
"Sabar untuk pemulihannya, Nona," jawab Dokter sambil tersenyum. "Dan karena rambut Pak Rama cukup panjang dibagian belakang ... sehingga membuat saya kesulitan saat mengoperasinya, jadi saya terpaksa mengundulinya. Tidak apa-apa, kan, Nona? Bu?" Dokter itu menatap Sisil dan Yenny bergantian.
"Nggak apa-apa, Dok. Yang penting operasi Aa berjalan lancar," ungkap Sisil sambil tersenyum tipis.
Dari kejauhan, Gisel sejak tadi menatap mereka semua yang ada disana. Dan samar-samar dia menguping apa yang mereka obrolkan dengan dokter.
'Syukurlah ... Mas Ramaku baik-baik saja.' Tentu Gisel ikut senang dan lega, mendengar kabar tersebut. 'Tunggu Dek Gisel, ya, Mas. Nanti Dek Gisel akan jenguk Mas Rama.'
"Pak Rama akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Dan bolehkah saya minta ... Ayah dari Pak Rama untuk datang ke ruangan saya?" Dokter itu langsung menatap sekitar.
Pria yang ada di antara tiga perempuan di depannya itu hanya Steven, dan rasanya tidak mungkin jika pria itu adalah ayahnya Rama. Karena jika dibandingkan dengan Rama, wajah Steven sedikit lebih muda.
"Kebetulan Daddynya Rama sedang semedi, Dok," jawab Yenny.
"Semedi?" Kening Dokter itu terlihat mengerenyit. "Semedi dimana ya, Bu? Apa tidak bisa kalau suruh dia datang?"
"Di Banten, Dok. Tapi asistennya sudah menjemputnya ... paling sebentar lagi sampai."
"Maaf, Dok ...," kata Sisil yang mana membuat Dokter itu menatapnya. "Kalau boleh aku tau, kenapa, ya, Daddy diminta ke ruangan Dokter? Apakah ada hal lain yang dialami Aa Rama?"
__ADS_1
Dokter itu menggeleng. "Tidak, Nona. Daddynya Pak Rama hanya diminta untuk mengisi beberapa data dan tanda tangan saja."
"Kalau diwakilkan sama aku bisa nggak, Dok? Soalnya takutnya suamiku lama." Yenny mengajukan diri.
"Tidak bisa, Bu. Karena ini harus dari wali Ayah kandungnya," jawab Dokter itu sembari menggelengkan kepala. "Saya tunggu sampai besok deh, nggak apa-apa. Kalau begitu saya permisi ya, Bu, Nona ... selamat malam."
"Selamat malam juga, Dok." Yenny, Sisil dan Citra menjawab secara bersamaan. Kecuali Steven yang diam saja.
Dokter itu pun melangkah pergi, berlalu meninggalkan mereka.
***
Dia masih duduk bersila ditengah-tengah danau yang dangkal. Matanya tertutup dan kedua tangannya dia letakkan ke atas paha.
Tentu, apa yang dia lakukan adalah bentuk dari semedi demi bisa menemukan cincinnya. Selain itu, dia juga berpuasa dan hanya dari Subuh tadi.
Danau itu adalah danau yang masih jauh dari pemukiman warga, bahkan bisa dibilang dekat hutan.
Dan sebenarnya, bukan hanya sekali dia bersemedi di sana. Tapi bisa dibilang itu adalah danau langganannya untuk bersemedi setiap tahunnya.
__ADS_1
Hanya saja mungkin ini bedanya bukan untuk mengasah ilmu, melainkan untuk menemukan sumber ilmunya yang hilang bersama cincin miliknya.
"Ternyata lama juga, ya, Pak Yahya semedinya."
Dari kejauhan, ada Evan yang sejak tadi berdiri menunggu. Dia sampai ke Banten sudah hampir 5 jam yang lalu, tapi sepertinya—semedi yang dilakukan bosnya itu belum menemukan titik temu. Sebab kalau sudah berhasil, pasti dia akan mengakhirinya.
"Mending aku tunggu dimobil saja deh, biar sambil tiduran." Evan melangkah menuju mobilnya, lalu masuk ke dalam kursi bagian belakang untuk dirinya bisa merebahkan tubuh di sana.
"Hhhaaahh ...." Evan menghembuskan napasnya, lalu menatap langit-langit mobil. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia justru membayangkan wajah Gisel. Dan memikirkan tentangnya. "Sedang apa kira-kira Nona Gisel? Ah ... aku belum berhasil menemukan apartemen barunya lagi. Gimana dong? Dan kenapa sih, dia itu selalu saja judes kepadaku. Tapi giliran sama Pak Gugun dia seperti perempuan yang kecentilan, padahal aku 'kan juga ganteng. Malah lebih berpengalaman lagi," gumamnya sambil berdecak sebal.
Sebuah gambaran tiba-tiba melintas dalam benak Mbah Yahya. Tepat di atas meja, dia melihat ada cincin berwarna merahnya yang bersinar terang.
Jika mundur ke belakang, untuk mengetahui posisi cincin itu. Letaknya ada di sebuah ruangan yang tertutup dan mirip kamar, tapi diluar kamar tersebut ada banyak sekali sajadah panjang dengan ruangan yang mirip seperti sebuah masjid.
Tiba-tiba, seorang pria yang memakai peci, sarung dan baju koko masuk ke dalam kamar tersebut. Kemudian duduk di atas kasur lantai yang ada di sana sembari melepaskan peci hitamnya.
Mbah Yahya langsung mengamati wajahnya, dan pria itu tampaknya seperti bukan pria biasa. Selain tampan, wajahnya juga bercahaya.
Tapi jika ditelisik dari pengamatannya, dia sepertinya memiliki umur yang tak jauh beda dari Rama dan memakai sebuah jam tangan dengan inisial huruf Y.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^