
Dua polisi itu akhirnya mengajak Tuti yang di dampingi Mbah Yahya untuk pergi dari apartemen Gugun menuju kantor polisi. Sementara Gugun memilih tidak ikut sebab menurutnya itu membuang-buang waktu.
Awalnya Tuti sendiri tidak mau dibawa, dia merasa takut kalau benar akan dipenjara. Tapi Mbah Yahya yang memang sungguh-sungguh ingin membantunya—mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja, dan dia akan membantu sebisanya mungkin supaya Tuti terbebas dari jeratan hukum.
Selain itu, Mbah Yahya juga menyewa seorang pengacara yang akan membantunya mengurus semua permasalahan. Mungkin, masih ada celah untuk Tuti bisa membela diri.
Sekarang, Mbah Yahya dan Tuti tengah duduk disebuah kursi pada ruang keluhan.
Di depan mereka ada dua polisi. Yang salah satunya tengah sibuk mencari informasi lewat laptop dan yang satunya tengah melakukan rekam suara.
Pernyataan Tuti harus mereka rekam, siapa tahu akan diperlukan.
Ternyata setelah diketahui, memang benar, nama Astuti pada KTP itu asli berjenis kelamin perempuan. Hanya saja ada yang aneh, sebab dalam nomor NIK tersebut ada dua nama yang berbeda.
Yakni Astuti dan Alesha Wirawan.
"Apa Nona sempat mengganti nama?" tanya salah seorang polisi. Dia yang saat ini tengah duduk di depan laptop.
"Iya, Pak," jawab Tuti sambil mengangguk. "Tapi nama Astuti sudah diganti secara sah dan saya punya bukti dari pengadilan."
"Memangnya tadinya namamu siapa, Tut?" tanya Mbah Yahya penasaran.
"Alesha Wirawan, Pak." Yang menjawab polisi.
"Lho, nama bagus-bagus kok diganti Astuti? Gimana sih kamu, Tut! Lebih manis Alesha dimana-mana kali," komentar Mbah Yahya sambil geleng-geleng kepala.
"Saya mengganti nama ada alasannya, Pak," sahut Tuti sambil menoleh.
"Apa alasannya?"
"Karena saya nggak pernah bahagia selama hidup dengan nama Alesha Wirawan." Bola mata Tuti kembali berkaca-kaca. Begitu pun dengan wajahnya yang sendu.
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan nama Alesha Wirawan? Kok kamu bisa nggak bahagia dengan nama itu?" tanya Mbah Yahya penasaran.
"Karena nama Wirawan adalah nama belakang Ayah saya, dan saya sangat membencinya, Pak." Tuti langsung menangis.
Mbah Yahya pun langsung menarik beberapa lembar tissue di atas meja, lalu memberikan kepadanya.
"Kamu benci sama Ayahmu?"
Tuti mengangguk.
"Tapi kenapa?" tanyanya lagi. Jika kepo Mbah Yahya langsung meronta-ronta.
"Karena dia nggak pernah sayang sama saya, bahkan dia menganggap saya bukan anaknya. Dia sangat jahat, Pak." Tuti langsung menangis tersedu-sedu. Mbah Yahya yang duduk di sampingnya refleks memeluk, lalu mengusap punggungnya dengan lembut.
"Kok dia bisa nggak sayang sama kamu? Apa ada alasannya?"
"Ada, tapi saya nggak mau cerita." Tuti menggeleng lalu menyentuh dadanya yang terasa sesak. "Ini terlalu menyakitkan, Pak. Saya juga nggak mau mengingatnya lagi."
"Ya sudah, kalau nggak mau cerita, nggak masalah." Mbah Yahya mengelus rambut Tuti dengan lembut. "Tapi kenapa kamu ganti namamu dengan Astuti? Nama perempuan 'kan banyak. Misalkan Nikita Willy, Aura Kasih atau Cinta Laura, kan itu jauh keren daripada Astuti," sarannya. Menurut Mbah Yahya, nama Astuti terlalu katro di zaman modern seperti ini.
"Oh ... pantes." Mbah Yahya mengangguk-ngangguk.
"Baik, sekarang kita akan bahas masalah tadi. Coba Nona cerita versi Nona sendiri," pinta Pak Polisi berkumis tebal. Yang duduk di depan Mbah Yahya.
Tuti mengangguk dan menelan salivanya terlebih dahulu sambil membuang napasnya dengan kasar. "Saya bertemu empat kali dengan Pak Gugun, terhitung dengan hari ini. Yang pertama saat di dalam mobil, saat nggak sengaja saya menumpang ngumpet karena takut ketemu Kakak Ipar saya. Terus—"
"Maaf saya potong," sela Pak Polisi dengan cepat. "Kenapa Nona takut ketemu Kakak Ipar Nona? Apa dia orang jahat?"
"Iya." Tuti mengangguk. "Dulunya dia sempat ingin melecehkan saya, Pak. Tapi sayangnya ... Mbak dan Ayah nggak percaya sama saya. Malah mereka menganggap saya hanya keganjenan."
"Kenapa tidak lapor polisi saja?" sarannya.
__ADS_1
"Saya nggak ada bukti untuk melaporkan."
"Baik, sekarang lanjutkan," titah Pak Polisi sambil menggerakkan kepalanya.
"Pas saya mengumpet entah mengapa tiba-tiba Pak Gugun membuka kancing kemejanya, dan hanya satu dipikiran saya yaitu dia mencoba ingin memperkosa saya, Pak," jelas Tuti. "Itulah alasannya kenapa saya menonjok wajah Pak Gugun, sampai dia mengira saya melakukan kekerasan. Padahal 'kan saya memang ingin menyelamatkan diri," imbuhnya kemudian.
"Sepertinya ... benar apa yang dikatakan Pak Yahya tadi, kalian berdua hanya salah paham," ucap Pak Polisi yang mulai mencerna semua kasus ini, meskipun cerita dari versi Tuti katakan belum sepenuhnya dia tahu. "Nona Astuti mengganggap Pak Gugun ingin melecehkan diawal pertemuan, tapi Pak Gugun sendiri menganggap Nona sebagai seorang pria, jadi dia yang tak terima berencana ingin menonjok balik saat kalian bertemu lagi. Sayangnya saat itu ... Nona berusaha untuk kabur dari Pak Gugun, hingga dia tak sengaja memegang kemeja dan membuat kemeja Nona robek."
"Pas adegan kemeja robek itu pertemuan ketiga, Pak," ujar Tuti meluruskan. Sebab seperti ada yang salah dengan apa yang polisi itu sampaikan. Dia juga tak ingin melewatkan semua kejadian yang telah terjadi, supaya pihak polisi akan mempertimbangkannya. "Pas keduanya malah Pak Gugun bersikap sok baik kepada saya, malah dengan genitnya ngasih jas dengan alasan mungkin saya membutuhkan."
"Tapi Pak Gugun mengatakan kalau dia hanya bertemu dengan Nona dua kali, dan yang kedua kalinya itu dia langsung datang ke sini untuk melaporkan Nona," ujar Pak Polisi.
"Aku ketemunya tiga kali, Pak. Yang keduanya itu pas bosku nikahan," jelas Tuti bersikeras.
"Tapi Pak Gugun sudah mengkonfirmasi dengan jelas kalau kalian bertemu hanya dua kali," ucap Pak Polisi. Perbedaan dalam pendapat menjadi hal yang lumrah, dia tidak memusingkan hal itu. "Tapi apapun itu ... intinya kalian hanya salah paham, harusnya berdamai saja biar nggak perlu memperpanjang masalah. Kita akhiri pertemuan ini, Nona bisa pulang ke rumah biar nanti saya akan memberikan penjelasan kepada Pak Gugun."
"Jadi saya nggak jadi dipenjara?!" tanya Tuti dengan mata berbinar. Wajah sendunya itu berubah menjadi ceria.
"Untuk sekarang nggak. Tapi tunggu saja kabar selanjutnya," sahut Pak Polisi dengan bijaknya. "Saya juga mau berpesan kepada Nona ... sebaiknya Nona merubah penampilan seperti layaknya perempuan pada umumnya, karena pemicu masalah ini adalah penampilan Nona. Bahkan saya dan rekan saya pun ... awalnya mengira Nona sebagai laki-laki." Menoleh sebentar ke arah rekan seprofesinya yang tengah mengangguk-nganggukkan kepala.
"Bener tuh, Tut." Mbah Yahya ikut menimpali. "Ngapain juga kamu berpenampilan laki-laki, padahal kalau dandan dan pakai baju perempuan kamu pasti cantik. Jadi Gugun nggak akan mengiramu bencong."
"Saya nggak mau!" tegas Tuti sambil menggelengkan kepalanya. "Saya lebih nyaman memakai pakaian seperti ini karena terhindar dari pelecehan seksual."
"Tapi ini buktinya apa? Kamu pakai baju laki-laki pun tetap saja kamu mengira Gugun melakukan pelecehan," ujar Mbah Yahya. Apa yang dia katakan benar adanya. "Menurutku sih nggak masalah kamu berpenampilan perempuan, karena kamu memang perempuan. Ya mungkin supaya menghindari mata keranjang laki-laki kamu bisa memakai pakaian tertutup," usulnya.
"Maksud Bapak saya musti berhijab?" Alis mata Tuti tampak bertaut. Padahal pakaian tertutup tidak selalu dikaitkan dengan berhijab, tapi memang ada bagusnya juga.
"Ya itu lebih bagus, sekalian pakai cadar bila perlu," saran Mbah Yahya.
"Nggak betah saya, Pak." Tuti menggeleng. "Sholat saja saya masih bolong-bolong, malah kebanyakan nggak sholat. Kayaknya malu sama hijabnya."
__ADS_1
"Bukannya dalam Islam berhijab itu wajib bagi perempuan muslim yang sudah baligh, ya?" ujar Mbah Yahya yang lagi-lagi benar. "Tentang sholat nggaknya 'kan itu tergantung keimanan masing-masing. Jadi jangan pernah salahkan kerudungnya kalau masih melakukan dosa, tapi harusnya dengan berkerudung ... membuatmu berubah memperbaiki diri."
...Gimana urusannya, dukun bahas masalah dosa 🤣 kayaknya Mbah harus ganti profesi deh😆...