Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
129. Panas banget


__ADS_3

"Mau. Tapi kita nanti ngabuburitnya di mana, Mas? Eh, tapi 'kan puasa saja belum. Udah ngomongin ngabuburit aja," kekehnya lagi.


"Kan besok puasanya, Nona," ujar Gugun. "Rencananya sih nanti saya mau ngajak Nona ke Taman Kalijodo. Nona pernah nggak, ke sana?"


"Belum. Memangnya, di Taman Kalijodo ada apa?"


"Nggak ada apa-apa, sih. Tapi enak tempatnya buat duduk santai. Selain itu banyak yang jualan dan sering ada orkes dangdut juga."


"Oh. Mas Gugun seneng dangdut?"


"Nggak sih, cuma sering denger lagunya aja."


"Oh gitu. Ya sudah, besok sore kita ke sana, Mas. Kalau begitu udah dulu, ya, aku ngantuk mau tidur."


"Iya. Selamat malam Nona, jangan lupa baca do'a sebelum tidur."


"Malam juga, Mas."


Jawaban terakhir dari Tuti memutuskan panggilan. Gugun langsung menaruh ponselnya, lantas memejamkan mata.


Sementara di sana, Tuti terlihat senyum-senyum sendiri, kemudian berguling-guling di kasur. Mengekpresikan rasa senang di hatinya.


'Apa ini artinya Mas Gugun mengajakku berkencan? Jadi kencan pertama kita di taman, ya?' batinnya. Jantungnya itu seketika berdebar kencang, di dalam dada—seperti banyak ribuan kupu-kupu yang terbang. 'Besok sore aku harus dandan yang cantik. Jangan sampai mengecewakannya.'


***


"Ah! Ah! Ah!"


Di sebuah kamar, terlihat dua insan tengah memadu kasih. Saling menyatu dan berkeringat bersama.

__ADS_1


Rama perlahan menoleh ke arah nakas. Di atas sana ada jam weker yang menunjukkan pukul 03.00.


"Dek! Udahan, ya? Udah jam 3, nih! Waktunya kita sahur," ucap Rama dengan deru napas yang tersengal-sengal. Dia baru saja mencapai pelepasan, setelah 30 menit yang lalu bercinta dengan Sisil.


"Om udah keluar belum?" tanya Sisil yang masih di posisinya, yakni menu*ngging di depan Rama.


Dialah awalnya yang mengajak, dengan membangunkan Rama dengan cara mengusap-usap burungnya dibalik celana. Awalnya adik Rama itu tertidur pulas, tapi karena sensitif sentuhan—jadi dia terbangun.


"Udah, Dek, barusan. Kamu udah, kan?"


"Udah sih. Tapi masih kepengen, Om. Ayok goyang lagi," pintanya tanpa malu. Tak pernah bosan rasanya, dari semenjak pulang bulan madu—Sisil seperti sudah kecanduan bercinta.


"Punyaku belum bangun lagi, Dek. Dan nanti kalau kita bercinta lagi ... bisa-bisa kita kesiangan sahurnya," ujar Rama. Perlahan dia pun mengeluarkan miliknya yang sudah mengecil secara perlahan.


"Nggak bakal, Om, ayok goyang ...." Ucapan Sisil seketika terhenti, sebab terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok! Tok! Tok!


"Noh! Kak Gugun, Dek," ujar Rama. Kakinya langsung turun dari ranjang kemudian memungut celana kolornya yang tergelatak di lantai. "Kamu mandi dulu sana, biar enak pas sahurnya." Rama cepat-cepat memakai kolor, lantas melangkah menuju pintu.


"Nanti Om nyusul, ya? Aku ingin mandi bareng." Sisil melilit selimut sebatas dada. Kemudian beranjak dari teman tidur.


"Iya, Dek." Rama mengangguk. Setelah melihat Sisil masuk ke dalam kamar mandi, gegas dia membuka pintu kamarnya.


Ceklek~


"Kak Gugun," ucap Rama pelan sambil tersenyum.


"Udah bangun daritadi, ya, ternyata kamu, Ram." Gugun memperhatikan mata Rama yang terlihat bening. Tidak seperti orang yang bangun tidur. Hanya saja, keringat pada wajah serta dada yang tampak karena tak memakai baju—begitu banyak. Bahkan seperti mandi keringat. "Memangnya Ac-nya mati, ya, Ram? Sampai keringat banyak begitu? Terus Sisil mana?" Sorotan mata Gugun menelisik ke tempat tidur. Di sana dia tak mendapati keberadaan Sisil.

__ADS_1


"Sisil lagi mandi, Kak. Nanti aku menyusul, mau mandi dulu karena panas banget." Rama menyeka keringat di dahinya.


"Oke. Tapi Ac-nya beneran mati memangnya?" Gugun sampai memastikannya sendiri dengan cara masuk ke dalam kamar. Sebab pertanyaannya tadi belum Rama jawab.


Namun saat masuk, yang dia rasakan justru dingin. Bahkan kamar itu jauh lebih dingin temperaturnya dibanding kamarnya.


"Ac-nya nggak mati, Kak. Cuma emang suasananya lagi panas saja. Mungkin karena mau tahun baru," jawab Rama beralasan. Asal saja.


"Masih lama kali, Ram. Ya sudah, Kakak tunggu di meja makan, ya! Kakak sudah pesan makanan untuk sahur kita." Gugun tak terlalu memusingkan, dia pun berlalu pergi keluar dari sana. Sedangkan Rama langsung menyusul Sisil untuk mandi.


*


*


"Baru pertama kali Kakak lihat ... kamu sahur langsung mandi, mana sekalian keramas lagi," ujar Gugun keheranan. Dia menatap adiknya yang tengah makan, tak biasanya memang—Sisil melakukan hal seperti itu. "Apa nggak dingin?"


"Nggak, Kak." Sisil menggeleng dengan kedua pipi yang tampak merona. Sepertinya Gugun tak peka, dengan alasan Sisil mandi keramas. "Semalam panas banget. Tidur juga sampai nggak nyenyak," lanjutnya. Kali ini berbohong.


"Tapi Kakak biasa saja deh, Sil."


"Mungkin karena kita kelamaan di Korea, Kak." Rama menyahut. "Di sana 'kan musim salju, pas kita honeymoon. Jadi dingin banget."


"Oh. Iya kali, ya, karena itu." Masuk akal juga alasan Rama—pikirnya. "Ya sudah ... ayok makan biar kita kuat puasa seharian," ajak Gugun. Dia pun membaca do'a makan dan niat puasa terlebih dahulu, sebelum menyantap hidangan.


Sisil sudah makan duluan. Sekarang dia tengah memerhatikan Rama yang baru saja mengunyah.


Aliran air yang berasal dari rambut Rama yang basah kini mengalir sampai leher. Dan seketika membuat Sisil merinding sendiri.


Entah mengapa, kalau ada air diwajah serta leher—itu akan membuat Rama makin mempesona.

__ADS_1


'Nggak bisa bercinta siang-siang dong, kalau lagi puasa. Semoga kuat deh,' batin Sisil sambil mengusap wajahnya. Kemudian menggelengkan kepala, mencoba menetralkan pikiran kotor yang selalu bersemayam di dalam otak, jika berdekatan dengan Rama.


...Baru juga tadi kamu main, Sil, udah mikirin lagi aja 🤣 fokus puasa lah. baru juga mulai hari pertama,🤭...


__ADS_2