligus terheran-heran sebab selama ini belum pernah ada perempuan yang menggandeng tangan Gugun selain Sisil adiknya.
"Ternyata setelah adiknya menikah ... Pak Gugun bisa langsung dapat jodoh, ya!" seru wanita bersanggul. Dia salah satu penjaga resepsionis depan dan mengajak teman seprofesinya bergosip.
"Iya, kukira dia bakal lama menjomblo. Kata orang dulu sih kalau kita dilangkahi adik sendiri ... itu kitanya jauh sama jodoh lho," sahut temannya.
"Eh, tapi belum tentu juga dia pacarnya." Seorang staff yang juga ada disana langsung ikutan bergosip.
"Tapi perempuannya gandeng tangan Pak Gugun, masa mereka bukan pacaran, sih?" balas wanita bersanggul.
"Iya," timpal temannya dengan anggukan kepala. "Pak Gugunnya juga diem aja. Berarti mereka memang saling suka," tambahnya.
"Eh, Pak!" Staff wanita itu memanggil seorang satpam yang baru saja lewat. Dia tadi sempat melihat satpam itu berbicara dengan Gisel, sebelum Gugun datang menemuinya.
"Iya, Mbak?" Pria berseragam hitam itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
"Perempuan yang bareng sama Pak Gugun tadi siapa? Pacarnya?" tanyanya penasaran.
"Dia sih bilang teman dekat, Mbak," sahut Satpam itu.
"Oh. Oke-oke." Staff itu mengangguk-angguk kepala. Dan setelah melihat satpam itu berlalu pergi, dia dan dua penjaga resepsionis kembali melanjutkan gosip panasnya tentang Gugun.
Selain itu, mereka juga selama ini menganggap Gugun homo, karena selama bekerja di kantor bertahun-tahun lamanya, tapi belum pernah memiliki pacar.
...Resiko didekati tukang gosip, jadi ikutan digosipin 🙈...
...btw mana nih yang ngasih vote sama hadiahnya, kok sepi banget ya, dukungannya 🥲...
...Lanjut kagak, nih?...
__ADS_1