Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
139. Segera menjadi Ayah


__ADS_3

"Tapi badanku bau asem, Mas. Kan seharian aku kerja di kantor." Lebih tepatnya Tuti merasa tidak pede, jika pergi jalan bersama seorang pria dengan posisi belum mandi. Apalagi Gugun sendiri terlihat jelas sudah mandi serta begitu wangi.


"Eemm ... ya sudah deh, nggak apa-apa." Akhirnya Gugun mengalah, karena merasa tidak enak. Tidak masalah juga menurutnya jika menunggu sebentar saja supaya bisa bersama. "Tapi aku tunggu di mana kira-kira? Apa di dalam apartemenmu?"


"Di mobil saja deh, ya, Mas, maaf. Soalnya 'kan ini juga bulan puasa, nggak enak sama tetangga."


"Nggak apa-apa, nggak perlu minta maaf," jawab Gugun dengan santai. Padahal sebenarnya dia ingin sekali tahu dimana letak unit apartemen Tuti.


"Sebentar, ya, Mas! Paling hanya 15 menit," ucap Tuti kemudian melangkah masuk ke dalam gerbang.


"Lama juga nggak apa-apa, Nona, aku akan sabar menunggumu!" seru Gugun sedikit kencang. Namun sepertinya, Tuti tidak dapat mendengarnya. Sebab gadis itu sudah menghilang dalam pandangan. "Benar apa yang Hersa katakan, Nona Tuti memang mirip seperti bidadari. Aku harus mendapatkannya, sebelum dia direbut Hersa."


Sepertinya Gugun mendadak lupa ingatan, jika dia sudah berpacaran dengan Gisel. Dan malah sekarang, dia mempunyai niat untuk menembaknya, setelah keduanya berbuka puasa.


***


Tibanya di rumah sakit, Rama langsung berlari menuju ruang UGD. Sebab Mbah Yahya sendiri sempat memberitahukan kalau Sisil dimasukkan ke dalam sana.

__ADS_1


"Dad, bagaimana keadaan Sisil? Ada apa dengannya?" tanya Rama sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Wajahnya terlihat berkeringat banyak.


"Duduk dulu dan napas dulu, Ram. Nggak usah lebay deh." Mbah Yahya menepuk dudukan kursi panjang di sampingnya. Ada Evan juga di sana, duduk tapi dengan jarak yang cukup jauh.


"Gimana aku nggak lebay, orang istriku dibawa ke UGD. Daddy ini aneh deh." Rama membuang napasnya dengan kasar, lalu mendudukkan bokongnya di samping Mbah Yahya.


"Daddy yakin, Sisil nggak akan kenapa-kenapa. Kita tunggu saja dokter yang memeriksanya keluar."


"Tapi beritahu aku dulu kenapa Sisil tiba-tiba pingsan, Dad?" tanya Rama penasaran.


"Awalnya Daddy sendiri nggak tau apa sebabnya, cuma pas nggak sengaja ketemu dijalan ... Daddy melihat Sisil turun dari mobil taksi terus muntah-muntah. Nggak lama kemudian dia pingsan," jelas Mbah Yahya.


"Kayaknya sih nggak." Mbah Yahya menggelengkan kepalanya. "Paling Sisil kena magh atau masuk angin sih menurut Daddy. Atau jangan-jangan hamil, ya, dia?" Itu baru menebak, tapi Mbah Yahya dan Rama terlihat sudah senang duluan.


"Masa sih, Dad, secepat itu?"


"Ya baguslah kalau cepat. Tandanya burungmu memang kualitas super. Meskipun awalnya dia mati."

__ADS_1


"Semoga saja, ya, Dad. Aku juga kepengen seperti pria lain ... yang mempunyai keturunan. Biar aku nggak dikatai pria nggak normal."


"Kamu normal, Ram." Mbah Yahya merangkul bahu kanan Rama, lalu menepuk-nepuknya pelan..


Tak lama kemudian, keluarlah seorang dokter perempuan berambut pendek. Sehingga membuat Ram dan Mbah Yahya langsung berdiri, Evan juga mengikutinya.


"Bagaimana keadaan Sisil, Dok?" tanya Rama cepat sebelum keduluan Mbah Yahya.


"Apa Bapak suaminya? Atau Kakaknya?" tanya Dokter itu sambil memerhatikan wajah tampan Rama.


"Suami, Dok," jawabnya.


Tangan kanan dokter itu perlahan terulur, lalu tersenyum. Rama sendiri tampak bingung dengan apa yang dimaksud dokter itu, tapi dia pun membalas jabatan tangannya.


"Selamat ya, Pak, Bapak akan segera menjadi Ayah," ucapnya yang mana membuat tiga orang pria disana terkejut dengan senangnya.


"Alhamdulillah ... ya Allah, terima kasih." Rama dan Evan berucap secara bersamaan dan juga bersujud. Tapi Mbah Yahya sendiri merasa heran, mengapa Evan bisa ikut sesenang itu.

__ADS_1


"Evan, kenapa kamu ikut bersyukur dan sujud segala? Yang mau jadi Ayah 'kan Rama, bukan kamu," tanya Mbah Yahya dengan kening yang mengernyit.


...Selamat buat Om Rama 😍...


__ADS_2