Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
49. Lupakan Arya dan belajarlah mencintaiku


__ADS_3

"Sil? Kok diam?" tanya Rama setelah beberapa menit keduanya terdiam. Sisil langsung tersentak dengan lamunannya.


"Memangnya harus banget aku jawab, ya, Om?"


"Iya. Aku penasaran."


'Kalau aku jawab karena terpaksa, nanti Om Rama marah nggak, ya? Bisa-bisa nanti aku dimarahi Kakak kalau sampai dia marah dan membatalkan pernikahan ini,' batin Sisil bingung. 'Tapi kalau aku bohong, aku kasih alesan apa? Nggak mungkin juga aku bilang cinta sama dia. Kan ini mustahil.'


"Oh, apa karena Arya nggak mau nikahin kamu, ya?" tebak Rama.


"Enak, saja!" bantah Sisil. "Kak Arya mau kok nikahin aku."


"Kalau dia mau, terus kenapa sekarang kamu milihnya nikah sama aku?" Kalau belum mendapatkan jawaban yang sebenarnya, Rama masih penasaran.


"Ini semua karena orang tuanya," jawab Sisil lirih. Pandangannya pun seketika kosong dan bola matanya ikut berkaca-kaca.


"Orang tuanya pasti nggak merestui kalian, kan?" tebak Rama.


"Kok Om bisa tahu?" Sisil menatap Rama dengan lekat, linangan air mata itu perlahan jatuh membasahi pipinya. "Oh, apa mungkin Kakakku sudah cerita sama, Om? Tentang aku yang dihina karena miskin?"


Rama sontak membulatkan matanya, dia terkejut dan dia sendiri tadi hanya menebak dan baru tahu sekarang. Refleks mobil itu dia rem secara mendadak sebab melihat Sisil sudah menangis tersedu-sedu.


"Memangnya, apa salahnya orang miskin kalau menikah sama orang kaya? Bukankah semua manusia di mata Allah itu sama ya, Om? Hiks, hiks," isak Sisil.


Rama melepaskan sabuk pengaman, lalu mendekat dan tanpa meminta izin dia langsung meraih tubuh Sisil. Memeluknya dengan erat dan mengusap punggungnya.


Dilihat gadis itu tak berkutik, malah dia makin terisak dalam pelukan Rama. Hatinya sebenarnya menolak, akan tetapi Sisil merasakan ada sebuah kenyamanan dari pelukan itu.


Hangatnya bagaikan dipeluk oleh Gugun, hanya saja bedanya dada Rama lebih lebar dan tubuhnya lebih berotot.


"Sakit banget hatiku, Om. Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa? Hiks, hiks."


"Kamu jangan menangis dan tenanglah," ucap Rama dengan lembut. "Ada aku di sini. Insya Allah, orang tuaku nggak akan seperti orang tua Arya, Sil. Kamu mau menikah sama aku saja mereka sudah sangat bersyukur." Rama perlahan menciumi rambut gadis itu. Kesempatan emas menurutnya, berniat menenangkan sambil mencuri kesempatan. Tetapi sayangnya, jantung dan miliknya pun ikut merespons. Sudah berdebar makin kencang ditambah di bawah sana mengeras sempurna. Apalagi tangan Sisil tak sengaja menempel ke area sana. 'Duh, pakai acara bangun segala. Tau aja dia kalau lagi deket sama sarangnya,' batin Rama.


Krukuk-krukuk.


Bunyi yang berasal dari perut Sisil sontak membuat keduanya terkejut dan Rama langsung terkekeh. Sisil cepat-cepat mendorong dada Rama untuk melepaskan pelukan. Kemudian mengusap air mata yang masih tersisa di pipi.


"Kamu laper, ya? Mau makan apa?"


"Apa saja. Tapi aku mau minum dulu, haus." Sisil menyentuh lehernya sambil menatap sebotol air mineral yang bersegel, ada di dekat paha kiri Rama.

__ADS_1


Pria itu memberikan sebotol air mineral yang baru saja dibuka segelnya. Sisil segera mengambil dan menenggaknya sampai habis. "Mulai sekarang, kamu lupakan Arya, dan belajarlah untuk mencintaiku. Aku berjanji akan membahagiakanmu, Sil," ujar Rama. Dia pun memakai kembali sabuk pengaman, lalu mengemudi.


'Melupakan Kak Arya dan mencintainya? Mana bisa? Kak Arya itu cinta pertamaku dan dia itu sangat sempurna di mataku. Berbeda jauh dengan Om Rama,' batin Sisil terenyuh.


***


30 menit kemudian, mobil Rama pun berhenti di sebuah restoran mewah milik Nissa. Pria tampan itu lantas turun dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Sisil.


"Ayok turun," pinta Rama. Dilihat gadis itu diam saja.


"Aku nggak mau makan di restoran, Om."


"Kenapa memangnya?"


"Nggak bikin kenyang, mahalnya doang."


"Belinya jangan seporsi. 5 porsi."


"Nggak mau, malu." Sisil menggeleng. "Aku mau makan nasi Padang saja, aku daritadi kepengen nasi Padang."


"Oh, kalau gitu bilang dong dari tadi," kekeh Rama. Dia pun memutar dan kembali masuk ke dalam mobil. Kemudian menuju restoran Padang langganan Mbah Yahya.


*


*


"Siang. Dia istriku," jawab Rama seraya merangkul bahu Sisil. Akan tetapi gadis itu langsung menepisnya.


"Baru calon, belum jadi," ketus Sisil.


"Iya, lusa 'kan kita menikah."


"Aku pesan dong nasi Padangnya paket lengkap pakai rendang," ucap Sisil cepat. Sebelum pelayan itu hendak melontarkan pertanyaan yang entah apa itu.


Pelayan itu mengambil buku kecil dan pulpen pada kantong celana, lalu mencatat pesanan Sisil.


Padahal harusnya, mereka duduk saja dulu pada salah satu meja. Barulah dia datang untuk bertanya masalah pesanan. Tapi ya sudahlah, tidak masalah juga. Sepertinya Sisil memang sudah tak sabar dan benar-benar lapar.


"Minumnya apa, Nona?" tanya pelayan itu.


"Es jeruk."

__ADS_1


"Kalau Pak Rama apa?" Pelayan itu menatap Rama.


"Aku buatkan susu hangat saja."


Pelayan itu mengangguk, lalu mencatatnya. "Baik, Bapak danโ€”"


"Kok Om hanya pesan minum?" tanya Sisil cepat yang mana langsung menyela ucapan sang pelayan. Dia menatap Rama dengan serius.


"Aku nggak lapar, Sil," jawab Rama seraya menoleh.


"Tapi masa aku doang yang makan? Sendiri?" Sisil menatap sekeliling ruangan restoran itu. Banyak sekali pengunjung yang makan dengan pasangan atau temannya. Rasanya malu kalau hanya dia yang makan seorang diri.


"Kamu makannya sama aku, aku temenin."


"Temenin doang mah nggak mau." Sisil menggeleng cepat dengan wajah cemberut. "Kalau gitu bungkus saja deh, aku nggak mau makan di sini."


"Ya sudah, aku nggak jadi pesan susunya." Rama mengalah, tak mau dia kalau Sisil marah. Dia lantas menatap ke arah pelayan. "Aku pesan satu porsi, tapi nasinya jangan banyak-banyak."


"Baik, Pak. Silahkan duduk di sana." Pelayan itu tersenyum sembari menunjuk salah satu meja kosong. Keduanya pun melangkah ke arah sana, lalu duduk.


Sisil menatap ke arah pintu kaca. Dua orang pria yang memakai jas baru masuk dari sana dan sontak membuat bola matanya terbelalak. Dia merasa terkejut sebab salah satu dari mereka adalah Ganjar.


'Opa Ganjar kok ke sini? Bagaimana ini?' batinnya. Sisil meraih buku menu di atas meja, lalu menutupi wajahnya.


Sebenarnya tak masalah juga dia bertemu Ganjar atau Arya sekali pun. Hanya saja entah mengapa dia merasa malu dan takut.


Memang, pria tua itu tidak mengatakan hal apa pun yang menyinggungnya kemarin. Tapi tetap saja, karena dia adalah bagian dari keluarga Arya.


"Kenapa kamu, Sil? Kok kelihatan panik?" tanya Rama. Dia memutar kepalanya ke belakang dan langsung tersenyum kala pandangan matanya saling bertemu dengan Ganjar. Juga dengan pria di sampingnya.


"Lho, Ram. Kamu ada di sini juga?" tanya Ganjar dengan ramah seraya melangkah menghampiri. "Mau makan siang?"


"Iya, Om. Aku mau makan siang bareng calon istriku," jawab Rama seraya berdiri dan menjabat tangan Ganjar ketika lengan pria itu terulur.


'Kok Om Rama kenal Opanya Kak Arya, sih? Dan kenapa dia panggil Opa Ganjar dengan sebutan Om?' Sisil yang masih menyembunyikan wajahnya susah payah menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.


Ganjar dan pria di sampingnya lantas melayangkan pandangan, mereka tersenyum sebentar lalu menatap kembali ke arah Rama.


"Wah ... selamat, Pak Rama. Ditunggu undangnya," ucap pria di samping Ganjar yang kini menjabat tangan Rama. Usianya tak jauh beda dengan Rama.


"Mana nih calonnya, Om mau berkenalan sekalian mengucapkan selamat," ucap Ganjar. Dia memperhatikan gadis di depannya yang hanya terlihat rambutnya saja.

__ADS_1


...Ngapain sembunyi sih, biarin aja biar lihat ๐Ÿ™ˆ...


__ADS_2