Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
106. Waktunya bercinta


__ADS_3

Sampainya di villa, Rama langsung membawa Sisil menuju kamar. Kemudian merebahkannya di atas kasur sebab gadis itu sudah benar-benar tertidur pulas, bahkan dia sampai mendengar suara dengkuran halusnya.


Rama membuka jaketnya, kemudian membuka jaket Sisil. Setelah itu dia menyibak rok panjang sang istri hingga celanna dalam berwarna merah berenda itu terlihat di depan mata.


"Waktunya bercinta 'kan sekarang?" Susah payah Rama menelan saliva, kemudian tangan kanannya terulur hendak menarik kain tersebut, akan tetapi langsung tidak jadi akibat mendengar suara kumandang adzan yang berasal dari ponselnya.


"Allahu Akbar Allahu Akbar ...."


Rama memang memiliki aplikasi yang diperuntukkan untuk memberitahu waktu sholat tiba. Dan sekarang sudah memasuki waktu Subuh.


"Sudah Subuh ternyata. Berarti sholat dulu baru bercinta." Tangan Rama akhirnya berpindah untuk menyentuh pipi Sisil, kemudian menepuk-nepuknya dengan pelan supaya gadis itu terbangun.


"Adek Sayang ... bangun dulu, yuk, kita sholat," ucap Rama pelan.


"Eemm ...." Sisil bergumam sambil menggerakkan kepalanya. Tapi matanya belum terbuka.


"Dek, Subuh dulu baru nanti boleh tidur lagi," ucap Rama lagi seraya menggoyangkan tubuh Sisil.


"Aku ngantuk, Om." Sisil menepis tangan Rama, kemudian meringkuk dan menutupi wajahnya dengan bantal.


"Iya, tapi sholat 'kan wajib, Dek. Jadi sholat dulu baru boleh tidur lagi," tegur Rama. Dia menarik bantal di wajah sang istri, lalu membungkukkan badannya dan meraup bibirnya sebentar.


"Ah padahal aku baru mimpi indah, Om!" geram Sisil kemudian menarik tubuhnya. Akhirnya dia terbangun juga, tapi wajahnya terlihat masam.


"Nggak boleh gitu dong, Dek, namanya sholat 'kan wajib. Aku juga ngantuk, tapi kita sholat dulu biar afdol." Rama membujuk, lalu menggendong tubuh Sisil dan membawanya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. "Kita juga 'kan selama menikah belum pernah sholat bareng. Jadi sekarang sholat bareng," tambahnya.


*

__ADS_1


Meskipun terlihat dipaksakan, akhirnya sholat berjamaah itu berjalan dengan lancar sampai keduanya mengucapkan salam.


"Alhamdulillah ...," ucap Rama seraya mengusap wajahnya, kemudian berbalik badan dan mengulurkan tangannya ke arah Sisil.


Gadis itu pun meraihnya, lalu mencium punggung tangan Rama.


"Kamu tambah cantik pakai mukenah, Dek," puji Rama seraya memerhatikan wajah dan tubuh Sisil dengan balutan mukenah berwarna putih bunga-bunga. Mukenah itu adalah mukenah dari Yenny, hadiah seserahan.


Wajah gadis itu langsung merona, dia juga memperhatikan Rama sebentar yang makin hari makin mempesona dan membuat jantungnya selalu bersenam ria setiap kali kulitnya berkeringat.


Pria itu memakai koko putih dan peci hitam. Tampan dan terlihat gagah sekali dia.


"Kita do'a dulu ya, Dek, sebelum selesai," ucap Rama lalu membenarkan kembali posisi duduknya menghadap ke depan.


"Iya, Om." Sisil langsung membuka kedua telapak tangannya ke udara, mengikuti Rama yang lebih dulu.


'Ya Allah ... aku mau pernikahanku adalah pernikahan yang terakhir. Aku juga meminta supaya Om Rama menjadi suami yang setia. Jangan buat dia berpaling dariku dan jauhkan dia dari Fuji, Gisel serta perempuan lain yang mencoba menggodanya. Tutupkanlah hati Om Rama untuk perempuan lain dan bukakanlah hatinya selebar mungkin hanya untukku seorang,' batin Sisil.


"Amin ... amin ya rabbal allamin," ucap Rama dan Sisil secara bersamaan setelah mengakhiri do'a, kemudian mengusap wajahnya masing-masing.


*


*


Seusai membereskan perlengkapan sholat, Rama dan Sisil pun berbaring di atas kasur dengan posisi bersebelahan.


Sisil mengatur napasnya berkali-kali dan menetralkan rasa gugupnya, sebab melihat perut kotak-kotak sang suami yang berada di depan mata. Pria itu seperti sengaja membuka kaosnya, sebelum berbaring tadi.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Mungkin semua orang telah melakukan aktivitas di pagi hari untuk bersiap pergi ke kantor. Tapi Rama juga sama-sama ingin beraktivitas, hanya bedanya di kasur.


"Udah siap belum, Dek?" tanya Rama seraya membelai lembut pipi kanan Sisil. Dan wajahnya itu langsung merona.


"Siap ke mana, Om?" tanya Sisil yang berpura-pura tidak tau. Padahal otaknya sudah berkelana sambil menatap inti tubuh Rama yang terlihat mengembung didalam celana.


"Katanya jalan-jalan ke kasur hari ini. Masa lupa?"


"Tidur dulu saja, Om, biar ada tenaga. Om 'kan semalam nggak tidur." Sisil membuang wajahnya ke arah lain sebab merasa malu sendiri. Perlahan dia menelan salivanya.


"Enakan bercinta dulu, Dek, baru tidur. Biar kita mimpi indah." Rama tak mau membuang-buang kesempatan. Apalagi sejak kemarin percintaan mereka tertunda.


Kedua tangannya itu langsung meremmas dada milik Sisil, dan tanpa persetujuan dia juga menyelinap masuk ke dalam kaosnya.


Sisil terlihat diam dan pasrah, merasakan sentuhan lembut tangan Rama yang sudah memilin lembut puncak dada. Mau ditolak pun rasanya tak mungkin, sebab dia juga sangat menginginkannya.


'Enak banget,' batin Sisil. Dia seketika merasakan tubuhnya berdesir tak karuan.


Rama perlahan naik ke atas tubuhnya, lalu membaca do'a berhubungan badan dan mulai menautkan bibirnya dengan lembut.


Cup~


Tak berselang lama, keduanya pun saling bertukar saliva dengan penuh semangat. Bahkan pagutan bibir itu lebih dominan dikuasai oleh Sisil. Dia seakan tak mau lepas, tangannya pun ikut meraba-raba perut sang suami.


Namun, tiba-tiba ponsel Rama berdering kencang. Bunyi sebuah panggilan masuk yang entah dari siapa.


...Wah, gagal lagi nih kayaknya, acara jalan-jalan ke kasurnya 🤣...

__ADS_1


__ADS_2