Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
100. Hidup segan mati tak mau


__ADS_3

Rama dan Sisil sama-sama terperanjat mendengar apa yang Mr Lee katakan. Perlahan mereka pun merelaikan pelukan.


"Sorry, sir, I was too happy and carried away." ("Maaf, Pak, saya terlalu senang dan terbawa suasana.") ucap Rama dengan perasaan tak enak.


Mr Lee tak menyahuti, dia langsung menoleh ke arah security dan menggerakkan dagunya.


"Mr and Mis come with me," ucap security yang mengajak mereka ikut bersamanya. Kemudian melangkah keluar dari ruangan itu lebih dulu.


Rama mengangguk, lalu merangkul bahu Sisil dan mengajaknya mengikut langkah kaki pria berseragam di depannya. Wanita cleaning servise juga mengekori mereka.


*


*


Karena Sisil bertekad ingin ikut. Jadilah mereka berdua bersih-bersih secara bersama-sama. Keduanya bahkan sekarang sudah berganti pakaian dengan seragam cleaning servise, tapi dilapisi dengan jaket.


Rama sebelum berganti pakaian sempat membeli jaket, karena semakin sore cuacanya malah makin dingin. Dia tak mau terkena flu.


Tak lama, seorang pria berseragam cleaning servise datang dengan membawa alat bersih-bersih berupa lap, String mop (kain pel), Dust mop (pel debu) dan lain-lain. Kemudian dia menyerahkan semua itu kepada mereka.


"He's named Park Min. He will tell you where to clean up." ("Dia bernama Park Min. Dia yang akan memberitahu kalian di mana tempat yang musti dibersihkan.") ucap Security mengenalkan pria di sampingnya. Mata pria berseragam itu sangat sipit sekali, bahkan seperti orang yang tengah tidur. "I hope you work seriously and fairly. Park Min will keep an eye on you until your sentence is over." ("Saya harap kalian bekerja dengan serius dan adil. Park Min akan mengawasi kalian terus sampai waktu hukuman kalian selesai.") tambahnya memberitahu. Dia sangat paham dengan hukuman ini, karena sudah ada beberapa pasangan selain Rama dan Sisil yang dihukum.


"Okay sir, thank you." Rama hanya menjawab dengan ucapan terima kasih. Dan pria yang bernama Park Min itu langsung mengajak mereka ke lobby menara, untuk membersihkan lantainya.


"Kalau misalkan kamu capek, pusing atau segala macem ... kasih tau aku ya, Dek," ucap Rama seraya menoleh ke arah Sisil. Dilihat gadis itu juga sama-sama menatapnya.


"Iya, Om tenang saja." Sisil mengangguk. Lalu tersenyum.


"Mr cleans the dust. While Miss mops it," titah Park Min setelah mereka sampai ke lobby. Mereka pun langsung menurut, dan mulai mengerjakan perintah.


*

__ADS_1


*


*


Beberapa jam berlalu, rasa dingin yang mereka rasakan itu langsung berubah menjadi panas. Peluh pun bercucuran mengaliri wajah hingga leher.


Benar apa yang dikatakan Sisil tadi, mereka benar-benar seperti berolahraga malam. Bekerja tanpa digaji. Tapi itu lebih baik daripada mereka ditahan di negeri orang, karena tak menuruti perintah.


Sudah hampir 6 lobby mereka bersihkan dan semuanya cukup luas. Tapi masih banyak lobby-lobby yang lain. Karena memang di sana harus selalu kinclong lantainya, meskipun sebenarnya tak terlalu kotor.


"Kamu cantik sekali, Dek, aku makin cinta sama kamu," ucap Rama yang sibuk dengan alat pembersih debunya. Tapi masih sempat-sempatnya dia menggombal, sambil melirik Sisil yang mengepel di belakangnya.


"Oh, aku cantiknya kalau lagi ngepel doang, Om?" Sisil menoleh ke kanan dan kiri. Mencari-cari Park Min yang tidak tak terlihat di mana-mana. Tapi ada sedikit kelegaan hati, sebab sejak tadi mereka bekerja tanpa bicara. Bibir pun jadi terasa asem.


"Nggak dong, kamu mah ngapain saja cantik, Dek. Maksudku tambah cantik gitu," balas Rama. Dia langsung berlari mendekat lalu tiba-tiba saja mengecup bibir Sisil.


Gadis itu sontak terkejut, cepat-cepat dia mendorong dada Rama sebab merasa takut kelakuannya itu diketahui Security atau Park Min dan bahkan Mr Lee. Bisa-bisa mereka habis dan kena hukuman lagi, karena disangka berbuat mesum.


"Om apaan, sih, jangan cium-cium! Nanti ketahuan kita dimarahi!" omelnya marah. Namun tak dipungkiri, hati kecilnya merasa senang mendapatkan kecupan walau hanya sebentar saja.


'Masa sih bibirku seksi?' Sisil membatin sambil menyentuh bibirnya. Jantungnya pun sontak berdebar kencang.


"Oh ya, besok kita mau ke mana lagi nih, Dek?" tanya Rama. "Kita cari tempat untuk jalan-jalannya yang nggak usah naik ketinggian, supaya kamu nggak mabok."


"Besok aku mau kita di villa saja, Om, seharian," jawab Sisil.


"Berarti nggak jalan-jalan?"


"Jalan-jalannya dikasur."


"Bercinta maksudmu, seharian?" Rama menghentikan gerakan tangannya. Lalu menoleh lagi ke arah Sisil dan wajah gadis itu tampak merah merona. Namun, cepat-cepat dia berbalik badan dan kembali mengepel dengan gerakan cepat.

__ADS_1


"Dasar mesum! Bisa gempor dong aku kalau bercinta seharian," balas Sisil. Tapi wajahnya tampak malu-malu.


"Ah masa, sih? Bukan gempor kali, tapi ketagihan," kekeh Rama. "Kamu suka gaya apa kalau kita sedang bercinta, Dek?"


Sisil langsung menelan saliva. "Gaya akunya nung...." Ucapan itu sengaja digantung sebab Sisil melihat Park Min kembali dengan membawa jus mangga di tangannya. "Itu si mata sipit kembali. Udahan ngobrolnya, Om."


Rama mengangkat wajahnya. Lalu mengangguk dan langsung melipat bibirnya dengan rapat. 'Jadi nggak sabar aku pengen buru-buru besok. Bercinta seharian sampai gempor.'


***


Malam hari di Jakarta, Indonesia.


Sudah beberapa malam Gisel tak bisa tidur, mungkin terhitung saat di mana Rama menikah dengan Sisil.


Hari-harinya pun dipenuhi oleh air mata, sampai-sampai dua hari dia tidak mengajar di sekolah dengan alasan sakit. Padahal saat ini, harusnya dia mengurus semua perlengkapan karena murid-murid TK-nya akan masuk SD.


"Begini banget, ya, nasibku. Patah hati untuk kedua kalinya. Hiks ... hiks ... hiks." Di atas tempat tidur, Gisel terisak dengan tangisnya. Jam sudah mau tengah malam, tapi bayang-bayang wajah Rama yang tengah bersama dengan istrinya terus menganggu pikiran. "Ini sih judulnya hidup segan mati tak mau. Ah Mas Rama benar-benar tega banget sih ini, padahal cuma Dedek Gisel yang tulus padamu, Mas!" gerutunya kesal.


Drrrtt ... drrrttt ... drrrtt.


Tiba-tiba terdengar suara getaran ponselnya. Benda pipih itu berada di atas nakas.


Gisel pun mengakhiri tangisnya, lalu mengusap air mata di pipi dan meraih benda tersebut. Tertera nama Olla pada layar, segera Gisel mengangkatnya.


"Halo, La," ucapnya lirih sambil menyusut ingus dengan bajunya.


"Halo, kamu masih galau, Sel? Udah tidur belum?" tanya Olla. Semenjak Gisel patah hati dia sering menelepon, hampir setiap malam sebab mencemaskannya.


"Kalau udah tidur aku nggak akan angkat telepon kali, La. Ada-ada saja kamu!" omel Gisel kesal.


"Iya juga, ya," kekeh Olla. "Tapi kamu masih galau nggak sebenarnya?"

__ADS_1


"Masih." Gisel merengut lesu. "Aku malah nggak semangat hidup, La. Pengen mati tapi nggak rela ninggalin Mas Rama."


...Ngapain nggak rela 😂 mati mah mati aja, kali, Sel 🤣 malah banyak yg seneng pasti kalau kamu mati. Eehh jahat bener ya aku 😆...


__ADS_2