Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
115. Sibuk bikin anak


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ting~


[Van, sebelum ke rumah ... tolong bawakan foto Gisel yang sudah dicetak. Sekalian kamu cari tau nama lengkap, tanggal, bulan beserta tahun dia lahir, ya!] Ini adalah isi chat Mbah Yahya pagi-pagi, dari ponselnya Evan.


[Bapak mau nerawang Nona Gisel?] Balasan dari Evan.


[Iya, Van.] Balasan dari Mbah Yahya lagi.


Setelah itu, Evan lantas meraih jasnya yang menggantung di dalam lemari. Kemudian memakainya sambil berjalan keluar dari apartemen.


Kebetulan sekali, keluarnya dia bertepatan dengan Gisel yang keluar. Posisi kamar apartemen mereka juga kebetulan sebelahan.


Segera, Evan pun memotret dengan sedikit men-zoomnya. Sebab supaya terlihat jelas wajahnya.


Cekrek!


Namun, saat hasil foto itu telah jadi. Evan justru terkesima dan memandangi foto tersebut yang terlihat begitu cantik.


"Ini orangnya yang terlalu cantik apa kameraku yang terlalu bagus?" gumamnya berpikir.


Perlahan Evan pun mengangkat wajah, untuk menatap ke arah Gisel lagi. Akan tetapi gadis itu sudah menghilang entah ke mana.


'Lho, udah kayak setan aja dia. Hilangnya cepet banget.' Evan perlahan meraih handle pintu, kemudian menutup dan menguncinya. Setelah itu dia berjalan keluar dari apartemen.


Tepat di depan gerbang, Evan melihat Gisel melangkah dengan menenteng sebuah rantang plastik. Dia memakai stelan jas berwarna pink.


Sebelum gadis itu menuju jalan, Evan segera menyusulnya. Dia berlari cepat lalu berkomat-kamit membaca mantra dan setelah itu menepuk bahu kanannya.


Puk!


Gisel terkesiap, kepalanya memutar ke belakang dan saat itu pula Evan mengusap wajahnya.


Tak lama, dia pun pingsan. Tapi tidak sampai terjatuh sebab Evan segera meraih tubuhnya. Mungkin yang jatuh hanya rantangnya saja, yang berisi nasi goreng.


Tadinya nasi goreng itu Gisel buat untuk Gugun. Sayangnya sekarang sudah gagal lantaran kerjaan Evan.


Niat pria itu menghipnotis bukan karena iseng, tapi hanya karena ingin lihat KTP-nya saja. Lalu dikirimkan ke Mbah Yahya.


Setelah itu, Evan pun menggendong Gisel dan membawanya menuju parkiran, tepat di mana mobilnya berada.


"Pak, Nona Gisel mau dibawa ke mana?" tanya seorang satpam yang baru saja berlari menghampiri Evan.


Pria yang baru saja membuka pintu mobil itu lantas menoleh, lalu tersenyum. "Ini, Nona Gisel saya lihat pingsan di depan gerbang, Pak. Saya rencananya mau membawanya ke rumah sakit," jawabnya asal.


"Oh begitu. Ya sudah, biar saya antar," ucapnya.

__ADS_1


Sebagai seorang satpam yang ditugaskan untuk menjaga keamanan, rasanya dia perlu ikut. Sebab kalau ada apa-apa tentang Gisel dia tentu ikut bertanggung jawab.


"Boleh, Pak." Evan mengangguk. Tidak masalah menurutnya. "Tapi Bapak yang bawa mobilnya, ya, biar saya temani Nona Gisel di belakang."


"Mana kuncinya, Pak?" tanya satpam itu dengan tangan kanan yang menadah.


"Ambil dikantong celana, Pak." Evan menggerakkan kepalanya ke arah celana.


Pria berseragam hitam itu lantas merogoh kantong celana Evan. Dan setelah berhasil menemukan kunci, dia langsung membukakan pintu belakang mobil. Untuk Evan dan Gisel masuk. Barulah setelah itu dia ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.


Di dalam perjalanan, Evan terus menatap ke arah kaca depan. Yang mengarah ke wajah satpam itu, mengamati situasi supaya tak membuatnya curiga. Tapi tangannya saat ini begitu sibuk merogoh kantong celana Gisel, mencari-cari dompet.


Gadis itu ditidurkan di sebelahnya, tapi lengan Evan memeluk tubuhnya.


'Akhirnya ketemu juga,' gumam Evan saat berhasil menemukan apa yang dia cari.


Sebuah dompet berwarna hitam bunga-bunga itu dia buka, lalu mengambil KTP dan langsung memotretnya.


*


*


*


Sementara itu di rumah Mbah Yahya.


"Mommy lagi lihatin apaan?" tanya Mbah Yahya seraya duduk di sampingnya. Dilihat memang istrinya itu tengah membuka beberapa lembar album foto.


"Foto nikahan Rama sama Sisil, Dad," jawab Yenny seraya menatap sang suami, lalu meraba foto tersebut. "Mommy kok kangen, ya, sama mereka. Semenjak terbang ke Korea ... mereka nggak ada hubungi Mommy." Yenny merengut lesu.


"Namanya orang bulan madu, mana sempet. Mereka pasti sibuk bikin anak, Mom."


"Iya, sih. Tapi nanti pas mereka pulang ke Indonesia ... Mommy maunya mereka tinggal di sini ya, Dad. Jangan tinggal di rumah baru atau di apartemen Gugun," pinta Yenny.


"Rumah baru yang mana?" Alis mata Mbah Yahya bertaut.


"Si Rama 'kan ngasih mahar rumah buat Sisil, Dad," jawab Yenny.


"Itu 'kan buat Gugun."


"Kata Gugun 'kan waktu itu nggak jadi."


"Iya, sih, ah nggak tau juga sih. Tapi terserah mereka juga, Mom, mau tinggal di mana. Yang penting mereka bahagia aja." Mbah Yahya tak ambil pusing.


"Iya. Semoga saja mereka selalu bahagia." Yenny mendekatkan foto pengantin itu ke wajahnya, lalu mengecup kening Rama dan Sisil lewat foto. Mereka terlihat begitu serasi dan manis, meskipun umurnya memiliki jarak yang sangat jauh.


__ADS_1


***


Seoul, Korea Selatan.


Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Waktu honeymoon Rama dan Sisil telah selesai. Sekarang tepat dimana hari keenam di Korea.


"Om ... Om lagi ngapain?" tanya Sisil dengan suara yang masih serak-serak basah.


Dia baru saja bangun tidur dan mendapati Rama yang tengah sibuk membereskan pakaian. Mengambil dari lemari dan memasukkannya ke dalam koper.


Sang suami juga terlihat begitu tampan dan segar seperti habis mandi. Rambutnya tampak masih basah. Dia memakai kemeja berwarna merah maroon dan celana jeans berwarna hitam.


"Lagi beresin baju, Dek, kita 'kan mau pulang ke Indonesia," jawab Rama. Dia menghentikan gerakan tangannya sebentar, lalu mendekat ke arah Sisil untuk mengecup kening dan pipi kanannya.


"Kok pulang? Kita 'kan baru dua hari di Korea, Om," sahutnya dengan sedih. Rasa-rasanya Sisil sudah mulai betah tinggal di Korea, tapi dengan catatan menghabiskan waktu hanya berdua, tanpa orang lain apalagi dia berjenis kelamin perempuan.


"Dua hari apanya, Dek, orang seminggu," kekeh Rama.


"Tapi aku nggak mau pulang kayaknya, Om. Aku masih betah tinggal di sini. Di villa ini, sama Om." Sisil menarik tubuhnya untuk duduk sembari membenarkan selimutnya yang melorot. Tubuhnya saja saat ini masih polos, efek semalam habis bercinta.


"Kamu mau memperpanjang masa honeymoon kita?" tanya Rama dengan tatapan lekat. "Boleh aja, sih, Dek, tapi kamu 'kan ada kuliah. Apa nggak takut ketinggalan pelajaran?"


Sisil langsung merengut lesu. Benar juga apa yang dikatakan Rama. Bahkan semenjak dirinya terkena musibah akibat dip*rkosa, Sisil jarang sekali masuk kuliah.


"Apa kamu pengen berhenti kuliah?" tanya Rama lagi. Sebab sang istri belum menanggapi pertanyaan tadi. "Ya nggak apa-apa kalau mau berhenti, atau ... mau pindah kuliah di sini saja? Sekalian pindah tinggal di Korea."


Sisil menggeleng pelan. "Nanti aku nggak bisa ketemu Kakak sama Citra dong, Om. Nggak mau. Tapi aku nggak mau pulang ke Indonesia."


"Terus kamu maunya apa?"


"Sehari lagi deh, bisa nggak, kita di sini, Om?"


"Berarti pulangnya besok, ya?"


"Iya." Sisil mengangguk.


"Ya sudah, kita tambah sehari lagi. Mau jalan-jalan ke mana kamu?" Rama menurunkan kopernya yang berada di atas kasur. Tapi dia tidak menaruh barang-barangnya lagi ke lemari, karena sudah kepalang tanggung. Biar besok tak sibuk prepare lagi.


"Aku mau nonton bioskop, Om, tapi pengennya tempatnya itu yang nggak banyak aturan."


"Nggak banyak aturan gimana maksudnya?" tanya Rama yang terlihat tak paham.


"Yang kayak di Namsan itu lho, Om. Masa bercinta di toilet saja nggak boleh, padahal suami istri." Sisil mendengkus kesal saat mengingat kejadian yang kurang mengenakkan itu. Siapa pun orangnya yang sedang enak-enak diganggu pasti akan emosi.


"Oh. Tapi memangnya kamu nonton bioskop mau sambil bercinta, Dek?"


Wajah Sisil seketika memerah. Dia pun langsung menggeleng cepat. "Dih nggak!" kilahnya, tapi dilihat sekarang dia menjadi salah tingkah. "Aku nggak semesum itu kali, Om. Aku cuma nggak suka aja sama aturan kayak gitu. Pokoknya aku maunya pergi ke tempat yang nggak pakai aturan untuk pasangan, apalagi pengantin baru. Titik!" tambahnya menegaskan.

__ADS_1


...Bisa aja ya, kamu, Sil 🤣 tapi Author tau kok pikiran kamu ke mana 😆...


__ADS_2